Home » » Mekongga Expedition 2026 "Penuh Cahaya Bintang"

Mekongga Expedition 2026 "Penuh Cahaya Bintang"


Gunung Mekongga terletak di Desa Tinukari, Kec. Ranteangin, Kab. Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Gunung Mekongga merupakan pegunungan yang membentang luas meliputi beberapa kabupaten yaitu Kab. Kolaka Utara, Kab. Kolaka dan Kab. Konawe. Pegunungan Mekongga memiliki titik ketinggian 2620 MDPL . Puncaknya murupakan titik tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Gunung Mekongga merupakan salah satu gunung dengan medan terekstrim. Untuk mencapai puncaknya, para pendaki harus menempuh pejalanan 6 - 7 Hari dengan melintasi sungai, bergumul di medan semak belukar yang panjang dan rapat serta menempuh perjalanan naik turun bukit hingga tiba di Puncak Mosero sero Gunung Mekongga. Begitu banyak pengalaman berpetualang yang didapatkan setelah merasakan jalur pegunungan yang merupakan salah satu yang tersulit di indonesia.

KEMBALI BERPETUALANG
Ini merupakan tulisan saya yang ke sekian kalinya tentang gunung mekongga. Tempat yang banyak mengajarkan saya tentang nilai-nilai kehidupan dan pentingnya rasa syukur. Begitu banyak kesan dan cerita saya dapatkan setelah beberapa kali menjajal jalurnya yang begitu banyak memberikan ujian mental, kesabaran, kebersamaan dan organisasi tim yang solid.

Terakhir saya mendaki gunung ini saat Februari 2023, saat itu kami punya cerita menyesakkan, saat kami harus menerima ujian separuh hidup terpisah sepanjang malam di tengah hutan lumut dengan kondisi hujan deras. Syukurlah kami semua masih diberikan berkah kehidupan oleh Allah SWT. Tapi saya tidak akan bahas itu kali ini.

Nah. karena sudah cukup rindu nih dengan suasana hutan. Hitung-hitung terakhir saya mendaki Februari 2024 di Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh di Provinsi Jambi. Yah, mungkin sudah saatnya saya merasakan kembali suasana hutan belantara.

Beberapa teman pecinta alam di Konawe menyambangi rumah saya beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan. Awalnya mereka hanya meminta petunjuk dari saya namun ada rayuan dari mereka untuk saya turut serta, maka saya pun harus melakukan persiapan mendadak. Meskipun masih ragu, namun pada malam sebelum keberangkatan saya perlahan menyiapkan barang-barang yang akan dibutuhkan. Singkatnya, saya pun harus cuti dadakan dikantor dengan mencari lagi beberapa alasan.

PERSIAPAN DI KOTA UNAAHA
Kami berkumpul di rumah salah anggota tim di daerah Puosu, Kota Unaaha. Disana sudah siap beberapa rekan yang akan mengikuti pendakian ini. Diataranya adalah dua gadis belia yang terlihat lugu. Mereka berdua tampak bersemangat melakukan persiapan. Ini merupakan perjalanan perdana mereka di gunung tinggi. Itu membuat saya semakin antusias bergabung dalam tim ini.

Setelah persiapan cukup rampung, kami pun bertolak ke Kota Kolaka sekitar pukul 13.00 WITA. Perjalanan kami lakukan dengan mengendarai sepeda motor. Perjalanan ditempuh sekitar 2 Jam hingga tiba menjelang petang.

Saat di Kota Kolaka, Kita mendapatkan 2 (dua) anggota baru yang akan ikut dalam pendakian ini. Mereka adalah Ali Akbar dan Zeitno dari KPA Garpalak Kolaka
Kami cukup lama berbincang di rumah salah satu kerabat di daerah Sabilambo, Hingga baru pada pukul 21.00 Malam kami bergerak ke arah Kolaka Utara.

DESA TINUKARI
Rabu, 21 Januari 2026, Pukul 01.00 dini hari, kami baru tiba di Desa Tinukari. Suasana desa tentu sudah terlelap dan lengang. Kami langsung menuju ke basecamp di rumah Pak Basir yang terletak di ujung kampung. Beberapa pendakian terakhir saya selalu memilih rumah ini untuk menjadi titik star.

Pemilik rumah pastinya sudah tertidur dan kami tidak akan membangunkan mereka. Dengan perlahan kami memarkirkan kendaraan lalu menuju teras yang cukup luas. Tanpa membuat kebisikan berarti kami segera mempersiapkan istrirahat.
Sarapan di Kediaman Alm. Pak Basir, Rabu, 21 Januari 2026

Pagi hari yang cerah membangunkan kami dari tidur yang sangat lelap. Maklumnya perjalanan darat yang sangat jauh ditempuh berjam-jam di malam yang sedikit gerimis. Tapi syukurlah kami tidak menginap dijalan, karena rasa kantuk terus menghantui sepanjang aspal.

Keberadaan kami  akhirnya membangunkan tuan rumah. Istri Alm. Pak Basir menyambut kami dengan beberapa gelas kopi hangat pagi itu. Beliau sangat ramah menyambut setiap tamu para pendaki Gunung Mekongga yang mampir kerumahnya. Sejak kepergian suami tercintanya, tidak menyurutkan simpati dan perhatian beliau kepada pendaki Gunung Mekongga

Melapor di Polsek, Koramil Ranteangin dan Kepada Desa Tinukari, Rabu, 21 Januari 2026

Keesokan paginya, kegiatan melapor dilakukan. Ini merupakan ketentuan yang dipersyaratkan kepada semua pendaki Gunung Mekongga. Setiap grup pendaki wajib membawa surat pemberitahuan kegiatan dengan melampirkan biodata seluruh anggota tim, ROP serta daftar logistik.
Yang pertama kami menyambangi Kepala Desa Tinukari, lalu ke Kantor Polsek Ranteangin, selanjutnya Koramil Ranteangin, Lembaga Palem serta Basarnas Kolaka.

