Home » , , » Relawan Anoa SULTRA Untuk Palu, Sigi, Donggala

Relawan Anoa SULTRA Untuk Palu, Sigi, Donggala

RELAWAN ANOA SULTRA
Untuk Bencana Alam Palu, Sigi, Donggala 
 

Palu - dagrinizar.blogspot.com, Jumad, 28 September 2018, sekitar pukul 18.05 WITA, Gempa bumi berkekuatan 7,7 SR mengguncang sisi barat Pulau Sulawesi, tepatnya di wilayah lintasan katulistiwa. Yaitu Kota Palu, Kab. Sigi, Kab. Donggala dan Kab. Parigi Muotong. Gempa Bumi yang diikuti dengan Gelombang Tsunami, Tanah Longsor dan Likuifaksi telah melululantahkan beberapa wilayah di 4 daerah tersebut.

Ribuan bangunan, jalanan, fasilitas umum, rumah ibadah, pasar, fasilitas listrik, air, dan sarana telekomunikasi porak poranda sesaat setelah terjadinya musibah tersebut. Ribuan nyawa melayang diterpa reruntuhan bangunan, diterjang gelombang tsunami dan terkubur bersama muntahan ribuan ton lumpur yang melenyapkan dan menyapu beberapa pemukiman. Ratusan hektar persawahan dan perkebunan lenyap bersama runtuhan yang terbelah kedasar tanah. Aktifitas masyarakat nyaris lumpuh total. Disana sini hanya ada kepanikan dan kegaduhan. Pemerintah entah kemana..? Aparat keamanan pun, entah ada dimana...?
Kota Palu Pasca Gempa
Seketika itu pula, Kota Palu dan beberapa daerah lainnya nyaris lumpuh total dari segala aktifitas manusia. Seperti sebuah kota mati yang habis dilanda pertempuran dahsyat. Suasana kepanikan dan ketakutan melanda seluruh warga. Beberapa jam setelah kejadian, suasana Kota Palu dan sekitarnya begitu mencekam. Ribuan nyawa tergeletak di sepanjang bibir pantai Kota Palu, ratusan nyawa terhimpit puing-puing reruntuhan bangunan. Tak ada nyala listrik sama sekali yang ada hanya bunyi sirine dimana-mana. Saluran komunikasi pun terputus total. Masing-masing orang sibuk menyelamatkan diri dan keluarganya masing-masing.

Beberapa jam setelah kejadian, puluhan media, baik TV, radio, internet dan media sosial sudah mengabarkan kondisi awal sesaat setelah kejadian. Gambar dan video pun banyak beredar di dunia maya yang menggambarkan situasi detik-detik terjadinya gempa, tsunami dan likuifaksi. Seluruh perhatian dan keprihatinan terarah ke Kota Palu. Malam itu setelah kejadian, berbagai media masih banyak yang belum dapat mengakses kondisi riil, mengingat sulitnya jaringan komunikasi saat itu.

KESIAPAN TIM RELAWAN ANOA SULTRA
Sejak mendengar kabar kejadian gempa bumi tersebut, BPBD Sulawesi Tenggara segera membuka posko bantuan kemanusiaan dan relawan. Sehari, sejak gempa terjadi, bantuan sudah berdatangan dari segala penjuru ke Kantor BPBD Sultra. Puluhan ton bantuan sudah terkumpul didalam kantor BPBD Sultra, bahkan sampai ke halaman. Ini membuktikan kepedulian masyarakat Sulawesi Tenggara sangat tinggi terhadap musibah yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya. 
Gubernur Sultra melepas Relawan Anoa Sultra
Senin, 1 Oktober 2018, Sejak pagi, puluhan orang sudah mulai berkumpul di Kantor BPBD Sultra. Mereka adalah relawan yang siap sukarela bertugas di Kota Palu. Tim Relawan Anoa Sultra dilepas oleh Gubernur Sultra, H. Ali Mazi, SH. Tim ini berjumlah kurang lebih 250 orang dari berbagai unsur yaitu Basarnas, BPBD Sultra, POM TNI, POLDA SULTRA, Sat POL PP, TAGANA, Pencinta Alam Sultra, Rodja TV Kendari, Kimia Farma, Tim Medis, Mahasiswa UHO dan beberapa relawan dari berbagai unsur lembaga.
Relawan Anoa Sultra
Tim membawa armada sekitar 40 kendaraan yang terdiri dari kendaraan operasional, mobil tanki air bersih, mobil serbaguna dan mobil dapur umum BPBD. Tim akan mendampingi 20 mobil truk yang memuat berbagai jenis bantuan masyarakat Sultra, khususnya masyarakat Kota Kendari. Batuan tersebut terkumpul dari berbagai posko masyarakat serta instansi dan lembaga yang mengumpulkan donasi dari pegawai pemerintah, swasta dan masyarakat umum. Setelah merampungkan seluruh kebutuhan dan perlengkapan sekitar Pukul 16.00 WITA bergeraklah iring-iringan kendaraan menuju Kota Palu.

PERJALANAN DARAT KE KOTA PALU - HARI PERTAMA
Diatas Truk Sat Pol PP
Perjalanan akan ditempuh via darat dengan melewati rute jalur trans timur Sultra - Sulteng. Dari Kota Kendari perjalanan ditempuh sekitar 5 Jam ke Kota Asera, Kab. Konawe Utara. Perjalanan cukup memakan waktu lama disebabkan oleh jalan trans yang dilalui rusak berat ditambah lagi dengan pergerakan kendaraan truk bantuan yang sedikit lambat.
Perbatasan Sultra - Sulteng
Sesampainya di Kota Asera, tim sempat istirahat sejenak di halaman Kantor Polsek Asera. Setelah sarapan pagi, rombongan kembali melesat melintasi jalur aspal mulus yang lurus lalu berliku-liku sampai melewati perbatasan Provinsi Sultra - Sulteng. 
Perbatasan Sultra - Sulteng
Rombongan beristirahat di sebuah warung kopi di pinggir jalan tidak jauh dari perbatasan. kami baru saja memasuki wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Perjalanan ke Kota Palu, masih jauh. Masih membutuhkan sekitar 600 Km lagi.
Makan Siang di Kota Bungku, Sulteng
Tepatnya di Kota Bungku, Kab. Morowali, seluruh tim beristirahat dan makan siang disebuah warung makan. Bakso adalah menu yang paling banyak dipesan oleh anggota tim saat itu. Beberapa dari kami sempat terlentang meluruskan badan disebuah musholah Rumah Sakit yang berada tidak jauh dari warung tersebut. Cukup lelah rasanya berada di truk berjam-jam dengan keringat yang sudah mengering berlapis-lapis ditubuh.
Makan Siang di Kota Bungku, Sulteng
Praktis warung makan ini dipenuhi oleh rombongan kami yang berjumlah ratusan. Pelayannya pun sibuk menyiapkan puluhan aneka menu yang dipesan oleh relawan yang sudah sangat kelaparan sejak perjalanan berjam-jam lamanya melewati jalur jalan yang berliku, menajak dan menurun. Ratusan piring dengan berbagai macam hidangan memenuhi seluruh meja. Beberapa dari kami ada juga yang menyempatkan untuk mandi dan membersihkan badan.
Di Dalam Truk Sat Pol PP
Sekitar pukul 15.30 rombongan kembali bergerak menyusuri jalur utama Kota Bungku sampai melewati perbatasan Kab. Morowali Utara. Sekitar pukul 20.00 WITA malam, tim sempat beristirahat di depan kantor Polres Morowali di Kota Kolonodale. 
Di Dalam Truk Sat Pol PP
Setelah makan malam, sesungguhnya perjalanan akan kembali dilanjutkan untuk menuju Kota Tentena, namun karena sebagian besar pengemudi sudah kelelahan, maka tim memutuskan untuk menginap di Kantor Polres Morowali. Masing-masing dari kami segera mengamankan diri untuk mencari tempat berebah malam ini, berhubung rasa lelah dan kantuk yang tak tertahankan.
Masjid Polres Morowali
Pihak Polres sesungguhnya sudah menyedikan lokasi untuk menginap para anggota tim yaitu di sebuah aula, namun sebagian besar tim memilih untuk tidur di dalam mesjid saja. Fasilitas sangat tersedia baik di mesjid ini utamanya MCK yang memang sangat urgen untuk aktifitas ratusan manusia seperti ini. Dalam mesjid ini pun cukup menyediakan tempat yang luas dan dapat menampung ratusan orang untuk berbaring.

