Desa Wolasi

KAWASAN PENDIDIKAN PENCINTA ALAM
D E S A   W O L A S I



Tempat yang menyimpan banyak cerita-cerita masa lalu yang masih misterius. Masih banyak hal-hal yang belum terungkap mengenai kejadian masa lalu yang konon pernah menghebohkan di tempat ini. Kini hanya cerita-cerita yang sambung menyambung di telinga, yang faktanya masih terus tersembunyi. Mungkin sebagian orang bisa menerawang kejadian masa lalu dan dapat melihat keberadaan mereka saat ini yang masih “mengembara” di hutan wolasi. Banyak kejadian saat ini yang selalu dikait-kaitkan dengan “kemarahan” mereka.
Sebagai mahluk yang beriman, mari kita mengirimkan doa kepada mereka agar mendapatkan ketenangan dan kedamaian bersama-Nya. Kejadian masa lalu di tempat ini, cukup menjadi catatan dan ingatan. Semoga tidak ada kejadian serupa dimasa mendatang. Semoga tempat ini menjadi rumah yang akan membawa kedamaian dan ketenangan jiwa bagi mereka.
______________________________________________________________________________
Kecamatan Wolasi, Kab. Konawe Selatan
Terletak di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, Wolasi merupakan sebuah Kecamatan. Sebelumnya wolasi masih masuk dalam wilayah Kecamatan Konda. Wolasi merupakan wilayah pegunungan yang berada pada ketinggian 250 Mdpl – 500 Mdpl. Wolasi dahulu banyak menyimpan cerita-cerita mistik, namun sekarang waktu sudah berlalu. Sudah ribuan masyarakat mendiami lahan disepanjang jalan penghubung kabupaten. Mereka hidup damai dan tenteram. Sebagian besar hidup sebagai petani sawah dan ladang.

Disepanjang jalan menuju Kecamatan Wolasi dari arah Kota Kendari, akan dilewati bentangan areal persawahan yang tak terhitung luasnya. Saat mulai memasuki jalan dengan model tanjakan, menandakan anda sudah memasuki wilayah Kecamatan Wolasi. Karena berada pada ketinggian, model jalan mengikuti alur pegunungan. Beberapa tanjakan dan jalan berliku-liku harus dilewati. Pemandangan Kota Kendari sesekali tampak saat berada di ujung tanjakan.



Jalur Aspal ke Desa Wolasi
Berjarak kurang lebih 35 Km dari Kota Kendari. Akses transportasi ke Kecamatan Wolasi sangat mudah dengan kondisi jalan lebar dan beraspal mulus. Baik berkendara dengan sepeda motor maupun roda empat, waktu tempuh hampir sama yaitu sekitar 30 Menit. Kendaraan angkutan umum sangat ramai lancar melayani para penumpang. Aksesnya dimulai dari Terminal Baruga, Kota Kendari. Para penumpang tidak perlu menunggu lama untuk mencari tumpangan kearah Kecamatan Wolasi. Setiap saat angkutan luar kota siap mengantarkan anda ke tujuan.


Jalur Aspal ke Desa Wolasi
Karena jalurnya yang searah dengan Ibu Kota Kabupaten Konawe Selatan sehingga kendaraan angkutan umum yang melayani tidak pernah sepi. Selain melayani rute ke Ibu Kota Kabupaten, angkutan umum juga menerima penumpang dengan tujuan kecamatan-kecamatan yang dilaluinya. Setiap harinya, baik masyarakat biasa maupun Pegawai pemerintah tidak kesulitan mendapatkan layanan transportasi ke arah Kabupaten Konawe Selatan.

Memasuki wilayah Kecamatan Wolasi, diawali dengan tanjakan berliku-liku. Hutan rimbun mulai terlihat dikiri kanan. Perjalanan semakin menanjak dan menanjak. Dari arah belakang akan tampak pemandangan Kota Kendari dari kejauhan. Perjalanan sudah memasuki kawasan hutan lindung yang ditumbuhi ribuan pepohonan. Suasana sejuk dan udara segar mulai terasa ditempat ini. Sebelum memasuki wilayah Desa Wolasi, akan dilewati jejeran warung-warung makan yang berada ditepi jalan. Puluhan warung dan kios tersebut sudah puluhan tahun beroperasi di pinggir jalan ini. Tidak sedikit pengendara yang mampir sejenak untuk beristirahat sambil meneguk segelas kopi dan menikmati sebatang rokok.


