Home » » Expedisi 4 Puncak "Gunung Agung"

Expedisi 4 Puncak "Gunung Agung"

Expedisi 4 Puncak 
"NTB, Bali, Jawa Timur"
Gunung Agung 3142 MDPL
2 s/d 3 Juli 2010  Karangasem, Bali



Dari Kota Selong di Pulau Lombok, saya melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali. Saya diantar kembali ke Masbagik dan seterusnya menumpang mini bus ke Kota Mataram. Perjalanan ke Kota Mataram memakan waktu 4 jam dengan melewati 3 kabupaten di Pulau Lombok. Sesampainya di Kota Mataram, sesuai arahan teman, saya langsung menuju ke Terminal Mandalika untuk menumpang bis menuju Kota Denpasar di Pulau Bali.
Karena sudah sore, saya pun terpaksa harus menumpang bis kelas ekslusive dengan tarif yang cukup mahal yaitu Rp. 170 ribu. Dari Terminal Mandalika, bis menuju ke Pelabuhan Lembar dan selanjutnya kami berganti ke transportasi laut yaitu ferry. Sekitar tiga jam kemudian sampailah kami di Pelabuhan Padang Bai di Provinsi Bali yang merupakan pelabuhan laut yang sangat ramai, tidak lama kemudian bis yang saya tumpangi pun melaju ke Kota Denpasar.
Akhirnya sekitar Jam 11 malam sampailah saya di Kota Denpasar tepatnya di Terminal Ubung. Tidak lama berselang, teman yang aku sudah konfirmasi pun datang menjemput dan membawaku ke sebuah tempat yaitu Kantor WALHI cabang Bali


Kantor WALHI Cabang Bali
Ditempat inilah saya tinggal selama saya di Bali yaitu Kantor WALHI Eksekutif Daerah Bali, saat saya tiba, ternyata ada juga teman PA dari palu yang kedatangannya dalam rangka misi survey tebing.

Tim Pendaki Gunung Agung
Dua hari kemudian, persiapan pendakian ke Gunung Agung pun dimulai, Kali ini saya akan ditemani 3 orang yaitu Yoga (Mapala UNHI), Andre (Mapala UNHI) dan Adi (Mapala Santigi Univ. Tadulako). Setelah memastikan seluruh perlengkapan sudah siap, kami mulai bergerak ke desa terakhir pendakian Gunung Agung.
Tidak seperti didaerah lain, di Pulau Bali sangat sulit untuk mendapatkan fasilitas angkutan luar kota reguler yang ada hanya kendaraan rental dengan biaya yang sangat mahal, maklumlah tarif yang diberlakukan yaitu tarif wisatawan. Kami pun terpaksa menggunakan 2 sepeda motor. Perjalanan menuju Star Terakhir yaitu Pura Pasar Agung memakan waktu 4 jam, sesekali kami beistirahat di beberapa Pos Kamling yang kebetulan beberapa warga setempat sedang nonton bareng Piala Dunia.
Perjalanan semakin lama semakin menajak dan suhu semakin dingin hingga akhirnya sekitar Pukul 02.00 dini hari tibalah kami di Pura Pasar Agung. Pura ini merupakan salah satu titik star pendakian ke Gunung Agung, sebenarnya rencana kami semula ingin melalui jalur star Pura Besakih, namun karena ada informasi bahwa di Pura Besakih sedang ada acara keagamaan yang dimana pihak aparat desa menutup sementara jalur pendakian Gunung Agung dari Pura Besakih, sehingga kami memutuskan untuk mengambil jalur alternatif yaitu melalui Pura Pasar Agung di Kab. Karangasem.

Pura Pasar Agung
Karangasem, Bali
Pagi hari yang sangat dingin, kami terbangun dengan suara keramaian dari dalam pura yang memang sejak semalam sudah terdengar. Kebetulan sejak tadi malam sedang ada ritual keagamaan di dalam Pura Pasar Agung. Sejak kami tiba ditempat ini semalam, sudah tampak beberapa pemuda berseragam upacara adat memasuki Pura Pasar Agung.