HARI KEDUA
Suara Sirine terdengar nyaring berbunyi tidak lama setelah kami selesai sholat subuh. Segera kami bergegas mengemasi seluruh barang. Ratusan orang sudah melangkah cepat mendekati kendaraan tumpangannya masing-masing. Masih subuh rasanya waktu itu, belum nampak sinar mentari sedikitpun. Tidak lama berselang,  iring-iringan kendaraan kembali melaju mebelah kabut tipis di sepanjang aspal di perbatasan Kab. Morowali Utara.
Perempuan Tangguh di Tim Relawan Anoa Sultra
Sepertinya hanya berpindah tempat tidur saja. Saat kendaraan mulai melaju, praktis semuanya dalam keadaan terpejam dengan posisi belipat-lipat tidak beraturan di dalam kendaraan truk Sat Pol PP ini. Sepertinya malam tadi terlalu singkat bagi kami yang memang sebagian besar begadang. Tidur kami pun terasa lelap, tak perduli lika liku jalan yang terasa menggoyang badan kami dalam truk ini.
Kelelahan di dalam Truk
Sudah 4 jam truk ini membawa kami menyusuri jalur pengunungan di wilayah perbatasan Kab. Poso ini. Bukit-bukit dengan rerumputan hijau menguning, tersaji disepanjang jalan yang berhawa panas ini. Lambat laun, perjalanan mulai agak menurun. Terlihat beberapa petunjuk jalan yang bertuliskan Kota Tentena tidak jauh lagi. Truk rombongan kami tetap berbaris rapi menuruni jalan sempit yang berliku-liku. Sesekali kami beristirahat jika ada anggota tim yang hendak ke kamar kecil atau membeli cemilan.
Memasuki Kab. Poso
Waktu terus berjalan, sampailah kami di sebuah kawasan pemukiman padat penduduk. Suasana ramai sudah terasa saat kendaraan kami memasuki perbatasan kota ini. Puluhan Gereja di perbatasan kota menandakan kami sudah masuk wilayah Kota Tentena. Suasananya cukup ramai dengan aktiftas warga.
Memasuki Kab. Poso
Kami hanya singgah mengisi bahan bakar di sini dan terus melanjutkan perjalanan ke arah Kota Poso. Dari Kota Tentena hanya dibutuhkan waktu sekitar setengah jam saja untuk sampai di Kota Poso. Menurut informasi dari warga setempat, Kota Poso tidak mengalami kerusakan sama sekali akibat gempa beberapa hari yang lalu. Mereka hanya merasakan getaran yang memang cukup keras.
Kota Poso, Sulteng
Setibanya di Kota Poso, tim kembali beristirahat di sebuah posko relawan sambil menunggu beberapa truk yang sedang mengantri di SPBU terdekat, mereka tidak sempat mengisi bahan bakar saat di Kota Tentena tadi.
Istirahat di Kota Poso
Dari Posko ini, kami bergerak tidak cukup jauh untuk kembali break makan siang di sebuah rumah kerabat salah satu anggota tim kami. Tidak cukup lama disini, kami pun memulai kembali perjalanan ke arah Kab. Parigi Muotong. Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 petang, perlahan dan pasti, puluhan kendaraan kami melaju menyusuri jalur tepi pesisir Teluk Tomini.
Perjalanan ke Kab. Parigi Muotong
Saat perlahan mulai memasuki malam, iring-iringan kendaraan kami memasuki wilayah pemukiman ramai penduduk. Perbatasan Kabupaten Parigi Muotong sudah terlewati. Namun kondisi miris sudah mulai terlihat saat suasana gelap gulita tampak disepanjang aspal yang kami susuri. Yang ada hanya jejeran tenda-tenda warga yang berderet di depan rumah masing-masing. Sepertinya dampak gempa sudah dimulai dari wilayah ini.

Dipanjang jalan, bahkan saat sudah memasuki pusat kota Parigi Muotong, hanya gelap gulita yang tampak. Seperti sebuah kota yang tak berpenghuni. Tidak ada nyala lampu jalan. Sebagian hanya menggunakan lampu pelita dan hanya sebagian kecil yang diterangi dengan lampu cas. Puluhan tiang listik terlihat rebah tak beraturan. Kabel listrik kocar-kacir bahkan di beberapa titik sampai putus. Sampai memasuki pusat Kota Parigi Moutong masih dengan kondisi yang sama. Hanya lampu-lampu lalu lalang kendaraan yang hanya sepintas menyinari jalanan.

Kurang 30 menit kemudian, rombongan sudah mulai memasuki jalur padat menanjak untuk menuju sisi barat Pulau Sulawesi. Tanjakan berliku-liku nan sempit perlahan dilalui. Iring-iringan kami berjalan lambat karena saling menunggu utamanya truk pengangkut logistik. Rasa khawatir sempat muncul dibenak kami, karena dijalur inilah yang ramai diberitakan tentang adanya penjarahan kendaraan bantuan. Namun, aparat TNI dan Polri yang mengawal kami tetap sigap disepanjang jalur ini.

Jalur ini dikenal dengan nama Jalur Kebun Kopi, meskipun tidak ada tanaman Kopi yang terlihat sepanjang jalan. Baik yang menanjak dan yang menurun, tak terhitung jumlah kendaraan yang hilir mudik. Semuanya terlihat tergesa-gesa, maklumlah situasinya memang sedang genting oleh dampak bencana. 



TIBA DI KOTA PALU
Sekitar pukul 11 malam, rombongan kami sudah memasuki Kota Palu. Hanya gelaplah yang tampak disepanjang saat menyusuri jalan aspal yang bergelombang karena retakan gempa. Terlihat beberapa pagar rumah ambruk, beberapa bangunan retak dan roboh dan tenda-tenda yang dirikan warga tepat didepan rumahnya masing-masing. Mereka masih trauma dan berjaga-jaga dengan beberapa gempa susulan yang masih sering terjadi.

Tiang-tiang listrik tampak rebah dan miring, suara sirine menggaung dimana-mana, lalu lalang kendaraan silih berganti hilir mudik dengan kecepatan tinggi. Seperti sebuah kota yang dilanda peperangan. Coretan minta tolong sesekali terlihat dibeberapa tembok perumahan. Seperti itulah kondisi yang dapat kami gambarkan saat tiba di Kota Palu. Kesedihan adalah aura yang tampak dari benak kami.

Markas korem merupakan tempat yang ditunjuk sebagai posko utama untuk melaporkan kedatangan para relawan. Tempat ini begitu sibuknya dengan aktifitas ratusan manusia, bahkan saat waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. dini hari. Terlihat puluhan kendaraan dari berbagai daerah masih memadati tepi jalan di seputaran Markas Korem ini. Setelah melapor, kami diarahkan untuk mendirikan posko utama di lapangan Telkom. Lokasinya tidak jauh dari Markas korem.

Mendirikan Tenda dan Dapur Umum
Tim BPBD Kab. Konawe
Gerakan cepat segara kami lakukan sesaat setelah tiba di lapangan Telkom palu. Seluruh barang segera diturunkan dari truk Sat Pol PP yang memang penuh sesak dengan relawan dan perlengkapan. Sementara itu, dapur darurat segera didirikan untuk memenuhi rasa lapar kami sejak perjalanan dari Kota Poso tadi. Mie Instant ala kadarnya segera tersaji. Ini cukup menghangatkan badan kami ditengah waktu yang sudah mulai beranjak pagi.
Tim BPBD dan TIM SAR di Posko Relawan Anoa Sultra
Dua tenda pleton pun sudah berdiri. Tanpa dikomando, masing-masing dari kami segera mengambil posisi untuk berebah dan tidur meskipun beberapa jam lagi matahari akan terbit. Namun tak mengapa, yang penting rasa letih ini bisa pulih segera mengingat perjalanan darat yang sulit dibayangkan suka dukanya. Alhamdulillah..Ya Allah Sampai juga kami di Kota Palu.. Seluruh tim dalam kondisi sehat wal afiat. Semoga esok kami sudah ada aksi yang bisa kami lakukan sebagai relawan.
Ngopi pagi para Relawan di Posko Induk
Pagi itu, suasana keakraban terlihat dari kami para relawan. Diskusi kecil terjadi setiap harinya sebelum kami memulai aktiftas. Hari-hari kedepan merupakan hari yang penuh dengan tantangan. Bertugas selama kurang lebih dua minggu kedepan adalah tanggung jawab sebagai relawan. Rasa kemanusiaan kami, akan teruji disini.

