Showing posts with label Taman Nasional di Pulau Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Taman Nasional di Pulau Sulawesi. Show all posts

Taman Nasional Laut Wakatobi

Taman Nasional Laut Wakatobi

Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 393/Kpts-VI/1996
Tanggal 30 Juni 1996  

Luas  : ± 1.390.000 Ha   

Letak :
Provinsi Sulawesi Tenggara,  Kabupaten Buton, kecamatan  Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia,  dan Binongko.  

Koordinat :   
05° 12' - 06° 10' LS dan
123° 20' - 124° 39' BT

Umum

Taman Nasional Laut Kepulauan Wakatobi merupakan kawasan konservasi perairan laut (marine conservation area). Nama Wakatobi diambil dari singkatan nama pulau-pulau besar yang menyusun kepulauan ini, yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, nama lain dari gugusan pulau-pulau tersebut adalah Kepulauan Tukang Besi.

Latar belakang penunjukannya sebagai kawasan konservasi laut adalah karena wilayah perairan laut Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi memiliki potensi sumber daya alam laut yang sangat tinggi, baik jenis dan keunikannya, serta panorama bawah lautnya yang menakjubkan.  

Keanekaragaman hayati Taman Nasional Wakatobi unik, karena pulau ini terletak di daerah "Wallacea" yang merupakan daerah penampalan biota Asia dan Australia, di dalamnya masih ditemukan hutan hujan tropis di seluruh pulau dihampir seluruh ketinggian. Kondisi ini sudah sulit dijumpai di daerah tropis Asia.

Sejarah
1. Tahun 1996 ditunjuk sebagai kawasan konservasi laut
2. Tahun 1997 ditetapkan sebagai Taman Nasional.

Fisik

Geologi dan Tanah
Berdasarkan Peta Geologi Indonesia Tahun 1980 formasi geologi Taman Nasional Wakatobi terdiri dari batuan sedimen tersier dan pleistosen berkapur serta karang pleistosen batuan miosin, napal, dan eosin. Selain itu berdasarkan peta geologi BAPPEDA Buton (1992) bahwa hamparan Kepulauan Tukang Besi (Taman Nasional Wakatobi) tersusun atas batuan gamping.

Menurut Peta Tanah Kabupaten Buton, kawasan  ini termasuk ke dalam 2 (dua) kelompok besar jenis tanah, yaitu:
a. Kelompok pertama termasuk tanah-tanah yang terletak pada ketinggian di
    bawah 100 m dpl. Tanah-tanah ini antara lain terdiri atas kambisol, mediteran,
    gleisol, podsolik, alluvial, grumosol, dan regosol.
b. Kelompok kedua termasuk tanah yang terletak pada ketinggian di atas 100 m
   dpl, yang terdiri atas jenis tanah kambisol kromik, regosol kalkarik, dan
   mediteran kromik.

Topografi
Kawasan Taman Nasional Wakatobi mencakup seluruh Kepualauan Tukang Besi yang terdiri dari 4 pulau besar, yaitu Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko, serta pulau-pulau kecil antara lain Pulau Tokobao, Lintea Utara, Lintea Selatan, Kampenaune, dan Hoga serta  Tolandono. Keempat pulau besar tersebut pada umumnya memiliki topografi yang hampir sama, secara vertikal dapat dilasifikasikan ke dalam 3 (tiga) kelas ketinggian, yaitu:
1. Dataran rendah dengan ketinggian antara 0 - 25 m dari permukaan laut.
2. Dataran sedang dengan ketinggian antara 25 - 100 m dari permukaan laut.
3. Dataran tinggi dengan ketinggian antara 100 - 500 m dari permukaan laut.

Lapangan Pulau Wangi-Wangi sebagian besar bergelombang, berbukit sedang, berbukit agak tinggi pada bagian yang mendekati puncak Wangi-Wangi (274 m dpl). Dataran landai hanya didapatkan di sekitar pantai dengan luas yang tidak begitu besar, kemudian diikuti dengan lapangan agak terjal.

Lapangan Pulau Kadelupa berupa bukit-bukit yang memanjang sejak dari arah Barat Laut menuju ke Tenggara. Pulau ini mempunyai dua puncak, satu di sebelah Barat Laut dengan nama puncak Kadelupa (151 m dpl), sedang puncak kedua  terletak di sebelah Tenggara, disebut puncak Sampuagiwolo (203 m dpl). Secara umum lapangannya bergelombang, berombak, berbukit, dan bagian lapangan yang landai hanya di sekitar pantai, namun tidak begitu luas.

Pulau Tomia memiliki puncak-puncak yang terletak di bagian tengah, memanjang dari arah Barat menuju Timur. Sebagian besar bentuk lapangan pulau ini berbukit-bukit, bergelombang, sedikit rata dan datar. Permukaan lapangan datar dan rata, hanya sedikit ditemukan di sekitar pantai. DI pulau ini terdapat dua puncak bukit, yaitu Bukit Tomia (251 m dpl) dan Bukit Lagole (271 m dpl).

Pulau Binongko secara umum topografinya tidak banyak yang terjal, namun permukaan lapangan cukup bergelombang serta kadang-kadang ditemui permukaan yang berbukit. Pada bagian atas terdapat dua bukit, yaitu Bukit Terpadu (222 m dpl) dan Bukit Palahidu (142 m dpl).

Konfigurasi peraian lautnya datar kemudian landai kearah laut, dengan beberapa daerah perairan bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi, bagian terdalam terletak disebelah Barat dan Timur P. Kaledupa (sampai 1.044 m). Dasar perairan bervariasi antara berpasir dan berkarang.  

Iklim
Berdasarkan pembagian iklim Schmidt dan Fergusson termasuk tipe iklim C. dengan curah hujan  bervariasi antara 1.500 - 2.000 mm per tahun. Bulan-bulan kering Juli hingga Nopember. Suhu harian berkisar antara 19°-24° C. Kelembaban udara rata-rata 80%.

Kawasan Taman Nasonal Wakatobi terletak pada daerah laut tropis basah yang termasuk peralihan, karena pengaruh angin Barat dan angin Timur. Angin Barat terjadi pada bulan Desember sampai dengan Februari, sedang angin Timur terjadi pada bulan Juli sampai dengan September. Pada keadaan tersebut keadaan laut cukup sulit untuk dilayari, karena arus kencang dan ombak besar serta gelombang sering mencapai 2 hingga 3 meter.

Hidrologi
Di Kepulauan Wakatobi tidak dijumpai adanya sungai-sungai besar yang permanen. Hal ini disebabkan bentuk kepulauan yang kecil serta tersusun atas batuan kapur yang bersipat mudah meloloskan air hujan. Oleh karena itu di beberapa tempat dapat dijumpai sungai bawah tanah yang merupakan ciri khas ekosistem karst. Sungai bawah tanah tersebut di pesisir tepi laut, terutama di Pulau Wangi-Wangi muncul menjadi mata air yang dapat digunakan sebagai sumber air minum.

Adanya sumber-sumber air tersebut sangat penting dalam mendukung upaya peningkatan kepariwisataan, karena sumber air tersebutlah yang diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi air bersih bagi wisatawan. Di Pulau Wangi-Wangi diperkirakan terdapat sekitar 40 buah sumber air, di Pulau Kaladupa sekitar 13 sumber air, di Pulau Tomia 4 sumber air, dan di Pulau Binongko 15 sumber air.

Biotik

Taman Nasional Wakatobi memiliki 7 (tujuh) tipe vegetasi, yaitu:
a. Hutan mangrove (Mangrove formation),
b. Hutan pantai (Beach formation),
c. Hutan rawa dataran rendah (Lowland swamp forest),
d. Vegetasi tebing sungai (Riverbank vegetation),
e. Hutan hujan dataran rendah (Lowland rainforest),
f. Hutan hujan pegunungan (Mountain rainforest), dan
g. Terumbu karang (Coral reef).

