Home » » Antara Hidup dan Mati: Catatan Perjalanan Ekstrem di Gunung Mekongga

Antara Hidup dan Mati: Catatan Perjalanan Ekstrem di Gunung Mekongga


1. Pendahuluan: Sebuah Teguran Keras dari Alam

Setelah empat belas kali menapakkan kaki di puncak tertinggi Sulawesi Tenggara, saya pikir saya telah mengenal setiap jengkal napas Gunung Mekongga. Namun, pendakian ke-15 ini menjadi tamparan keras yang meruntuhkan kesombongan saya sebagai seorang petualang. Alam tidak pernah mengenal kata "akrab"; ia hanya mengenal rasa hormat. Di tengah belantara yang basah dan gelap, saya dipaksa berhadapan dengan titik nadir—perasaan tak berdaya yang mencekam dan keputusasaan yang nyaris mematikan. Bersama tim dari KPA Palapa Sultra, KPA Nusala, KPA Kontur Konawe, serta perwakilan dari Kendari, perjalanan rutin tahunan ini berubah menjadi ajang pertaruhan nyawa yang memaksa ego saya luruh hingga ke dasar bumi.

2. Persiapan dan Kehangatan di Desa Tinokari (Hari Pertama)

Rencana besar ini disusun dengan matang di Basecamp KPA Palapa Sultra, Kota Unaaha. Sembilan orang terpilih bergerak menuju Kabupaten Kolaka Utara, menempuh enam jam perjalanan darat yang panas sebelum akhirnya disambut udara pegunungan di Desa Tinokari.

Sesuai prosedur, kami melapor ke Polsek Anteangin dan menyambangi kediaman Ibu Kepala Desa. Namun, jantung emosional malam itu berada di rumah Pak Nasir. Beliau adalah adik kandung almarhum Pak Basir—legenda hidup jalur Mekongga yang telah berpulang. Menatap wajah Pak Nasir seperti melakukan perjalanan waktu; kemiripannya dengan sang kakak membawa nostalgia yang mendalam bagi kami para pendaki lama. Di bawah atap rumahnya, kami menikmati jamuan makan malam terakhir dengan kenyamanan manusiawi, sebelum esoknya menyerahkan diri sepenuhnya pada hukum rimba.

3. Langkah Awal: Menyeberangi Sungai dan Menuju Pos 2 (Hari Kedua)

Tepat pukul 08:00 WITA, langkah pertama dimulai. Cuaca cerah, namun Mekongga langsung menyajikan tantangan pembuka yang memaksa kami basah kuyup di awal rute:

  • Penyeberangan Sungai Tinokari: Sungai selebar 30 meter ini adalah gerbang utama. Air setinggi paha dengan arus yang menuntut fokus penuh pada setiap pijakan batu licin. Di musim hujan, titik ini bisa menjadi perangkap mematikan.
  • Kebun Kakao dan Jalur Terbuka: Selepas sungai, kami dipaksa menanjak melewati perkebunan warga. Udara panas menyengat karena ketiadaan pohon pelindung, sebuah kontras dari hutan rimbun yang kami tuju.

Menjelang Pos 2, ritme perjalanan sedikit melambat saat kami memetik pakis hutan dan labu liar—anugerah alam yang akan menjadi penyelamat perut kami nanti. Malam pun tiba di Pondok Pos 2, sebuah gubuk kebun peninggalan almarhum Pak Basir yang masih dirawat dengan cinta.

"Pondok Pos 2 bukan sekadar kayu dan atap; ia adalah monumen kebaikan almarhum Pak Basir. Bagi kami, ini adalah rumah kedua di tengah belantara, tempat di mana rasa lelah luruh oleh kebersamaan dan tumis pakis yang sederhana."

4. Medan yang Berubah: Longsoran dan Jalur HBI (Hari Ketiga & Keempat)

Memasuki hari ketiga, wajah Mekongga berubah garang. Kami melintasi jalur HBI (Hak Berusaha Hutan), sebuah rute bekas pengangkutan kayu gelondongan yang sudah puluhan tahun ditinggalkan manusia. Alam telah mengambil alih kekuasaannya; jalur ini kini menjadi labirin pohon tumbang yang rapat dan dahan berduri yang mengoyak kulit.

Kejadian paling dramatis meletus di antara Pos 3 dan Pos 4. Sebuah longsoran masif akibat cuaca ekstrem beberapa bulan lalu telah memutus jalur utama. Kami berdiri di tepi patahan, menatap jurang yang menganga. Tak ada pilihan lain selain menuruni tebing licin, merayap di tepian jurang, dan menggunakan bantuan tali untuk menuruni tebing batu yang terjal. Perjalanan ini menguras sisa tenaga hingga kami terpaksa menembus malam menuju Pos 6 (1900 mdpl). Di sana, kami disambut oleh "Danau Coca-cola" atau Telaga Lumut. Airnya yang berwarna kemerahan gelap mungkin tampak ganjil, namun bagi pendaki, ini adalah sumber kehidupan abadi yang tak pernah kering meski kemarau panjang melanda.