Sarapan di Halaman Pura Pasar Agung
Pagi ini cukup cerah namun sangat dingin, maklum saja Pura ini berada di ketinggian hampir 2000 MDPL. Kami pun segera mengemas barang dan tidak lupa sarapan ringan guna mempersiapkan fisik untuk perjalanan ke Puncak Gunung Agung.
Pura Pasar Agung
Karangesem, Bali
Pura Pasar Agung merupakan sebuah tempat peribadatan umat hindu yang cukup besar dan bisa menmpung ratusan orang. Pura ini terletak di punggungan Gunung Agung. Di Pura ini selalu diadakan upacara keagamaan dan ritual-ritual lainnya seperti halnya di Pura-Pura yang lain di Pulau Bali. Selain dikunjungi oleh umat hindu yang akan beribadah, Pura ini tak henti-hentinya dikunjungi oleh banyak pendaki gunung dari seluruh indonesia karena Pura ini merupakan salah satu pintu masuk untuk menuju Puncak Gunung Agung.

Pura Pasar Agung
Karangasem, Bali
Pendakian dimulai sekitar Pukul 8.00 pagi, dengan melewati jalan setapak yang cukup terbuka dimana terdapat beberapa pipa air yang terdapat dijalur awal pendakian.
Jalur awal pendakian Gunung Agung
Jalan setapak yang dilewati semakin menanjak dan semakin dingin. Jalur hari ini cukup licin karena semalam jalur ini dilewati ratusan peserta upacara keagamaan yang melakukan ritual di Puncak Gunung Agung pada malam hari. Sejak dahulu Gunung Agung sudah menjadi tempat yang sangat di sakralkan oleh umat hindu di Bali sehingga banyak ritual yang dipusatkan di kawasan Gunung Agung.

Salah satu tempat upacara keagamaan di jalur pendakian Gunung Agung
Disepanjang jalan banyak kami temui anyaman daun kelapa dan beberapa kembang yang menandakan ada beberapa titik di jalur pendakian ini yang menjadi tempat melakukan ritual keagamaan. Salah satunya adalah di tempat ini, yang juga merupakan salah satu pos peristirahatan bagi para pendaki. Ditempat ini kami temui sisa-sisa peralatan ritual seperti kain putih, kembang, dupa dan wewangian.
Keadaan di jalur pendakian Gunung Agung memberikan saya sesuatu yang unik dan belum pernah saya jumpai ditempat lain, hilir mudik umat yang bersembahyang, ada yang baru naik dengan segala perlengkapan upacara, ada juga yang sudah selesai mengadakan ritual. Semua ritual ini dilaksanakan di Puncak Gunung Agung, maka tidak heran sepanjang jalan banyak kita temui sesajen atau persembahan.

Tanjakan terbuka menuju Puncak Gunung Agung
Setelah melewati hutan rapat, kami pun mulai memasuki jalur terbuka yang berbatu. Dijalur ini tingkat kecepatan angin semakin tinggi serta kabut tebal yang silih berganti datang menutupi jalur pendakian. Hampir tidak ada tanaman yang tumbuh disepanjang jalan, yang ada hanya beberapa tangkai rumput liar.
Tanjakan ke Puncak Gunung Agung
Semakin lama semakin menanjak dan perjalanan semakin melelahkan, sesekali kami beristirahat namun tidak lama karena kami khawatir akan ada badai sebab dari kejauhan awan hitam terlihat jelas. Perjalanan semakin melelahkan dan lutut terasa gemetar. Karakteristik tanah tempat ini yang berbatu cukup meyulitkan para pendaki sebab setiap langkah kami harus berhati-hati agar tidak tegelincir atau jatuh karena bisa fatal akibatnya.

Jalur Menuju Puncak Gunung Agung
Sejak start dari Pura Pasar Agung, Puncak sudah kelihatan, namun cukup sulit untuk mencapainya. Para pendaki tentunya harus berhati-hati dalam melangkah karena selain melewati bebatuan yang keras, dijalur pendakian ini juga banyak batuan yang licin dan tajam. Tumbuhan Eidelweiss banyak terdapat dijalur menuju puncak. Sesekali banyak rombongan Kera yang melintas atau berteriak-teriak meminta makanan. Dijalur menuju Puncak Gunung Agung memiliki populasi Kera yang sangat banyak, mereka berkeliaran disekitar bibir kawah dan jumlah mereka semakin lama semakin bertambah banyak.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Akhirnya setelah melalui perjalanan 8 Jam, sampailah kami di Puncak tertinggi Gunung Agung dengan ketinggian 3142 MDPL. Puncak Gunung Agung merupakan salah satu titik ketinggian di bibir kawah puncak.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Mhat's Internisti & Yoga UNHI
Dipuncak Gunung Agung terdapat kawah yang cukup besar yang menandakan gunung ini adalah tipe gunung berapi dan pernah aktif. Menurut beberapa sumber, dikawah inilah menjadi tempat persembahan atau sesajen dilemparkan oleh peserta upacara.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Mhat's Internisti, Adi Santigi & Andre UNHI