Desa Wolasi, Kab. Konawe Selatan
Sesampainya di Desa Wolasi, suasana pedesaaan akan mulai nampak. Tidak jauh berbeda dengan kondisi desa-desa lain pada umumnya. Ratusan kendaraan lintas kabupaten lalu lalang dengan kecepatan tinggi melintasi jalan aspal mulus yang membelah Desa Wolasi. Jalur jalan aspal ini merupakan jalur arteri yang menghubungkan Kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Bombana. Jadi tidak heran selama 24 jam, jalan aspal ini tidak pernah lengang.

Apa sesungguhnya yang menarik untuk mengulas tentang Desa Wolasi. Padahal keadaannya tidak berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Desa Wolasi dihuni kurang lebih 1500 warga yang sebagian besar adalah petani kebun dan pengolah kayu. Sebagian kecil penduduknya banyak yang beraktifitas seharian di Kota Kendari dan kembali pada saat sore hari.

Namun bukan hal tersebut yang akan saya ulas pada tulisan ini. Di kalangan Pencinta Alam di Kota Kendari, Desa Wolasi merupakan tempat yang tidak akan terlupakan dan menyimpan kesan yang mencadi catatan dan kenangan. Kawasan hutan di Desa Wolasi telah menjadi saksi bisu lahirnya ratusan generasi pencinta 
alam.Hutan desa wolasi telah mencatat sejak puluhan tahun yang lalu ratusan tapak dan jejak yang telah menjejal langkah demi langkah dalam mengarungi rimba wolasi yang masih banyak misteri. 

Kawasan hutan wolasi membentang luas meliputi ribuan hektar. Berada di ketinggian diatas 200 MDPL yang berupa deretan bukit-bukit yang terdapat banyak sungai-sungai. Hutan wolasi ditumbuhi ratusan ribu jenis pepohonan unggulan yang sudah berusia bahkan sampai ratusan. Dengan kondisi tersebut menjadikan kawasan hutan wolasi menjadi hutan lindung yang dijaga kelestariannya. Hutan wolasi yang berada di ketinggian menjadi lumbung ratusan mata air yang akan mengaliri ke pemukiman dan ladang pertanian.


Memasuki Hutan Wolasi

Dengan kondisi tersebut menjadikan kawasan hutan wolasi menyimpan potensi sumber daya alam dan memiliki karakteristik lingkungan yang khas sehingga mampu menarik minat para petualang. Kawasan hutan wolasi telah didaulat dan ditetapkan menjadi lokasi pendidikan dasar bagi pencinta alam untuk hampir seluruh Organisasi Pencinta Alam di Kota Kendari.


Sejak puluhan tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 1990 an, kawasan hutan wolasi mulai dirintis sebagai basecamp utama pengenalan lapangan para Generasi Baru pencinta alam. Perintisan dan penemuan spot-spot pendukung awalnya dilakukan oleh Mapala Universitas Sulawesi Tenggara yang selanjutnya secara perlahan ditahun-tahun selanjutnya mulai disempurnakan oleh Gabungan Pencinta Alam Kota Kendari.

Sesungguhnya diwilayah Sulawesi Tenggara memiliki karakteristik hutan yang sama dengan kondisi hutan di wilayah Wolasi. Namun, wolasi menjadi alternative yang sangat memenuhi syarat jika dilihat dari beberapa aspek pendukung. Secara umum kondisi hutan tropis pasti memiliki tipe pegunungan yang berbukit-bukit. Selain itu terdapat beberapa sungai yang bercabang-cabang. Keberadaan flora dan fauna juga menambah lengkap karakteristik hutan tropis. Sebagai media pendukung aktifitas pengenalan lapangan juga dibutuhkan sarana tebing alam dan goa. Umumnya semua syarat yang disebutkan diatas pasti dimiliki oleh seluruh kawasan hutan tropis di wilayah Sulawesi Tenggara.



Mengapa Hutan Wolasi yang dipilih ? jawabannya karena semua sarana tersebut diatas terdapat di hutan wolasi dan yang lebih utamanya lagi adalah jarak diantaranya tidak begitu berjauhan. Kondisi tersebut sangat memungkinkan untuk mengefisienkan aktifitas dan pergerakan serta mengurangi resiko-resiko yang mungkin akan ditemukan saat dialam terbuka. Kelebihan lain dari lokasi pendidikan dasar ini yaitu jarak tempuh dari pemukiman warga cukup dekat sehingga aktifitas yang berlangsung di dalam kawasan hutan masih dapat dijangkau oleh warga jika terjadi situasi darurat, begitupun sebaliknya. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat sudah memasuki kawasan hutan, praktis sudah tidak ada lagi alat komunikasi seluler yang dapat terjangkau, namun saat ini (Tahun 2013 keatas) dalam radius 4 Mil kedalam hutan, signal telepon seluler masih dapat terjangkau. Ini sangat membantu komunikasi bagi siapa pun yang sedang beraktifitas di dalam hutan, khusunya para Pencinta Alam yang kondisinya harus terus dikabarkan kepada rekan-rekannya diluar.


