Home » , » Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Dasar Penunjukan :  
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 756/Kpts-II/1990
Tanggal 17 Desember 1990

Luas  : ± 105.194  Ha   

Letak :
Provinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kendari seluas 46.764Ha.
(Kecamatan Lambuya dan Tinanggea)  Kabupaten Kolaka seluas 12.825 Ha.  (Kecamatan Ladongi dan Tirawuta).  Kabupaten Buton seluas 45.605 Ha.  (Kecamatan Rumbia ).  

Koordinat  :  
04° 00' - 04° 36'  LS dan
121° 46' - 122° 09' BT

Umum

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora, fauna maupun ekosistem. Kawasan ini paling tidak memiliki 5 tipe ekosistem dengan keanekaragaman flora yang tinggi tidak saja pada tingkat jenis, tetapi juga pada tingkat genetik. Demikian juga halnya dengan kekayaan faunanya kawasan ini memiliki jenis-jenis endemik Sulawesi dan khususnya beberapa jenis burung langka yang dilindungi.

Keberadaan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung kesinambungan pembangunan daerah sekitarnya, karena kawasan ini merupakan daerah tangkapan air, yang merupakan sumber air bagi sungai-sungai yang mengalir ke kawasan sekitarnya. Kondisi hidrologi ini memberikan dukungan nyata terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam sektor pertanian, perikanan, pariwisata dan bahkan kebutuhan air sampai ke Kotamadya Kendari dan Kolaka.

Disamping itu kekayaan keanekaragam hayati, keindahan fenomena alam, dan budaya masyarakatnya merupakan aset penting yang dapat dikelola dalam pengembangan pariwisata alam.

Sejarah Kawasan :
- Tahun 1976, Menteri Pertanian menunjuk Taman Buru Gunung Watumohai engan
  luas 50.000 Ha.
- Tahun 1978, hutan Rawa Aopa dicadangkan sebagai kawasan cagar alam.
- Tahun 1983, Pemda Provinsi Sulawesi Utara merekomendasikan terbentuknya
  kawasan kawasan konservasi, yang meliputi kawasan Rawa Aopa dan Taman
  Buru Gunung Watumohai menjadi taman nasional.
- Tahun 1985, Menteri Kehutanan menunjuk Suaka Margasatwa Rawa Aopa
  dengan luas  55.560 Ha.
- Tahun 1989, bertepatan dengan Pekan Konservasi Alam di Kaliurang, Menteri
  Kehutanan mendeklarasikan 3 (tiga) taman nasional, yang salah satunya Taman
  Nasional Rawa Aopa Watumohai
- Tahun 1990, Menteri Kehutanan menunjuk Taman Nasional Rawa Aopa
  Watumohai dengan luas 105.605 ha.
- Tahun 1997, Unit Pelaksana Teknis terbentuk.

Fisik

Geologi dan tanah
Berdasarkan Peta Geologi Propinsi Sulawesi Tenggara, kawasan taman nasional ini tersusun atas 6 Formasi Geologi, antara lain :
1. Formasi Aluvium (Qa); Napal, Kalsilutit dan bahan batugamping pasiran (Tml);
2. Formasi Boeapinang (Tmpb);
3. Kompleks ultramafiks (Ku);
4. Kompleks Pampangeo (MTpm);
5. Formasi alangga (Qpa).
6. Pada daerah rawa didominasi oleh formasi aluvium.

Berdasarkan Peta Tanah Sulawesi, kawasan taman nasional ini terdiri dari 8 jenis satuan tanah dengan bahan induk berupa bahan aluvium, batuan sedimen, batuan metamorfik, batuan Plutonik, dan Ultramafik. Jenis tanah tersebut antara lain Glei Humus, Aluvial, Hidromorf Aluvial, Brown Forest Soil, Mediteran Merah Kuning, Podsolik Merah Kuning, Litosol, dan Latosol.

Topografi
Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai mempunyai topografi bervariasi mulai dari datar, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Bentang alam kawasan di bagian Selatan berupa hamparan pantai, dataran rendah sampai bergelombang ringan dan pada bagian Utara bergelombang berat sampai bergunung-gunung dengan kemiringan lereng berkisar antara 30º sampai 40º. Tempat-tempat yang permukaan wilayahnya bergunung adalah di bagian Utara dengan Gunung Makalelo (± 798 m dpl), di bagian tengah sebelah Barat dengan Gunung Mendoke (± 981 m dpl) dan bagian tengah/Selatan dengan Gunung Watumohai (±550 mdpl).   