Pembagian Tim dan Pergerakan Hari Pertama   
Mentari pagi perlahan naik dan cahayanya menembus kedalam celah tenda pleton ini. Semuanya masih berebah dan terkurung dalam selimut. Belum ada yang terlihat bangkit dan memulai aktiftas pagi. Semuanya masih terlelap dalam keletihan akibat perjalanan darat 3 hari 2 malam yang betul betul menguras tenaga.
Panggilan “makaan…makaaan” oleh ibu-ibu di dapur umum sontak membangunkan kami yang memang sudah menahan lapar sejak subuh tadi. Mie Instan semalam memang belum ampuh menenangkan lambung kami.
Menu sarapan pagi ini sangat luar biasa. Nasi dan Ayam kari beserta lauk-lauknya. Mantapp…. Ditengah kondisi bencana seperti, malah sajian pesta yang dihidangkan. Pagi ini menu sarapan sengaja dihidangkan oleh teman-teman dari Rodja TV Kendari yang memang membawa persiapan ayam segar dan telur dalam 1 mobil box. Bisa dibayangkan, kayaknya beberapa hari kedepan menu ayam masih akan jadi sajian utama.
Briefing sebelum memulai kegiatan
Seluruh tim pun mengantri dengan wadah dari kertas sebagai piring untuk menyendok aneka menu sarapan pagi ini. Canda tawa pun terdengar dari masing-masing anggota tim saat duduk bersila diatas terpal sambil menikmati sarapan pagi ditengah matahari yang sudah beranjak naik. Beberapa teguk kopi dan teh hangat menutup acara sarapan dihari pertama kami di Kota Palu ini.
Tim BPBD Kab. Konawe
Pengaturan tim pun dimulai. Dikomandoi oleh BPBD, seluruh relawan dibagi dalam beberapa tim. Seluruh relawan diarahkan pada sebuah briefing kecil di dalam tenda. Mengingat ini hari pertama, tentunya manajemen dan pengaturan tim harus dilakukan agar mengefektifkan pergerakan di lokasi bencana nantinya.
Briefing di Posko Induk
Selain bertugas di lokasi evakuasi, beberapa relawan juga standby di posko induk untuk mengatur logistik dan membantu aktifitas dapur umum serta menyediakan makanan bagi para relawan. Selain itu beberapa relawan dari Palang Merah Indonesia Kendari akan bergabung di Posko utama PMI di Kota Palu untuk memberikan bantuan medis di beberapa posko pengungsian.
Briefing di Posko Induk
Hari itu kami belum fokus untuk kelokasi bencana. Kami masih membenahi perlengkapan dan peralatan di posko induk ini, yang memang belum sepenunya rampung terpasang mengingat baru beberapa jam yang lalu kami tiba di tempat ini. Siang itu, Beberapa anggota tim diutus untuk mendampingi 20 truk logistik yang kami bawa dari Kendari untuk dilaporkan kemudian dibongkar di halaman Markas Korem Palu.
Suasana Pembokaran Bantuan dari Mobil Truk
Satu per satu muatan truk dikeluarkan ke tenda penampungan. Para relawan bahu membahu memindahkan berbagai macam bantuan masyarakat Sultra yang terkemas dalam karung dan dos yang ratusan jumlahnya. Masing-masing bantuan dikelompokkan berdasarkan jenisnya, seperti makanan, pakaian, obat-obatan dan perlengkapan. 
Tenda Penampungan Bantuan
Seluruh barang dicatat oleh petugas BPBD. Baik barang yang masuk dan keluar harus diketahui banyaknya sehingga jumlah stok yang tersedia dapat diatur jumlahnya yang akan didistribukan ke masyarakat. Sebagian besar bantuan diturunkan di Markas Korem, sisanya ditampung di posko induk ini untuk mengantisipasi jika ada masyarakat yang datang langsung meminta bantuan ke posko induk kami. 
Suasana di Markas Korem Palu
Sebagaimana Prosedur dari Markas Korem sebagai Koordinator utama yang mengatur logistik, bahwa seluruh bantuan yang masuk untuk bencana Gempa Bumi Palu wajib melaporkannya ke Markas Korem.
Suasana di Markas Korem Palu
Selain itu seluruh bantuan tersebut juga harus dibongkar di halaman Korem Palu dan seterusnya pihak Korem lah yang akan mengatur pendistribusiannya ke seluruh pelosok yang terkena dampak bencana. 

Lokasi Evakuasi Kel. Petobo, Kab. Sigi
Relawan Anoa Sultra
Jumad, 5 Oktober 2018, merupakan hari pertama pergerakan kami. Sejumlah anggota relawan sudah dibagi tugasnya saat briefing malam harinya. Beberapa relawan dari PMI Kendari akan bergabung tersendiri di markas PMI Palu bersama dengan anggota PMI dari seluruh Indonesia.
Relawan Anoa Sultra
Sebagian besar tim lainnya akan difokuskan pada lokasi evakuasi di Kel. Petobo, Kab. Sigi. Lokasi ini akan menjadi titik fokus pencari tim Relawan Anoa Sultra selama berada di Kota Palu. Penetuan titik lokasi ini sebagaimana petunjuk dari posko utama di Markas Korem Palu.
Suktik Vaksin Kekebalan sebelum ke Lokasi Evakuasi
Sesuai Prosedur Standar, maka setiap orang yang akan beraktifitas di wilayah evakuasi harus divaksin terlebih dahulu. Ini dimaksudkan agar mencegah terjadinya kontaminasi antara virus-virus yang diakibatkan oleh jasad korban yang sudah beraroma pekat ke tubuh manusia. Vaksin ini akan memberikan kekebalan tubuh kepada tim yang akan melakukan kontak langsung maupun tidak langsung terhadap korban yang sudah berhari-hari terkubur di dalam lumpur. Penyuntikan vaksin ini wajib diberikan untuk menghindari penyakit yang kemungkinan akan ditimbulkan dari di medan lumpur yang sudah tidak steril. Beberapa relawan petugas kesehatan yang terdiri dari Dokter dan perawat ditugaskan untuk melakukan vaksin ini.
Menunggu Antrian Vaksin
Beberapa lokasi ditunjuk sebagai posko untuk melakukan vaksinasi diantaranya, Kantor Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Palu dan Kantor BPBD Palu. Semua lokasi tersebut telah disiapkan ribuan vaksin dan tenaga medis. Ratusan relawan sejak pagi mulai antri dibeberapa lokasi yang ditunjuk tersebut.
Relawan Anoa Sultra di Halaman Kantor Dinas Kesehatan Palu
Setiap harinya setiap posko vaksinasi tersebut sangat sibuk melayani antrian para relawan. Puluhan tenaga medis saling bergantian bertugas, saking banyaknya relawan yang ingin divaksin. Proses vaksinasi ini pun tidak dikenakan biaya. Setiap orang cukup 1 kali saja disarankan melakukan vaksin meskipun setiap hari berada dilokasi evakuasi sebab reaksi dari cairan vaksin tersebut dapat efektif selama 5 bulan kedepan.
Lapangan Telkom Palu
Sebelum bergabung dengan tim Basarnas, apel kesiapan Relawan Anoa Sultra dilakukan di posko induk. Seluruh anggota tim sudah siap bergerak. Pakaian seragam pun telah lengkap dikenakan. Proses evakuasi akan dipusatkan di Kelurahan Petobo, Kab. Sigi, yang terkena dampak luapan lumpur dan likufaksi.
Apel Pagi di Kantor Basarnas Palu
Tim Relawan Anoa Sultra yang terdiri dari BPBD Provinsi Sultra, BPBD Kab. Konawe, POM TNI, Sat POL PP dan Pencinta Alam Sultra serta PMI, mengadakan apel kesiapan di Posko Relawan Anoa Sultra lalu begabung dengan Tim Basarnas di Kantor SAR Palu untuk kemudian bersama-sama bergerak ke lokasi bencana likuifaksi di Kel. Petobo, Kab. Sigi.
Kantor Basarnas Palu
Fokus pencarian yaitu pada Sektor 12 yang cukup parah terkena dampak likuifaksi. Sebelumnya, sudah ada tim Basarnas Sultra yang sudah beroperasi di lokasi ini sejak 4 hari yang lalu. Selain dari Basarnas dan Relawan Anoa Sultra, di Lokasi lumpur petobo juga terdapat banyak relawan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Kel. Petobo
Kel. Petobo merupakan salah satu lokasi yang cukup parah terdampak berncana alam ini. Hampir 80 % wilayah Kel. Petobo diterpa semburan lumpur yang menutupi pemukiman penduduk, persawahan dan fasilitas umum lainnya. Menurut istilah ilmiah, kejadian tersebut dinamakan Likuifaksi. Beberapa saat setelah gempa bumi terjadi, ratusan ton lumpur tiba-tiba menyembur keluar dari dalam tanah dan membentuk aliran ke permukaan yang rendah sehingga menyapu habis semua yang dilewatinya. Kejadian itu tiba-tiba saja terjadi, disaat warga sedang beraktifitas sebelum malam tiba.

