Home » , » Pendakian Gunung Sindoro

Pendakian Gunung Sindoro

PENDAKIAN GUNUNG SINDORO 
3153 MDPL
Kab. Temanggung, Prov. Jawa Tengah


Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung tertinggi di Jawa tengah. Gunung ini terletak di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Gunung Sindoro letaknya tepat berhadapan dengan Gunung Sumbing yang terletak di Kab. Wonsobo. Gunung Sindoro menyimpan banyak legenda dan cerita rakyat serta mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Gunung Sindoro merupakan tipe gunung vulkanik yang masih aktif. Dari kejauhan, puncaknya masih terlihat kepulan asap belerang yang tidak begitu besar. Seperti halnya Gunung Sumbing, Gunung Sindoro memiliki daya tarik tersendiri. Gunung ini tidak pernah sepi pendaki. Puluhan sampai ratusan pendaki berkunjung setiap harinya di gunung ini. Banyak akses jalur untuk menuju puncak Gunung Sindoro. Jalur yang paling favorit dilewati pendaki yaitu melalui jalur Desa Kledung, Kab. Temanggung. Gunung Sindoro memiliki ketinggian 3153 MDPL (Meter diatas permukaan laut). Dipuncaknya terdapat kawah yang masih aktif. Pemandangan dari puncak, anda bisa melihat Gunung Sumbing di arah tenggara, Gunung Merbabu dan Gunung Merapi di arah timur. Jarak tempuh normal naik turun yaitu 2 hari 1 malam.
Pendakian ini dimulai pada hari rabu tanggal 13 Juli 2017. Dari kota semarang saya naik angkutan luar kota melaui terminal banyumanik di Kab. Semarang. Dari terminal banyumanik kemudian dilanjutkan dengan menaiki transportasi antar kota ke arah wonosobo. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam dengan melewati beberapa daerah seperti kab. Semarang, Kab. Magelang bagian utara dan Kota Parakang.
Semakin mendekati titik awal pendakian, jalur jalannya semakin menanjak dan menanjak. Dari kejauhan sudah tampak dua gunung kembar yang menjadi pesona bagi pendaki. Dua gunung ini yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing memiliki daya pikat tersendiri bagi siapa saja yang melintasi jalur trans wonosobo. Jalur transportasi membelah kaki dua gunung ini, sehingga sepanjang mata memandang hanya tampak kemegahan dua gunung yang tersohor ini.
Sepanjang mata memandang tampak pemukiman warga yang tersebar di kedua kaki gunung ini. Suhu dingin mulai terasa saat kendaraan yang saya tumpangi perlahan memasuki wilayah kaki gunung yang sedikit tertutup kabut. Tanaman tembakau praktis menutupi seluruh areal pertanian warga. Tak terhingga luasnya karena sudah beberapa kecamatan kami lewati hanya tamanan tembakau yang membentang menyelimuti setiap jengkal lahan.
Pos Pendaftaran Gunung Sindoro
Pos Pendaftaran Gunung Sindoro
Akhirnya sekitar pukul 4 sore sampailah saya di titik pendakian. Gunung yang pertama saya akan daki adalah Gunung Sindoro. Titik pendakiannya berada di Desa Kledung, Kec. Kledung, Kab. Temanggung. Pos pendaftaran hanya berjarak 20 meter dari jalan utama tepatnya di kompleks kantor Desa Kledung. Pengelolaan administrasi dan Rescue diatur sepenuhnya oleh Kelompok Pecinta Alam GRASINDO. Merekalah yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pendakian. Mulai dari simaksi, fasilitas pendaki seperti basecamp untuk istirahat, tempat parkir, fasilitas MCK, sewa peralatan. Bagi pendaki yang membutuhkan Guide dan Porter, Grasindo juga menyediakannya. Tidak jauh dari pos pendaftaran terdapat sebuah masjid besar yang memudahkan juga pendaki untuk beribadah.
Desa Kledung terletak di kaki Gunung Sindoro, dari tempat ini sudah terlihat kawasan puncak gunung Sindoro dan dari arah depan terpampang megah Gunung Sumbing yang menjulang tinggi. Daerah ini memiliki ketinggian sekitar 1300 MDPL. Sebagian besar penduduknya merupakan petani tembakau yang bercocok tanam di kaki gunung sindoro.
Saat saya tiba di Pos Pendakian ini, tampak kesibukan pengelola yang mengatur hilir mudik pendaki gunung yang akan naik dan sudah turun gunung. Sebagaimana informasi yang saya terima sebelum melakukan pendakian ini, bahwa aktifitas pendakian di Gunung Sindoro tidak pernah sepi. Hal itu terbukti saat saya sampai di Pos pendakian dan melihat betapa banyaknya pendaki gunung yang berada di tempat ini. Menurut hitungan saya, hamper ratusan pendaki yang melakukan registrasi hari itu baik yang naik ataupun yang sudah turun. Karena banyaknya antusias pendaki ke gunung ini, maka disediakanlah sebuah aula Desa Kledung yang sangat luas yang mampu menampung ratusan pendaki.

