Home » » Expedisi 4 Puncak "Gunung Tambora"

Expedisi 4 Puncak "Gunung Tambora"

Expedisi 4 Puncak 
"NTB, Bali, Jawa Timur"
"Gunung Tambora"
13 s/d 15 Juni 2010, Bima Dompu, NTB



Tanggal 10 Juni 2010, saya menginjakkan kaki pertama kalinya di Kota Bima , NTB. Saya baru saja melalui perjalanan laut selama 4 hari 3 malam bersama KM. Tilongkabila dari Kota Kendari. Sesampainya di Kota Bima saya langsung menuju ke Kampus STKIP Bima tepatnya di Sekretariat Mapala Londa.
Sebelumnya saya sudah mengkonfirmasikan rencana kedatangan saya di Kota Bima untuk melakukan pendakian di Gunung Tambora sehingga dari teman-teman di Mapala Londa sudah menyiapkan 3 orang yang akan menemani saya untuk melakukan pendakian.
Diatas bis menuju desa terakhir pendakian Gunung Tambora
Setelah merampungkan seluruh persiapan keberangkatan, pada Hari Minggu, tanggal 13 Juni 2010, kami pun memulai perjalanan. Perjalanan dimulai dengan menumpangi Bis tujuan Kab. Dompu dari Terminal Dara Kota Bima

Padang Savana disepanjang kaki Gunung Tambora
Perjalanan ditempuh sekitar 5 jam dengan melewati jalur pesisir dan pegunungan. Setelah melewati Kota Dompu, Bis yang kami tumpangi menyusuri jalur padang savana yang sangat luas dengan pemandangan yang indah dimana terdapat hewan-hewan liar yang berkeliaran.

Menuju Dusun Pancasila
Bis yang kami tumpangi akhirnya berhenti di sebuah pasar yang disebut pasar senin. Dari sini kami harus berjalan kaki sekitar 3 jam menyusuri jalan aspal menyusuri beberapa desa dan dusun untuk sampai di  pemukiman terakhir di kaki Gunung Tambora yaitu Dusun Pancasila. Biasanya terdapat angkutan ojek, namun karena terlalu mahal, kami pun memilih berjalan kaki saja.


Mha-Mat's Internisti & Om Beck (Juru Kunci Gunung Tambora)
Dusun Pancasila terletak di kaki Gunung Tambora, tepatnya di Kec. Pekat, Kab. Dompu. Dusun ini merupakan sebuah perkampungan kecil yang cukup ramai. Penduduknya sebagian besar Petani Sawah dan Petani Kopi. Om Beck merupakan orang yang cukup familiar bagi kalangan pendaki Gunung Tambora sebab beliaulah orang yang melakukan pendakian terbanyak di Gunung ini. Malam harinya kami menginap di Podok Om Beck yang ditinggalinya bersama istri, anak dan beberapa orang cucu.

Pos Pendaftaran Gunung Tambora
Sekretariat KPA-Tambora, Dompu
Keesokan harinya sebelum berangkat, kami terlebih dahulu melapor ke pihak pengelola, dalam hal ini KPATA yang dipercayakan oleh pemerintah setempat untuk mengelola kawasan ini, para pendaki wajib mengisi buku tamu pendaki dan membayar biaya administrasi Rp.10.000/orang.

Melewati jalur perkebunan kopi
Hamparan perkebunan kopi terdapat di sepanjang jalur awal pendakian yang dilewati. Jalan ini merupakan salah satu akses untuk mengangkut hasil panen kopi untuk di bawa ke gudang pengolahan. Sepanjang jalan banyak ditemui lalu-lalang mobil pick up dan masyarakat yang bersepeda sambil mengangkut kopi.

Break di Pondok kebun kopi
Setelah 1,5 jam perjalanan, sampailah kami di sebuah shelter yang umumnya menjadi Pos awal pendakian, dimana jalur setelah ini mulai memasuki hutan rapat. Kami hanya beristirahat sejenak sambil menikmati rokok kemudian melanjutkan perjalanan dengan medan semak belukar yang rapat dan sinar matahari yang semakin panas.

Break di Pos 1
Jalur Pendakian Gunung Tambora
Pos 1 berjarak 1,5 jam perjalanan normal dari shelter sebelumnya. Di Pos 1 ini merupakan tempat yang sempit dan berada di tengah jalan, tidak ada sebuah shelter, yang ada hanya sebuah pohon tumbang yang dijadikan tempat beristirahat para pendaki. Jalur yang baru saja dilewati cukup menanjak dan licin juga populasi tanaman semak berduri yang selalu memperlambat pergerakan.