Flora

Sulawesi Tenggara terletak di antara dua pusat keanekaragaman hayati botani, di bagian Barat dan Timur dari Malesia (kawasan biogeografi yang membentang dari Malaysia sampai Papua Nugini), namun Sulawesi Tenggara miskin akan dunia tumbuhan bila dibandingkan dengan kawasan lainnya di sebelah barat garis Walaceae.

Berikut jenis-jenis tumbuhan yang ada di kawasan taman nasional.
a. Hutan mangrove (Mangrove formation)
    Vegetasi mangrove merupakan jalur sempit, letaknya tepat di belakang pantai
    berpasir yang agak tinggi di sepanjang pantai utara. Jenis-jenis tumbuhan yang
    dominan antara lain tancang (Sonneratia alba), bakau-bakau (Rhyzopora
    acuminata, dan R. mucronata), Bruguiera sexangula, api-api (Avicenia sp.), dan
    nipah (Nypa fructicans).
b. Hutan pantai (Beach formation)
    Vegetasi pantai berkembang dengan baik di sepanjang pantai di Pulau Wangi-
    Wangi, Kaladupa, Tomia, Binongko dan berbagai pulau-pulau kecil lainnya.
    Jenis-jenis dominan adalah Ipomoema pescaprae, Scinifax sp., ketapang
    (Terminalia acattapa), pandan (Pandanus sp.), dan cemara laut (Casuarina
    equisetifolia).
c. Hutan rawa dataran rendah (Beach formation)
    Formasi ini merupakan kelompok-kelompok kecil yang perkembangannya
    kurang baik, letaknya di belakang jalur-jalur mangrove di pantai Pulau Wangi-
    Wangi dan Kaladupa. Jenisnya antara lain Nauclea sp., Ficus nodosa,
    Baringtonia racemosa, Eugenia sp, Callophyllum soulatri, C. inophyllum, Alstonia
    scolaris, dan jabon (Anthocephalus cadamba).
d. Vegetasi tebing sungai (Riverbank vegetation)
    Tipe vegetasi ini perkembangannya sangat baik di sepanjang sungai-sungai
    musiman atau di celah-celah tebing. Jenis-jenis yang ditemukan antara lain
    benuang (Octomeles sumatrana), leda (Eucalyptus deglupta), kasa (Pometia
    pinata), cemara laut (Casuarina equisetifolia), beringin (ficus sp), Litsea sp,
    Eugenia Sp, dan Alstonia spectabilis.
e. Hutan hujan dataran rendah (Lowland rainforest)
    Tipe vegetasi ini menutup sebagian besar dataran rendah di Pulau Wangi-
    Wangi. Jenisnya antara lain meranti (Shorea sp.), kapur (Hopea spp.), kempas
    (Koompassia malaccensis), kenari (Canarium spp.), Callophyllum inophyllum,
    Instia bijuga, Myristica succdaea, M. aromatea, dan Podocarpus spp.
f. Hutan hujan pegunungan (Mountain rainforest), dan
g. Terumbu karang (Coral reef)
    Kepulauan Wakatobi memiliki ± 25 buah gugusan terumbu karang dengan
    keliling total mencapai 600 km. Secara umum terumbu karangnya dibagi
    menjadi 3 tipe, yaitu:
    - Terumbu karang tepi (Freenging reef/shore reefs)
    - Terumbu karang penghalang (barrier reefs),
    - Terumbu karang cincin (Atoll).
    Di kawasan ini terdapat beberapa organisasi lain yang berasosiasi dengan
    terumbu, seperti Lithothamnion dan alga hijau genus Halimeda, serta lamun
    (sea gress).

Fauna

Mamalia; Antara lain tikus hutan (Rattus sp.), tupai, musang (Paradoxurus hermaphroditus, Vivera tangulunga), berbagai jenis kelelawar (Rousettus amplixicaudus, Pteropusmelaopogon, Pteropus ocularis, dan Macroglossus minimus).

Burung; Antara lain jenis angsa-batu coklat (Sula leucogaster), alap-alap (Acciper sp.), elang bondol (Haliastur indus), ibis roko-roko (Plegadis falcinellus), bintayung besar (Fregata ariel), cangak abu (Ardea cinerea), burung serindik (Numenitus arquata), kuntul (Egretta spp.), delimukan zamrud (Chalcophap indica), trinil pantai (Actitis hypoleucos), cerek melayu (Charadrius peronii), dan raja udang erasia (Alcedo atthis).

Reptil dan amfibi; Antara lain katak pohon, katak sawah, ular, kadal dan berbagai jenis penyu, yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu lekang (Lepidochelys alivaceae).

Ikan; Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias, diantaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), amphiprion melanopus, ikan bendera (chaetodon specullum), chelmon rostratus, heniochus acuminatus, lutjanus monostigma, caesio caerularea, botana (Acanthurus sp.), cakalang (Katsuwonus sp.), kerapu (Epinephelus sp.), cucut (Carcarias sp.), dan ikan lumba-lumba.

Moluska; Antara lain kima raksasa (Tridacna gigas), kima sisik (T. squamosa), kima lubang (T. croaca), kima tapak kuda (Hippopus hippopus), dan lola (Trochus niloticus).

Krustase; Antara lain rajungan (Portunus sp.), kepiting laut (Scyllaserata), dan udang karang (Panulirus sp.).

Biota laut lain; Berbagai karang keras dan lunak banyak dijumpai di perairan taman nasional ini dan sampai saat ini baru teridentifikasi 125 jenis karang dan lunak. Jenis-jenis karang tersebut diantaranya Sarcophyton sp., Lobophyton sp., Sinularia sp., Clavularia sp., Lemnalia sp., Xenia sp., Tubipora musica, karang biru (Heliopora caerutea).

Wisata

Pulau Hoga (Resort Kaledupa), Pulau Binongko (Resort Binongko) dan Resort Tamia merupakan lokasi yang menarik dikunjungi terutama untuk kegiatan menyelam, snorkeling, wisata bahari, berenang, berkemah, dan wisata budaya.

Daya tarik wisata keempat pulau besar Taman Nasional Wakatobi diantaranya adalah lanskap yang indah dan unik dari bentang alam yang tersusun dari padang rumput, hutan, peladangan, pemukiman, pantai berpasir putih dan halus, bentang alam laut berupa karang atol yang bervariasi bentuknya serta berciri khas untuk setiap lokasi, serta pemandangan alam bawah laut.

Bagi yang menyukai wisata budaya, maka kehidupan masyarakat asli yang hidup di sekitar taman nasional ini, dapat menjadi daya tarik yang tidak kalah dengan potensi alam taman nasional itu sendiri. Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional adalah suku laut atau yang disebut suku Bajau. Catatan Cina kuno dan para penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.

Musim kunjungan terbaik: bulan April sampai Juni dan Oktober sampai  Desember.

Cara mencapai Lokasi
- Kendari ke Bau-bau dengan kapal cepat reguler setiap hari (2 kali
  keberangkatan) dengan lama perjalanan 5 jam atau menggunakan  kapal  kayu  
  dengan lama perjalanan  12 jam.
- Bau-bau ke Lasalimu berkendaraan roda 4 selama 2 jam, kemudian dari
- Lasalimu-Wanci menggunakan  kapal cepat selama 1 jam atau kapal kayu
  selama 2,5 jam. Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan
  Taman Nasional Laut Wakatobi.

Pengelolaan

Taman Nasional Laut Wakatobi  dikelola oleh Balai Taman Nasional Laut Wakatobi, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.  