Tim berjumlah 6 orang yang terdiri : 1). Toti Irianto Meronda (Kwarcab Konawe / KPA Palapa Konawe), 2). Nurtina Saputri (Kwarcab Konawe), 3). Nur Resky Aprianti Pagala (Kwarcab Konawe / KPA Lingkar Konawe), 4). Ali Akbar Haril ( Garpalak Kolaka), 5). Zeitno ( Garpalak Kolaka) dan 6). saya sendiri  Muh. Dagri Nizar ( MDN Traventury Channel)

DESA TINUKARI - POS 2,  Rabu 21 Januari 2026
Perjalanan melalui aktifitas perkebunan masyarakat. Pagi itu sangat cerah, warga sudah menyibukkan diri untuk menuju ladang kebun yang berderet disepanjang jalur pendakian. Kami memilih jalur alternatif untuk menghindari beberapa kali penyebrangan sungai yang cukup beresiko. Pagi ini begitu cerah dengan hangat pagi. Kita melangkah mengikuti alur setapak beton dengan tanjakan bervariasi.

Menyusuri Jalur Kebun,  Desa Tinukari Rabu, 21 Januari 2026

Beberapa tahun terakhir banyak pendaki lebih memilih jalur ini untuk menuju ke Pos 2. Ini dilakukan untuk meminimalisir resiko di jalur lama yang banyak menyebrang sungai dengan bongkahan batu kali yang besar dan licin. Banyak juga warga yang melewati jalur ini sehingga kami serasa masih berada dekat dengan aktifitas warga.

Perjalanan melalui jalur tanjakan berlika liku dengan dasar beton. Lalu lalang motor petani kebun silih berganti melintas di jalur setapak yang kami lewati. Bahkan mereka sempat membonceng dua rekan kami hingga ke ujung jalan. Lumayan juga kan..Sedikit mengurangi jarak tempuh..
Menyusuri Jalur Kebun,  Desa Tinukari Rabu, 21 Januari 2026

Jalur ini sangat menanjak hingga mencapai ujung ketinggian. Cukup menanjak kami rasa, namun lebih baik melalui jalur ini ketimbang melewati jalur sungai yang berbatu, dalam dan berarus deras. Dijalur ini kita disajikan lahan perkebunan di kiri dan kanan. Kakao, Cengkeh, Kedondong, Durian, Nangka dan masih banyak lagi.

Setelah sejam berjalan kita tiba di ujung bukit dari tanjakan ini. Artinya perjalanan selanjutnya akan menuruni terjal. Setelahnya kami menuruni jalur dengan kemiringan terjal hingga tiba di tepi sungai. Semakin menurun, suara deras sungai semakin terdengar keras.
Menyebrang Sungai TinukariRabu, 21 Januari 2026

Ini adalah Sungai Tinukari. Arusnya saat itu cukup stabil dan mudah disebrangi. Disaat musim penghujan airnya sangat deras dan tentunya membutuhkan kehati-hatian saat menyebrang. Ini merupakan tantangan pertama pendakian yaitu dengan menyebrangi Sungai Tinukari yang lebarnya sekitar 20 Meter dengan kedalaman normal diatas lutut orang dewasa. Namun, ketinggiannya dapat lebih tinggi saat hujan deras di daerah hulu sungai. 

Oleh karena itu para pendaki mesti mendapatkan informasi mengenai kondisi sungai sebelum memutuskan untuk melakukan pendakian. Belakangan para pendaki lebih banyak yang melalui jalur ini karena hanya melewati satu kali penyebrangan sementara jalur lama memerlukan 4 (empat) kali penyebrangan dengan resiko yang cukup berbahaya.
Jeda ditepi Sungai Tinukari

Di tepi sungai ini kami beristirahat cukup lama. Waktu baru menunjukkan pukul 13.30 WITA, jadi cukuplah waktu kami bersantai sejenak sebelum melanjutkan ke Pos 2. Lagian Pos 2 dari sini tidak begitu jauh. InSyaa Allah kita akan tiba sebelum gelap disana.

Kami menghela nafas dengan leluasa. Udara segar dari rimbun pepohonan serta riak air sungai menjadi suasana yang tak ternilai saat itu. Kita bercanda lepas dengan berbagai guyonan untuk menghibur Mba Rezky dan Mba Tina. Ya.. Kedua gadis ini adalah pertama kalinya akan menjajal jalur ke Mekongga. Mereka begitu bersemangat didampingi oleh abang-abang yang keren dan penuh gombalan ini.
Setapak Menuju Pos 2, Rabu, 21 Januari 2026

Tanjakan satu persatu dilalui. Kita mulai menjauh dari tepi sungai untuk mengarah ke pertemuan jalur Pos 1 ke Pos 2. Setapak hari ini cukup mudah dilewati karena jalur ini juga dilalui motor petani untuk menuju kebunnya. 
Jalurnya sangat terbuka karena setiap hari para petani coklat dan penebang kayu lalu lalang di jalur ini. Sekitar ± 2 Jam kami sampai di Pos 2. 

POS 2 - KEBUN ALM. PAK BASIR
Mengolah menu dinner di Pos 2, Rabu, 21 Januari 2026

Tibalah kami seluruhnya di Pondok peninggalan Alm. Pak Basir. Beliau merupakan sosok yang tidak akan terlupakan oleh para pendaki gunung mekongga. Tidak terasa sudah 4 tahun beliau telah pergi. Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan bagi para pendaki.

Pondok ini adalah ini milik Pak Basir. Beliau telah mendahului kita sejak Februari 2021. Pondok ini merupakan kenangan beliau untuk seluruh pendaki gunung mekongga. Meskipun beliau telah tiada namum peninggalan pondok ini akan terus menjadi bagian dari pendakian gunung mekongga.

Tempat ini merupakan sebuah kebun yang luas yang ditanami sebagian besar Cokelat dan beberapa tanaman lain. Saat beliau masih ada, disekitar pondok ini ditumbuhi berbagai macam sayuran seperti Kelor, Pepaya, Labu, Cabe, Ketimun, dll. Namun sejak kepergian beliau sudah jarang kami temui sayur-sayuran. Tinggalah beberapa batang cabe rawit yang menjadi ciri khas di Pos 2 ini.

Disini kami mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk aktifitas malam seperti menyiapkan makan dan mandi sore. Matahari masih tampak sore itu. Kami masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan banyak hal. Kami segera menyiapkan minuman hangat dan makan malam. Seluruh barang bawaan kami keluarkan dari carrier. Kami mengatur segala kebutuhan untuk masak dan perlengkapan tidur.