Konon ceritanya Gunung Agung pernah meletus dan mengakibatkan guncangan dan bencana yang cukup besar dan terasa sampai diluar Pulau Bali, sehingga menurut beberapa sumber, kawah ini terbentuk dari letusan tersebut.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Mhat's Internisti & Adi Santigi
Dari tempat ini Puncak Gunung Agung dari jalur besakih juga dapat terlihat dimana memiliki ketinggian yang tidak jauh berbeda dengan tempat saya berpijak sekarang. Pendakian dari jalur Pura Pasar Agung memiliki perbedaan dari jalur Pura Besakih yaitu jalur Besakih rute awalnya melewati jalan datar yang panjang sedangkan rute Pasar Agung langsung melewati jalur tanjakan yang sangat traking.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Gunung Agung merupakan tipe gunung api, namun yang saya lihat, tidak tampak lagi kepulan-kepulan asap dari dasar kawah sebagimana yang sering saya lihat dibeberapa gunung-gunung berapi lainnya, kemungkinan gunung ini sudah tidak aktif lagi atau tingkat keaktifannya sudah berkurang sejak meletus beberapa puluh tahun silam.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Dari puncak Gunung Agung, saya dapat melihat dari kejauhan beberapa kota yang ada di Pulau Bali, Laut Jawa dan Puncak Gunung Batukaru dan Gunung Batur yang juga berada di Pulau Bali

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Karena seringnya orang berkunjung ke puncak ini apalagi orang-orang yang kelebihan kreatif sehingga mereka membuat beberapa coretan di beberapa batu besar, hal tersebut sangat membuat kawasan puncak ini terlihat kotor karena disana sini terlihat coretan dari pilox berwarna yang bertuliskan nama-nama yang sudah pernah mendaki di puncak ini.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Semoga saja kedepannya akan timbul kesadaran dari para pendaki untuk tidak melakukan hal tersebut karena selain tidak bermanfaat juga aksi tersebut hanya membuat kawasan puncak menjadi kotor dan tidak alami seperti yang diharapkan banyak pendaki saat berada di puncak sebuah gunung.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Bersama Andre Mapala UNHI
Di Puncak Gunung Agung terdapat sisa-sisa persembahyangan umat hindu seperti dupa, kembang berbagai warna, potongan kain putih, wewangian, beberapa sisa buah-buahan dan sayuran. Gunung Agung memang sangat disakralkan oleh umat hindu di Pulau Bali oleh karena itu banyak norma-norma yang harus ditaati oleh setiap pengunjung dan para pendaki.
 


Patung Sahi Baba di Puncak Gunung Agung
Disalah satu sudut Puncak Gunung Agung terdapat sebuah patung kecil yang terbuat dari lilin. Patung ini bernama Patung Sahi Baba. Menurut teman kami yang ikut pendakian ini, Sahi Baba merupakan seorang tokoh keagamaan yang sangat dihormati oleh beberapa kelompok umat hindu di Pulau Bali. Sahi Baba sendiri berada di India.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Pendakian ke Gunung Agung memberikan saya sebuah pengalaman yang unik juga pengetahuan tentang nilai-nilai religius umat hindu yang saling terkait dengan nilai-nilai kebudayaan masyarakat Pulau Bali pada umumnya. Pengalaman di Pulau Bali banyak memberikan saya pengalaman yang sangat relevan dengan persaudaraan sesama pencinta alam yang begitu terasa saat saya menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Bali. Sambutan dan rasa penghargaan sangat nampak dan begitu berkesan.

Puncak Gunung Agung 3142 MDPL
Gunung Agung merupakan target ke tiga perjalanan Expedisi saya dimana sebelumnya Gunung Tambora dan Gunung Rinjani sudah aku daki. Selanjutnya saya akan menuju ke Lumajang untuk meneruskan expedisi mendaki ke Gunung Semeru. Semoga langkah kakiku akan menuntunku kembali lagi kesini. Salam Lestari.