Aula Desa Kledung
Basecamp Gunung Sindoro
     Hampir dari segala penjuru pulau jawa ada di tempat ini saat itu. Mereka datang berombongan dengan menyewa mobil atau naik motor. Pemandangan seperti ini terjadi hampir setiap hari apalagi saat musim liburan sekolah dan kuliah tiba yang bahkan mencapai 600 orang per harinya. Ini menunjukkan bahwa daya tarik Gunung Sindoro telah mampu memikat gairah para pendaki untuk berkunjung di tempat ini. Saya ibaratkan gunung ini seperti tempat wisata petualang yang tidak pernah sepi pengunjung bahkan saat bulan ramadhan.

Aktifitas Pendaki di Pos Pendaftaran Gunung Sindoro
Kondisi sepeti ini yang dimanfaatkan oleh pemerintah desa dan masyarakat pencinta alam di Desa Kledung untuk menata sedemikian rupa sehingga aktifitas pendakian dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang dibarengi dengan memberikan kenyamanan dan fasilitas kepada para pendaki yang berkunjung. Selain fasilitas yang telah kami sebutkan diatas, disekitar pos pendaftaran terdapat puluhan warung makan, jajanan, cemilan dan aneka gorengan khas jawa tengah. Para pendaki dipastikan tidak akan kelaparan di tempat ini.         

Jasa Ojek ke Pos I Gunung Sindoro
Masyarakat sekitar juga mendapatkan berkah dari kesibukan pendaki di gunung sindoro. Terdapat jasa ojek yang siap mempersingkat jarak pendakian. Ojek ini akan mengantarkan pendaki dari Pos Pendaftaran sampai pertengahan Pos II. Tarifnya Rp. 25.000. Jadi, terserah dari pendaki apakah mau naik ojek atau berjalan kaki saja ?  Mas ojeknya pun ngak akan maksa jenengan..hehehe. 

Suasana di Pos Pendaftaran Gunung Sindoro
Bersama Tim Grasindo
   Saat saya sampai, suasana keramahan pun mulai terasa. Ketika saya disapa oleh beberapa pendaki, Mas ojek, bahkan sampai saat saya melakukan registrasi di posko, beberapa teman dari Grasindo menyambut dengan ramah, apalagi saya berasal dari jauh (Kendari, Sulawesi Tenggara). Untuk pendakian di Gunung Sindoro, saat registrasi, pendaki akan mendapatkan lembaran peta, Peraturan pendakian, lembaran petunjuk pendakian. Selain itu ada biaya retribusi sebesar Rp. 12.500 / Orang.
  

Istirahat di Basecamp Grasindo

Berhubung hari sudah mulai gelap, pendakian akan saya mulai besok. Saya pun menginap di basecamp utama Grasindo. Saat malam tiba, tampak aktifitas registrasi di Pos Pendaftaran tidak berhenti. Para pendaki masih silih berganti berdatangan. Ratusan motor dan puluhan mobil mengisi seluruh ruas parkir halaman kantor Desa Kledung. Tampak beberapa orang yang juga anggota Grasindo sibuk mengatur posisi kendaraan pendaki yang tidak henti-hentinya berdatangan bahkan sampai waktu menunjukkan pukul 01.00 malam. Kondisi dingin semakin menyengat yang memang saya tidak terbiasa dengan suhu seperti ini. Bukan hanya pendaki, masyarakat sekitar pun memakai jaket dan kupluk saat beraktifitas di malam hari. Suhu di tempat ini saat malam sekitar 150 C. Bisa dibayangkan berapa suhu saat di atas gunung nanti ?