Hutan Wolasi sudah sangat familiar dikalangan Pencinta Alam di Kota Kendari. Terlalu banyak kenangan yang dilalui saat bercengkrama dalam keteduhan wolasi. Hutan Wolasi seakan menjadi rumah kedua bagi kami. Pepohonan rimbun dan riak-riak anak sungai selalu menjadi memori yang menggugah kami untuk kembali bentandang ke hutan wolasi.

Tipe hutan wolasi, termasuk hutan semi tropis. Berada pada ketinggian 200 MDPL s.d 500 MDPL menjadi hutan wolasi berada dalam zona sejuk. Kondisi demikian yang menjadikan pepohonan tumbuh rimbun disepanjang pinggir sungai sampai puncak bukit. Dengan tipe hutan berbukit-bukit menjadikan terbentuknya aliran-aliran sungai yang puluhan jumlahnya. Lembah-lembah terbentuk disisi-sisi bukit. Air sungai yang jernih tidak pernah berhenti mengalir dari hulu sampai melewati pemukiman warga.

Tercatat ratusan jenis pohon Kelas 1 tumbuh dihutan wolasi. Hal tersebut yang memancing para perambah untuk mengeksploitasi hutan. Pemerintah sudah berupaya melakukan pencegahan, namun, luasnya hutan wolasi yang membuat sulit untuk diawasi secara menyeluruh. Kondisi demikian terjadi sebagai dampak sosial. Para perambah tidak mempunyai alternative lain untuk mendapatkan penghasilan selain melakukan penebangan liar. Sejak puluhan tahun yang lalu hingga hari ini, aktifitas tersebut masih saja terus berlangsung.
Sungguh ironis memang, disisi lain kelestarian hutan harus terus dijaga, namun disisi lain kebutuhan hidup perambah harus terus dipenuhi. Pemerintah dan kalangan pencinta alam sudah sejak lama mengkampanyekan kepedulian menjaga hutan yang ditujukan kepada masyarakat sekitar. Setiap melakukan aktifitas pengkaderan di hutan wolasi, pencinta alam pasti menyempatkan menanam pohon baru di lahan-lahan kebun yang sudah ditinggalkan pemiliknya.

Memasuki Hutan Wolasi
Kondisi hutan wolasi saat ini (Tahun 2017), sudah tidak seperti keadaan saat lokasi ini pertama kali ditemukan. Dahulu, saat mulai memasuki desa wolasi, suasana hutan rimbun sudah nampak apalagi saat berada jauh kedalam hutan. Saat itu aktifitas masyarakat masih diseputaran desa dan belum bersinggungan dengan hutan. Sungai-sungai yang jernih pun masih mengalir deras meski saat musim panas. Masih terlihat dan terdengar sekumpulan Burung Kakatua hinggap di dahan pepohonan. Kawanan Burung Rangkong terdengar mengibaskan sayapnya di pucuk-pucuk pohon sambil mendengungkan ciri khas suara mereka. Segerombolan Anoa dan monyet hutan terkadang menampakkan diri meskipun hanya sesaat.

Namun saat ini, semuanya perlahan akan terkikis jika dibiarkan. Aktifitas masyarakat sudah terlalu jauh masuk kedalam hutan. Kebun-kebun dan ladang-ladang dapat ditemui dalam jarak 6 Mil dari ujung desa. Kendaraan berat pengangkut kayu kadang dijumpai hilir mudik menyusuri tepi-tepi sungai. Mesin pemotong (sensor) saling sahut menyahut sepanjang hari seperti suara jangkrik. Suasana alam perlahan pudar berganti kesibukan manusia untuk mencari sumber kehidupan.

Sebagai kawasan hutan lindung, keberadaan hutan dan sungai di wolasi sangat mempengaruhi siklus alam yang terjadi disekitarnya dan wilayah yang berada di bawahnya seperti Kec. Konda dan Kota Kendari. Hutan wolasi menjadi penyangga ketersediaan oksigen dan air dalam tanah yang akan mempengaruhi lingkungan.