Sontak, tidak ada yang bisa dilakukan selain berlari menyelamatkan diri dan keluarga ditengah tanah yang bergetar dan mulai terbelah-belah. Beberapa ruas jalan membentuk seperti gelombang air yang sesaat kemudian membelah-belah rumah warga. Saat kejadian itu pula, listrik pun tiba-tiba padam total. Disaat hari mulai gelap, warga mulai kocar kacir, entah mau lari kemana. Mau menyelamatkan diri atau mencari dulu istri dan anak-anaknya yang entah ada dimana saat musibah itu terjadi. Sebuah kondisi yang sulit kami gambarkan keadaanya saat itu.
Bersama Tim POM TNI Kendari di Kantor Basarnas Palu
Pencarian korban pun dilakukan tidak lama setelah pembagian tim evakuasi di lokasi bencana di Kel. Petobo. Setiap tim beranggotakan 12-15 orang yang terdiri dari berbagai unsur yaitu, Basarnas, BPBD, TNI, dan Relawan. Setiap tim dibekali peralatan penunjang antara lain. Pacul, Linggis, Parang, Sekop, Picuil. Selain itu setiap Tim sudah mempersiapkan kantong mayat jika nantinya ditemukan jenazah korban. Untuk memudahkan pencarian pada kondisi medan yang berat dan tidak bisa dilakukan oleh manusia, maka diterjunkanlah beberapa Heksavator untuk melakukan penggalian dibeberapa titik yang diindikasikan terdapat korban baik itu yang terkubur beberapa meter dalam lumpur maupun dalam runtuhan bangunan.
Apel di Posko Induk Kel. Petobo
Ini merupakan pengalaman pertama bagi Hampir sebagian besar tim relawan, terutama saya sendiri yang untuk pertama kalianya terjun di lokasi evakuasi bencana alam. Setiap tim yang sudah ditentukan titik pencariannya mulai bergerak perlahan menyusuri padang lumpur yang sudah mulai moengering. Bau pekat yang tak sedap sudah bercampur aduk di dalam hidung kami saat berada di atas medan lumpur yang tak beraturan bentuknya. Penutup wajah dan masker berlapis lapis sudah melekat menutupi bagian kepala kami.
Hamparan Lumpur Petobo
Tidak ada yang terlihat selain lautan lumpur pekat hitam yang mulai mengeras. Perlahan dan perlahan kami melewati pijakan-pijakan yang dirasa keras untuk jadi tumpuan kaki. Panas menyengat tidak terelakkan lagi menyebar di seluruh permukaan lumpur ini. Disekeliling terlihat ratusan rumah yang porak poranda diterjang lumpur ganas seminggu silam. Puluhan mobil dan motor sudah tak karuan bentuk dan posisinya.
Titik yang ditentukan pun akhirnya kami temukan. Pencarian mulai dilalukan. Kami menyebar dalam radius yang saling berdekatan. Mengendus sambil mengais-ngais tumpukan kotoran dan permukaan lumpur, mencari tau barangkali ada salah satu bagian tubuh korban yang tampak di permukaan.
Proses Penggalian Korban
Berbagai bentuk posisi korban kami temukan salah satu bagian tubunya dipermukaan. Segera itulah kami mulai menggali dan terus menggali. Peralatan silih berganti digunakan sesuai fungsinya. Cukup berat mengelurkan korban dalam lumpur yang berhimpit dengan berbagai macam material yang hanyut bersamanya. Meskipun sudah tidak bernyawa, kami tetap berusaha mengeluarkan jenazah tersebut dalam kondisi utuh. Sesekali alat berat seperti senso harus diturunkan dikarenakan kondisi jenazah terhimpit kayu gelondongan, akar pohon dan berbagai material berat lainnya. Membutuhkan kesabaran dalam melakukan pekerjaan ini ditengah terik mentari yang semakin menyengat dan sulitnya mencari tumpuan di medan berlumpur ini.
Proses Pencarian Korban
Sekitar seminggu lebih kami beroperasi di tempat ini. Layaknya sebuah rutinitas yang dilakukan dengan tanggung jawab, kami melakukannya dengan ikhlas dan penuh ketenangan serta kesabaran. Tidak mudah bagi tim relawan bergerak leluasa di bentangan lumpur yang berhektar-hektar luasnya. Bergerak perlahan sampil mencari pijakan untuk bertumpu dilakukan dengan hati-hati. Sesekali beberapa dari kami, termasuk saya harus tercebur sampai serata pangkal paha di kubangan lumpur yang dikira tanah keras. Aroma lumpur petobo sudah menjadi santapan hidung kami sehari-hari, meski masker sudah berlapis-lapis dikenakan.
Penggalian Jenazah
Menggali jenazah, membungkus dan menggotongnya sudah menjadi keseharian kami. Semakin hari, kami pun sudah terbiasa dengan situasi tersebut meskipun awalnya kami sempat shok dan ketakutan melihat jenazah yang sudah terkubur berhari-hari dengan aroma yang sangat menyengat. Namun itulah tugas kemanusiaan sebagai relawan yang kami harus emban.  
Penggalian Korban oleh Alat Berat
Puluhan heksavator yang dikerahkan perlahan bergerak ke titik-titik yang diberi tanda oleh tim evakuasi yang diindikasikan terdapat jenazah didalamnya. Untuk kondisi jenazah yang tidak jauh dari permukaan tanah, bisa dikeluarkan secara manual dengan menggunakan peralatan, namum untuk kondisi jenazah yang jauh tertanam didalam lumpur, maka dengan bantuan heksavator, korban tersebut bisa dikeluarkan.
Penggalian Korban oleh Alat Berat
Kendaraan berat itu tidak begitu saja mudah untuk bergerak menyusuri medan lumpur ini. Karena kedalaman lumpur yang tidak bisa diprediksi, maka heksa memilih dulu tumpuan dan jalur yang tepat sehingga tidak membuatnya terjebak. Selama beberapa hari kami bertugas disini tercatat dua heksa mengalami masalah karena terjebak lumpur dan membuat rantai rodanya putus. 
Tim Rodja TV Kendari di Hamparan Lumpur Petobo
Begitu luluh mata dan perasaan kami, saat setiap hari disajikan pemandangan yang menyedihkan seperti ini. Lautan lumpur yang menengelamkan ribuan rumah, menggulung aspal dan persawahan, mematah matahkan ratusan tiang listrik, memporak porandakan rumah, tempat ibadah, fasilitas umum. Entah bagamainama keadaan saat itu..?? semuanya berlangsung seketika..!!
Proses Mengevakuasi Jenazah
Entah berapa ribu jiwa yang terkubur dalam padang lumpur ini, ratusan ternak, kendaraan. Ratap tangis dan sedih sesekali terlihat di pelupuk mata beberapa orang saat saya berkeliling di sebuah kompleks BTN yang sudah terkepung oleh muntahan lumpur. Mereka seperti tidak percaya, jerih payah dan perjuangan membangun hidup dan keluarganya berakhir tragis seperti ini.
Terjangan Lumpur Petobo
Kudekati dan kusapa seorang bapak yang sedang duduk diatas bumbungan rumahnya yang sudah tertimbun lumpur hampir serata atap, dengan tersedu-sedu ia menceritakan keadaan saat itu. Saat azan magrib tidak beberapa lama lagi dikumandangkan, ia dan ketiga putrinya berjalan beriringan kearah mesjid yang tidak jauh dari rumahnya. Belum sampai di beranda mesjid, tiba-tiba tanah bergetar hebat. Ia melihat anak-anaknya terjatuh di atas aspal, ia pun segera berlari mendekati ketiga putrinya itu. Belum sempat mendekati anaknya, dari kejauhan ia mendengar suara dentuman yang menyerupai bom air yang sangat keras.
Terjangan Lumpur Petobo
Tidak lama kemudian, aspal tempatnya berpijak tadi bergeser seperti gelombang. Setiap rumah saling bertabrakan dan berhimpit-himpitan. Anak-anaknya pun segera diraih, namun ia bingung mau lari kemana, disaat semuanya sudah tidak karuan bentuknya. Mesjid yang ia tuju pun sudah bergeser sekitar 150 M, kubah dan tiangnya roboh dan halaman masjid terbelah. Kuasa Allah, kata hatinya menuntunya untuk menuju ke ujung jalan dimana puluhan rumah sudah berhimpitan disana.
Mesjid yang terbelah, Kel. Petobo
Ia pun menambahkan, saat itu terdengar jeritan minta tolong dari berbagai penjuru, namun ia bimbang karena disaat yang sama ia harus menggotong anak-anaknya ketempat yang aman. Untung saja istrinya sedang berada di rumah langsung memanjat atap beberapa menit setelah rumahnya bergeser. Saat itu pula terlihat beberapa orang berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon kelapa, ada yang berhasil namun ada yang terjatuh karena terkait oleh kabel listrik yang ikut bergeser bersama tiang listriknya.
Terjangan Lumpur Petobo
Begitu mencekamnya kejadian saat itu sehingga bapak ini tidak mampu menahan tangis. Diratapinya rumah dan usaha bengkel lasnya yang sudah porak poranda. Harta miliknya sudah terkubur dan tidak ada yang bernilai lagi. Namun, ia tetap bersyukur karena seluruh anggota keluarganya selamat dalam musibah ini. Ia pun berencana untuk kembali ke tanah kelahiranya di Jawa beserta keluarganya. Ia sudah 30 tahun mencari hidup di Kota Palu bersama istrinya yang sudah 26 tahun dinikahinya. Sungguh menyayat hati, mendengarkan penuturan bapak tadi. Cerita tersebut mungkin hanya sepenggal kisah dari para korban gempa bumi palu yang pasti mengalami kisah yang sama.