Basecamp Grasindo, Gunung Sindoro
Kantor Desa Kledung dan Basecamp Gunung Sindoro

Keesokan harinya setelah melapor kembali di Pos Pendaftaran dan menyewa beberapa peralatan yang tidak sempat dibawa, saya akhirnya memulai pendakian. Meskipun saya datang seorang diri, namun saya tidak perlu khawatir sendiri karena saat saya memulai perjalanan, puluhan pendaki lain juga bersamaan bergerak ke Pos 1 sehingga kami menjadi satu rombongan pendakian. Mereka berasal dari beberapa wilayah yang juga baru bertemu saat itu. Ada yang dari Jogja, Solo, Bekasi, Batang, Magelang dll.
Sebelum memulai perjalanan, seluruh wadah air diisi penuh, mengingat sepanjang perjalanan sampai puncak tidak terdapat sumber air mengalir. Kecuali jika Mbah Kuat berada di Pos III malam nanti. Mbah kuat adalah seorang penduduk yang sudah 2 tahun terakhir mengangkut air dalam botol air mineral untuk dijual ke pendaki di Pos III.
 
Perkebunan Tembakau
Jalur Menuju Pos I Gunung Sindoro
Kami pun memulai perjalanan dengan menyusuri jalan desa yang terbuat dari paving blok. Perjalanan awal cukup landai dan panjang. Sekitar 20 menit sampailah kami di kawasan perkebunan temabakau yang sangat luar. Disisi kanan dan kiri hanya terlihat kebun tembakau yang membentang tak berhujung. Kami tak bisa menghitung luasnya, karena sampai 1 jam perjalanan, hanya kebun tembakau pemandangan yang dapat kami lihat. Saat menengadah keatas tampak Gunung Sindoro yang akan kami daki dan saat menoleh kebelakang, tampak Gunung Sumbing yang menjulang tinggi. Subhanallah.

Perkebunan Tembakau
Jalur Menuju Pos I Gunung Sindoro

    Sesekali melintas dari belakang kami, beberapa pendaki yang menumpang ojek. Jasa ojek ini cukup membantu pendaki yang ingin mempersingkat perjalanan ke gunung sindoro saat naik dan saat turun gunung. Beberapa tukang ojek juga standby di pertengahan Pos II untuk menunggu pendaki yang akan turun ke desa.
     Setelah 1,5 berada di kawasan perkebunan tembakau, jalur akan masuk ke kawasan hutan pinus yang sangat teduh dan sejuk. Jalurnya mulai menanjak sedang. 10 Menit kemudian kami sudah sampai di Pos I. Tempat ini terdapat sebuah shelter yang terbuat dari kayu. Shelter ini cukup untuk menjadi tempat isitirahat semetara pendaki sebelum menuju ke Pos II.


Pos II Gunung Sindoro

Setelah lepas dari Pos 1, jalur akan memasuki hutan yang cukup teduh dengan sedikit menanjak. Suasana hutannya masih didominasi pohon pinus dan beberapa tanaman lain. Selain pendaki gunung, di jalur sampai pertengahan Pos II masih terlihat lalu lalang ojek yang hilir mudik mengantarkan pendaki untuk naik ataupun turun gunung. Ojek tersebut setiap harinya beroperasi di jalur ini sebagai penghasilan tambahan dimana mereka sendiri kebanyakan petani tembakau yang mencari aktifitas sampingan sambil menunggu musim panen tiba.
Sekitar 30 Menit kemudian sampailah kami di sebuah shelter yang merupakan pertengahan antara Pos I dan Pos II. Tempat ini merupakan batas terakhir ojek menurunkan pendaki dari Pos pendaftaran atau menunggu pendaki yang turun dari arah Pos II. Tampak beberapa Mas Ojek yang sedang bercengkrama sesama mereka sambil menikmati rokok dan minuman hangat. Jalur selanjutnya yaitu menanjak landai sampai menemukan Pos II. Jarak tempuh normal antara Pos I dan Pos II yaitu 1 Jam. Pos II merupakan sebuah tempat yang cukup luas dan terdapat sebuah shelter yang memungkinkan para pendaki untuk istirahat sejenak. Kami pun beristirahat sejenak dan makan siang di tempat ini.


