Home » » Pendakian Gunung Ciremai

Pendakian Gunung Ciremai

Pendakian
Gunung Ciremai 3078 MDPL
16 s/d 17 Mei 2011
Cirebon Majalengka, Jawa Barat




Tanggal 15 Mei 2013, saya bertolak menuju ke Jakarta sekitar pukul 20.00 WITA dengan menumpangi pesawat Lion Air. Setibanya di Jakarta, saya langsung menuju ke daerah Jakarta Barat tepatnya di Kelurahan  Kedoya, dimana teman-teman yang sudah aku konfirmasi akan kedatangan saya, sudah menunggu di sana. Sesampainya di kedoya sekitar pukul 23.00 WIB, sudah tampak beberapa perlengkapan yang siap di packing untuk melakukan pendakian di Gunung Ciremai.
 

Satu per satu perlengkapan dan logistik yang sudah dipersiapkan teman-teman dimasukkan ke dalam daypack dan ransel. Tim ini terdiri dari 5 orang yaitu candra, ari, ali, suri dan saya sendiri Muhammad Dagri Nizar.

Pukul 00.30 kami berangkat dari terminal kebon jeruk menuju Kota Cirebon menumpangi Bis antar kota. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 4 jam dengan biaya Rp. 35 ribu/orang. Bis melaju cukup kencang melewati beberapa kota dan kabupaten seperti Bekasi, Karawang, Indramayu dan beberapa daerah lainnya.






Sekitar Pukul 6.00 pagi, tibalah kami di Kota Cirebon yang saat itu masih terlihat lengang oleh suasana pagi. Bis yang kami tumpangi berhenti di sebuah terminal, setelah itu kami berganti kendaraan menuju titik terakhir star pendakian ke Gunung Ciremai.



Kel. Linggarjati merupakan tujuan kami selanjutnya yang berjarak  10 Km dari Terminal Kota Cirebon. Perjalanan ke Linggarjati melalui jalur  menanjak melewati beberapa pemukiman yang cukup ramai dan banyak terdapat areal persawahan.  Sekitar 20 menit perjalanan, kendaraan yang kami carter berhenti tepat di depan pos pendaftaran Gunung Ciremai. Tempat ini berada di kaki Gunung Ciremai dan tampak jelas pemandangan puncak yang menjulang tinggi.

Suasana pagi di tempat ini masih terasa sejuk, belum Nampak banyak aktifitas warga yang terlihat hanya sebuah warung kopi yang letaknya disebelah pos jaga. Maka, 5 gelas kopi pun segera kami pesan berikut dengan aneka gorengan yang masih hangat. Kami betul-betul menikmati sajian ini, sebab perjalanan semalam membuat kami lapar juga kami tidak nyaman bersesakan di dalam bis sehingga tidur pun tidak dinikmati.


Setengah jam kemudian, kami menyelesaikan semua kelengkapan administrasi seperti mengisi daftar pengunjung, membayar biaya masuk dan mendengarkan sedikit arahan dari pengelola kawasan ini.

Selang beberapa lama kemudian, kami memulai perjalanan diawali dengan menyusuri jalan setapak yang cukup menanjak dan masih banyak terdapat pemukiman warga dan tampak areal perkebunan masyarakat. Target pertama yaitu Pos 1 atau Pos Cibunar, Pos ini terdapat sebuah Shelter permanen yang dibuat oleh pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai, Pos ini terletak di ujung pemukiman warga Desa Linggarjati, di tempat ini terdapat sebuah warung kecil yang menyediakan aneka makanan ringan dan siap saji. Kebanyakan para pendaki singgah di warung tersebut untuk menambah logistik dan perlengkapan lain. Di Pos 1 ini juga merupakan titik air terakhir, dimana perjalanan selanjutnya tidak terdapat sumber air.

Dua jergen yang kami bawa sudah terisi penuh dengan air, begitupun wadah-wadah penampungan air yang lain juga sudah terisi. Sekitar setengah jam berada di Pos 1, kami mulai menanjak perlahan melewati rimbun hutan cemara yang sangat sejuk, melalui tanjakan yang landai dan sesekali terjal, di kiri kanan terdapan hamparan rerumputan yang tidak terlalu menutupi jalan, saat menoleh kebelakang tampak pemandangan Kota Cirebon dari kejauhan yang cukup memukau. Pemandangan dari Pos 1 ke Pos 2 kami melewati hutan cemara yang sangat luas dan tentunya memberikan kepuasan batin bagi orang-orang yang melewatinya.