Proses Evakuasi oleh Relawan Anoa Sultra
Proses evakuasi masih terus berlangsung, terlihat beberapa regu silih berganti menggotong jenazah yang telah berhasil dikeluarkan dari lumpur. Tidak mudah bagi relawan untuk membawa "Paket" yang berhasil ditemukan untuk dibawa ke Ambulance yang sudah standby di posko. Perjalanan melewati medan lumpur yang sangat luas merupakan tantangan bagi tim evakuasi. Selain tetap menahan kantong jenazah, jalur lumpur pun harus menjadi perhatian. Tim evakuasi harus fokus terhadap jalur, karena terdapat banyak sekali lumpur yang masih labil, yang dapat menenggelamkan kami. Menggotong kantong berisi jenazah ini pun harus dilakukan bergantian saking jauh dan sulitnya medan yang akan dilewati
Proses Evakuasi oleh Relawan Anoa Sultra
Kekompakan tim tetap terus terjaga selama proses evakuasi ini. Baik relawan, Tim SAR, dan Anggota TNI saling bekerja sama dan terkomando dengan baik. Masing-masing secara spontan memposisikan fungsinya selama berada di lokasi ini. Semua anggota tim evakuasi dalam satu komando Basarnas yang memang sebagai pusat komando.

Pukul 17.00 merupakan akhir dari seluruh proses pencarian. Seluruh tim harus kembali ke titik awal. Adapun proses penggalian yang belum tuntas, akan dilanjutkan besok pagi. Ratusan relawan kembali melakukan apel sore sebelum menuju ke posko induk masing-masing.

Suasana malam di posko utama
Setelah beraktifitas seharian di lokasi evakuasi, seluruh tim pun berangsur angsur kembali ke poskonya. Menjelang petang sat persatu kendaraan meninggalkan Kel. Petobo. Sirine kendaraan POM TNI pun melengking nyaring mengawal iring iringan kendaraan rombongan kami. Melewati kawasan padat penduduk di perbatasan Kab. Sigi dan Kota Palu. Sepanjang jalan masih terlihat kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Fasilitas listrik belum menerangi kota seutuhnya. Sebagian besar warga masih dengan listrik seadanya. Beberapa genset diaktifkan untuk menerangi puluhan rumah yang entah sampai kapan dapat normal kembali.

Sepanjang jalan masih terlihat reruntuhan bangunan, retakan rumah, pagar-pagar yang roboh dan rumah ibadah yang terbelah. Beberapa SPBU tampak tutup total akibat kerusakan dibeberapa bagian serta cadangan BBM yang habis karena dijarah beberapa hari setelah musibah gempa terjadi. Toko dan pasar tidak terlihat aktifitasnya, entah apakah pemiliknya melarikan diri atau karena bangunannya yang sudah rawan roboh.

Seperti itulah kondisi yang kami saksikan dalam perjalanan kembali ke posko utama di lapangan Telkom palu. Malam sudah kembali perlahan menggelapkan Kota Palu yang masih dirundung duka. Suasana kota sepi dan senyap. Tidak ada lalu lalang kendaraan yang ramai. Hanya ambulance dan Mobil patroli yang lalu lalang membunyikan sirine darurat. Hampir setiap harinya suasana seperti itulah yang kami saksikan dan rasakan.

Iring-iringan kendaraan kami pun akhirnya tiba kembali di posko induk. Hampir setiap harinya kami tiba sudah melewati petang. Seluruh relawan pun keluar dari kendaraan dan langsung berebutan colokan cas HP. Maklum saja seharian berada di petobo tanpa listrik sama sekali membuat HP kami semua kritis daya baterai.

Entah aroma apa yang keluar dari tubuh kami saat itu. Bercampur aduk antara bau badan, bau lumpur ditambah sengatan sinar matahari.... Tidak berselang lama, masing-masing sudah berebutan ruang tempat mandi. Saking banyaknya orang, saya dan beberapa relawan lain memilih mandi dibawah pohon. Di Lapangan Telkom ini memang disediakan kamar mandi darurat dengan sebuah penampungan air yang terbuat dari terpal. Airnya pun rutin diisi setiap pagi oleh mobil tanki BPBD.

Celana dan sepatu lah yang awalnya kusikat bersih. Entah kotoran apa yang sudah bersarang didalamnya. Seharian berkutat dilumpur petobo, pastilah sudah tidak steril, apalagi lumpur disana sudah terkontaminasi dengan jenazah yang masih tertimbun. Tidak perduli akan kering atau tidak karena esok pagi sepatu dan celana ini akan kukenakan lagi ke lokasi yang sama.

Guyuran air bak membasahi sekujur tubuh saya. Tak henti-hentinya isi gayung kusemburkan dari atas kepala. Kukerok seluruh badan dengan kuku dan batu. Rasa lengket dan bau terasa hilang setelah hampir sejam berbasah basah di dibawah pohon yang cukup ditutupi spanduk ini.
Menghibur anak-anak pengungsi di Posko Induk
Makan malam pun tiba. Seperti biasa ibu-ibu dapur berteriak memanggil kami semua dengan kata..”Makan...Makan...”. Sontak kami pun bergegas ke dapur umum seakan takut kehabisan padahal stok makanan sangat melimpah dan dipastikan kebutuhan makan seluruh relawan akan terpenuhi saat berada di Kota Palu ini.
Ngopi dan Bersantai di Posko Induk Lapangan Telkom
Malam perlahan semakin larut. Beberapa relawan duduk berkelompok. Celetukan dan canda tawa mewarnai cerita malam ini. Yang pastinya pengalaman di petobo tadi yang menjadi bahan obrolan malam ini. Beberapa gelas kopi sudah tersaji beberapa saat lalu. Kepulan asap rokok dan aneka cemilan menjadi teman mengantarkan rasa lelah saat itu.
Suasana malam di Posko Induk
Terlihat beberapa relawan sedang mengghibur anak-anak korban pengungsi. Mereka sedang bermain bersama. Canda dan gelak tawa sesekali terdengar dari bocah-bocah yang rata-rata masih berusia di bawah 12 tahunan itu. Disekitar posko induk kami memang terdapat juga beberapa tenda pengungsian warga. Rumah mereka sebagian besar sudah tidak bisa dihuni lagi akibat retak dan roboh saat gempa melanda. Mereka pun berbaur dengan relawan dan seperti menjadi bagian dari rasa duka ini.
Suasana malam di Posko Induk
Rasa lelah pun serasa hilang saat berkumpul bersama. Duduk melingkar dan kembali mengingat-ngigat setiap detil kejadian di petobo tadi. Hampir setiap malamnya suasananya seperti ini yg terjadi. Kami sudah seperti keluarga besar yang hadir disini untuk misi mulia. Semuanya larut dalam kebersamaan dan persaudaraan. Sudah inilah suka dukanya menjadi seorang relawan. Kami ikhlas dan sabar dan memberikan apa yang kami mampu untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah disini.
Proses mengemas logistik bantuan
Hampir setiap malamnya beratus-ratus paket dikemas oleh para relawan sebelum diantarkan ke lokasi pengungsian esok harinya. Puluhan karung beras dibagi dalam ratusan kantong yang masing-masing berisi beberapa Kilogram beras. Setiap kantongnya juga terisi dengan puluhan bungkus mie instan serta puluhan gelas dan botol air mineral. Susu bayi, susu ibu menyusui, pampers, makanan ringan juga dipaketkan untuk masyarakat yang membutuhkan barang tersebut.