Tanjakan ke Pos III

Dari Pos II perjalanan diteruskan dengan tanjakan yang cukup terjal. Di jalur ini pendaki cukup terbantu karena banyak terdapat pengangan dan pijakan yang memudahkan pendaki untuk melewati tanjakan dan jalur menanjak. Semakin menanjak suhu semakin dingin. Hal ini terlihat pada kepulan hawa putih yang keluar dari mulut saat bernapas. Semakin mendekati Pos III, pepohonan yang nampak semakin kecil dan kawasan hutannya semakin terbuka. Ini menandakan kita sudah berada di ketinggian diatas 2000 MDPL.
   Dijalur ke Pos III tampak juga wilayah Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo yang membentang luas mengitari Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dari kejauhan terlihat juga hamparan perkebunan tembakau yang tidak terhitung luasnya. Hasil perkebunan tembakau tersebut yang menjadi sumber utama penghasilan masyarakat di wilayah lereng kedua gunung ini. Menurut informasi dari masyarakat. Perkebunan tembakau di kedua lereng gunung ini merupakan lumbung utama dari produsen rokok ternama di Indonesia yaitu PT. Gudang Garam, PT. Djarum Super. Hasil panen petani langsung di tamping di gudang induk kedua perusahaan tersebut. Dari hasil panen yang melimpah tersebut telah memberikan kesejahteraan bagi petani tembakau, ini terlihat dari kehidupan mereka yang terbilang memadai.
  Karakteristik tanah dan suhu serta angin Di kawasan lereng Gunung Sindoro memang sangat memungkinkan untuk mengembangkan tanaman tembakau. Tanaman ini menjadi icon di wilayah ini dan sudah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.
   *Kembali ke pendakian*….Setelah berjalan sekitar 2 Jam, sampailah kami di Pos III. Pos ini biasanya dijadikan Pos terakhir sebelum melakukan summit attack pada dini hari nanti. Wilayah Pos III sangat luas yang meliputi beberapa punggungan bukit. Terlihat puluhan tenda sudah didirikan oleh pendaki baik yang akan menuju puncak atau yang sementara turun dari puncak. Tempat ini cukup terbuka dan terdapat beberapa pohon pelindung. Meskipun terbuka, namun tiupan angin tidak terlalu berhembus kencang di tempat ini sehingga pendaki tidak perlu khawatir tendanya akan bergeser.
   Saat kami tiba, terlihat aktifitas kesibukan dari ratusan pendaki, ada yang sedang memasang tenda, memasak, ngopi, ataupun berkemas-kemas untuk turun. Kami pun segera mencari tempat yang kosong untuk mendirikan tenda. Dari bukit sebelah terlihat juga puluhan tenda yang sudah berdiri. Karena padatnya pengunjung di Pos III, sehingga banyak pendaki yang memutuskan untuk mendirikan tenda agak berjauhan dari tempat ini meskipun mereka masih terlihat aktifitasnya dari Pos III. Seperti yang saya katakan sebelumnya. Kompleks Pos III sangatlah luas, wilayahnya memang berkonsentrasi pada satu titik tapi para pendaki banyak yang mendirikan tenda dalam radius 100 Meter.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Malam semakin larut, namun yang terdengar aktifitas yang semakin ramai saja. Sepertinya tidak ada yang tidur malam ini. Masih terdengar ada yang bersenda gurau dan bercengkrama meskipun kondisi dingin yang semakin menusuk. Tampak dari tenda kami sebuah shelter kecil yang merupakan pondok milik Mbah Kuat. Beliau merupakan penduduk Desa Kledung yang beraktifitas di Pos III untuk menjual air mineral. Setiap hari dia membawanya dari Desa untuk dijajakan kepada pada pendaki yang mungkin saja kekurangan air saat pendakian. Selain itu, Istri Mbah Kuat juga menjajakan aneka gorengan dan camilan serta minuman hangat seperti teh, kopi dll. Berbagai merek rokok dan mie rebus juga dijual ditempat ini. Para pendaki gunung sindoro benar-benar bersyukur dengan hadirnya warung mbah kuat di tempat ini. Namun Mbah karena keterbatasan stok air dan dagangan, maka tidak bisa semua kebutuhan pendaki dapat terpenuhi di warung ini.
   Angin berhembus cukup kencang saat seluruh pendaki sudah tertidur pulas. Terdengar kepakan tenda-tenda yang menahan hembusan angin yang bertiup hampir sepanjang malam. Suasana ini setiap malam terjadi di Pos III, karena lokasi ini berada di jalur arus angin. Malam semakin dingin dan tidak ada lagi suasana hiruk pikuk pendaki yang beraktifitas. Semuanya sudah terlelap dalam mimpi. Mereka mempersiapkan tenaga untuk melakukan summit attack dini hari nanti.
   Sekitar pukul 03.30 malam, sudah terdengar aktiftas di beberapa tenda. Tampaknya saat inilah para pendaki akan memulai perjalanan kepuncak untuk mengejar sunrise di Puncak Sindoro. Saat pukul 04.00 dini hari, iring-iringan pendaki mulai beranjak meninggalkan Pos III. Terlihat ratusan headlamp telah berpijar di kepala masing-masing pendaki. Kami pun juga segera bergerak setelah mempersiapkan peralatan seadanya untuk menuju puncak, adapun tenda dan perlengkapan lain kami tinggalkan di Pos III ini.