Alamat Pengelola Kantor
Balai Taman Nasional Laut Wakatobi
Jl. Murhum No. 47, Bau-bau, Buton, Sulawesi Tenggara
Telp. (0402) 21826

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Dasar Penunjukan :  
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 756/Kpts-II/1990
Tanggal 17 Desember 1990

Luas  : ± 105.194  Ha   

Letak :
Provinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kendari seluas 46.764Ha.
(Kecamatan Lambuya dan Tinanggea)  Kabupaten Kolaka seluas 12.825 Ha.  (Kecamatan Ladongi dan Tirawuta).  Kabupaten Buton seluas 45.605 Ha.  (Kecamatan Rumbia ).  

Koordinat  :  
04° 00' - 04° 36'  LS dan
121° 46' - 122° 09' BT

Umum

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora, fauna maupun ekosistem. Kawasan ini paling tidak memiliki 5 tipe ekosistem dengan keanekaragaman flora yang tinggi tidak saja pada tingkat jenis, tetapi juga pada tingkat genetik. Demikian juga halnya dengan kekayaan faunanya kawasan ini memiliki jenis-jenis endemik Sulawesi dan khususnya beberapa jenis burung langka yang dilindungi.

Keberadaan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung kesinambungan pembangunan daerah sekitarnya, karena kawasan ini merupakan daerah tangkapan air, yang merupakan sumber air bagi sungai-sungai yang mengalir ke kawasan sekitarnya. Kondisi hidrologi ini memberikan dukungan nyata terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam sektor pertanian, perikanan, pariwisata dan bahkan kebutuhan air sampai ke Kotamadya Kendari dan Kolaka.

Disamping itu kekayaan keanekaragam hayati, keindahan fenomena alam, dan budaya masyarakatnya merupakan aset penting yang dapat dikelola dalam pengembangan pariwisata alam.

Sejarah Kawasan :
- Tahun 1976, Menteri Pertanian menunjuk Taman Buru Gunung Watumohai engan
  luas 50.000 Ha.
- Tahun 1978, hutan Rawa Aopa dicadangkan sebagai kawasan cagar alam.
- Tahun 1983, Pemda Provinsi Sulawesi Utara merekomendasikan terbentuknya
  kawasan kawasan konservasi, yang meliputi kawasan Rawa Aopa dan Taman
  Buru Gunung Watumohai menjadi taman nasional.
- Tahun 1985, Menteri Kehutanan menunjuk Suaka Margasatwa Rawa Aopa
  dengan luas  55.560 Ha.
- Tahun 1989, bertepatan dengan Pekan Konservasi Alam di Kaliurang, Menteri
  Kehutanan mendeklarasikan 3 (tiga) taman nasional, yang salah satunya Taman
  Nasional Rawa Aopa Watumohai
- Tahun 1990, Menteri Kehutanan menunjuk Taman Nasional Rawa Aopa
  Watumohai dengan luas 105.605 ha.
- Tahun 1997, Unit Pelaksana Teknis terbentuk.

Fisik

Geologi dan tanah
Berdasarkan Peta Geologi Propinsi Sulawesi Tenggara, kawasan taman nasional ini tersusun atas 6 Formasi Geologi, antara lain :
1. Formasi Aluvium (Qa); Napal, Kalsilutit dan bahan batugamping pasiran (Tml);
2. Formasi Boeapinang (Tmpb);
3. Kompleks ultramafiks (Ku);
4. Kompleks Pampangeo (MTpm);
5. Formasi alangga (Qpa).
6. Pada daerah rawa didominasi oleh formasi aluvium.

Berdasarkan Peta Tanah Sulawesi, kawasan taman nasional ini terdiri dari 8 jenis satuan tanah dengan bahan induk berupa bahan aluvium, batuan sedimen, batuan metamorfik, batuan Plutonik, dan Ultramafik. Jenis tanah tersebut antara lain Glei Humus, Aluvial, Hidromorf Aluvial, Brown Forest Soil, Mediteran Merah Kuning, Podsolik Merah Kuning, Litosol, dan Latosol.

Topografi
Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai mempunyai topografi bervariasi mulai dari datar, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Bentang alam kawasan di bagian Selatan berupa hamparan pantai, dataran rendah sampai bergelombang ringan dan pada bagian Utara bergelombang berat sampai bergunung-gunung dengan kemiringan lereng berkisar antara 30º sampai 40º. Tempat-tempat yang permukaan wilayahnya bergunung adalah di bagian Utara dengan Gunung Makalelo (± 798 m dpl), di bagian tengah sebelah Barat dengan Gunung Mendoke (± 981 m dpl) dan bagian tengah/Selatan dengan Gunung Watumohai (±550 mdpl).   

Iklim
Menurut pembagian iklim Schmidt dan Ferguson secara garis besar kawasan masuk ke dalam iklim C dan D, namun sebagian besar masuk tipe C terutama kawasan bagian Utara.

Curah hujan bervariasi antara 1.500 - 2.000 mm/tahun dan temperatur rata-rata 22,3ºC-30ºC. Curah hujan tertinggi di bagian Selatan kawasan pada bulan Januari-Mei dan Oktober. Curah hujan tertinggi pada bagian Utara adalah pada bulan Januari-Juni.

Hidrologi
Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, merupakan daerah tangkapan air utama (water catchment areas) bagi daerah-daerah di sekitarnya. Tidak kurang dari 6 daerah tangkapan air di dalam kawasan merupakan sumber air bagi sungai-sungai yang mengalir ke wilayah sekitarnya. Sub DAS tersebut meliputi Sub DAS Aopa-Andowengga, Sub DAS Lambandia-Roraya, Sub DAS Mempaho-Poleang, Sub DAS Laea, Sub DAS Jawi-Jawi-Lampopala, dan Sub DAS Langkowala. Air yang meresap di daerah tangkapan ini mengalir ke wilayah sekitarnya berupa air tanah.

Biotik

Taman Nasional  Rawa Aopa Watumohai memiliki beberapa ekosistem yaitu :
a. Ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah
    Tipe ekosistem ini terdapat di bagian kawasan yang datar dan kadang-kadang
    tergenang air pada musim hujan. Memiliki vegetasi sangat beragam, terdapat
    antara Rawa Aopa dan Pegunungan Mendoke, juga dapat dijumpai di sepanjang
    alur-alur sungai serta membentuk kelompok kecil di tengah savana.

b. Ekosistem hutan hujan tropika pegunungan rendah
    Tipe ekosistem ini terdapat pada ketinggian 500 - 981 m dpl. Terdapat di
    daerah pegunungan Mendoke - Watumohai dan Makalelo dan  memiliki
    komposisi sangat heterogen terutama pada bagian bawah lereng.

c. Ekosistem hutan bakau
   Tipe ekosistem ini terdapat di sepanjang pantai, membentang mulai dari muara
   Sungai Roraya sampai muara Sungai Langkowala Lanowulu, di bagian selatan
   kawasan taman nasional.

d. Ekosistem hutan savana
    Vegetasi ini merupakan tipe ekosistem yang khas, terbentang diantara hutan
    bakau dan hutan hujan tropika dataran rendah.

e. Ekosistem hutan rawa air tawar di Sulawesi
    Merupakan daerah depresi yang terletak diantara Pegunungan Mendoke, Motaha
    dan Makalelo yang digenangi air sepanjang tahun, karena tempat bermuaranya
    beberapa sungai yang ada sebelum mengalir ke Sungai Konawela di bagian
    Utara dan Sungai Roraya di bagian Selatan kawasan.