Suasana pagi di posko induk
Malam seakan berjalan begitu singkatnya. Rasanya baru sebentar kami terlelap dalam kelelahan. Mungkin saja karena baru pukul 01.30 kami mulai memejamkan mata. Suara sahut-sahutan azan terdengar sayup-sayup dari berbagai penjuru kota. Lantunannya memecah keheningan dimana kami masih terlentang dan terkurung dalam selimut. Sontak kami segera terbangun. Dengan langkah gontai setengah sadar, masing-masing dari kami mulai menuju kamar mandi darurat yang sudah didirikan beberapa hari setelah kami berada disini. Beberapa orang sudah mulai antri bergiliran masuk ke ruangan berukuran 1 x 1.5 M itu. Beberapa orang beriringan menuju masjid yang tidak jauh dari lapangan Telkom ini. Sebagian lainnya cukup berjamaah di dalam tenda saja.
Menghibur diri di Posko Induk
Beberapa dari kami mulai beraktifitas pagi, ada yang bekemas-kemas, ada yang bersih-bersih, ada juga yang membantu ibu-ibu dapur menyiapkan sarapan, bahkan ada juga yang sedang asik memainkan gitar yang dipinjam dari warga setempat.
Menghibur diri di Posko Induk
Gitar ini menjadi sarana penghibur kami saat pagi dan terutama malam hari. Rasa kebersamaan saat berkumpul di posko semakin lengkap dengan menyuarakan lirik-lirik lagu sebagai penyemangat dan penghilang rasa jenuh kami. Tentunya gitar ini hanya sebatas selingan saja dan bukan untuk kegembiraan yang berlebihan.
Istirahat sambil menikmati Internet Gratis
Sebagiannya lagi bahkan ada yang masih terbaring tapi bukan sedang tidur. Banyak yang sibuk dengan HP androidnya sambil menikmati internet gratis yang memang sengaja diberikan oleh PT. Telkom sebagai bentuk kepedulian dan untuk mempermudah akses komunikasi selama masa tanggap darurat di Kota Palu dan sekitarnya.
Menuju tempat Mandi
Saya dan beberapa teman memilih menuju tempat sumber air. cukup bersih-bersih wajah saja yang bisa saya lakukan pagi ini. Ingin mandi, namun tidak cukup waktu menunggu antrian panjang didepan kamar mandi. Seperti hari kemarin, setelah sarapan, kami pun segera bersiap-siap untuk menuju kembali ke petobo. Seragam pun dikenakan meski aromanya sudah tidak karuan. Celana dan sepatu yang belum kering terpaksa saya kenakan kembali.
Apel pagi sebelum ke Lokasi Evakuasi
Layaknya prajurit yang akan menuju medan pertempuran, apel pagi pun dilaksanakan. kami berbaris rapi dan mendengarkan arahan dan petunjuk dari BPBD sebelum menuju ke Kantor Basarnas. Rutinitas itulah yang dilakukan setiap pagi. Kami pun menjadi terbiasa dan mampu belajar disiplin dengan situasi seperti ini.

Suka duka para Relawan Anoa Sultra
Relawan Anoa Sultra
Mengatur orang sebanyak ini tidaklah mudah, terutama ibu-ibu yang bertugas didapur umum. Mereka setiap saat harus standby di dapur dalam mengolah bahan-bahan menjadi menu yang akan disantap oleh ratusan relawan. Sejak pukul 4.00 dini hari, kegiatan dapur harus sudah dimulai. Disaat relawan lainnya sedang lelap bermimpi, mereka sudah berjibaku dengan kompor, panci, wajan, loyang, ember, dan peralatan lain. Dibantu oleh beberapa rekannya, para ibu-ibu ini sudah mulai mengolah disaat dini hari yang sangat dingin. Mereka memang tidak turun kelokasi layaknya relawan lain. Tapi tanpa mereka, pastilah semua kami disini akan lemah dan tidak bergerak maksimal.
Relawan Anoa Sultra
Menjadi relawan penuh dengan cerita yang tidak akan terlupakan. Setiap detil kejadian yang kami alami, masih terngiang di memori kami. Dari perjalanan darat, proses evakuasi, pembagian logistik, kegiatan di posko induk, dan kenangan lain yang masih melekat dipikiran.
Relawan Anoa Sultra
Seminggu lebih lamanya kami berada di Kota Palu, lembaran-lembaran cerita tidak akan tuntas kami sampaikan disini. Setiap hari setelah gempa terjadi, rentetan gempa susulan masih sering terjadi. Awalnya kami sempat shock, namun menjadi situasi yang lumrah dirasakan mengingat kondisi tanah yang belum stabil sepenuhnya. Rentetan gempa diberbagai daerah di Pulau Sulawesi dan sekitarnya terjadi beruntun hampir setiap harinya. Meskipun hanya dalam skala kecil, namun kami tetap prihatin dan senantiasa berdoa kepala Allah agar ujian ini segera berlalu dan menjadi peringatan bagi kita semua.
Tim Evakuasi di Petobo
Di lokasi evakuasi Petobo, kami berjumpa dengan ratusan relawan dari berbagai penjuru tanah air. Saya berjumpa dengan sahabat lama dari Bali. Ia dengan sukarela datang ke Palu dengan modal sendiri. Sebelumnya ia dan beberapa kawannya sedang bertugas di Gempa Lombok yang memang sudah terjadi kurang lebih sebulan sebelum gempa palu.
Tim Evakuasi di Petobo
Gempa Bumi Palu merupakan salah satu yang terdahsyat yang pernah terjadi di Indonesia dan menjadi gempa yang banyak menyita perhatian dunia internasional. Mungkin baru kali ini terjadi gempa yang sangat brutal mengobrak abrik lapisan tanah sehingga terbelah dan terbalik. Muntahan lumpur entah darimana asalnya menggenangi ribuan rumah dan mengubur hidup-hidup puluhan ribu manusia.
Tim Evakuasi di Petobo
Balaroa, Petobo, Biromaru, Jono, Tondo merupakan daerah yang diterjang amukan tanah yang seakan tercincang-cincang sehingga membelah-belah bangunan menjadi tak berbentuk utuh. Pantai Talise, Mamboro dan daerah pesisir lainya pun mengalami hal yang serupa. Terjangan gelombang tsunami setinggi 4-5 meter menyapu rata bangunan, jalanan, kendaraan dan warga yang sedang ramai-ramainya saat itu di tepi Pantai Talise.
Proses Evakuasi Jenazah
Keceriaan warga saat pembukaan Festival Budaya Palu Nomoni petang itu pun menjadi jeritan dan tangisan saat melihat gelombang laut menyisir habis apapun yang berada di pelataran Pantai Talise saat itu. Ratusan bahkan ribuan nyawa terpapar dan terhambur dimana-mana. Duka lara mendera Kota Palu. Sungguh ganas dan tragis kejadian saat itu.
Bersama Tim TNI di Petobo
Goncangannya yang luar biasa praktis hampir melumpuhkan seluruh aktifitas kehidupan. Masa 3 – 4 hari setelah kejadian merupakan situasi yang tidak terkendali. Seakan hukum rimba yang berlaku. Pemerintahan nyaris lumpuh, aparat keamaan belum mampu menstabilkan keadaan, warga bingung hendak mengadu kemana, pertokoan dan pasar tutup total, harga-harga melambung tinggi dan kondisi memilukan lainnya yang membuat situasi semakin tertekan. Disaat itu pula, penjarahan dan pencurian terjadi dimana-mana. Toko dan kios yang ditinggalkan pemiliknya yang mengungsi dijarah habis. Kendaraan yang parkir dijalan dipreteli bagian-bagiannya yang masih berharga. Mesin ATM dibobol bahkan Tanki SPBU pun disedot habis. Sungguh situasi yang sangat ironis.
Hotel Roa-Roa, Palu
Rasa penasaran saya menjadi sebuah kesedihan saat melihat langsung Hotel Roa-Roa yang banyak diberitakan oleh media. Bangunan megah 8 lantai yang tidak jauh dari Sungai Palu itu pun ambruk tak bersisa. Kini tinggal puing-puing yang mengubur ratusan orang yang merupakan tamu hotel malam itu. Entah berapa nyawa yang menjadi korban saat kejadian tersebut disaat Hotel Roa-Roa sedang ramai-ramainya disambangi pengunjung mancanegara yang akan mengikuti kegiatan Festival Palu Nomoni 2 hari kedepannya.
Pantai Talise
Pantai Talise merupakan salah satu titik bencana yang cukup parah. Petang itu, gelombang tsunami menerjang seluruh pesisir pantai Kota Palu. Hempasan air laut tersebut memporak porandakkan apapun yang berada di wilayah pantai sampai radius 150 Meter ke daratan dari bibir pantai. Kompleks pelataran Pantai Talise yang merupakan Ikon Kota Palu, menjadi amukan derasnya terjangan air. Konstruksi beton menjadi retak dan terbelah. Beberapa lantai terangkat dan terbawa oleh arus. Puluhan pohon tercabut dari tanah dan bertengger diatas atas bangunan. Mobil, motor sudah tidak karuan bentuknya. 
Pantai Talise
Seluruh bangunan yang berhadapan dengan laut terobrak abrik tak berbentuk. Segala macam benda dan kotoran bercampur baur memadati setiap sisi bangunan ruko, kantor dan rumah penduduk.
Tidak terhitung berapa jumlah nyawa yang tewas sesaat setelah dahsyatnya terjangan tsunami itu. Menurut penuturan saksi mata, saat guncangan gempa terjadi, kondisi mulai kocar-kacir. Semua orang berlarian menjauh dari laut. Semuanya panik dan khawatir gempa tersebut akan disusul dengan tsunami. Saat ribuan orang berlarian, gelombang pun tiba di tepi pantai dan menghempas bertubi-tubi. Ratusan orang pun tersapu dan terombang ambing dalam terbawa aliran arus.
Kokohnya "Jembatan Kuning" yang menjadi kebanggaan Kota Palu tidak mampu membendung pukulan gelombang. Ia akhirnya remuk dan patah. Puluhan kendaraan yang sedang berada diatasnya pun tenggelam bersama sisa puing-puing jembatan. Sebuah masjid di seberang jembatang kuning tak luput dari terjangan. Bangunannya tertarik beberapa meter ke laut.