Aktifitas masak-memasak tidak menggunakan peralatan dan bahan yang kami bawa, seluruhnya kami mempergunakan kayu bakar dan tungku di dalam pondok ini. Disekitar pondok tersedia banyak kayu bakar. Jadi janganlah bermalas-malasan. Kelilinglah mencari kayu. Bahkan jika beruntung, kita akan dapat durian yang jatuh dari pohon.
Makan Malam di Pos 2, Rabu, 21 Januari 2026

Acara makan malam pun dimulai. Menu malam ini, kami memanfaatkan sayur-sayuran yang banyak tumbuh di sekitar pondok kebun milik pak basir ini. Di Pos 2 ini memang selalu menjadi tempat menginap pendaki baik saat akan naik dan sudah turun gunung. Para pendaki selalu berlama-lama disini. Banyak kesenangan yang bisa didapatkan disini, selain tersedianya banyak sayuran di tempat ini juga kadang-kadang terdapat signal telepon selular, sehingga meskipun kita sudah berada di tengah hutan namun komunikasi masih dapat dilakukan. Di tempat ini juga terdapat sumber air yang mengalir deras. Para pendaki yang sudah turun gunung, pastilah membersihkan badan dan pakaian sebelum turun ke desa.

Bersiap Istirahat Malam di Pos 2

Setelah bersantap malam, kita pun larut dalam susana senda gurau. Kami bercanda dan bercerita tentang perjalanan seharian tadi. Cukup seru dan menyenangkan memang, terutama dua gadis belia ini. Kami hanya menyemangati mereka untuk terus kuat, apalagi jalur panjang yang akan dilalui besok ke Pos 4

POS 2 - POS 4 TUGU NKRI, Kamis 22 Januari 2026
Persiapan Perjalanan Hari Ke-2, Kamis, 22 Januari 2026

Semalam tidur cukup pulas, hingga kami bangun lebih cepat. Hari ini rute panjang akan dilalui. Maka segeralah kami tidak mengulur waktu. Semua segera bergerak. Tidur harus dihentikan, dan mimpi akan disambung di malam selanjutnya.

Dapur sudah mengepulkan asap, Menu sarapan pagi ini cukup menggiurkan. Kombinasi antara sayur pepaya, kelor, ikan asin, kerupuk dan tentunya Indomieee. Hari ini kami harus memperkuat tenaga. Caranya hanya dengan sarapan yang cukup, ditambah dengan minum kopi. Jalur sebentar, kita akan mulai memasuki setapak yang tertutup oleh semak belukar. Fisik dan psikologi harus prima.

Hari ini sangat cerah. matahari begitu hangat menyemangati kami untuk bergerak di pagi ini. Waktu menunjukkan pukul 9.15 WITA dan hari ini cuaca cukup cerah dan hangat. Kita akan mulai memasuki hutan pegunungan Mekongga. Tantangan sudah menanti kami di depan sana. Kita harus menikmati pendakian ini agar semuanya terkesan mudah dan tidak membebani.

Jalur HBI Gunung Mekongga, Kamis, 22 Januari 2026

Jalur selanjutnya melewati sebuah kebun cokelah milik Pak Ramadhan. Beliau tinggal satu-satunya yang bertahan bersama Pak Robin di jalur pendakian Mekongga. Setelah kepergian Alm. Pak Basir, beliau sudah jarang aktif mengelola kebunnya. Hanya sekali kali saja ia datang menengok, itupun kembali ke desa saat sore hari. Dahulu juga penghuni Pos 1 yaitu Pak Jumarin sangat aktif berkebun, namun seiring usia, beliau sudah meninggalkan ladangnya dan lebih memilih beraktifitas di dekat kampung.

Kembali ke Cerita...!! Kami mulai memasuki jalur pendakian sebenarnya dimana tidak ada lagi aktifitas lalu lalang petani cokelat. Jalurnya sedikit tertutup dan banyak ditumbuhi semak belukar. Jalurnya semakin menanjak landai dan rimbun serta melewati beberapa sisa kebun yang sudah bertahun tahun ditinggalkan.

Hari ini rute cukup panjang. Kami akan melalui track jalur HBI yang menanjak landai. Kita awali dengan keluar dari area perkebunan kakao hingga menemukan jalur semak pakis. tipikal jalur hampir terlihat sama. dikiri kanan pepohonan rindang. Setapak sebagian besar lembab oleh hutan teduh yang tertutup.

POS 3 - POHON TEDUH
Pos 3 Gunung Mekongga, Kamis, 22 Januari 2026

Kita terus melangkah melalui setiap ruas jalan, menanjak menurun, menyipir, hingga sekitar pukul 13.00 WITA kita sudah tiba di Pos 3. Tempat ini berada di tepi jalan dan tidak terlalu luas sehingga cukup menjadi tempat rehat sejenak. Tidak jauh terdapat air yang mengalir di sebuah kali kecil yang terdapat dibawah.

Di Pos 3 kami berpapasan dengan rombongan pendaki yang baru saja menyelesaikan pendakian. Mereka berjumlah 7 orang yang berasal dari Kendari dan Kolaka. Kita banyak berbagi pengalaman mendaki yang telah dilakukan dibeberapa gunung di Indonesia. 

Kita harus bergegas. Rute ke Pos 4 cukup jauh dari Pos 3. Setapak dilewati cukup landai dengan semak-semak yang tidak begitu menghalang. Langkah cukup nyaman karena tidak adanya hambatan. Beginilah kalau banyak pendaki yang baru melalui jalur ini.
Pos Bayangan Gunung Mekongga (Antara Pos 3 - Pos 4), Kamis, 22 Januari 2026

Jalur ke Pos 4 masih melewati medan yang sama dengan melalui medan landai dan sesekali cukup menanjak. Kami cukup beruntung saat itu karena jalur ini cukup terbuka dan tidak terhambat oleh rapatnya semak belukar seperti biasanya. Beberapa minggu terakhir puluhan pendaki melalui jalur ini, sehingga jalur semak tidak begitu rapat dan kecepatan bisa diatur dengan nyaman.