Flora

Menurut hasil eksplorasi flora tahun 1993 di Gunung Watumohai dan sekitarnya diperoleh data, bahwa tumbuhan di kawasan ini tercatat sebanyak 89 suku, 257 marga, dan 323 jenis tumbuhan. Berikut adalah jenis-jenis vegetasi yang terdapat di masing-masing ekosistem.

a. Ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah
    Jenis-jenisnya antara lain kayu hitam (Dyospyros spp), bitti/laban (Vitex spp),
    nona (Metrosideros petiolata), longgida (Nauclea orientalis), sisio (Cratoxylon
    formosum), rotan (Calamus spp), liana dan tumbuhan menjalar lainnya serta
    semak.

b. Ekosistem hutan hujan tropika pegunungan rendah
    Jenis-jenisnya antara lain kulipapo (Vitex copassus), bitti/laban (Vitek
    pubescens), kalapi (Callappa celebica), nona (Metrosideros petiolata), holea
    (Heistantus sp), bambu duri (Bambusa spinosa), dan beringin (Ficus spp).

c. Ekosistem hutan bakau
   Jenis-jenisnya antara lain tongke (Bruguiera gymnorhiza), peropa/bogen
   (Sonneratia spp), lara teki (Rhyzophora apiculata), dan nipah (Nypa frutican).

d. Ekosistem hutan savana
    Vegetasi savana di taman nasional ini memiliki ciri khas dan keunikan, karena
    merupakan asosiasi antara padang rumput dengan tumbuhan agel, lontar dan
    bambu duri serta semak belukar, juga tumbuhan di sepanjang sungai-sungai
    yang mengalir di padang savana tersebut.
   
    Jenis-jenisnya antara lain gebang (Corypha utan), lontar (Borassus flabelliter),
    bambu duri (Bambusa spinosa), alang-alang (Imperata cylindrica), tio-tio
    (Frymbrys ferruqines), kuralangga (Axonophus compressus), dan totele
    (Cyperua rotundus).

e. Ekosistem hutan rawa air tawar di Sulawesi
    Jenis-jenisnya antara lain uti (Bacchia frutescens), waru (Planchonia valia), dan
    betao (Callophyllum soulatri).

Fauna

Mamalia; Dari jenis primata antara lain tangkasi/podi (Tarsius spectrum) dan monyet hitam (Macaca nigra). Satwa langka dan dilindungi lainnya, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis), rusa (Cervus timorensis), babirusa (Babyrousa babyrussa), dan musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii).

Burung; Tercatat ada 155 jenis burung, 32 jenis diantaranya tergolong langka dan 37 jenis tergolong endemik. Burung-burung tersebut antara lain maleo (Macrocephalon maleo), rangkong (Rhycticeros cassidix), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), bangau sandang lawe (Ciconia episcopus), elang (Haliastur indus), pecuk ular (Anhinga melanogaster), pelikan (Pelecanus conspicillatus), cangak merah (Ardea sumatrana), raja udang kalung putih (Halcyon chloris), kakatua putih besar (Cacatua galerita triton), elang-alap dada-merah (Accipiter rhodogaster), merpati hitam Sulawesi (Turacoena manadensis), dan punai emas (Caloena nicobarica).  

Terdapat satu jenis burung endemik di Sulawesi Tenggara yaitu burung kacamata sulawesi (Zosterops consobrinorum). Burung tersebut tidak pernah terlihat selama puluhan tahun, namun saat ini terlihat  kembali di kawasan taman nasional.

Reptil dan amfibi; Antara lain kodok (Rana spp), ular sawah (Phyton reticulatus), tokek (Gekko gekko), biawak (Varanus salvator), buaya muara (Crocodyllus porosus), dan soa-soa (Hydrosaurus amboinensis).

Ikan; Antara lain tembakang (Helastoma temminckii), betok (Anabas testudineus), sepat (Trichogaster trichopterus), lele (Clarias batrachus), gabus (Chana striata), belut (Monopterus albus), bolari (Anguilla cebesensis), dan julung (Dermogenys orientalis).

Wisata

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
1. Pulau Harapan II ; Terletak di tengah-tengah Rawa Aopa untuk melihat
    panorama alam rawa, atraksi burung air, dan bersampan.
2. Pantai Lanowulu ; Bersampan di sepanjang sungai menuju pantai, hutan
    bakau, berenang, dan wisata bahari.
3. Gunung Watumohai ;  Pendakian dan berkemah. Di lereng gunung tersebut
    terdapat padang savana tempat melihat ratusan ekor rusa yang sedang
    merumput, burung-burung, dan satwa lainnya.

Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Tolaki pada bulan Desember di Kendari.

Beberapa fasilitas yang telah tersedia di lapangan, diantaranya adalah pondok kerja, pos jaga lapangan di Pulau Harapan II, shelter, menara pandang, dermaga, jalan trail wisata, perahu motor tempel, sampan (dapat disewa dari masyarakat), dan penginapan.

Musim kunjungan terbaik : bulan Juni sampai Oktober.  

Cara mencapai lokasi
- Kendari-Punggaluku-Tinanggea-Lanowulu (± 120 km) dengan waktu  tempuh  2
   jam 30 menit,
- Kendari-Motaha-Tinanggea-Lanowulu (± 130 km) dengan waktu tempuh 3 jam,
- Kendari-Lambuya-Aopa-Lanowulu berjarak ±145 km dengan waktu tempuh ±4
   jam menggunakan mobil.

Pengelolaan

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dikelola oleh Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.  

Alamat  Pengelola Kantor
Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Jalan Konggoasa 132, Unaaha, Kendari, Sulawesi Tenggara
Telp./Fax (0408) 21377

Taman Nasional Laut Takabonerate

Taman Nasional Laut Takabonerate

Dasar Penunjukan :  
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 280/Kpts-II/1992
tanggal 26 Pebruari 1992  

Luas  : ± 530.765  Ha   

Letak :
Provinsi Sulawesi Selatan,  Kabupaten Selayar, Kecamatan  Pasimaranu dan Pasimasunggu.

Koordinat :
120° 54' - 121° 25' BT dan  
06° 16' - 07° 06' LS

Umum

Taman Nasional Laut Taka Bonerate merupakan Karang atol terbesar di Indonesia dan ketiga terbesar di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva. Luas atol sekitar 220.000 Ha dengan terumbu karang datar yang memiliki lebar 100 - 500 m dari garis pantai.

Keindahan terumbu karang dan keanekaragaman biota laut Taman Nasional Bunaken mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai obyek wisata alam khususnya wisata bahari. Disamping itu kawasan ini juga memiliki banyak peninggalan sejarah dan budaya tradisional yang dapat mendukung wisata budaya.

Bagi masyarakat sekitar kawasan yang pekerjaannya sebagian besar nelayan, keberadaan dan kelestarian kawasan ini sangat mempengaruhi kelangsungan perekonomian mereka, karena kawasan ini merupakan sumber ikan bagi perairan sekitarnya.

Sejarah
1. Tahun 1989, atol karang Taka Bonerate dinyatakan sebagai cagar alam.
2. Tahun 1992, atol karang Taka Bonerate oleh Menteri Kehutanan fungsinya
    dirubah menjadi Taman Nasional dengan luas ± 530.765  Ha.

Fisik

Geologi dan Tanah
Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya dapat dibagi menjadi tiga mandala (Provinsi geologi), yaitu Mandala Sulawesi Barat, Sulawesi Timur, dan Bangsal Sula. Taman Nasional Taka Bonerate termasuk ke dalam Mandala Sulawesi Barat yang dicirikan oleh komplek alas batuan metamorf yang tertindih oleh batuan gunung berapi dan sedimen.

Ditinjau dari teori tektonik lempeng, Mandala Sulawesi Barat merupakan Busur Magmatik Tersier. Walaupun demikian pulau-pulau di sekitarnya tergolong berusia muda, dengan batuan tertua yang terbentuk pada Periode Tersier, Kala Miosen Tengah, berupa batuan gunung api tua yang tersingkap. Batuan gunung api ini terutama terdiri dari breksi, lava, dan tufa.