Aktifitas Pencinta Alam

Terlepas dari kondisi diatas, hutan wolasi sampai hari ini masih menjadi pilihan utama para Pencinta Alam untuk melakukan aktiftas alam terbuka. Dengan jarak tempuh sekitar 30 menit berkendara dari Kota Kendari, Desa Wolasi memungkinkan dapat ditempuh dengan waktu yang tidak begitu lama. Lokasi basecamp utama Pencinta Alam juga hanya berjarak 20 menit berjalan kaki dari Balai Desa Wolasi. Suasana Desa Wolasi yang teduh serta keramahan masyarakatnya menjadi satu alasan sehingga para Pencinta Alam tetap memilih Desa Wolasi untuk beraktifitas dialam terbuka. 

Bace Camp Induk, Desa Wolasi
Hampir seluruh Organisasi Pencinta Alam di Kota Kendari setiap tahun mengadakan kegiatan pengkaderan di Hutan Desa Wolasi. Aparat dan Masyarakat Desa Wolasi sudah sangat familiar dan terbiasa dengan kehadiran anak-anak muda dari Kota Kendari yang datang dengan memikul ransel dengan beberapa perlengkapan. Saat kegiatan di dalam Hutan Wolasi sedang berlangsung, beberapa orang akan tampak hilir mudik keluar masuk kawasan hutan baik berjalan kaki ataupun berkendara sepeda motor. Terkadang mereka keluar untuk berbelanja logistik atau mengisi daya telepon seluler.

Sebagai kegiatan resmi setiap organisasi, Pendidikan Dasar yang dilakukan di dalam kawasan hutan wolasi diselenggarakan dengan administrasi yang benar. Sebelum kegiatan berlangsung, aparat kepolisian dan aparat Pemerintah Desa Wolasi sudah diberitahuan terlebih dahulu melalui surat resmi yang disampaikan oleh panitia kegiatan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pemberitahuan kepada penanggung jawab wilayah atas kegiatan yang akan dilaksanakan.

Lokasi Pendidikan

Terdapat sebuah areal basecamp yang sudah disepakati penempatannya untuk dijadikan lokasi pendirian tenda panitia dan peserta. Tempatnya cukup luas sekitar 2500 M2 sehingga mampu menampung puluhan bahkan ratusan tenda. Suasananya sangat sejuk dan teduh. Disekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon rindang utamanya pohon beringin. Tidak jauh dari basecamp ini terdapat sumber mata air yang tidak pernah kering. Air inilah yang digunakan untuk dikonsumsi selama berada di basecamp ini.

Saat sedang berlangsung kegiatan lapangan, lokasi ini dipenuhi puluhan tenda dan puluhan orang. Sebagai rumah kedua bagi Pencinta Alam, berkumpul ditempat ini merupakan saat-saat yang menggembirakan dan menyejukkan perasaan. Suasana hutan yang riuh dan teduh, hembusan angin yang bertiup ditambah dengan gelak canda, celetukan dan tawa yang spontan keluar dari setiap mulut orang yang bergumul di basecamp ini. Semua itu adalah suasana kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat mahal harganya. Hanya di suasana seperti ini kita dapat merasakannya.

Jika orang pada umumnya berwisata ke pantai, maka disinilah tempat kami berwisata. Tidak perlu mengeluarkan budget besar. Cukup membawa tenda dan makanan secukupnya, maka lengkaplah sudah semuanya. Rasa kebersamaan yang menjadikan semua yang kurang, pasti terasa cukup. 


Basecamp Induk, Desa Wolasi
Untuk mencapai Lokasi Basecamp Induk dapat ditempuh dengan meyusuri jalan pedesaan dari pinggir jalan aspal sejauh 2,5 Km dengan jalan lurus tanpa tanjakan. Namun sekitar 700 Meter sebelum tiba di Basecamp, akan diseberangi sebuah sungai yang bernama Sungai Aoma. Sungai ini seakan menjadi pintu masuk sebelum memasuki Lokasi Pendidikan Dasar. Pada kondisi normal lebar air sungai sekitar 15 Meter dengan kedalaman diatas lutut dengan arus yang stabil sehingga akan dengan mudah dilewati bahkan dengan menggunakan sepeda motor. Kondisi akan berbeda jika pada musim penghujan apalagi terjadi hujan deras di wilayah hulu sungai. Lebar sungai mencapai 25 Meter dengan kedalaman diatas lutut dan kecepatan air yang sangat deras. Sehingga untuk melaluinya dibutuhkan teknik penyebrangan basah.

Sungai Aoma, Desa Wolasi
Setelah itu beberapa kebun dan ladang akan dilewati sampai akhirnya menemukan sebuah tempat terbuka yang datar. Tempat inilah yang menjadi Basecamp induk pendidikan dasar. Tempat ini sudah cukup jauh dari pemukiman penduduk, meskipun beberapa kebun warga berada disekitar area ini. Aktifitas kegiatan dipusatkan di basecamp ini. Beberapa tenda dijejer rapi mengelilingi lapangan kecil dengan tumpukan kayu untuk api unggun di tengahnya. Peralatan masak dan cuci diposisikan tidak jauh dari mata air. Begitu pula dengan tempat untuk bersih-bersih dan mandi.