Break di Pos 2
Jalur Pendakian Gunung Tambora
Jalur selanjutya yaitu melewati tanjakan panjang dengan kemiringan sedang pada sebuah punggungan bukit sampai melewati jalur yang semakin turun sampai ke Pos II. Tempat ini berada di pinggir Sungai Kadindi yang mengalir sangat deras, sehingga kebanyakan pendaki lama menghabiskan waktu di tempat ini. Kami pun menyempatkan diri untuk makan siang di sebuah shelter yang terletak di pinggir sungai.

Camp di Pos 3
Jalur Pendakian Gunung Tambora
Perjalanan selanjutnya menuju ke Pos III melewati jalur naik turun dengan tipe hutan rapat, alang-alang dan semak belukar. Jalur yang dilewati semakin terbuka dan ditengah perjalanan dari Pos II ke Pos III, kita sudah dapat melihat kawasan bibir kawah Gunung Tambora dari kejauhan. Sekitar 2 Jam perjalanan sampailah kami di Pos III yang merupakan tempat yang sangat terbuka dan terdapat sebuah shelter yang layak untuk menginap. Di tempat ini terdapat sumber air yang cukup jauh kebawah.
Kami pun segera mendirikan tenda dan memasak lalu segera beristirahat, karena Pukul 11 malam, kami akan bergerak ke arah puncak dimana barang-barang disimpan di Pos III ini.


Summit Attack to Puncak Tambora
Pukul 11 malam kami mulai bergerak meninggalkan Pos III dengan membawa perlengkapan minimal sementara perlengkapan lain kami tinggalkan di Pos III. Jalur yang gelap ditambah lampu senter yang kurang terang membuat langkah kami harus berhati-hati karena selain jalur tanjakan yang banyak melewati akar juga banyaknya tanaman jelateng (semak berduri) yang tumbuh disepanjang jalur Pos III ke Pos IV. Rasa mengantuk masih terlihat dari seluruh tim yang hanya beristirahat 3 Jam, terkadang kami terbaring sejenak di tengah jalan lalu melanjutkan lagi perjalanan sampai di Pos IV yang berjarak 2 Jam dari Pos III. Waktu menunjukkan pukul 01.30, kami pun bergerak menuju Pos V dengan medan yang semakin menanjak dan malam yang semakin gelap. Untung saja cuaca saat itu cerah dan cukup hangat. Sesekali kami berusaha mengkontak teman kami yang berada di Kampus STKIP Bima untuk menanyakan hasil pertandingan sepakbola yang sementara berlangsung, maklum saja pendakian ini kami lakukan saat semua orang sedang deman Piala Dunia 2010.
Dua Jam kemudian sampailah kami di Pos V yang merupakan Pos terakhir sebelum menuju puncak. Ditempat ini kami menyempatkan diri untuk menghangatkan badan dengan membuat perapian dan tidur selama 1 Jam di sebuah shelter yang sudah agak rusak.
Sekitar pukul 4.00 pagi kami bergerak menuju puncak dengan keadaan medan yang sangat terbuka serta tiupan angin yang kencang ditambah kabut dingin yang tebal. Makin lama semakin menanjak dan tidak tampak lagi hamparan hutan, yang ada hanya hamparan pasir yang mengeras disepanjang mata.
Tidak lama kemudian perlahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya pertanda pagi sudah datang. Tidak terasa perjalanan ini sangat panjang dan mulai membosankan

Jalur berpasir menuju Puncak Tambora
Disepanjang mata yang ada hanya hamparan pasir dan rerumputan yang berjauhan jaraknya. Kami pun terus menyusuri jalan, mengikuti arah dari gundukan pasir yang membentuk jalan setapak. Hawa pun kami rasa semakin hangat karena matahari pagi semakin bersinar.

Eidelweis di kawasan Puncak Tambora
Diantara rerumputan liar tersebut, terdapat tanaman edelweiss yang tumbuh di sela-sela batu. Di kawasan Puncak Tambora merupakan hamparan pasir yang luas dan mengeras, ada juga beberapa lempeng batu yang sebenarnya semua itu terbentuk akibat dari letusan dahsyat yang pernah terjadi dimana kawah  gunung  ini memuntahkan material vulkanik dengan intensitas yang besar sehingga terjadilah hamparan pasir dan bebatuan di sekitar kawah gunung.

Menuju Puncak Tambora
Letusan tersebut mengakibatkan berkurangnya ketinggian dari gunung ini, yang sebelumnya 5000-an MDPL menjadi 2900-an MDPL. Dampak lain juga yang tampak adalah hutan kawasan pegunungan Gunung Tambora yang dahulunya merupakan hutan tropis berubah menjadi hutan savana dan fenomena ini juga tampak wilayah timur Pulau Sumbawa, Pulau Sumba dan Pulau Flores.