Kurang dari setengah jam kami pun tiba di Pos 2 atau Pos Luweng Datar, seperti di Pos 1, ditempat ini terdapat sebuah shelter permanen yang banyak dimanfaatkan oleh para pendaki dan penduduk untuk beristirahat, kami sempat bercengkrama dengan dua orang penduduk yang sedang mencari kayu bakar di sekitar tempat ini, mereka merupakan warga yang tinggalnya tidak jauh dari kaki gunung ciremai yang kesehariannya banyak menghabiskan waktu di hutan ini untuk mencari kayu dan mencari tumbuh-tumbuhan yang dapat diolah menjadi makanan.


Dari Pos 2, perjalanan dilanjutkan dengan melalui tracking yang cukup berat dengan kondisi hutan yang tertutup oleh rimbun pepohonan besar, sesekali kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang baru saja menyelesaikan pendakian, bahkan beberapa dari mereka terdiri dari satu keluarga yaitu bapak, ibu dan anak. Saya pribadi cukup kagum dengan keluarga tersebut, mereka benar-benar menunjukkan identitas seorang petualang yang mengisi waktu liburan dengan kegiatan pendakian gunung.

Dari Pos 2 kami menuju Pos 3 atau Pos Kondang Amis, karena perjalanan masih jauh, di Pos ini kami tidak beristirahat, perjalanan diteruskan ke arah Pos 4 dengan melewati tanjakan yang sangat terjal dengan pijakan yang sedikit lembab karena jalur ini sangat tertutup oleh rimbun pepohonan. Disepanjang jalan banyak kami temui hewan menyerupai tikus yang membusuk di pinggir jalan. Tidak jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi, menurut teman saya, hal tersebut sering terjadi di musim-musim tertentu, apakah itu berhubungan dengan hal gaib ? kami tidak bisa menjawabnya.


Setengah jam dari Pos 3, kami pun sampai di Pos 4 atau Pos Kuburan Kuda, di Pos ini suasana sangat tertutup dan gelap, disekitar ditumbuhi pohon-pohon besar yang cukup “menyeramkan”. Kami tidak tau persis kenapa tempat ini dinamakan Pos Kuburan Kuda, mitos yang sering diceritakan adalah ditempat ini sering terdengar suara kuda yang menyengir, apakah itu berhubungan dengan hal gaib ? Sekali lagi, Kami tidak bisa menjawabnya.


Jalur tanjakan semakin berat dan menantang, kami melewati jalur bekas saluran air yang licin, kaki berpijak di bebatuan dan tangan berpegang di ranting-ranting pohon. Jalur ke Puncak Ciremai merupakan salah satu yang tersulit di Pulau Jawa, tipe gunungnya sangat terjal dan sedikit berbatu ditambah tidak adanya titik air disepanjang jalur pendakian. Meskipun begitu, secara umum gunung ini memberikan sebuah pengalaman baru bagi semua orang yang mengunjunginya.


Selanjutnya kami sampai di Pos 5 atau Pos Pangalap, Pos ini berada di sebuah tempat yang cukup rata dan landai. Di Pos ini kami memutukan untuk break siang, sambil menikmati makanan ringan dan menikmati sebatang rokok. Perjalanan dari start sampai Pos 5 ini cukup menguras energy sebab jalur yang dilewati sangat terjal dan melelahkan juga ditambah konsumsi air yang kami batasi dikarenakan sumber air sudah tidak akan kami temukan sampai akhir pendakian ini.

Setelah beristirahat, perjalanan di lanjutkan dengan dengan jalur yang cukup terbuka dengan cuaca yang cukup panas dan tentunya dengan jalur yang sangat menanjak. Jalur ini betul-betul menguras stamina, kami tidak bisa mempercepat langkah karena pijakan yang kami lewati terdiri dari akar pohon dan batu-batu lepas sehingga dari Pos 5 ke Pos 6 membutuhkan waktu yang sangat lama.