Sunrise di Gunung Sindoro

Dingin yang menusuk sangat terasa saat itu. Saya perkirakan suhunya sekitar 100 C, ditambah tiupan angin yang menggetarkan langkah. Hanya semangat yang dapat menggerakkan langkah kami setapak demi setapak melalui tanjakan yang sangat terjal ini. Tampak dari arah depan puluhan pendaki telah lebih dulu bergerak. Sesekali saya menoleh ke belakang ke arah Gunung Sumbing. Tampak dari jarak puluhan Mil dapat saya lihat pijaran cahaya bergerak perlahan kearah atas. Saya pastikan cahaya itu adalah pendaki yang juga akan melakukan Summit Attack di Gunung Sumbing.
     Waktu terus berjalan, dan kami masih berada di tengah jalur yang semakin terjal. Sudah tampak vegetasi yang terbatas. Dikiri dan kanan jalur hanya ada pohon-pohon kerdil yang letaknya berjauhan. Tiupan angin semakin memberi tantangan saat kami terus menambah ketinggian. Semakin tinggi tipe jalurnya mulai berganti yaitu melewati bebatuan sedang dan kerikil. Disekitarnya tubuh semak-semak dan rerumputan meskipun bebatuan mendominasi wilayah jalur ini.
   Tak lama berselang tampak matahari perlahan merangkak naik menyinari seluruh sisi Gunung Sindoro. Kami masih berada di pertengahan Pos IV dan terus memacu langkah

Pos IV Gunung Sindoro

   Sekitar Pukul 7.00 Pagi sampailah kami di Pos IV. Tempat ini berada di tengah jalur pendakian. Tempatnya cukup luas dan sangat terbuka. Menurut informasi, belakangan ini sudah jarang pendaki yang menginap di tempat ini karena alasan angin ekstrim yang selalu bertiup kencang sepanjang malam bahkan sudah banyak tenda pendaki yang tercabik-cabik oleh amukan angin. Kami pun hanya beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan ke Puncak.


Pemandangan Gunung Sumbing dari Gunung Sindoro

   Jalur ke puncak dari Pos IV sangatlah terbuka. Sudah tidak terdapat vegetasi, yang ada hanya hamparan bebatuan yang membentang sepanjang jalur pendakian. Jalur ke Puncak Sindoro memang dikenal dengan jalur tanjakan bebatuan yang sangat panjang dan cukup menguras stamina. Ketahanan pendaki cukup diuji dijalur menuju puncak ini. Sesekali kabut tebal datang menyelimuti jalur dan membuat jarak pandang tertutup. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama karena tak lama kemudian cahaya matahari kembali menerangi pandangan.