Menuju Puncak Tambora
Untuk menuju puncak Gunung Tambora, pendaki harus melewati jalur terbuka, melewati beberapa gundukan pasir, juga sesekali melewati celah antara bukit-bukit kecil yang cukup terjal. tak beberapa lama kemudian sudah mulai tampak kawah Gunung Tambora yang sangat terkenal itu.


Kawah Gunung Tambora
Rasa penasaran kami terbayar setelah kami melihat jelas betapa besarnya kawah Gunung Tambora ini. Kawah ini terbentuk akibat letusan dahsyat yang memuntahkan berjuta-juta kubik material saat terjadinya letusan vulkanik beberapa tahun silam.


Kawah Gunung Tambora
Kawah Gunung Tambora sangatlah terkenal ke seluruh penjuru dunia, bahkan menjadi lokasi penelitian vulkanologi oleh peneliti lokal dan mancanegara. Abibat letusan tersebut kawah Gunung tambora terbentuk sangat luas dengan keliling 30 Km, Diameter 7 Km dan kedalaman 1,2 Km, dan juga merupakan kawah terluas, dan terdalam di dunia.
Dari bibir kawah kami harus berhati-hati berpijak karena tanahnya yang mudah longsor dan bisa mengakibatkan orang terperosok ke dalam lembah. Dari bibir kawah masih terlihat kepulan gas belerang yang keluar dari beberapa titik yang menandakan kawah gunung ini masih aktif. Para pendaki pun harus mewaspadai hal ini, karena bisa berakibat fatal jika menghirup secara berlebihan.


Kawah Gunung Tambora

Kawah Gunung Tambora sejak lama menjadi fenomena yang unik baik proses terbentuknya yang dahsyat juga misteri-misteri lain yang belum terungkap. Kebanyakan orang melakukan pendakian di gunung ini karena ingin melihat langsung kawah ini. Menurut sejarah proses terbentuknya kawah ini menimbulkan dampak dan perubahan ekosistem di wilayah Nusa Tenggara. Juga menimbulkan bencana dan konban jiwa yang tidak sedikit.

Puncak Gunung Tambora 2850 MDPL
Bima, NTB
Dari bibir kawah, kami melanjutkan perjalanan ka arah sebuah bukit yang dianggap sebagai titik tertinggi dari Gunung Tambora. Puncak ini sudah tampak sejak memasuki wilayah jalur berpasir, namum untuk mencapainya memerlukan waktu 3 Jam perjalanan. Sekitar Pukul 8.00 tibalah kami di Puncak Gunung Tambora. Puncak ini memiliki ketinggian 2850 MPDL, di Puncak ini terdapat sebuah trianggulasi dengan sebuah tiang bendera.

Gunung Rinjani tampak dari Puncak Tambora
Di Puncak Tambora dari kejauhan tampak Puncak Rinjani yang berada di Pulau Lombok, yang Insya Allah akan menjadi rencana pendakian setelah Gunung Tambora

Puncak Gunung Tambora 2850 MDPL
Bima, NTB
Puncak Gunung Tambora berada di atas sebuah bukit yang tidak jauh dari bibir kawah. Ditempat inilah disepakati menjadi titik tertinggi dari Gunung Tambora. Untuk mencapai ke Puncak Gunung Tambora ada dua jalur yang direkomendasikan, yang pertama Jalur Doropeti dan Jalur Pancasila. Jalur Doropeti terbilang sangat mahal namun singkat karena pendaki harus mencarter truck atau hartop untuk sampai ke Pos III dengan biaya yang cukup mahal. Jalur Doropeti umumnya dilewati oleh para peneliti vulkanologi yang membutuhkan waktu singkat untuk sampai ke bibir kawah. Jalur Pancasila merupakan jalur yang cukup menantang dan mempunyai jarak yang jauh, sehingga kebanyakan pendaki memilih jalur ini untuk menuju ke Puncak Gunung Tambora.

Puncak Gunung Tambora 2850 MDPL
Bima, NTB
Pendakian ke Gunung Tambora memberikan sebuah pengalaman baru bagi saya, dimana saya belum pernah melihat jalur padang savana yang terbentang sepanjang pandangan, juga kawah Gunung Tambora yang sangat luas. Gunung Tambora merupakan impian saya sejak pertama kali bertualang dan Alhamdullillah tapak kakiku sudah berada di Puncak Tambora. Semoga suatu saat aku akan kembali lagi ke tempat ini.
Salam Lestari...!!!