Sesampainya di Pos 6 atau Pos Tanjakan Seruni waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, kami pun langsung menuju Pos 7 dengan jalur yang semakin menanjak ditambah sinar matahari yang semakin meredup. Waktu tempuh ke Pos 7 atau Pos Bapa Tere menghabiskan waktu 1 Jam, di Pos ini suasana sudah semakin gelap dan matahari sudah tidak terlihat lagi sinarnya, kami sempat berusaha mencari tempat untuk mendirikan tenda, namun lokasi yang pantas tidak terdapat disekitar Pos Bapa Tere ini.

Segera kami bergegas melanjutkan perjalanan di jalur yang semakin gelap itu, alat penerangan pun kami keluarkan untuk menerangi jalur yang akan kami lewati. Jalan semakin gelap dan menanjak, stamina pun semakin berkurang, yang lebih membuat kami drop ketika hujan deras turun di tengah perjalanan sehingga jalan semakin licin dan alat penerangan yang tidak maksimal berfungsi karena basah. Saya sempat mengeluh dan meminta untuk berhenti, namun teman-teman saya memaksa untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Hujan terus mengguyur dan membasahi perjalanan ini, rasa dingin sudah mulai murasuk kedalam badan, tidak ada pilihan lain selain terus melangkah mencari lokasi yang pas untuk mendirikan tenda. Sekitar 2 jam perjalanan seiring dengan hujan yang sudah turun perlahan, kami menemukan sebuah tempat yang cukup luas dan mampu menampung 2 buah tenda yang kami bawa.
Gerakan cepat pun dilakukan, kami berbagi tugas, ada yang mendirikan membongkar tenda, merapikan perlengkapan dan mencari kayu untuk penopang tenda. Karena kerjasama yang cepat setengah jam kemudian, berdirilah 2 tenda kami. Setelah itu perlengkapan memasak mulai di keluarkan, satu per satu logistik di olah untuk makan malam kami. Malam ini kami akan beristirahat melepas lelah setelah melewati perjalanan seharian yang sangat menguras tenaga.


Keesokan harinya, sekitar pukul 8.00, setelah selesai sarapan dan mengepak seluruh perlengkapan, kami pun memulai perjalanan dengan jalur yang tidak berbeda dengan jalur kemarin, melewati tanjakan yang berbatu dan sesekali melewatinya dengan gaya sedikit memanjat. Jalur sudah tampak semakin terbuka dan semakin hangat, melewati beberapa tumbuhan semak dan pepohonan yang tumbuh berjauhan, terlihat juga beberapa areal hutan yang habis terbakar beberapa waktu yang lalu.
Pada pendakian kali ini, suhu pada siang hari cukup hangat tidak seperti gunung-gunung lain pada umumnya yang pada posisi ketinggian seperti ini, suhu dingin dank kabut sudah menyelimuti siang dan malam. Mungkin pada pendakian kali ini suhunya terbilang stabil seperti suhu normal di dataran rendah lainnya yang berkisar 20 O C.


Kami pun sampai di Pos 8 atau Pos Batu Lingga, di Pos ini kami tidak beristirahat, kami langsung menuju ke Pos selanjutnya dengan jalur yang semakin terbuka dan terjal, sekitar 45 Menit perjalanan, sampailah kami di Pos Sangga Buana I, di tempat ini kami beristirahat singkat lalu melanjutkan perjalanan ke Pos Sangga Buana II yang jaraknya 30 Menit perjalanan dari Pos sebelumnya.


Di tengah perjalanan kami bertemu dengan beberapa teman-teman Mahasiswa Pecinta Alam dari IPB yang telah menyelesaikan pendakian di Gunung ini, mereka terdiri dari banyak wanita yang baru saja mengikuti latihan pemantapan skill organisasi Mapala IPB.


Dari Pos Sangga Buana II kami terus menanjak melewati jalur yang berbatu kerikil dan sedikit berpasir, jalurnya sudah semakin lebar dan terbuka, pepohonan sudah semakin jarang, yang nampak jelas adalah pemandangan Kota Cirebon dan Kab. Kuningan, juga terlihat dari kejauhan puncak Gunung Slamet di Banyumas, Jawa Tengah.



Pos tujuan kami adalah Pos 10 atau Pos Pengasinan, di Pos ini merupakan Pos transit sebelum menuju ke Puncak Gunung Ciremai. Beberapa perlengkapan kami simpan di tempat ini, hanya makanan ringan, air minum dan kamera yang kami bawa ke puncak. Perjalanan ke puncak diawali dengan jalur landai lalu menanjak, kurang dari setengah jam, sampailah kami di Puncak Gunung Ciremai atau Puncak Panglongokan.