Pemandangan Gunung Sumbing dari Gunung Sindoro

   Dari tempat ini tampak keindahan Gunung Sumbing memukau. Tampilan inilah yang menjadi icon para pendaki saat mengabadikan gambar dari Gunung Sindoro yang mengambil latar Gunung Sumbing. Tampilannya akan semakin romantis tatkala kabut menutupi lereng gunung. Suasananya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Salam-Salam untuk orang tersayang

Salam-Salam untuk orang tersayang

Salam-Salam untuk orang tersayang

Salam-Salam untuk orang tersayang

Salam-Salam untuk orang tersayang


Sarapan di Jalur menuju Puncak Gunung Sindoro


Perjalanan sejak subuh tadi membuat kami lelah dan lapar. Pada sebuah tempat terbuka saya dan rekan beristirahat dan menikmati menu sarapan nasi bungkus yang sengaja saya beli saat di kampung kemarin. Nasi bungkusnya masih awet dan tidak basi. Sebagai bahan pembelajaran baru bagi saya dan para pendaki. Untuk Daerah yang didominasi dingin apalagi dengan suhu 100 C makanan akan tahan selama 2 hari. Ibaratnya makanan itu berada di Kulkas sehingga tidak akan basi. Meskipun dingin tapi nasi dan lauknya tidak ada rasanya yang berubah.


Jalur menuju Puncak Gunung Sindoro
Pemandangan sepanjang jalur menuju Puncak Gunung Sindoro sangat memanjakan mata para pendaki. Terlihat gunung-gunung yang berderet dan kumpulan awan yang sesekali menutupi lereng Gunung Sumbing



Foto Bersama di Jalur menuju puncak Gunung Sindoro
Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan. Sesekali kami beriringan dengan banyak pendaki dari berbagai penjuru seperti Jakarta, bekasi, tangerang dll. Kami pun bercengkrama dan berfoto bersama. Momen ini menjadi sesuatu yang menunjukkan bahwa meskipun kita berasal dari berbagai daerah tapi ketika berada di alam, kita melebihi saudara.


Lalu Lintas pendaki ke puncak Gunung Sindoro

Dari sejak subuh sampai pagi ini tak henti-hentinya pendaki memenuhi jalur menuju ke puncak. Sesekali kami berpapasan dengan pendaki yang sudah turun dari puncak. Terlihat lalu lintas manusia tak berhenti antara yang hendak naik dan turun. Benar-benar Gunung Sindoro memiliki daya pikat tersendiri bagi para pendaki.

Pemandangan Gunung Sumbing dari Gunung Sindoro
Semakin menanjak, tampilan alamnya semakin memukau. Pemandangan Gunung Sumbing yang berdiri megah di depan Gunung Sindoro seakan menjadi saksi setiap langkah yang ditapaki pendaki untuk menuju puncak tertinggi Gunung Sindoro.

Jalur berbatu menuju Puncak Gunung Sindoro

Sesekali dalam sekejap, tiba-tiba kabut sontak menutupi seluruh sisi jalur. Kami saat itu sudah berada dijalur yang sangat terbuka. Tidak ada lagi vegetasi, yang ada hanya pohon-pohon mati dan hamparan batu kerikil yang berhamburan disepanjang jalan.

Jalur berbatu menuju Puncak Gunung Sindoro


Dari kejauhan bibir kawah sudah terlihat. Terlihat juga banyak pendaki yang sedang berpose kegembiraan di Puncak. Langkah setapak demi setapak kami lalui dan akhirnya sekitar pukul 8.15 akhirnya kami sampai di puncak Gunung Sindoro. Butuh 4 Jam lebih untuk kami sampai disini dari Pos III. Benar-benar perjalanan yang menguras energi dan stamina. Namun kami puas akhirnya perjuangan kami dibayar lunas saat kami menapaki puncak Gunung Sindoro.


Puncak Gunung Sindoro


Di kawasan Puncak Gunung Sindoro terdapat sebuah kawah besar yang cukup luas dengan dalam sekitar 70 Meter. Kawah ini masih aktif, terbukti dengan gumpalan asap belerang yang berbau pekat masih menyembur dari celah-celah dasar kawah. Pendaki sangat dilarang keras menuruni kawah dan beraktifitas di dalamnya. Saat kami berada di puncak kebetulan saat itu kabut tebal silih berganti datang serta tiupan angin yang tak henti-hentinya menyapu kawasan puncak. Kondisi ini membuat pemandangan sekitar kurang tampak terlihat. Hembusan angin yang berputar-putar di atas kawah menghasilkan suara-suara seperti seruling. Benar-benar sangat menakjubkan. Semuanya hanya ada di Gunung Sindoro.