5. Puncak Oro: Keberhasilan yang Berujung Bahaya (Hari Kelima)

"Summit Attack" dimulai pukul 07:00 WITA. Kami meninggalkan sebagian besar logistik di Pos 6 agar bisa bergerak lincah menembus hutan lumut yang sunyi menuju Pos 7 (2500 mdpl). Kami melewati Puncak Salah yang penuh batuan runcing dan gerbang batu mistis "Pintu Angin Moserosero."

Tepat pukul 14:30 WITA, seluruh tim berhasil menginjakkan kaki di Puncak Oro (2620 mdpl). Di tengah badai angin yang menderu dan kabut yang menutup pandangan, rasa syukur membuncah. Namun, di sinilah kesalahan fatal dimulai. Terbuai oleh euforia puncak ke-15 dan kesibukan dokumentasi untuk media sosial—teriakan "like, comment, dan subscribe" yang bergaung di sela-sela badai—kami lupa pada hukum waktu. Kami bertahan terlalu lama di puncak yang membeku itu hingga pukul 16:30 WITA. Sebuah kecerobohan yang hampir dibayar dengan nyawa.

6. Insiden "Nyaris Menjemput Ajal": Malam Kelam di Pos 7

Saat kami mulai turun, langit seakan tumpah. Hujan deras yang menampar kulit seketika menurunkan suhu hingga ke titik beku. Kepanikan mulai merambat saat kegelapan total menyelimuti hutan lumut. Karena hujan yang begitu lebat, saya memberikan satu-satunya alat penerangan saya kepada seorang rekan di belakang agar ia tetap bisa melihat jalur. Itulah saat saya terpisah.

Saya mencapai Pos 7 sendirian, tanpa senter, tanpa perlengkapan memadai, dan dalam kondisi basah kuyup. Tubuh saya menggigil hebat—gejala awal hipotermia yang mematikan. Saya meringkuk di balik bongkahan batu besar, berusaha memeluk tubuh sendiri di tengah kegelapan yang sempurna.

Malam itu adalah neraka yang dingin. Di tengah suara angin yang mengganas, saya mulai mendengar suara-suara aneh yang tak masuk akal. Halusinasi mulai bermain; saya seolah melihat keranda jenazah kami bersembilan sedang diusung di tengah isak tangis keluarga. Dalam kesendirian itu, saya hanya bisa berzikir, memohon ampunan atas segala keegoan. Saya merasa bersalah karena meninggalkan rekan-rekan saya di belakang. Malam panjang itu adalah pertaruhan antara hidup dan kematian, di mana setiap detik terasa seperti selamanya.

7. Kesan Mendalam dan Hikmah Perjalanan

Fajar akhirnya menyingsing, membawa kehidupan kembali ke tubuh yang nyaris kaku. Setelah berhasil berkumpul kembali dengan tim dalam kondisi selamat, saya membawa pulang refleksi yang jauh lebih berat dari ransel saya.

Gunung Mekongga mengajarkan bahwa keindahan dan keganasan adalah dua sisi mata uang yang sama. Manajemen waktu bukan sekadar angka, melainkan batas antara hidup dan mati. Satu hal yang paling menyentuh adalah teguran keras bagi mereka yang sering menitipkan nama untuk ditulis di puncak. "Titip nama? Kami di sini setengah mati berjuang melawan maut, mengorbankan sepatu yang terbakar hingga piring yang hancur, sementara kalian duduk nyaman di rumah," ujar saya dengan sisa amarah yang lahir dari keletihan luar biasa. Jangan pernah meremehkan alam dengan permintaan-permintaan konyol yang menyepelekan perjuangan fisik dan batin pendaki.

Bagi saya, ini adalah "kehidupan kedua." Sebuah peringatan bahwa pengalaman belasan kali pun tidak menjamin keselamatan jika kita abai pada tanda-tanda alam dan terlalu sombong untuk tunduk pada waktu.

8. Penutup: Salam Lestari

Pulang dengan selamat adalah tujuan utama; puncak hanyalah bonus yang menuntut tanggung jawab besar. Gunung Mekongga telah memberikan pelajaran paling berharga dalam hidup saya: bahwa hidup adalah nikmat yang indah yang tidak boleh didustakan oleh kelalaian manusia.

Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

Salam Lestari.

No comments:

Post a Comment

Flag Counter