Pulau-pulau dan laguna-laguna yang terdapat di taman nasional merupakan hasil sedimentasi dari pelapukan batu pasir gamping dan pecahan terumbu karang yang telah mengalami sortasi dan pembulatan. Endapan ini merupakan bahan induk dari tanah yang terbentuk di kepulauan ini. Jenis tanah yang ada di Taman Nasional Taka Bonerate yaitu Regosol (Entisol). Tanah ini sangat lemah perkembangannya. Terbentuk dari alluvium berupa endapan pasir, pecahan terumbu karang dan batu pasir gampingan.  Tekstur tanah umumnya pasir hingga pasir berlempung.

Topografi
Topografi daratan kawasan ini secara umum berbukit-bukit. Kondisi demikian menyebabkan tidak terdapat dataran luas yang langsung berbatasan dengan taman nasional. Topografi kawasan ini sangat unik dan menarik, dimana atol yang terdiri dari gugusan pulau-pulau gosong karang dan rataan terumbu yang luas dan tenggelam membentuk pulau-pulau dengan jumlah yang cukup banyak. Diantara pulau-pulau dan gosong karang terdapat selat-selat sempit yang dalam dan terjal. Sedangkan pada formasi terumbu karangnya banyak terdapat kolam-kolam kecil yang dalam yang dikelilingi oleh terumbu karang. Pada saat air surut terendah akan nampak seperti daratan kering yang diselingi oleh genangan air yang membentuk kolam-kolam kecil. Di air yang berwarna biru pekat merupakan perairan yang cukup dalam dengan kedalaman lebih dari 1.500 m dan terjal.

Pulau-pulau yang terdapat di kawasan taman nasional ini memiliki ketinggian kurang lebih hanya mencapai 4 meter dengan kemiringan 0-3 % dengan bentuk wilayah datar sampai agak datar.

Bathimetri atau kedalaman di perairan kawasan Taman Nasional Taka Bonerate sangat khas dan merupakan salah satu keistimewaan kawasan ini. Di sebelah Timur Selayar tidak terdapat dataran benua (continental shelf), sehingga terjadi pertemuan langsung antara pesisir dasar laut dengan lereng benua (Continental slope). Perairan dalam terdapat di seputar pulau-pulau dengan daratan utama Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Pulau Flores, serta selat-selat antara pulau dan hamparan terumbu karang. Kedalaman perairan pada air yang berwarna biru tua lebih dari 1.000 m dan kondisinya terjal.

Iklim
Kawasan Taman Nasional Takabonerate pada umumnya adalah iklim tropik basah. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan ini terbagi dua zona iklim, yaitu zona C dan D. Kawasan bagian Utara termasuk Zona D (termasuk sedang) dan bagian Selatan Zona C (termasuk agak basah). Curah hujannya berkisar antara 1.526-1.708 mm pertahun dengan kelembaban sebesar 88%. Kelembaban rata-rata minimal 82% (pada Oktober), sedangkan kelembaban rata-rata bulanan maksimum 92% (pada bulan Februari). Suhu rata-rata 36ºC dengan rata-rata bulanan plus minus 1ºC-2ºC. Suhu bulanan minimal rata-rata adalah 28ºC, sedangkan suhu udara rata-rata bulanan maksimal 44 ºC

Hidrologi
Pada seluruh pulau yang termasuk kawasan Taman Nasional Taka Bonerate tidak terdapat sungai, dengan kata lain tidak terdapat air tawar permukaan.

Biotik

Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, terdiri dari
- Ekosistem pantai (darat), dan
- Ekosistem laut yang meliputi terumbu karang dan padang lamun.  

Flora

Tumbuhan yang terdapat di daerah pantai dan pulau-pulau Taka Bonerate sebagian besar didominir oleh kaktus (Opuntea sp.). pandan laut (Pandanus sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), ketapang (Terminalia catappa), kelapa (Cocos nucifera), asam (Tamarindus indica),dan pepaya (Carica papaya).

Terumbu karang yang sudah teridentifikasi lebih dari 237 jenis seperti akar bahar (Antiphates sp), karang meja (Acropora spp), Pavona spp, dan Fungia spp. Sebagian besar jenis-jenis karang telah membentuk terumbu karang baik atol (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). Semuanya merupakan terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.

Ekosistem padang lamun tropis keberadaannya bersifat ekstensif di semua bagian kawasan taman nasional, utamanya pada daerah-daerah pantai dengan substrat pasir berlumpur. Jenis-jenis lamun yang ditemukan di kawasan ini terdiri dari 10 (sepuluh) jenis dan jenis yang paling dominan, antara lain Thallassodendron ciliata, Halophila ovalis, Cymodocea rotunda, Cymodocea serrulata, Thallassia hemprichii dan  Enhalus acoroides.

Pada kawasan ini terdapat sekitar 47 jenis spesies rumput laut yang berasal dari phyllum Chlorophyta, Phaeophyta dan Rodophyta. Jenis-jenis rumput yang ditemukan pada perairan dangkal dan hidup di substrat berpasir antara lain Eucheuma sp., dan Gracilaria sp.

Fauna

Mamalia; Antara lain ikan paus (Cetacea sp.), lumba-lumba (Tursiops truncatus), dan ikan duyung (Dugong dugon).

Burung; Antara lain camar (Sternia spp.) yang ditemukan dalam jumlah yang banyak, dan ayam hutan (Gallus gallus).

Reptil; Antara lain beberapa jenis penyu, seperti penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys coriacea), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu belimbing (Dermochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu pipih (Chelonia depressus).

Ikan; Terdapat sekitar 350 jenis ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu (Epinephelus spp), cakalang (Katsuwonus spp), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan hiu (Sphyrna spp.), tuna (Thunnus albocores), tenggiri (Scomberemorus), dan baronang (Siganus sp).  

Biota laut lain; Di kawasan ini terdapat sekitar 101 jenis moluska seperti lola (Trochus spp), kerang kepala kambing (Cassis cornuta), triton (Charonia tritonis), batulaga (Turbo spp), kima (Tridacna spp), kerang mutiara (Pinctada spp), nautilus (Nautilus sp), cumi-cumi (Squid sp) dan gurita (Octopus sp).

Wisata

Terdapat 15 buah pulau di kawasan Taman Nasional Laut Taka Bonerate dengan potensi wisata berupa hamparan pasir putih yang luas, pulau tempat berkumpulnya burung laut pada pagi hari, terumbu karang dengan biota lautnya, keanekaragaman ikan hias maupun komersial dan obyek wisata budaya di luar kawasan.

Berdasarkan potensi yang ada, maka beberapa kegiatan wisata bahari yang dapat dikembangkan, antara lain snorkeling, scuba diving, katamaran (perahu berdasar kaca), bersampan, menikmati atraksi burung-burung laut, berjemur di pasir putih, wisata budaya, berkemah, menikmati malakan laut dan menikmati panorama laut lepas dan menikmati proses sunset dan sunrise.

Musim kunjungan terbaik pada bulan April sampai Juni dan Oktober sampai Desember.
  
Cara mencapai lokasi
Untuk mencapai kawasan Taman Nasional Laut Taka Bonerate dapat ditempuh dari:
- Makassar-Bira dengan menggunakan mobil, kemudian dari bira ke pelabuhan
  Pamatata dengan kapal ferry.
- Selanjutnya jalan darat dari pelabuhan Pamatata ke Benteng Selayar dengan
  menggunakan mobil, dan  dilanjutkan dengan menggunakan kapal motor dari
  Benteng ke Taman Nasional Laut Takabonerate dengan total waktu tempuh
  kurang lebih 18,5 jam.

Pengelolaan

Taman Nasional Laut Taka Bonerate dikelola oleh Balai Taman Nasional Laut Taka Bonerate, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Alamat  Pengelola Kantor
Balai Taman Nasional Laut Taka Bonerate
Kantor : Jln. S. Parman 40 Benteng Selayar 92812, SULAWESI SELATAN
Telp./Fax (0414) 21565

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

TAMAN NASIONAL
BANTIMURUNG BULUSARAUNG


Dasar Penunjukan :  
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : SK.398/Menhut-II/2004
Tanggal 18 Oktober 2004.