Disepanjang siang, masih kita menjumpai kawanan Burung Rangkong yang bertengger di pucuk-pucuk pohon yang menjulang tinggi. Mereka sedang memilah-milah biji-bijian untuk dimakan. Saat suasana hening, biasanya beberapa ekor kus-kus bergelantungan dan merambat dari ranting ke ranting pohon. Sesekali hanya ada satu atau dua ekor monyet saja yang bersuara. Mungkin saja mereka sudah tinggal sisa-sisa. Kebanyakan dari mereka sudah bermigrasi ke kedalaman hutan. Mereka semakin terusik oleh aktifitas perambahan masyarakat.

Sungai Aoma, Desa Wolasi
Salah satu penyebab rusaknya ekosistem di hutan wolasi adalah perambahan hutan. Beberapa tahun belakangan masyarakat membuka lahan-lahan baru untuk dijadikan kebun, namun setelah panen lahan tersebut ditinggalkan dan mereka membuat lagi lahan baru di lokasi yang berbeda. Puluhan bahkan sudah ratusan hektar hutan telah terkikis oleh kebiasaan ini. Belakangan sudah tampak disepanjang aliran sungai kebun-kebun yang baru dibuka, namun dalam beberapa bulan kemudian kebun itu ditinggalkan. Kenyataan demikin sudah berlangsung terus menerus dan seakan menjadi kebiasaan. Meskipun dampak lingkungan sudah sering melanda akibat ulah tersebut namun sampai hari ini mereka belum juga jera.

Fasilitas alam yang tersedia di Hutan Wolasi sudah dapat dikatakan cukup sebagai media pembelajaran bagi para calon pencinta alam untuk diperkenalkan ilmu-ilmu tentang alam dan lingkungan hidup. Dalam radius yang tidak begitu jauh dari basecamp utama, terdapat 3 (tiga) buah goa yang menjadi sarana pengenalan ilmu goa atau speleologi. Ketiga goa ini merupakan goa yang terbentuk secara alami.

Goa yang terdekat dari lokasi basecamp utama yaitu Goa Janter. Hanya berjarak sekitar 60 Meter dengan sedikit menanjak jalur berkerikil, kita sudah akan tiba di mulut Goa Janter. Goa ini merupakan Goa yang paling besar dari tiga Goa yang ada disekitar Basecamp. Menurut cerita, penamaan goa ini didasarkan pada sebuah istilah yang sering spontan terucap dari mulut setiap orang yang konon saat itu enggan masuk kedalam goa duluan karena tampilannya yang sangat angker. Ucapan itu adalah “Jangan Terlalu” yang disingkat “Janter”. Karena seringnya ucapan itu terdengar sehingga menjadi istilah dan penamaan bagi Goa tersebut. Akhirnya sejak pertama kali Goa ini ditelusuri sampai hari ini, nama tersebut sudah melekat di kalangan Pencinta Alam yaitu dengan nama Goa Janter.



Goa Janter, Desa Wolasi


Goa terbesar yang sejauh ini diketahui oleh kalangan pencinta alam di kawasan pendidikan hutan wolasi adalah Goa Janter. Mungkin masih ada goa yang lebih besar lainnya, namun sampai hari ini (2018) belum ditemukan. Goa Janter memiliki bentangan ± 8 Meter dan tinggi ± 2 Meter. Tipe goa ini yaitu horizontal dengan luas mulut goa ± 15 M2. Ornamen-ornamen goa sudah Nampak terlihat dari depan seperti beberapa stalagtit dan stalagmite. Saat memasuki mulut goa, terdapat sebuah ruang yang cukup luas yang mampu menampung puluhan orang. Di dalam ruang ini sinar matahari masih dapat menembus kedalam goa.


Terdapat dua jalur penelusuran dari ruang ini. Jalur mengarah keatas sebelah kanan dan jalur mendatar sebelah kiri. Kedua jalur tersebut harus dilewati dengan merayap. Kedua jalur tidak tembus cahaya matahari sehingga keadaannya gelap gulita. Alat penerangan seperti headlamp dan lilin harus dibawa serta. Kondisi dua jalur ini sangatlah lembab dan sejuk. Dinding goa masih basah oleh rembesan air. Ini menandakan siklus ekosistem Goa Janter masih stabil. Terdapat ornament-ornamen yang memukau disepanjang dua jalur ini seperti flowstone, gourdam, grafier,  dan pearls.