Bersama Tim Relawan dari India
Lokasi Evakuasi, Petobo
Semangat para Relawan
Suka duka di lokasi Pengungsian

Disaat beberapa relawan sedang bertugas di petobo, sebagian relawan lainnya dikerahkan untuk menjemput logistik tambahan di Terminal Kargo Bandara Mutiara dan Pelabuhan Laut Kota Palu. Jiwa pengabdian relawan kembali teruji saat memikul puluhan beras dan dos dari kapal dan kargo bandara ke truk pengangkut. Kami lupakan sejenak gengsi walau tak berbeda jauh seperti seorang "kuli". Satu persatu barang kami pindahkan ke truk pengangkut dengan penuh kerelaan meski panas mentari tak surut surutnya berpijar di kota katulistiwa ini.
 
Bantuan terus mengalir dari segala penjuru sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian kepada warga yang tertimpa bencana gempa bumi palu. Ratusan truk setiap harinya hilir mudik bongkar muat di berbagai posko di Kota Palu dan kabupaten sekitar. Berton ton beras, mie instan, air mineral, makanan ringan, pakaian bekas, obat-obatan, alat medis, perlengkapan tidur, perlengkapan bayi, ibu hamil dan menyusui, dll, memenuhi seluruh gudang-gudang penampungan.
Beberapa daerah terisolir seperti di Kab. Donggala harus menggunakan transpotasi udara untuk mendistribusikan logistik kesana. Setiap harinya, lalu lalang helicopter menghiasi udara Kota Palu. Pesawat Hercules juga tak henti-hentinya hilir mudik dari berbagai daerah ke landasan bandara mutiara untuk mendaratkan bantuan kemanusiaan.
Para pengungsi yang rumahnya lenyap ditelan lumpur petobo hampir seluruhnya bermukim sementara di tenda-tenda di wilayah pegunungan. Di sebelah tenggara Kab. Sigi ini ribuan pengungsi menyelamatkan diri dari terjangan lumpur saat itu. Di kawasan tandus yang banyak ditumbuhi tanaman kaktus inilah ratusan Kepala Keluarga menghabiskan hari-harinya pasca gempa melanda pemukiman mereka.
Truk bantuan kami melaju menyusuri Jalur berdebu dengan aspal yang sedikit bergelombang. Hamparan tandus yang panas menyengat adalah pemandangan sekeliling. Dari kejauhan sudah tampak tenda-tenda pengungsi yang saling terpisah cukup jauh. Bantuan pun kami turunkan sesuai jumlah yang membutuhkan. Beberapa camp pengungsian kami sudah sambangi. Perjalanan terus dilanjutkan dengan jalur menanjak dengan masih melewati aspal dengan pemandangan padang tandus.

Ternyata disinilah ribuan pengungsi itu berada. Sebuah hamparan padang rumput yang sangat luas di wilayah yang bernama Ngata Jaya. Seperti sebuah perkampungan baru, ratusan tenda berderet mengisi seluruh sisi jalan. Kesibukan pengungsi terlihat layaknya perkampungan padat penduduk. Semuanya tampak sumringah meskipun sedang dirundung lara.
Beberapa tenda induk BPBD, TAGANA, PMI, POLRI, TNI dan beberapa organisasi lainya sudah tampak berdiri dibeberapa titik posko pengungsian sejak beberapa hari yang lalu. Masing-masing sudah bertugas dengan fungsinya masing-masing dan memberikan pelayanan tanggap darurat kepada pengungsi. Padang gersang yang tadinya hanya dimbuhi rumput kering, kini berubah menjadi lautan manusia yang berkumpul menjauh dari terjangan lumpur petobo.
Beberapa paket bantuan diturunkan satu persatu tatkala melihat beberapa penghuni tenda berdiri dipinggir jalan sambil melambaikan tangan. Bantuan yang kami bawa ini sudah dipilah dalam ratusan paket yang masing-masing berisi beras, mie instan, air mineral, makanan ringan, obat-obatan, susu, popok dan perlengkapan lainnya. Semua paket bantuan khusus dari Rodja TV Kendari yang sudah dikemas sejak semalam saat di Posko Induk.
Keributan kecil sempat terjadi, ketika bantuan yang kami bawa tidak memenuhi jumlah keluarga pengungsi di salah satu sudut camp pengungsi ujung wilayah Ngata Baru. Seorang warga dengan bahasa setempat keberatan dengan cara pembangian logistik yang kami lakukan berdasarkan data dari Babinsa setempat yang membawa nama-nama keluarga pengungsi di Posko Induk kami. Menurut bapak tersebut, mereka juga punya hak untuk menerima bantuan tersebut meskipun mereka tidak masuk dalam data. Ditambahkannya, mereka juga pengungsi dan mempunyai hak yang sama dengan pengungsi yang lain. Meskipun sempat terjadi ketegangan kecil, namun setelah negosiasi terjadi antara Aparat POM, Babinsa yang memang warga setempat serta warga yang memprotes tadi, disepakatilah beberapa bantuan saja yang bisa diturunkan ditempat tersebut, mengingat bantuan yang tersisa dikendaraan memang ditujukan untuk warga pengungsi yang berada di desa selanjutnya.
Beberapa tim medis yang ikut serta dalam rombongan ini juga melakukan tugasnya. Mereka melakukan pendataan pengungsi yang sakit atau terluka. Jumlah balita dan ibu hamil serta menyusui juga dihitung untuk menentukan jumlah keperluan mereka saat bantuan selanjutnya dikirm kembali ke wilayah ini.

 
Terik mentari tidak menyurutkan semangat kami, Relawan Anoa Sultra untuk menyambangi hampir seluruh camp pengungsian. Berbagi cerita dan mendengarkan keluh kesah mereka, memberikan motivasi dan semangat untuk bangkit dan kembali memulai kehidupan baru serta sesekali bercanda dan berfoto bersama adalah aktiftas kami sebagai pelipur lara duka mereka.