Puncak Gunung Sindoro
Perjalanan ke Gunung Sindoro menambah catatan terbaru bagi perjalanan pendakian saya. Inilah Gunung yang paling ramai pendaki. Saat naik maupun turun, tidak terhitung jumlah pendaki yang kami sapa sepanjang jalan. Dan sepertinya akan sulit menandai wajah dan asal mereka saking banyaknya. Dipastikan anda tidak akan kesepian saat mendaki di Gunung Sindoro

Bibir Kawah Gunung Sindoro


   Meskipun tertutup kabut tebal, sesekali kami bisa melihat Gunung Sumbing serta Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Andong dan Gunung Ungaran dari kejauhan. Kawasan puncak Gunung Sindoro sangatlah luas dan dapat menampung ratusan pendaki. Untuk berpose pun, para pendaki tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat karena lokasinya yang luas menjadikan semua sudut di Puncak Gunung Sindoro merupakan tempat yang tepat untuk berfoto dengan view yang memukau. Tapi pendaki tetap harus berhati-hati untuk tidak mendekati bibir kawah karena tanahnya labil yang bisa membuat pendaki terpeleset dan jatuh ke kawah.

Puncak Gunung Sindoro


   Hampir semua sudut di kawasan puncak ini sudah kami abadikan baik sendiri maupun bersama-sama dengan pendaki lain yang kebetulan berada di puncak saat itu. Di Puncak Gunung Sindoro, signal telepon seluler cukup bisa dijangkau meskipun terkadang hilang. Disepanjang jalan pun demikian terkecuali dari Desa sampai Pos II, signal telepon seluler masih bisa dijangkau.

   Oleh pengelola Gunung Sindoro, para pendaki hanya diberi batas waktu untuk beraktifitas di Puncak sampai pukul 11.00 siang. Ini dikarenakan saat menjelang siang kondisi kabut dan angin serta kadar semburan belerang sudah tidak aman bagi pendaki sehingga pendaki diwajibkan segera turun dari puncak sebelum pukul 11.00 siang. Sepeti halnya Gunung-gunung di Pulau Jawa, kondisi angin dan kabut serta belerang saat menjelang siang dan menuju sore sudah tidak bersahabat lagi dengan pendaki. Sudah banyak pendaki yang menjaadi korban oleh situasi sepeti ini sehingga larangan seperti ini harus dipatuhi oleh semua pendaki demi keselamatan dalam melakukan perjalanan.

Bibir Kawah Gunung Sindoro

  Sekitar pukul 9.30, kami dan hampir seluruh pendaki bergegas untuk turun kembali ke Pos III. Kondisi di puncak saat ini memang kurang bersahabat sehingga untuk menghindari masalah kami memutuskan untuk tidak berlama-lama di tempat ini. Kurang lebih 1.5 Jam kami sudah sampai kembali di Pos III, dimana tenda dan perlengkapan lain berada disana. Setelah makan siang, kami pun berkemas-kemas untuk kembali ke Desa yang membutuhkan waktu sekitar 2.5 jam.

Puncak Gunung Sindoro
Perjalanan ke Gunung Sindoro memberikan banyak pelajaran baru bagi saya. Tentunya banyak cerita dan pengalaman baru yang tidak sempat saya lukiskan pada tulisan ini. Perjalanan ke Gunung Sindoro merupakan pendakian saya di Gunung Ke – 13, yang Insya Allah beberapa hari kedepan saya akan melanjutkan perjalanan ke Gunung Sumbing yang berada di sebelahnya. Terima Kasih dan ras syukur Alhamdulillah atas nikmat yang diberikan Allah SWT atas perkenan Nya saya bisa menapakkan kaki di Gunung Sindoro
Puncak Gunung Sindoro
Gunung Sindoro yang sangat melegenda dan banyak diceritakan oleh pendaki, Alhamdulliah sudah saya daki. Semoga pendakian ini memberikan aku inspirasi dan ilmu untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Semoga dengan sering melihat alam, kita akan semakin melihat kebesaran Allah Azza Wa Jallah dan Mentadabburi chasil ciptaannya. Wassalamu Alaikum Wr.Wb.