Goa selanjutnya yaitu bernama Goa Kita. Hanya berjarak sekitar 70 Meter dari Goa Janter kita sudah sampai di Goa Kita. Goa ini berada di sisi sebuah tebing kecil yang terbentuk dari sebuah celah besar yang menyerupai retakan. Posisinya agak menjorok kebawah dengan permukaan goa yang miring. Berbeda dengan Goa Janter, Goa Kita memiliki pelataran yang sempit dan berbatu. Pemberian nama “Goa Kita” didasarkan dengan kesepakatan para pencinta alam yang menyebut Goa ini sebagai milik kita bersama.

Untuk menuju ke Goa ketiga, kita harus kembali mengikuti jalur ke arah basecamp. Selanjutnya mengambil jalur menanjak lain yang posisinya sangat dekat dengan jalur ke Goa Janter.  Jalur ini dimulai dengan menanjak panjang sekitar 200 Meter. Sekitar 7 Menit menanjak akan ditemukan sebuah goa yang terletak disisi kiri jalan. Goa ini berada tepat di sisi jalan, sehingga sangat mudah menemukannya. Goa ini bernama Goa “Uci”. Penamaan tersebut merupakan apresiasi dari para pencinta alam terhadap orang yang menemukan pertama kali goa tersebut. Pada awal tahun 1998, saat sedang diadakan Pendidikan Dasar Angkatan Pertama KPA-Amcalas Kendari, salah seorang peserta yang bernama Lusianawati atau Uci menemukan goa tersebut, sehingga sampai saat ini istilah penamaan tersebut sudah melekat dikalangan pencinta alam.

Goa Janter, Desa Wolasi
Tidak jauh dari arah Goa Uci, dengan jalur menurun, sekitar 6 menit perjalanan akan ditemukan sebuah lokasi yang cukup luas. Terdapat sebuah aliran air yang membelah lokasi ini. Suasananya sangat rindang dan teduh, bahkan pada siang hari. Lokasi ini juga biasa dijadikan Basecamp utama pendidikan dasar. Selain basacamp utama yang berada dibawah, beberapa organisasi biasanya menggunakan basecamp ini sebagai basecamp induk saat kegiatan pendidikan dasar dikarenakan lokasinya yang cukup memberikan keleluasaan untuk beraktifitas. Lokasi ini pertama kali ditemukan dan digunakan oleh MPA-Navernos Fekon UHO. Belakangan ini basecamp ini sering digunakan pada kegiatan pendidikan dasar dikarenakan kondisi Basecamp dibawah sudah tidak kondusif. Itu dikarenakan oleh sudah banyak aktifitas masyarakat yang makin mendekati lokasi basecamp sehingga suasana alam sudah tidak dirasakan lagi.

Salah satu fasilitas alam yang tersedia di Hutan Wolasi adalah jejeran tebing batu. Tidak jauh dari Basacamp kedua dengan jalur yang sangat menanjak bahkan terkadang sedikit memanjat akan ditemukan jejeran tebing batu yang berada diatas bukit yang rindang. Tebing inilah yang menjadi media pengenalan ilmu Rock Climbing bagi para peserta pendidikan dasar. Area pelataran tebing berada dalam posisi miring dan berbatu sehingga pergerakan akan terbatas. Area tebing ini terdapat beberapa bongkahan batu yang mengitari puncak bukit ini. Untuk berpindah ke tebing selanjutnya, cukup dengan mengitarinya. Belum ada penamaan bagi tebing ini sehingga pencinta alam menamakannya Tebing Wolasi.

Tebing Desa Wolasi
Kawasan tebing ini diperkirakan memiliki luas 40 M2, dengan posisi titik tertingginya yaitu hanya 8 Meter. Meskipun demikian tebing ini telah banyak memberikan pelajaran dan pengetahuan bagi siapa saja yang sudah menjajal celah-celah bebatuannya. Suasana di kawasan tebing ini sangatlah rimbun dan teduhdengan ratusan pepohonan besar yang mengitarinya. Cirri khas alam masih dapat terasa disekitar tempat ini. Udaranya cukup sejuk dan masih terasa hembusan angin yang mengibas-ngibaskan dahan pohon. Pada pengenalan materi Rock Climbing, hampir seharian penuh segala aktifitas dilakukan ditempat ini. Peralatan masak mesti dibawa serta, karena saat waktu makan siang tiba, instruktur dan peserta tidak perlu lagi kembali ke bacecamp utama.