Luas : ± 43.750 Ha

Letak:
Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros dan Pangkep.

Koordinat :
119°34'11" - 119°55'13" BT dan
04°43'10" - 05°07'12" LS

Umum
Bukit kapur Maros Pangkep yang berbentuk tower adalah merupakan kawasan karst yang terluas kedua di dunia, sesudah yang terdapat di Cina bagian Tenggara. Ekosistem karst adalah merupakan ekosistem unik, karena terdiri dari ekosistem endokarst dan exokarst yang saling berhubungan dan saling ketergantungan.

Peta Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Ekosistem Karst Maros-Pangkep, memiliki lansekap karst yang unik. Gua-guanya berornamen stalaktit dan stalakmit, bernilai historis/situs purbakala, berpanorama alam indah yang dapat dikembangkan sebagai laboratorium alam untuk mendukung ilmu pengetahuan dan pendidikan konservasi alam serta kepentingan ekowisata.

Kawasan hutan ini juga merupakan daerah tangkapan air bagi kawasan di bawahnya dan merupakan hulu beberapa sungai penting di Provinsi Sulawesi Selatan seperti Sungai Walanea, Sungai Pangkep, Sungai Pute dan Sungai Bantimurung.

Sejarah Kawasan
- Kelompok Hutan Bantimurung-Bulusaraung seluas ± 3.879.771 hektar merupakan kawasan hutan di Provinsi Sulawesi Selatan yang meliputi wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep terdiri dari cagar alam Karaenta, Bantimurung dan Bulusaraung, taman wisata alam Bantimurung dan Gua Pattunuang, dan selebihnya berupa hutan lindung, hutan produksi terbatas serta hutan produksi tetap.
- Tahun 2004, Kelompok Hutan Bantimurung seluas ± 43.750 hektar terdiri dari cagar alam seluas ± 10.282,65 hektar, taman wisata alam seluas ± 1.624,25 hektar, hutan lindung seluas ± 21.343,10 hektar, hutan produksi terbatas seluas ±145 hektar dan hutan produksi tetap seluas ± 10.355 hektar terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan, dirubah fungsinya menjadi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Pintu Gerbang Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Fisik
Geologi dan Tanah

Geologi kawasan ini dikelompokkan berdasarkan jenis batuan yang didasarkan pada ciri-ciri litologi dan dominasi dari setiap satuan batuan.

Formasi-formasi tersebut antara lain adalah:
- Formasi Balang Baru; yang terdiri dari perselingan serpih dengan batu pasir, batu lanau, dan batu lempung.
- Batuan Gunung Api Terpropilitkan; yang terdiri dari breksi dan lava.
- Formasi Malawa; yang terdiri dari batu pasir kuarsa, batu lanau, batu lempung dan konglomerat dengan sisipan atau lensa batu-bara.
- Formasi Tonasa; terdiri dari batu-gamping pejal, bioklastik, kalkarenit, koral dan kalsirudit bersisik.
- Formasi Camba; terdiri dari perselingan batuan sedimen laut dan batuan gunung api, yaitu batu pasir tufaan berselingan dengan tufa, batupasir, batulanau dan batulempung.
- Batuan Gunung Api Formasi Camba; terdiri dari breksi, lava, dan konglomerat. Terdiri dari pragment andesit dan basal, matrik dan semen tufa halus hingga pasir.
- Batuan Gunung Api Baturape-Cindako; terdiri dari lava dan breksi gunung api, bersisipan tufa dan konglomerat.
- Batuan trobosan; terdiri dari granodiorit, andesit, diorit, trakit dan basal piroksin.
- Endapan Alluvium pantai dan sungai; berupa pasir, lempung, bongkah, kerakal, kerikil, pasir.

Air Terjun Bantimurung
Tanah
Ada dua jenis tanah yang umum ditemukan di Bukit Kapur Maros Pangkep, dimana keduanya kaya akan kalsium dan magnesium, yaitu:
1. Rendolit yang mempunyai warna kehitaman karena tingginya kandungan bahan organik, dan
2. Eutropepts yang merupakan turunan dari inceptisol, berwarna terang dan sangat dangkal.

Topografi
Topografi kawasan ini dikelompokan ke dalam tiga bagian besar, yakni:
1. Daerah dengan topografi pegunungan. Terletak di bagian Utara dan Tengah dengan puncak tertinggi Gunung Bulusaraung (1.300 m dpl), yang dicirikan berupa kenampakan topografi relief tinggi, terjal dan tekstur topografi kasar
2. Daerah dengan topografi perbukitan.
3. Daerah dengan topografi dataran

Iklim
Tipe iklim : C (Schmidt & Fergusson)
Suhu rata-rata: 29°C
Kecepatan Angin : rata-rata 3 knot dan maksimum 20 knot.
Musim hujan : November-April, dan
Musim kemarau : Juli-September.

Hidrologi
Kawasan ini merupakan hulu dari beberapa sungai besar di Sulawesi Selatan, antara lain Sungai Walanae, Sungai Pute, Sungai Pangkep dan Sungai Bantimurung/Maros. Disamping itu juga ditemukan beberapa mata air dan sungai kecil, terutama di wilayah kars, serta air bawah tanah/danau bawah tanah pada sistem guanya.

Air Terjun Bantimurung
Biotik
Flora

Ekosistem karst Maros-Pangkep, memiliki berbagai jenis flora, antara lain : bintangur (Calophyllum sp.), beringin (Ficus sp.), nyatoh (Palaquium obtusifolium), bayur (Pterospermum sp), dao (Dracontomelon dao), aren (Arenga pinnata), kenanga (Cananga odoratum), bitti (Vitex cofassus), dan kemiri (Aleurites moluccana) serta flora endemik Sulawesi, yaitu kayu hitam (Diospyros celebica).

Fauna
Berbagai jenis satwa liar yang khas dan endemik diantaranya :
Mamalia
Kelelawar; Di kawasan ini kelelawar merupakan "Key stone species". Keluarga kelelawar dari genus pteropus yang mempunyai peranan penting dalam penyerbukan dan penyebaran biji dari kurang lebih 100 jenis tumbuhan di daerah tropik. Kelelawar ini juga membawa sisa-sisa makanan ke dalam gua yang sangat dibutuhkan oleh organisme penghuni gua lainnya. Jenis kelelawar yang ditemui di kars Maros adalah kelelawar buah (Pteropus sp) dan kelelawar gua (Eunycteris sp).

Kuskus; Kuskus adalah satu-satunya komponen mamalia Irian-Australia yang sebarannya sampai ke Sulawesi. Kuskus yang ditemukan di Karaenta adalah jenis endemik Sulawesi, yaitu kuskus Sulawesi (Phalanger celebencis) dan kuskus beruang (P. Ursius).

Musang Sulawesi; Musang Sulawesi (Macrogolidia mussenbracecki), adalah mamalia kecil pemakan buah dan merupakan satwa endemik Sulawesi.

Tarsius; Tarsius adalah merupakan primata terkecil di dunia. Terdapat 2 jenis tarsius di Sulawesi, namun belum ada informasi jenis yang ada di kawasan ini.

Burung; Jenis burung yang terdapat di kawasan ini, diantaranya burung enggang besar (Ryticeros cassidix), burung enggang hitam (Pycnonotus aurigaster), burung kucica (Saxicola caprata), burung raja udang (Halsion cloris), punai (Treron sp.), pelatuk (Dendrocarpus teiminkii), kakak tua putih (Cacatua sulphurea), kakak tua hijau "Danga" (Tanicnatus sumatranus), dan ayam hutan (Gallus gallus).