Kita terhenti lama di sebuah pos bayangan antara Pos 3 dan Pos 4. Disini kita sempat mengisi amunisi dengan nasi dan mie goreng yang sudah kami persiapkan saat pagi hari. Fisik sudah mulai goyah, jadi sangat cocok mengganjalnya dengan karbohidrat agar menambanh kekuatan di sisa-sisa tenaga menjelang senja.

Jalur hutan teduh Gunung Mekongga, Kamis, 22 Januari 2026

Semakin beranjak sore, sepertinya langkah kami semakin ringan. Kedua gadis ini begitu memberi motivasi bagi kami, terutama abang-abang dari Kolaka yang begitu bersemangat mengawal langkah para belia ini. Keduanya juga sering bercanda dan tidak mudah tersinggung, sehingga abang-abang dari Kolaka semakin gencar melancarkan gombalannya.

Perjalanan kami berjalan dengan penuh canda dan tawa serta gombalan. Saat istirahat, disitulah rayuan maut menjurus ke kedua gadis belia ini yang mengaku masih jomblo. Sesekali sentilan dan goyonan mengalir tiada henti namun dibalas dengan tamparan kalimat yang cukup membuat abang-abang bungkam. Kesemuanya itu dilakukan hanya semata-mata untuk memecah rasa lelah dan gerah di perjalanan yang masih panjng ini.

POS 4 TUGU NKRI
Aktifitas di Pos Tugu NKRI, Kamis, 22 Januari 2026

Kurang lebih ± 3 Jam perjalanan dari Pos 3, akhirnya kami sampai di Pos 4 yang juga akan menjadi tempat kami menginap malam ini. Sesungguhnya Pos 4 masih berada ± 100 Meter dari tempat ini, namun karena Pos 4 ukurannya sangat sempit maka kebanyakan pendaki mendirikan tenda di tempat ini.

Cuaca begitu mendukung perjalanan ini, hingga hampir pukul 18.00, matahari masih nampak bersinar. Kita begitu leluasa begerak, memasang tenda, mengatur persiapan masak memasak, mencari kayu. Menu malam ini kita akan memadukan makanan pabrik dan sayuran pakis yang dipetik disepanjang jalan tadi.

Malamnya,, bintang-bintang bersinar terang menghiasi langit diatas Pos 4 Mekongga. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Hawa sangat bersahabat mesi dingin tentu hadir namun cukup stabil. Kami begitu nyaman bermain di area Pos 4. Malamnya bahkan kami sempat bermain kartu di luar tenda dan tertawa riang hingga larut malam.

Biasanya saat malam ditempat ini, kami sibuk membersikan pacet atau sisa luka pacet yang mengelilingi kaki, namun suatu kesyukuran, tidak tampat satu pun gangguan yang disebabkan pacet. Aku rasa sedikit aneh. Disepanjang pendakianku di Mekongga, baru kali ini tidak terdapat pacet. Apakah mereka sudah bermigrasi atau bukan musimnya? Entahlah!! yang penting kaki saya bersih dari luka-luka yang terkadang banyak berceceran.

Aktifitas Pagi di Pos Tugu NKRI Gunung Mekongga, Jumad 23 Januari 2026

Cahaya mentari menyambut kami di hari yang begitu cerah. Perlahan kita disinari oleh sinar yang memberikan kehangatan. Malam mengantarkan kita pada tidur yang lelap. Tidak ada hujan, angin berhembus santai, dan dingin bisa kami redam walau hanya memakai kaos saja.

Kita segera bergerak mempersiapkan menu pembuka untuk perjalanan hari ini. Masing-masing memposisikan diri pada fungsinya. Sambil bergelak tawa dan ngomong ngawur tapi urusan pagi itu tuntas satu per satu. Tidak lama semua sudah beres dan kita akan siap melanjutkan rute.

POS 4 TUGU NKRI - POS 6 COCA COLA, Jumad 23 Januari 2026

Pos Tugu NKRI Gunung Mekongga, Jumad 23 Januari 2026

Sekita Pukul 9.00 WITA, kita sudah ready untuk bergerak. Sebelum itu kita berfoto dulu guyss...Tugu ini merupaka simbol dan penanda bahwa anda sudah melewati jalur pendakian Mekongga. Tempat ini dinamakan Pos Tugu Sulawesi yang memang terdapat sebuah tugu kecil setinggi ± 2,5 M yang didirikan oleh TNI saat mereka melakukan pendakian Gunung Mekongga tahun 2016. Pos ini merupakan Pos yang terluas yang dapat menampung puluhan tenda yang juga terdapat mata air.

Kami melanjutkan kembali perjalanan ke Pos berikutnya. Jalurnya tidak berbeda jauh dengan kemarin, yang masih melewati semak belukar. Sekitar 5 menit berjalan sampailah kami di Pos 4, dan tidak jauh dari Pos 4 terdapat sebuah Air Terjun yang lumayan besar yang berada dialur pendakian.
Air Terjun di Jalur Pendakian Gunung Mekongga, Jumad 23 Januari 2026

Letak air terjun ini ± 20 Meter dari Pos 4, sehingga pendaki yang menginap di Pos 4 mengambil air di air terjun ini. Sumber air di tempat ini sangat melimpah dan mengalir sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Hampir semua pendaki meyempatkan beristirahat di tempat ini sambil mengisi kembali wadah minuman sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos 5

Dari air terjun jalur selanjutnya yaitu menyipir punggungan dengan medan licin dan sempit. Perjalanan ke Pos 5 populasi tanaman semak semakin banyak dan menutupi seluruh jalur. Pada pendakian kali ini, kami sedikit terbantu dengan banyaknya pendaki yang baru saja melewati jalur ini dimana semak-semak yang biasanya bergumul di tengah setapak, kini banyak berkurang. Kami tidak perlu lagi memainkan parang untuk membersihkan belukar, sehingga tidak begitu menghambat pergerakan.

Jalur HBI ini merupakan salah satu tantangan di pendakian Gunung Mekongga. selama 3 hari, para pendaki harus berjibaku dengan rapatnya jalur HBI yang ditumbuhi segala macan tanaman semak berduri. Sangat disarankan untuk memakan pakaian tertutup atas bawah untuk menghidari goresan dan sayatan dedaunan tajam.