Basecamp Hura-Hura, Desa Wolasi
Banyak fasilitas alam yang tersedia di sekitas kawasan basecamp pertama dan basecamp kedua antara lain, Terdapat sebuah sungai besar yaitu Sungai Aoma dan beberapa anakan sungai yang puluhan jumlahnya. Anakan sungai tersebut terdapat dibanyak ruas bukit-bukit bahkan disekitara kebun-kebun warga. Salah satu ciri khas hutan wolasi yang juga menjadi bahan makanan pokok penduduk local yaitu pohon sagu. Tumbuhan ini tersebar merata diseluruh hutan wolasi. Dari sekitar pemikiman penduduk sampai kedalam hutan. Warga sekitar mengolahnya untuk dijadikan makanan pokok yaitu singonggi, yang juga menjadi icon makanan lokal suku tolaki. Dibeberapa daerah lainnya di Sulawesi Tenggara, sagu juga diolah dengan cara yang sama dengan nama yang berbeda seperti Masyarakat Buton menyebutnya Papeda atau Sinole.


Pondok Kebun, Desa Wolasi
Maka tidak heran disepanjang jalan perkebunan dan sungai banyak kita akan temukan beberapa kubangan yang dibuat untuk proses pengolahan sagu. Tumbuhnya tanaman sagu di kawasan hutan wolasi tidak lepas dari karakteristik tanah dan alam yang memungkinkan tanaman sagu tumbuh subur serta tinggi menjulang. Selain itu tipe hutan basah dan rawa juga menjadi factor utama populasi tanaman sagu meskipun tanpa ditaman dan dirawat. Keunikan lain dari adanya tanaman sagu yaitu disekitarnya selalu akan ditumbuhi tanaman pakis hutan. Tanaman ini merupakan jenis sayur-mayur yang bisa dikonsumsi. Saat musim hujan, tanaman pakis tumbuh subur dan menjamur. Di daerah tanaman sagu hampir tertutupi dengan tanaman pakis yang menutupi semua permukaan tanah lembab. kondisi demikian cukup membantu mencukupi persediaan makanan saat aktifitas kegiatan sedang dilakukan di hutan wolasi

Selain itu, fasilitas alam yang tersedia di sini yaitu tanaman dan buah-buahan yang bisa dikonsumsi. Saat sudah memasuki hutan wolasi, kita akan banyak menemukan tanaman pisang, sukun, nangka, umbi-umbian, dan beberapa jenis dedaunan yang juga bias dibuat menjadi sayur. Karakteristik hutan tropis sangat terasa di hutan wolasi. Dengan banyaknya anakan sungai yang mengalir menjadikan populasi tanaman buah dan sayur tumbuh dengan sendirinya dan menjamur sampai jauh kedalam hutan.

Basecamp Hura-Hura, Desa Wolasi
Pada saat materi pengenalan Ilmu Survival atau Bertahan hidup di alam bebas, kondisi hutan wolasi yang demikianlah sehingga sangat pantas dan cocok untuk menerapkannya disini. Sebuah anugerah Allah SWT, yang menumbuhkan berbagai jenis pepohonan dan tanaman buah, sehingga menjadikan suasana hutan menjadi media untuk mengenal alam lebih jauh. Ilmu terapan Survival menjadi sangat efektif diterapkan di kawasan hutan ini. Para peserta kegiatan dapat langsung mempraktekkannya dalam kondisi survival. Selain tanaman yang dapat dikonsumsi, terdapat juga banyak tanaman obat-obatan yang tumbuh disepanjang penjalanan saat menjelajahi hutan wolasi. Pengenalan tumbuh-tumbuhan obat dapat diketahui melalui ilmu botani dan zoology praktis.

Sungai Andenbura, Desa Wolasi
Untuk mengantisipasi kondisi survival dan cara untuk keluar dari kondisi tersebut, para petualang wajib mempelajari Ilmu Botani dan Zoology yang dapat diterapkan dalam kondisi darurat. Hutan wolasi begitu kompleks dengan berbagai macam tanaman yang tumbuh. Untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan untuk mengenali dan mengidentifikasi jenis-jenisnya. Karena walaupun dalam kondisi survival, penerapan ilmu botani mesti dilakukan. Selain memanfaatkan tumbuh-tumbuhan, dalam kondisi survival, para petualang juga wajib mengenali jenis-jenis hewan dan karakteristiknya.