Kupu-Kupu; Terdapat 103 jenis kupu-kupu yang ditemukan di hutan Bantimurung, dengan jenis endemik antara lain Papilio blumei, P. polites, P. Satapses, Troides haliptron, T. Helena, T. Hypolites, dan Graphium androcles. Papilio blumei, dan Troides haliptron yang merupakan jenis dengan sebaran sangat sempit, yakni pada habitat di pinggiran sungai.

Amfibi dan reptil; Jenisnya antara lain katak (Rana sp), ular piton (Phyton reticulatus), ular daun, ular air, biawak besar (Varanus sp), biawak kecil bertelinga, kadal terbang dan kadal biasa.

Goa Pattunuang Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Wisata
Kawasan Bantimurung, Gua Pattunuang dan Cagar Budaya Leang-Leang merupakan pusat-pusat pariwisata yang telah berkembang dan dikenal bahkan sampai mancanegara. Atraksi kehidupan kupu-kupu yang hidup liar di Bantimurung dan keindahan panorama alamnya merupakan daya tarik yang luar biasa bagi para wisatawan.

Gua-gua di bukit Maros-Pangkep dengan stalaktit dan stalakmitnya yang sangat indah dan belum banyak terjamah, merupakan obyek wisata minat khusus yang menantang para penjelajah gua.

Disamping gua, banyak juga dijumpai air terjun, mata air panas, demikian juga sungai-sungai yang mengalir di kawasan ini dengan latar belakang pemandangan kawasan kars telah mulai diminati oleh para wisatAwan lokal.

Air Terjun Bantimurung
Cara mencapai lokasi
Letak kawasan ini sangat strategis karena hanya ± 1 jam saja dari kota makasar melalaui jalan aspal dengan alat transportasi kendaraan roda empat.

Pengelolaan
Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung sementara masih dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan I, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Alamat Pengelola Kantor
Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan I
Jl. Balang Baru No 11 POBOX 1144 Makassar
No. Telp.0411-852709, Fax. 0411-314513 Via Wartel
Sumber : Kementerian Kehutanan RI

Taman Nasional Lore Lindu

TAMAN NASIONAL 
LORE LINDU


Dasar Penetapan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 646/Kpts-II/1999
Tanggal 23 Juni 1999

Luas : ± 217.991,18 Ha

Letak :
Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Poso (Kecamatan Lore Utara) dan Kabupaten Donggala (Kecamatan Palolo, Kulawi, Sigi Biromaru dan Dolo).

Koordinat :
119° 57' - 120° 22' BT dan
01° 03' - 01° 58' LS

Umum
Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu dari lima kawasan konservasi terpenting di wilayah Timur Indonesia. Kawasan ini merupakan habitat bagi 80% burung endemik Sulawesi dan mewakili 90% dari keanekaragaman mamalia darat, serta sumber air dari Danau Lindu dimana setiap tahunnya telah menyumbang jutaan dolar bagi perekonomian Propinsi Sulawesi Tengah

Peta Taman Nasional Lore Lindu
Kawasan Lore Lindu juga memiliki banyak tempat-tempat peninggalan megalith dari jaman pra sejarah, baik di dalam maupun sekitar kawasannya, oleh karena itu UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai World Heritage Site.

Karena keunikan, kekayaan keanekaragaman hayatinya, keindahannya, serta arti pentinya bagi masyarakat, maka banyak organisasi internasional menganugerahkan status istimewa pada Taman Nasional Lore Lindu ini, antara lain:
1. Sebagai Cagar Biosfer (World Heritage Site) oleh UNESCO,
2. Sebagai Nominasi Lokasi Warisan Dunia,
3. Sebagai Kawasan Burung Endemik.
4. Sebagai Pusat Keanekaragaman Hayati,
5. Sebagai Kawasan Ekologi Global 2000, dan
6. Sebagai salah satu Pusat Penelitian di Sulawesi Tengah.

Sejarah Kawasan
1. Kawasan Taman Nasional Lore Lindu berasal dari tiga fungsi kawasan konservasi, yaitu:
a. Suaka Margasatwa Lore Kalamanta yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian Tahun 1973.
b. Hutan Wisata/Hutan Lindung Danau Lindu yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian Tahun 1978.
c. Suaka Margasatwa Lore Lindu (perluasan Lore Kalamanta) yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian Tahun 1981
2. Pertama kali pemberian status bagi Taman Nasional Lore Lindu adalah pada tahun 1982 bertepatan dengan Konggres Ketiga Taman Nasional Dunia di Bali. Luas pada saat pengumuman ini adalah 231.000 Ha.
3. Pengumuman tersebut kemudian diperluas dengan penunjukan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1993 menjadi 229.000 Ha
4. Kawasan ini kemudian ditetapkan oleh Menteri pada tahun 1999 dengan luas 217.991,18 Ha sebagai Taman Nasional Lore Lindu.

Hutan Taman Nasional Lore Lindu
Fisik
Geologi dan Tanah

Taman Nasional Lore Lindu terletak di antara 2 patahan utama yang terdapat di Sulawesi Tengah. Pada daerah pegunungan, umumnya berasal dari batuan asam seperti Gneisses, Schists dan Granit yang memiliki sifat peka terhadap erosi.

Formasi lakustrin banyak ditemukan di bagian Timur taman nasional dan umumnya merupakan dataran danau atau berawa. Bahan endapan berasal dari campuran batuan sedimen, metamorpfosa dan granit.

Bagian Barat banyak ditemukan formasi aluvium yang umumnya membentuk kipas aluvial/koluvial. Daerah ini juga banyak ditemukan teras-teras yang bertingkat.

Strata dan sedimen yang ditemukan kawasan Taman Nasional Lore Lindu yaitu ;
- Kompleks Gumbasa: komponen utama dari ikatan ini adalah batuan metamorphic dan termasuk granit gneissic, diorit bneissic, gneiss dan schist.
- Kls Unit Batuan Latimojong
- Ineba Vulkanik
- Tpkg Kambuno Granit
- Tmpi (g) Batuan Intrusif
- TQpm Unit Batuan Napu
- Qp Unit Batuan Pakuli
- Ql Deposit Lacustrine

Keadaan tanah di Taman Nasional Lore Lindu dan sekitarnya, umumnya bervariasi dari yang belum berkembang (Entisol), sedang berkembang (Inseptisol) sampai yang sudah berkembang (Alfisol), serta sebagian kecil Ultisol.

Kedalaman solum tanah umumnya dangkal sampai sedang, terutama di daerah daratan, sedang di daerah perbukitan ditemukan solum dangkal sampai dalam dengan tekstur lempung berpasir. Tanah dangkal pada umumnya ditemukan pada pinggir sungai (tanggul sungai) dan bagian perbukitan pegunungan yang curam.

Pada bagian Timur taman nasional, tanah relatif belum berkembang sampai sedang berkembang, antara lain Typic Troporthen, Typic Eutropepth, Typic Tropoquept, Andic troporthent (dalam jumlah sedikit), dan Fluventic Eutotropeth (dalam jumlah sedikit).

Pada bagian Barat tanah-tanahnya antara lain Typic Troporthent dan Fluventic Eutropept, Typic Eutropept, Lythic Eutropept, dan atau Lytic tropopept.

Topografi
Taman Nasional Lindu berada pada ketinggian 300 sampai dengan lebih dari 2.000 m dpl, dengan puncak tertinggi Gunung Nokilalaki (2355 m dpl) dan Gunung Tokosa/Rorekatimbu (2.610 m dpl). Lembah atau dataran yang relatif luas terdapat di Lembah Palolo, Lindu, Napu, Bada, dan Kulawi.

Berdasarkan analisi peta topografi, berikut adalah kondisi kelerengan keseluruhan kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
- datar (0-8%) seluas 7 %
- landai (8-15%) seluas 6%
- agak curam (15-25%) seluas 15%
- curam (25-45%) seluas 4%
- sangat curam(> 45%) sekitar 68%.