Iklim
Menurut pembagian iklim Schmidt dan Ferguson secara garis besar kawasan masuk ke dalam iklim C dan D, namun sebagian besar masuk tipe C terutama kawasan bagian Utara.

Curah hujan bervariasi antara 1.500 - 2.000 mm/tahun dan temperatur rata-rata 22,3ºC-30ºC. Curah hujan tertinggi di bagian Selatan kawasan pada bulan Januari-Mei dan Oktober. Curah hujan tertinggi pada bagian Utara adalah pada bulan Januari-Juni.

Hidrologi
Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, merupakan daerah tangkapan air utama (water catchment areas) bagi daerah-daerah di sekitarnya. Tidak kurang dari 6 daerah tangkapan air di dalam kawasan merupakan sumber air bagi sungai-sungai yang mengalir ke wilayah sekitarnya. Sub DAS tersebut meliputi Sub DAS Aopa-Andowengga, Sub DAS Lambandia-Roraya, Sub DAS Mempaho-Poleang, Sub DAS Laea, Sub DAS Jawi-Jawi-Lampopala, dan Sub DAS Langkowala. Air yang meresap di daerah tangkapan ini mengalir ke wilayah sekitarnya berupa air tanah.

Biotik

Taman Nasional  Rawa Aopa Watumohai memiliki beberapa ekosistem yaitu :
a. Ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah
    Tipe ekosistem ini terdapat di bagian kawasan yang datar dan kadang-kadang
    tergenang air pada musim hujan. Memiliki vegetasi sangat beragam, terdapat
    antara Rawa Aopa dan Pegunungan Mendoke, juga dapat dijumpai di sepanjang
    alur-alur sungai serta membentuk kelompok kecil di tengah savana.

b. Ekosistem hutan hujan tropika pegunungan rendah
    Tipe ekosistem ini terdapat pada ketinggian 500 - 981 m dpl. Terdapat di
    daerah pegunungan Mendoke - Watumohai dan Makalelo dan  memiliki
    komposisi sangat heterogen terutama pada bagian bawah lereng.

c. Ekosistem hutan bakau
   Tipe ekosistem ini terdapat di sepanjang pantai, membentang mulai dari muara
   Sungai Roraya sampai muara Sungai Langkowala Lanowulu, di bagian selatan
   kawasan taman nasional.

d. Ekosistem hutan savana
    Vegetasi ini merupakan tipe ekosistem yang khas, terbentang diantara hutan
    bakau dan hutan hujan tropika dataran rendah.

e. Ekosistem hutan rawa air tawar di Sulawesi
    Merupakan daerah depresi yang terletak diantara Pegunungan Mendoke, Motaha
    dan Makalelo yang digenangi air sepanjang tahun, karena tempat bermuaranya
    beberapa sungai yang ada sebelum mengalir ke Sungai Konawela di bagian
    Utara dan Sungai Roraya di bagian Selatan kawasan.

Flora

Menurut hasil eksplorasi flora tahun 1993 di Gunung Watumohai dan sekitarnya diperoleh data, bahwa tumbuhan di kawasan ini tercatat sebanyak 89 suku, 257 marga, dan 323 jenis tumbuhan. Berikut adalah jenis-jenis vegetasi yang terdapat di masing-masing ekosistem.

a. Ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah
    Jenis-jenisnya antara lain kayu hitam (Dyospyros spp), bitti/laban (Vitex spp),
    nona (Metrosideros petiolata), longgida (Nauclea orientalis), sisio (Cratoxylon
    formosum), rotan (Calamus spp), liana dan tumbuhan menjalar lainnya serta
    semak.

b. Ekosistem hutan hujan tropika pegunungan rendah
    Jenis-jenisnya antara lain kulipapo (Vitex copassus), bitti/laban (Vitek
    pubescens), kalapi (Callappa celebica), nona (Metrosideros petiolata), holea
    (Heistantus sp), bambu duri (Bambusa spinosa), dan beringin (Ficus spp).

c. Ekosistem hutan bakau
   Jenis-jenisnya antara lain tongke (Bruguiera gymnorhiza), peropa/bogen
   (Sonneratia spp), lara teki (Rhyzophora apiculata), dan nipah (Nypa frutican).

d. Ekosistem hutan savana
    Vegetasi savana di taman nasional ini memiliki ciri khas dan keunikan, karena
    merupakan asosiasi antara padang rumput dengan tumbuhan agel, lontar dan
    bambu duri serta semak belukar, juga tumbuhan di sepanjang sungai-sungai
    yang mengalir di padang savana tersebut.
   