Tempat ini merupakan titik tertinggi dari Gunung Ciremai dengan ketinggian 3078 MDPL. Untuk menuju puncak ini terdapat tiga jalur pilihan, pertama melalui Jalur Apuy di Majalengka, kedua melalui Jalur Putulungan di Kuningan dan ketiga, jalur yang kami lewati yaitu Jalur Linggarjati di Cirebon.

Kesemua jalur ini memiliki tipikal medan yang serupa. Pada pendaki tinggal memilih jalur mana yang akan dilalui. Kebanyakan para pendaki star dan finish di jalur yang berbeda. Di Puncak Gunung Ciremai terdapat sebuah kawah besar yang masih aktif meskipun intensitas letusannya kurang, kawah ini berdiameter cukup luas dan memiliki kedalaman yang terjal. Para pendaki harus berhati-hati ketika berada di bibir kawah, jangan sampai tergelincir,  karena permukaan tanah yang licin serta tiupan angin yang sangat keras. 

Kami segera mendokumentasikan moment ini dari segala sudut, baik foto maupun video dengan berbagai model expresi kepuasan. Buat saya pribadi, ini merupakan pengalaman pertama saya berada di Puncak Gunung Ciremai. Pendakian ini merupakan pendakian saya di Gunung Ke-9, setelah sebelumnya saya sudah mengunjungi gunung-gunung di tempat lain.






Setelah puas berada di Puncak Gunung Ciremai, kami kembali ke Pos Pengasinan untuk istirahat siang dan makan. Saking puasnya, setelah turun dari puncak, kami tidak sadar waktu telah menunjukkan Pukul 14.30, padahal kami masih membutuhkan waktu panjang untuk perjalanan turun yang sangat terjal. Perjalanan turun gunung dilalui dengan cepat namun tetap berhati-hati karena jika terjatuh resikonya akan fatal.
Kami terus mempercepat langkah, sesekali dengan gerakan setengah lari. Tampak sinar mentari sudah meredup, kami terus melangkah turun walau beberapa dari kami sering terjatuh dan terpeleset. Saat hari sudah gelap, senter pun dikeluarkan untuk menerangi jalan, satu per satu Pos kami lewati, waktu telah menunjukkan pukul 18.00, terdengar sayup-sayup azan magrib dari kejauhan, itu menandakan perkampungan sudah dekat. Langkah pun semakin di percepat sampai kami memasuki areal hutan cemara yang kami lewati kemarin saat perjalanan naik.
Namun fatalnya, karena terfokus pada jalur turun di hutan cemara, setelah satu jam kemudian, kami menyadari bahwa, kami salah mengambil jalur. Rasa panik ditambah kelelahan menyelimuti perasaan kami, namun itu tidak berlangsung lama, segera kami mengambil keputusan untuk kembali mencari jalur sebenarnya dan Alhamdulillah sekitar Jam 20.00, jalur yang kami cari berhasil kami temukan, perlahan dan pasti kami mengikuti arah jalur tersebut dengan cermat dan hati-hati. Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan bermotor dari kejauhan yang menandakan perkampungan semakin dekat, sudah terlihat cahaya lampu perkampungan. Akhirnya sekitar, Jam 22.00 sampailah kami di Pos 1, yang merupakan rumah pertama di kaki Gunung Ciremai yang terdapat warung makan dan tempat istirahat.
Akhirnya perjalanan pun selesai dengan sukses. Sebuat catatan tersendiri bagi saya tentang Gunung Ciremai yaitu jalur tanjakan panjang yang terjal yang belum pernah aku temui di Gunung lain selama pendakian saya.
Di Puncak Gunung ini saya berdoa kepada Allah SWT buat keluarga saya terutama Istri saya “Yusniatin Saputri Rahim  yang saat pendakian ini sedang mengandung 3 Bulan untuk anak saya yang pertama, Semoga senantiasa sehat walafiat sampai waktu kelahiran. Untuk itu saya juga bernazar berpuasa juga akan mengutip nama gunung ini untuk menjadi nama anak saya jika kelak sudah lahir ke dunia.