POS 5 Foya Foya
Pos 5 (Foya-Foya) Gunung Mekongga, Jumad 23 Januari 2026

Sekitar ± 3 Jam dari Pos 4, sampailah kita di Pos 5. Kebanyakan pendaki menyebutnya Pos Foya-Foya, karena biasanya dijadikan tempat penghabisan logistik sebelum pendaki turun kembali ke desa. Pos 5 terletak di tepi jalur dengan permukaan yang cukup rata dan dapat menampung sekitar 7 tenda.

Terdapat sumber air mengalir di depan Pos 5, namun terkadang diwaktu-waktu tertentu sumber air tersebut kering. Kondisi demikian terjadi beberapa tahun terakhir sehingga sudah jarang pendaki yang menginap di tempat ini. Kebetulan saat pendakian ini, sumber airnya mengalir deras berhubung beberapa hari terakhir sering turun hujan.

Kita menghabiskan waktu cukup lama di siang ini. Kebetulan saat itu masuk waktu sholat jumad, jadi para abang-abang melakukan sholat zuhur berjamaanyang dipimpin oleh abang totti. Meskipun di tengah hutan, kami tidak meninggalkan ibadah, karena itu adalah bekal untuk akhirat.. Asseeek..

Break di Jalur Menuju Pos 6

Pendakian kali ini memang banyak berbeda dengan yang telah saya lalui. Biasanya setelah masuk jalan HBI, pendaki akan mulai diserang kawanan pacet. Kaki dan selangkangan akan dipenuhi pacet yang menghisap dan bergelantungan. Namun pada pendakian kali ini, pacet pacet menghilang entah kemana.
Sehingga Kita cukup nyaman melangkah apalagi dengan kondisi cuaca yang cerah dan hangat. 

Kedua gadis belia ini tetap menjadi prioritas. Mereka terus dikawal dengan baik. Bahkan untuk mempermudah pergerakannya. Mereka cukup memikul satu daypack, itupun secara bergantian. Jika terjadi apa-apa dengan mereka. Entahlah apa yang akan terjadi dengan pendakian ini. Soo,,mereka kami permudah untuk tidak memikul beban dunia yang penuh ujian. Sombaa...!!
Break di Simpangan HBI, Jumad 23 Januari 2026

Setelah berjalan sekitar 1.5 jam dari Pos 5, akan ditemukan sebuah tempat luas yang dahulunya merupakan tempat penampungan kayu gelondongan. Disini kami terhenti beberapa saat. Saat itu masih terang. Mungkin waktunya kami menyantap sisa perbekalan untuk hari ini. Masih ada nasi dan mie goreng yang disiapkan.

Segera dengan lahap kita selesaikan makanan itu berikut dengan gabin dan biskuit. Makanan memang sangat penting apalagi sudah melewati siang. Karbohidrat adalah yang utama untuk menambah stamina sebelum melalui tanjakan.

Semakin mendekati sore, pembicaraan ngawur sering terjadi. Saling lempar kata-kata terjadi antara abang-abang dan dua gadis belia ini. Sesekali ada curhatan si abang yang mengarah ke perasaan. Namun dibalas oleh sang gadis dengan perasaan mau muntah..!!..Hahaha... Begitulah sifat kelaki lakian muncul saat sudah menjadi tarzan tiga hari...Tapi semuanya tidak ada yang baper. Hanya sekedar Intermezo..!!
Melalui Tanjakan ke Puncak HBI, Jumad 23 Januari 2026

Tanjakan ke Puncak HBI cukup menguras energi. Jalur yang dilalui sangat menanjak. Akan tetapi jalur ini membuat kami sedikit bergerak leluasa karena tidak adanya semak-semak yang menghambat. Meskipun sesekali terdapat juga jalur semak-semak namun tidak begitu panjang dan tidak begitu menghambat pergerakan. Semakin mendekati Puncak HBI, tanjakannya semakin berat dan berbatu.

PUNCAK  JALUR  HBI
Puncak Jalur HBI, Jumad 23 Januari 2026

Sekitar 1 Jam perjalanan kita pun sampai di Puncak HBI. Dinamakan Puncak HBI karena tempat ini merupakan titik tertinggi dari jalan HBI. Di tempat ini merupakan lokasi yang terbuka dengan pemandangan Gunung Mosembo di arah barat laut. Terlihat juga hamparan pegunungan mekongga yang begitu luas terbentang ke wilayah utara.

Saat cuaca cerah, tempat ini menyajikan pemandangan yang mempesona. hamparan bukit dan pegunungan tersusun rapi serta kabut-kabut yang meyelimuti lembah. Kami tidak lupa mengabadikan gambar dan video saat berada di tempat ini.

Di sepanjang jalur pendakian Gunung Mekongga hanya ada beberapa tempat untuk melihat pemandangan terbuka, salah satunya adalah di Puncak HBI ini. setelah beberapa jam melalui jalur semak-semak yang tertutup, kami pun melepaskan seluruh lelah dan letih dengan memandang jauh ke arah pegunungan dan sesekali berteriak. Tak lupa pula sebatang rokok dan camilan ringan menemani break kami di tempat ini.

POS 6 DANAU COCA COLA
Aktifitas Malam di Pos 6 (Coca Cola), Jumad 23 Januari 2026

Tidak jauh dari Puncak HBI, sekitar 25 menit kami sampai di Pos 6. Untuk mencapai tempat ini dari Puncak HBI dilalui dengan jalan menurun panjang, kemudian mengambil jalur naik ke kanan mengikuti string line, setelah itu berjalan sekitat 10 Menit dengan tanjakan landai sampai menemukan sebuah genangan besar yang terdapat banyak kayu mati di tengah-tengahnya. Di Pos 6 inilah kami akan menginap malam ini.

Kami tiba sekitar pukul 17.30 WITA. Dalam hitungan yang tidak terlalu lama, tenda dan seluruh perlengkapan telah ditempatkan pada posisinya. Semua logistik dikumpulkan pada satu tempat. Kami mengatur kembali kebutuhan logistik untuk hari hari kedepan. Rencananya kami akan menginap dua malam disini. Sehingga seluruh perlengkapan harus diatur dengan sempurna.
Aktifitas Malam di Pos 6 (Coca Cola), Jumad 23 Januari 2026

Tidak jauh dari tempat Camp kami terdapat sebuah telaga besar. Oleh pendaki, tempat itu dinamakan Danau Coca-Cola. Airnya merah seperti coca-cola dan terdapat banyak kayu-kayu mati yang sudah berlumut ditengahnya. Disekeliling Danau Coca-Cola ini diselimuti lumut tebal dari dasar danau sampai permukaan. Danau ini merupakan sumber air bagi pendaki yang menginap di Pos 6 ataupun pendaki yang melanjutkan perjalanan ke hutan lumut dan puncak.