Pembagian Logistik di Posko Induk Relawan Anoa Sultra

Bantuan kemanusiaan terus berdatangan dari berbagai penjuru tanah air. Khusunya dari daerah kami Sulawesi Tenggara. Setiap harinya ratusan paket bantuan sudah disebar ke berbagai wilayah camp pengungsian. Beberapa warga juga setiap harinya datang ke Posko Induk kami untuk meminta kebutuhan harian mereka.
Dengan keterbatasan pergerakan yang kami miliki untuk menjangkau semua titik-titik pengungsian sehingga pada hari terakhir kami di Kota Palu, seluruh logistik yang tersisa kamu salurkan langsung di Posko Induk ini. 2 Truk Puso yang berisi penuh dengan bantuan yang baru tiba dari Kota Kendari beberapa jam yang lalu, dibongkar ke tenda penampungan logistik.
Ratusan warga sudah perlahan memadati area lapangan Telkom saat mendengar akan ada pembagian logistik disini. Jalanan disekitar lapangan ini pun sudah dipenuhi motor yang memenuhi seluruh sisi jalan seputaran Kantor Telkom.
Saat mendekati waktu siang, terdengar beberapa warga yang sudah mulai mengeluh saking sudah lamanya mereka menunggu namun bantuan belum dibagi juga. Saat itu relawan sedang mengemas bantuan menjadi beberapa ratus paket agar semua warga yang memadati lapangan Telkom ini mendapatkan bagian sehingga tidak terjadi keributan bahkan kekacauan jika ada warga yang merasa dirugikan.
Antrian panjang mulai terbentuk dari beberapa sisi pintu tenda penampungan. Beberapa relawan dibantu aparat turut membantu proses pembagian logistik ini. Panas yang semakin menyengat tubuh serta keringat yang bercucuran tetap tidak menghalangi rasa tanggung jawab kami untuk mengosongkan isi tenda penampungan ini. Semakin siang, semakin bertambah pula warga yang datang mengantri. Entah dari wilayah mana saja mereka, padahal yang kami prioritaskan hanya warga sekitar. 
 
Kekhawatiran kami mulau muncul saat melihat antrian manusia yang mengular seakan tidak habis-habisnya, mengingat stok bantuan yang perlahan berkurang. Beberapa warga datang membisikkan keluhan kepada kami, karena melihat ada beberapa orang yang sudah antri berkali-kali. Kami pun hanya cukup mendengar dan sulit untuk bereaksi karena khawatir akan menimbulkan keributan baru. Yang kami harapkan semoga semua warga tidak antri sia-sia. 

Perjalanan Pulang ke Kendari

Jumad, 12 Oktober 2018, merupakan akhir dari cerita kami di Kota Palu. 14 Hari berada disini memberikan kami banyak sekali pengalaman, pelajaran dan catatan penting yang tidak akan hilang dalam memori pikiran. Menjadi relawan ternyata menggugah kalbu kami untuk ikhlas dan sabar dalam menghadapi segala situasi. Mungkin sudah takdir yang membawa kami kesini sebagai sebuah catatan perjalanan hidup kami.
Sekembalinya dari menunaikan sholat jumad, mulailah kami berkemas-kemas. Seluruh tenda induk diturunkan lalu di rapikan sebelum disusun di dalam mobil serbaguna BPBD. Perlengkapan tim dan perlengkapan pribadi dikemas dalam ransel. Barang barang relawan yang masih tersebar dibeberapa tenda dipastikan sudah berada diatas mobil.
Sekitar pukul 14.30, Apel terakhir pun dilakukan. Kepala BPBD Sultra memberikan arahan dan apresiasi kepada seluruh relawan atas sumbangsihnya selama berada di Kota Palu. Setelah ini kami akan meninggalkan Kota Palu dan kembali ke daerah kami Sulawesi Tenggara. Semoga apa yang telah kami lakukan selama disini dapat bermanfaat dan menjadi ladang pahala. Kami doakan semoga Kota Palu dan sekitarnya segera bangkit dan segera pulih. Mungkin apa yang kami sudah berikan selama di Kota Palu belum dapat sepenuhnya memenuhi harapan warga. Namun, sebagai manusia biasa, hanya inilah yang dapat kami berikan. Semoga Allah SWT memberkahinya. Kini saatnya kami kembali. Keluarga, anak, istri sudah menatikan kepulangan kami….
Pukul 23.00, tibalah kembali kami di Kota Poso. Markas Yonif Poso menjadi tempat tempat kami beristirahat malam itu. Sebelumnya diadakan apel alam sebagai penyambutan tamu dari pihak Markas Yonif Poso. Malam itu kami disambut oleh Perwira Markas Yonif. Beberapa ucapan dan arahan disampaikan sebelum mengarahkan kami ke Aula untuk tempat beristirahat malam itu.
Sebelum waktu subuh tiba, beberapa dari kami sudah terbangun dari tidur singkat malam itu. Sebagian sudah selesai menunaikan Sholat subuh dan sebagian lagi berkemas-kemas sebelum menuju kendaraan. Seperti biasanya, dan sudah menjadi kewajiban, pagi itu kami kembali melaksanakan Apel pagi. Perwira Markas Yonif memberikan pesan dan ucapan terima kasih kepada seluruh relawan atas apa yang telah dilakukan selama di Kota Palu.




Perjalanan kembali diteruskan menyusuri kembali jalur yang kami lewati seminggu lebih yang lalu. Perjalanan pulang ini kami mengambil jalur berbeda dengan perjalanan pergi. Kami akan melalui jalur Kota Malili dengan melalui rute Danau Poso dan Kota Mangkutana untuk kembali menginap di Kota Lasusua, Sultra.
Bapak Sekda Kolaka Utara menyambut kedatangan kami yang baru tiba sekitar pukul 21.00. Jamuan makan malam di Rujab Sekda ini, sangat mengobati rasa lapar kami sejak perjalanan siang tadi. Kelelahan tampak di setiap wajah relawan.












Kediaman Pak Anton, seorang tokoh masyarakat di Kolaka Utara menjadi tempat seluruh rombongan istirahat malam ini. Tidak aktifitas malam itu, semuanya perlahan mengambil posisi tidur sampai tebangun di subuh harinya.
Setelah menimati sajian coto disebuah warung di Kota Lasusua, bergeraklah rombongan kami menuju ke Kota Kendari. Siang itu, tepatnya di Kota Rate-Rate, Kab. Kolaka Timur, sajian prasmanan disebuah warung nasi menjadi menu santapan siang kami. Selanjutnya rombongan terhenti kembali untuk menikmati jamuan Kopi dan aneka cemilan di Kota Unaaha, Kab. Konawe, di kediaman Bapak H. Dedet dari BPBD Konawe.
Saat menjelang petang, iring-iringan kendaraan mulai memasuki Kota Kendari. Langit senja seakan menyapa kedatangan kami. Rasa rindu dan kangen tergambar dari wajah kami. Akhirnya kembali lagi kami di kota kesayangan kami ini. Suara sirine bersahut-sahutan saat mulai memasuki keramaian kota. Laksana prajurit yang usai berperang di medan tempur, kami pun kembali. Terlihat lambaian tangan dari beberapa pengguna jalan yang cukup membuat kami bangga.
Apel perpisahan pun dilakukan di halaman BPBD Sultra, tidak lama setelah semua rombongan tiba. Setelah ini, kami pun harus kembali ke rumah masing-masing. Salam-salaman dan saling berpelukan mewarnai perpisahan kami semua. Bahagia dan bercampur sedih tampak dipelupuk mata. Relawan yang sudah kami anggap seperti saudara. Masa dua minggu bersama sangat sulit dilupakan. Begitu banyak kenangan manis saat bertumpuk bersama barang-barang saat di Mobil Sat Pol PP, Berebutan cas HP, Mengantri di WC, Mengatri makan, Bergumul di lumpur petobo, memikul beras dari truk, ada yang Baper karena CinLOk, Bermain bola, Bermain Balon bersama anak-anak, Mandi di bawah pohon, Panik saat gempa susulan sering terjadi, Bernyanyi dan ngopi bersama di tenda sampai Jam 2 malam, dan semua kenangan indah lainnya.
Terima kasih para relawan telah menjadi bagian dari cerita ini. Tidak ada yang menginginkan terjadinya musibah. Tapi kami selalu siap, jika itu terjadi. Semoga persahabatan dan silaturahmi kita tetap terjaga meski akan jarang bersua. Semoga Tulisan ini bermanfaat untuk kita Semua. Semoga Allah SWT selalu menberikan kita kekuatan dan rahmatnya untuk kehidupan yang lebih baik. Wassalamu Alaikum Wr. Wb

Penulis :
Muhammad Dagri Nizar

No comments:

Post a Comment

Flag Counter