Iklim
Curah hujan disekitar Taman Nasional Lore Lindu bervariasi dan tidak merata sepanjang tahun. Fontannel dan Chanterfort (1978, dalam RPTN Lore Lindu) melaporkan bahwa rata-rata curah hujan tahunan secara umum berada diatas 3.000 mm. Bahkan pada bulan-bulan kering, terutama di wilayah pada ketinggian 1000 m dpl atau lebih, curah hujan masih tinggi. Suhu maksimum pada kisaran 26° hingga 35° C, sedangkan suhu minimumnya pada kisaran 12° hingga 17° C. Kelembaban udara rata-rata 98% dan kecepatan angin rata-rata 3,6 km per jam.

Benda Pra Sejarah di Taman Nasional Lore Lindu
Hidrologi
Taman Nasional Lore Lindu adalah kawasan tangkapan air yang besar, dan merupakan sumber air bagi dua sungai besar yaitu sungai Gumbasa di bagian Utara yang bergabung dengan sungai Palu di bagian Barat serta sungai Lariang di bagian Timur, Selatan, dan Barat. Fungsi hidrologis ini sangat besar manfaatnya bagi masyarakat sekitar kawasan dan Sulawesi Tengah umumnya.

Biotik
Vegetasi
Delapan vegetasi utama yang dapat dijumpai adalah :
1. Rawa ; Tumbuhan yang dapat dijumpai antara lain: Pandan, Dacrydium sp., Sagu, Burmannia disticha, Anggrek besar yang tumbuh di tanah (Phaius tankervilleae), Nepenthes sp., Rhododendron
2. Hutan monsoon ; Tumbuhan yang mendominasi antara lain: Pteros-permum cf. Diversifolium. Belum ada survei mengenai hutan monsoon ini.
3. Dataran rendah ; Tanaman yang dijumpai a.l: Artocarpus vriesianus, Elmerillia ovalis dan beberapa jenis dari Dipterocarpaceae.
4. Pegunungan Rendah ; Kawasan ini didominasi famili Sapotacese dan Fagaceae, namun ditemukan pula jenis Acer niveum, Bruinsmia styracea, Santiria sp. yang merupakan karakteristik sub-tipe-hutan ini. Pohon-pohon palem (Calamus sp.) dan tumbuhan kayu merambat juga umum ditemui.
Pohon-pohon berdiameter lebih besar dari 60 cm banyak ditemui dan kanopinya tersusun secara baik, tertutup dan berlapis-lapis. Pegunungan ; Tipe hutan ini dicirikan adanya jenis Castanopsis accuminatissima (nama lokal: kaha) yang membentuk hampir 60-70% daritempat mereka hidup dan dapat dikenali secara mudah. Beberapa jenis lainnya adalah Tristania whiteana, Calophyllum sp. Jenis Myrtus ditemui pada tempat yang lebih tinggi dan terbatas pada wilayah-wilayah yang lebih kering. Podocarpus neriifolia dan Dacrydium imbricatus dapat memiliki tingkat dominasi cukup tinggi pada saat kaha tidak ditemui.
5. Pegunungan tinggi ; Tumbuhan yang dapat ditemui antara lain : Dawnosia, tumbuhan bambu kecil (Begonia spp., Elatostema spp, Cyrtandra spp., Agathis celebica, Ternstroemis, Lithocarpus spp., Phyllocladus hypophyllus)
6. Hutan semak belukar ; Tanaman yang banyak dijumpai adalah pohon-pohon ramping, serta memiliki daun kecil, seperti: Rhododendron sp. Phyllocladus hypophyllus, Burmania sp., Nepenthes.
7. Hutan awan ; Tumbuhan yang dijumpai berupa lumut dan pohon kecil jamur dan alga yang menutupi batang, ranting dan daun dari pohon-pohon yang ada. Selain itu dijumpai pula Eugenis spp., Weinmannia descombesiana, beberapa genus Theacea.
8. Anthropogenik

Fauna
Burung ; Sampai tahun 2002 tercatat 225 jenis burung dalam Taman Nasional Lore Lindu, termasuk 78 endemik Sulawesi serta 46 jenis termasuk jenis langka. Berdasarkan data yang ada, Lore Lindu merupakan habitat bagi 80% jenis burung endemik dan 82% jenis langka di Sulawesi. Jenis burung yang sangat terkenal diantaranya burung Maleo, dan Enggang paruh merah.

Fauna Krabuku
Mamalia ; 77 jenis mamalia besar maupun kecil tercatat di Taman Nasional Lore Lindu, termasuk diantaranya 47 endemik di Sulawesi. Taman Nasional Lore Lindu juga merupakan tempat tinggal bagi 89% jenis mamalia Sulawesi. Beberapa contoh mamalia antara lain: Anoa, Babirusa, Monyet boti, Krabuku (tarsius), Musangcoklat.

Ikan, Reptil dan Amphibi ; Informasi mengenai ikan di Taman Nasional Lore Lindu sangat sedikit. Sedangkan penelitian tentang reptil mencatat adanya 24 jenis dari 13 famili dan 21 jenis amphibia.

Terdapat empat kelompok penduduk asli, yaitu : Bada, Behoa, Perkurehau dan Kaili. Struktur sosial secara tradisional dalam keempat kelompok memiliki hierarki yang kuat dengan struktur tipikal: ningrat, penasehat dan para pemimpin, rakyat biasa, dan budak. Dari sebanyak 61 desa yang ada di sekitar Taman Nasional Lore Lindu terdapat 68.377 orang (survei 2001). Mata pencaharian penting masyarakat tersebut adalah: pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, hewan ternak/ayam/ikan, kerajinan tangan, produk-produk hutan (kayu, rotan) dan buruh musiman dan paruh waktu (burun tani, memandu, membantu para ilmuwan). Mayoritas hasil pertaniannya untuk digunakan sehari-hari.

Peninggaalan Pra Sejarah di Taman Nasional Lore Lindu
Wisata
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi :
1. Lembah Besoa ; Melihat habitat maleo, megalit dan rekreasi.
2. Danau Lindu, Gimpu, Wuasa, Bada ; Bersampan dan Pengamatan Satwa Burung
3. Lembah Saluki, Lembah Bada, Lembah Napu ; Melihat berbagai batu megalit.
4. G.Nokilalaki, G. Rorekatimbo, Sungai Lariang ; Pendakian, berkemah dan arung jeram.
5. Danau Lewuto ; melihat peninggalan mayat Moradino.
6. Dongi-dongi, Kamarora ; Berkemah, air panas, lintas hutan, pengamatan satwa.

Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Danau Poso pada bulan Agustus.
Musim kunjungan terbaik : bulan Juli sampai September.

Cara mencapai Lokasi :
Dapat dicapai dengan kendaraan roda empat : Palu-Kamarora (50 Km) lama perjalanan 2,5 jam; Palu-Wuasa (100Km) 5 jam; Wuasa-Besoa (50 Km) 4 jam; dan Palu-Kulawi (80Km) 6 jam. Perjalanan di dalam kawasan dapat dilakukan dengan jalan kaki ataupun berkuda dengan route : Gimpu-Besoa-Bada selama 3 hari dan Saluki (Sidoanta)-danau Lindu selama 1 hari.

Pengelolaan
Taman Nasional Lore Lindu dikelola oleh Balai Taman Nasional Lore Lindu sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Mitra Kerja
Mitra kerja yang ada pada saat ini adalah : The Nature Conservancy, Care, Forum Mitra Taman Nasional Lore Lindu.

Alamat Pengelola Kantor
Balai Taman Nasional Lore Lindu d/a.
Jl. Mawar No. 10 Palu - SULAWESI TENGAH
Telp. 0451 - 423608 Fax. 0451 - 423608
Email : Lore_Lindu@wasantara.net.id
Sumber : Kementerian Kehutanan RI