Dari permukaan danau kita bisa jelas melihat aneka mahluk hidup yang bererang-renang di dalam seperti kecebong dan berudu. Terlihat menjijikkan memang, dimana kita harus mengkonsumsi air yang didalamnya terdapat banyak hewan hewan yang menggelikan. Namun sudah inillah sumber air di tempat ini. Dan alhamdulillah hingga saat ini belum ada pendaki yang merasakan keanehan setelah mengkonsumsinya.

Saya sempat berkelakar, jika kecebong-kecebong itu dikumpul dalam jumlah banyak lalu dicuci bersih, kemudian diaduk dengan tepung terigu dan dicampur bumbu-bumbu layaknya membuat lure goreng. Woow..Yummi...Mungkin ini yang disebut Perasaan Mau Muntah..!! HaHaHa

MALAM PENUH BINTANG
Ada yang menarik di perjalanaku kali ini. Saat sudah di ketinggian seperti di Pos 6 ini, kondisi malam akan dipenuhi kabut dan angin bertiup silih berganti bahkan akan sesekali turun hujan ringan di malam hari.

Namun yang kami saksikan malam itu sungguh jauh berbeda. Langit sangat cerah, tak ada awak menutupi hingga bintang-bintang tampak jelas bercahaya menacarkan sinar-sinarnya. Saya beberapa kali seperti tidak percaya, melihat bintang-bintang dengan jelas berahamburan. Mata saya terus fokus melihat rasi bintang yang bergerak perlahan menandakan bumi ini benar berputar.

Malam itu juga bulan sabit muncul dari arah barat daya. Ia muncul dari ujung sebuah bukit. Sungguh ini bukan tampilan biasa. Baru kali ini saya menyaksikan bulan dan bintang bersamaan muncul cerah di atas telaga. Sinarnya memantul diatas permukaan Danau Coca Cola. Namun sayangnya kemampuan kamera kami tidak bisa menangkap momen indah tersebut.

Subhanallah. Sungguh sebuah kebesaran Allah yang ditampilkan kepada hambanya yang sedang berjuang mencapai salah satu ciptaan Nya.

KERACUNAN  REBUNG
Mungkin ini adalah pelajaran berharga di cerita pendakian ini dan ini pertama kalinya terjadi pada kami, khususnya saya sendiri. Sejak perjalanan hari pertama kami banyak terbantu dengan sayur-sayuran yang tumbuh di perjalanan seperti pakis dan jamur. Kami begitu menikmatinya saat sarapan dan makan malam. Dua malam kami menyantap dengan lahap sayuran tersebut.

Petaka datang saat kami menginap di Pos 6 Danau Coca Cola. Di siang harinya saat di Pos 5. kami mencoba mengambil inti batang atau rebung dari tanaman pakis. Hitung hitung untuk menambah komposisi sayuran. Rebung itu untuk campuran lauk saat makan malam.

Setelah menikmatinya, beberapa jam kemudian satu persatu dari kami mulai merasa mual dan eneg. Tak lama berselang kami bergiliran memuntahkan semua isi dalam perut. Malam yang seharusnya dinikmati dengan kebersamaan, dan disaat bersamaan bintang dan bulan bersinar cerah malah menjadi ujian berat bagi kam ber enam. Hingga menjelang subuh satu persatu dari kami keluar masuk tenda untuk memuntahkan semua yang telah disantap sebelumnya.

Segala cara penyembuhan, baik itu obat dan teh pekat segera dikonsumsi untuk menetralkan racun. Awalnya saat orang pertama mengalaminya, kami mengira itu hanya gejala dari minuman dan makanan yang bercampur, namun ketika seluruh anggota tim merasakan serupa maka kami pun memvonis rebung lah pelaku utamanya.

Malam itu, saya terasa tercekik, leher sepeti ada duri yang melilit. Saya sulit bernafas dan menelan. Freshcare, Minyak Kayu Putih, Minyak Gosok dioles keseluruh tubuh unutk meredam badan yang terasa meliuk liuk.

Sepertinya pendakian ini akan gagal, begitu dalam benakku. Saya menyaksikan teman-temanku tersiksa den mengerang ngerang sepanjang malam. Padahal besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan kepuncak. Dengan kondisi sekarang speertinya sulit untuk kami bergerak besok, begitu hatiku bimbang.

Saat pagi mulai datang, saya berinisiatif keluar dari tenda. Rasanya berat kurasa. Saya sedikit sempoyongan dan tidak seimbang. Saya coba berdiri dan melakukan gerakan pemanasan. Saya lalu menyapa rekan-rekan yang masing terbujur dalam tenda. "hari ini kita istirahat saja untuk pemulihan, besok kita lanjut" begitu ungkapku. Sepertinya kita harus merubah rencana perjalanan, lanjut dalam pikirku.

Satu persatu mereka pun keluar dari tenda. Tidak ada yang mengomando, secara spontan kami mulai mengatur sarapan pagi, lalu mengenakan pakaian jalan. Tidak lupa kebutuhan untuk di puncak dibawa serta. Rencana semalam pun bisa dijalankan hari ini. Luar biasa, semuanya pulih dalam semalam. Alhamdulillah semua rencana bisa terlaksana hari ini. 
Akhirnya Semua kebutuhan sudah siap. Saatnya kita berangkat !!!
Pos 6 Gunung Mekongga, Danau Coca Cola, Sabtu, 24 Januari 2026

Sebelum kita moving on..Kita futu futu dulu. Nah...Inilah tampilan Danau Coca-Cola. Spot ini merupakan latar berpose yang sangat sangat eksotik. Bagaimana tidak..kita sepeti dibawa ke masa negeri dongeng dengan sebuah telaga hijau. Dari kejauhan terlihat permukaan telaga yang menghijau tertutup lumut. Begitu tenang dan sepi.