    Jenis-jenisnya antara lain gebang (Corypha utan), lontar (Borassus flabelliter),
    bambu duri (Bambusa spinosa), alang-alang (Imperata cylindrica), tio-tio
    (Frymbrys ferruqines), kuralangga (Axonophus compressus), dan totele
    (Cyperua rotundus).

e. Ekosistem hutan rawa air tawar di Sulawesi
    Jenis-jenisnya antara lain uti (Bacchia frutescens), waru (Planchonia valia), dan
    betao (Callophyllum soulatri).

Fauna

Mamalia; Dari jenis primata antara lain tangkasi/podi (Tarsius spectrum) dan monyet hitam (Macaca nigra). Satwa langka dan dilindungi lainnya, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis), rusa (Cervus timorensis), babirusa (Babyrousa babyrussa), dan musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii).

Burung; Tercatat ada 155 jenis burung, 32 jenis diantaranya tergolong langka dan 37 jenis tergolong endemik. Burung-burung tersebut antara lain maleo (Macrocephalon maleo), rangkong (Rhycticeros cassidix), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), bangau sandang lawe (Ciconia episcopus), elang (Haliastur indus), pecuk ular (Anhinga melanogaster), pelikan (Pelecanus conspicillatus), cangak merah (Ardea sumatrana), raja udang kalung putih (Halcyon chloris), kakatua putih besar (Cacatua galerita triton), elang-alap dada-merah (Accipiter rhodogaster), merpati hitam Sulawesi (Turacoena manadensis), dan punai emas (Caloena nicobarica).  

Terdapat satu jenis burung endemik di Sulawesi Tenggara yaitu burung kacamata sulawesi (Zosterops consobrinorum). Burung tersebut tidak pernah terlihat selama puluhan tahun, namun saat ini terlihat  kembali di kawasan taman nasional.

Reptil dan amfibi; Antara lain kodok (Rana spp), ular sawah (Phyton reticulatus), tokek (Gekko gekko), biawak (Varanus salvator), buaya muara (Crocodyllus porosus), dan soa-soa (Hydrosaurus amboinensis).

Ikan; Antara lain tembakang (Helastoma temminckii), betok (Anabas testudineus), sepat (Trichogaster trichopterus), lele (Clarias batrachus), gabus (Chana striata), belut (Monopterus albus), bolari (Anguilla cebesensis), dan julung (Dermogenys orientalis).

Wisata

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
1. Pulau Harapan II ; Terletak di tengah-tengah Rawa Aopa untuk melihat
    panorama alam rawa, atraksi burung air, dan bersampan.
2. Pantai Lanowulu ; Bersampan di sepanjang sungai menuju pantai, hutan
    bakau, berenang, dan wisata bahari.
3. Gunung Watumohai ;  Pendakian dan berkemah. Di lereng gunung tersebut
    terdapat padang savana tempat melihat ratusan ekor rusa yang sedang
    merumput, burung-burung, dan satwa lainnya.

Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Tolaki pada bulan Desember di Kendari.

Beberapa fasilitas yang telah tersedia di lapangan, diantaranya adalah pondok kerja, pos jaga lapangan di Pulau Harapan II, shelter, menara pandang, dermaga, jalan trail wisata, perahu motor tempel, sampan (dapat disewa dari masyarakat), dan penginapan.

Musim kunjungan terbaik : bulan Juni sampai Oktober.  

Cara mencapai lokasi
- Kendari-Punggaluku-Tinanggea-Lanowulu (± 120 km) dengan waktu  tempuh  2
   jam 30 menit,
- Kendari-Motaha-Tinanggea-Lanowulu (± 130 km) dengan waktu tempuh 3 jam,
- Kendari-Lambuya-Aopa-Lanowulu berjarak ±145 km dengan waktu tempuh ±4
   jam menggunakan mobil.

Pengelolaan

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dikelola oleh Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.  

Alamat  Pengelola Kantor
Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Jalan Konggoasa 132, Unaaha, Kendari, Sulawesi Tenggara
Telp./Fax (0408) 21377

No comments:

Post a Comment

Flag Counter