Menyusuri Sungai Andenbura, Desa Wolasi
Umumnya, Pada kegiatan pendidikan dasar pencinta alam di Hutan Wolasi terbagi dalam dua fase berdasarkan mobilitasnya. Pada 3 – 4 hari pertama, kegiatan akan dipusatkan hanya di seputaran basecamp saja dan tidak ada pergerakan besar dalam hal berpindah camp. Ini disebabkan dalam fase tersebut konsentrasi kegiatan masih bertempat di seputaran Goa dan Tebing yang jaraknya tidak begitu jauh dari basecamp utama. pada fase kedua, kegiatan akan dilakukan berpindah-pindah dari satu camp ke camp selanjutnya. Pada fase kedua ini aktifitas inti dari kegiatan mulai dilakukan selama 3 – 4 hari kedepan. Para peserta mulai akan diperkenalkan materi tentang Ilmu Gunung Hutan yang menjadi roh dari segara kegiatan petualangan.

Basecamp Andenbura, Desa Wolasi
Berpetualangan di alam bebas memerlukan ilmu-ilmu penunjang. Mountenering merupakan induk dari segala ilmu petualangan yang didalamnya mencakup segala hal yang berhubungan dengan dunia petualangan. Dalam mengarungi gunung dan hutan, setiap petualangan harus mempunyai kemampuan navigasi darat. Ilmu ini harus ditunjang dengan peralatan sepeti kompas dan peta atau dalam kondisi tertentu dapat juga menggunakan GPS. Ilmu navigasi akan menuntun para petualangan untuk menentukan arah perjalanan yang tepat sesuai target yang dituju. Saat bergerak sesuai arah koordinat, kemampuan lain juga harus seiring sejalan diterapkan seperti Ilmu Taksir Medan, Pinonering serta Ilmu Botani Zoologi Praktis.

Basecamp Hura-Hura, Desa Wolasi
 
Posko Hura-Hura
Lokasi basecamp terakhir pada saat materi ilmu gunung hutan yaitu Posko Hura-Hura. Beberapa organisasi menjadikan Posko Hura-Hura sebagai lokasi camp terakhir sebelum kembali ke Desa Wolasi. Posko Hura-Hura terletak di pertemuan dua buah sungai yang membentuk Sungai Aoma. Penamaan tersebut didasarkan karena tempat ini selalu menjadi tempat para petualang untuk menghabiskan waktu dengan bersantai-santai lebih lama sebelum kembali ke kampong. Posisi tempat ini berada disebuah lembah yang cukup sejuk. Lokasinya sangat luas dan rata sehingga puluhan tenda dapat didirikan ditempat ini. Aktifitas pun dapat lebih leluasa dilakukan ditempat ini.
Pada kegiatan materi lapangan pendidikan dasar, Posko Hura-hura menjadi tantangan terakhir bagi para peserta. Ditempat ini para peserta akan lebih mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tentang kepencinta alaman dan juga ditempat ini pula para peserta akan di evaluasi kelayakannya untuk menjadi seorang pencinta alam. Posko hura-hura seakan menjadi tempat favorit bagi para petualang. Tempat ini akan memanjakan bagi siapa saja yang menghabiskan waktunya disini. Tepat di depan areal tenda, terdapat sungai aoma yang jernih dan mengalir sepanjang tahun. Kebutuhan air sangat melimpah ditempat ini. Namun pada kondisi hujan, kejernihan air akan terkontaminasi dengan air kiriman dari hulu yang membuat air sungai akan keruh.
Luasnya hutan wolasi sangat memungkinkan setiap kegiatan pendidikan dasar menentukan target perjalanan saat materi gunung hutan. Masing-masing organisasi pencinta alam berbeda-beda dalam menetukan rute dan bermanuver di gunung hutan. Masing-masing menpunyai kebiasaan tersendiri dengan tujuan yang sama yaitu memperkenalkan ilmu gunung hutan kepada para calon anggota barunya. Titik tertinggi yang biasanya menjadi target arah perjalanan yaitu puncak Bukit Wawonggalende dengan ketinggian ± 500 MDPL. Namun ada juga beberapa organisasi yang mengarahkan rutenya ke Bukit Baito dengan ketinggian ± 720 MDPL. Keduanya memiliki tantangan tersendiri untuk mencapai puncaknya.

Bukit Wawonggalende, Desa Wolasi
Aktifitas pendidikan dasar memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman bagi para petualang sebelum didaulat resmi menjadi seorang pencinta alam. Hutan wolasi akan menguji kelayakan anda sebelum diakui sebagai seorang petualang. Banyak cerita dan kisah yang sudah ditorehkan oleh ratusan petualang yang telah menyatu dengan alam wolasi. Semoga tulisan ini dapat memberikan ruang ilmu bagi kita semua dan Semoga Hutan Wolasi tetap terjaga dan terpelihara sebagai anugerah dan warisan untuk generasi selanjutnya.
_________________________________________________________________________________


Posted By : Muhammad Dagri Nizar

Photo By  : KPA Amcalas Sultra Team