Kedalaman airnya antara mata kaki dan pangkal paha orang dewasa. Anda harus berhati-hati saat akan berpijak di air karena dari permukaan terlihat dangkal, padahal terkadang dalam. Berdasarkan penglihatan kami, tidak ada ikan air tawar yang hidup di danau ini, yang ada hanya lumut dan jenis-jenis alga.

Kita berpose lepas dengan penuh gaya dan ekspresi tanpa menyadari semalam kita semua sudah terkapar dan hampir dievakuasi. Nasib baik, Allah masih menyayangi kami dan mengizinkan kami untuk bergerak ke tujuan akhir yaitu Puncak Mekongga.

POS 6 - PUNCAK - POS 6, Sabtu, 24 Januari 2026
Bergerak Menuju Puncak Mekongga, Sabtu, 24 Januari 2026

Sekitar pukul 07.08 WITA pagi, kami siap berangkat melanjutkan perjalanan ke Puncak. Metode yang kami pakai pada pendakian ini adalah melepas barang di Pos 6 lalu melakukan perjalanan naik ke puncak dan turun kembali ke Pos 6 selama satu hari. Cara ini coba kami lakukan untuk menghindari kondisi dingin di hutan lumut pada malam hari. Cara ini bisa anda lakukan, dengan syarat persiapan fisik dan mental yang baik, manajemen waktu serta solidaritas tim yang terjaga sepanjang pendakian. Seluruh peralatan kami tinggalkan di Pos 6. Kami hanya membawa air minum, cemilan, rokok, kamera dll kebutuhan lain yang diperlukan di puncak nantinya.

Perjalanan dimulai dengan jalur baru yang melewati bukit dengan pepohonan kecil. Jalur lama sudah tidak dilewati lagi karena sudah menjadi jalur air yang sangat tidak nyaman untuk dilalui serta jalur tersebut sudah tertutup semak tebal dan banyak pohon tumbang.

Sekitar 15 Menit kemudian kami sampai di Pintu Gerbang hutan lumut pegunungan mekongga. Pintu Gerbang ditandai dengan berakhirnya jalur HBI dan kami akan memasuki jalur setapak melalui hutan lumut. Hutan lumut ditandai dengan perubahan hawa menjadi sejuk dan lembab.
Jalur Hutam Lumut Gunung Mekongga

Jalur hutan lumut dilewati dengan model tanjakan yang bervariasi dengan sudut tanjakan 30 s.d 60 derajat. Untuk melewati jalur ini, kami berpatokan pada sudut perjalanan dan tanda-tanda jalur yang tersebar disepanjang jalan. Tanda jalur berupa plat, pita dan cat warna. Keberadaan tanda jalur ini besar manfaatnya bagi pendaki untuk memastikan kebenaran arah yang dituju. Oleh karena itu sangat diharapkan kepada pada pendaki untuk menjaga dan memperjelas tanda jalur yang sudah ada, sehingga akan lebih mempermudah pendaki-pendaki lainnya.


Jalur Hutan lumut Pegunungan Mekongga cukup panjang dengan model kontur tanah bervariasi. Sesekali kami harus menanjak, menyipir dan terdapat juga jalur landai bahkan sedikit menurun. Jalur hutan lumut yang kami lewati sekelilingnya dipenuhi lumut, dari permukaan tanah sampai ujung pohon didominasi oleh lumut. Dalam keadaan demikian hawa dingin sangat mendominasi baik siang hari terlebih malam hari.


Kami tidak henti-hentinya menyemangati dua gadis belia yang baru melalui jalur ini. "Sudah dekat bebs" itu kata-kata yang sering dilontarkan abang-abang untuk membuat mereka berdua semakin yakin. Tidak ada yang bisa dilakukan selalin saling menyemangati dan memberi sugesti agar semuanya selalu kuat.

Setelah berjalan sekitar 2 Jam dari Pos VI, sampailah kami di Pos VII. Jalur yang dilewati cukup menanjak dan berliku-liku. Pos VII berada pada sebuah bukit kecil. Ditempat ini biasa juga dinamakan Pos Batu Meriam karena terdapat sebuah batu yang menyerupai meriam dan menghadap ke arah kiblat.

POS 7 BATU MERIAM
Pos 7 Batu Meriam, Sabtu, 24 Januari 2026

Disini layak untuk mendirikan tenda. Biasanya pendaki menginap di tempat ini meskipun hanya dapat menampung 1 tenda saja. Terdapat juga bongkahan batu besar di sebelahnya yang menyerupai tebing dengan tinggi sekitar 10 Meter. Kami hanya istirahat sejenak di tempat ini dan akan segera melanjutkan perjalanan ke Pos VIII.
Pelajaran yang tidak akan terlupakan..

3 tahun lalu, tepatnya Februari 2023, saat pendakian terakhir saya di Gunung Mekongga. Saya punya kenangan yang tidak akan terlupakan. Beginilah posisi saya hampir 12 Jam sejak petang hingga fajar pagi, saat tertahan di Pos 7 sewaktu perjalanan pulang dari Puncak ke Pos 6. Ceritanya sangat panjang dan tidak bisa saya uraikan dalam tulisan ini. Setelah kejadian tersebut, saya berdoa, agar kesalahan yang saya buat tidak terulang lagi dikemudian hari dan saya harus mempersiapkan segala macam kemungkinan yang akan terjadi saat mencoba perjalanan pulang pergi Pos 6 - Puncak - Pos 6.

Lanjut ke Cerita..!!! Waktu saat itu menunjukkan pukul 9.30 pagi. Kami bergegas meninggalkan Pos VII mengingat target kami masih jauh dan harus kembali ke Pos VI. Setelah lepas dari Pos VII, kembali kami menuruni bukit lalu menyusuri celah batu yang lembab lalu kembali menanjak terjal dengan kemiringan 65 derajat. Kami harus berhati-hati saat melewatinya karena pijakannya banyak batu kerikil yang mudah bergerak dan membahayakan pendaki dibawah.

PUNCAK SALAH
Setelah berjalan kurang lebih 45 Menit dengan medan menanjak, sampailah kami di batu-batu runcing. Terdapat batu-batu cadas yang cukup besar menjulang di atas bukit ini. Jalur pendakiaannya pun harus melewati sela-sela batu. Pendaki harus berhati-hati jangan sampai terkait atau tergores.

Beberapa versi tentang penamaan tempat ini menjadi perdebatan sengit di media sosial pada akhir 2024 lalu. Beberapa pendaki mempertanyakan tentang penamaan Puncak Salah dan apa yang melatarbelakanginya. Saya pun tegas menjawab "Penamaan diberikan karena faktor kebiasaan yang sudah turun temurun disebutkan"  
Puncak Salah Gunung Mekongga, Sabtu, 23 Januari 2026

Kami hanya singgah sejenak untuk berpose. Landscape dari tempat ini cukup memberikan ketenangan bagi kami yang sejak tadi berjibaku dengan tanjakan hutan lumut. Dari tempat ini pegunungan mekongga terlihat dari arah barat daya dan jajaaran bukit kawasan puncak di arah tenggara. 

Setelah berjalan sekitar 10 Menit dengan model jalur naik turun, kami sampai di titik air terakhir di jalur pegunungan Mekongga. Mata air ini berada di sisi kiri jalur. Untuk mencapainya kami harus turun sekitar 25 Meter. Semua wadah air yang sempat kami bawa diisi penuh. Di tempat ini, kami sempat mengisi amunisi. Bekal nasi dan mie dari Pos 6, segera dilahap. Fisik harus dipersiapkan, karena jalur didepan sana akan lebih panjang dan menguras tenaga.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengikuti arah string line. Tidak jauh dari mata air, terdapat sebuah tempat terbuka. Biasanya para pendaki menginap di tempat ini sebelum menuju puncak esok harinya. Tempat ini bernama Pos Transit. Lokasinya cukup luas dan dapat menampung 4 tenda. Kondisi sekitarnya terdapat pohon-pohon rimbun yang tertutupi lumut.

Waktu menunjukkan pukul 11.30. Karena target masih jauh, segera kami meninggalkan tempat ini mengikuti arah jalur pendakian dimulai dengan menuruni bukit. 
Tidak jauh setelahnya, kami terhenti untuk mengirimkan doa kepada kedua rekan kami Alm. Laode Abdul Fitrah dan Alm. Edy Mulyadi. Dua buah prasasti menjadi penanda disitulah mereka menghembuskan nafas setelah berjuang bertahan hidup saat kembali dari puncak Mekongga. Semoga kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi kita semua dan kita berharap tidak ada lagi kejadian yang sama dikemudian hari.

Kembali ke cerita..!! Untuk menuju puncak Mekongga dari Pos Transit, kami harus melewati setidaknya 4 bukit dengan tipe naik turun. benar-benar perjalanan yang menguras energi dan ketahanan fisik. Saat melewati jalur naik turun ini, konsentrasi dalam melihat jalur dan string line tetap dibutuhkan, jangan sampai pendaki terlena oleh jalur yang biasanya melenceng.

Puntu Gerbang Mosero Sero, Gunung Mekongga, Sabtu, 24 Januari 2026

Sekitar 2 jam kemudian sampailah kami di Pintu Gerbang Mosero-Sero. Tempat ini merupakan bongkahan batu yang menyerupai pintu gerbang dan terbentuk secara alami. Banyak versi mitos mengenai pintu gerbang ini di kalangan masyarakat Desa Tinukari, baik letaknya maupun bentuknya.

Gerbang ini seakan penanda bahwa anda sudah memasuki kawasan puncak Gunung Mekongga. Setelah ini, pendaki akan melewati jalur menanjak dan setengah merangkak untuk melalui tanjakan akhir hingga ke Puncak Mosero Sero Mekongga.
Pos 8 Gunung Mekongga, Sabtu, 24 Januari 2026

Tidak jauh dari Pintu Gerbang, sekitar 5 menit sampailah kami di Pos terakhir Gunung Mekongga. Ini berarti tinggal selangkah lagi kami akan mencapai Puncak. Pos VIII merupakan Pos terakhir. Tempat ini sangat luas dan dapat menampung puluhan tenda. Lokasinya tidak terlalu lembab seperti di Pos Transit. Kebanyakan pendaki menginap di Tempat ini sebelum melakukan Summit Attack esok harinya.

Jalur ke puncak di mulai dengan mengikuti string line ke arah kanan lalu menanjak dan terus menanjak melewati bebatuan. Disisi kiri merupakan tebing-tebing puncak mekongga yang bendiri tegak menjulang. Semakin menanjak, puncak semakin dekat. Sudah mulai terasa tiupan angin yang berputar-putar. Ini menandakan kita sudah berada di tempat terbuka.
Jalur berbatu menuju puncak Mekongga, Sabtu, 24 Januari 2026

Sesekali kami harus sedikit memanjat melewati batu-batu besar. Jalur kemudian menyusuri jalan setapak 10 Meter dan akhirnya Tugu Trianggulasi dapat terlihat. Untuk mencapainya kami melewati batu-batu cadas dengan model menyipir dan sedikit memanjat. Batu-Batu cadas ini cukup runcing dan dapat membahayakan pendaki jika tidak berhati-hati melewatinya. Jalur ini merupakan tantangan terakhir pendaki sebelum sampai di Tugu Trianggulasi Puncak Gunung Mekongga.

Hari itu cuaca begitu cerah dan bersinar. Kita dapat melihat jelas jejeran pegunungan yang berbaris mengelilingi. Angin juga berhembus tenang dan tidak brutal menghempas. Kita perlahan bergerak selangkah demi selangkah. Wajah berseri-seri tampak dari rekan-rekan yang sebentar lagi akan menyentuh titik akhir dari perjalanan ini.

Terlebih lagi dua gadis belia yang sudah tidak sabar ingin bertahta di atap Sulawesi Tenggara tersebut. "perhatikan langkahmu dan peganganmu" begitu kataku saat melewati jejeran batu-batu runcing yang seakan memagari puncak Mekongga. Mereka berdua pun tetap tenang dan melangkah hati-hati. Dalam benaknya mungkin berkata "puncak tidak akan kemana"
Puncak Mosero Sero, Gunung Mekongga, Sabtu 24 Januari 2026

Akhirnya sekitar pukul 13.30 WITA di hari Sabtu, 24 Januari 2026, sampailah kami di Puncak Gunung Mekongga 2620 MDPL. Alhamdulillah seluruh tim dalam keadaan sehat waf afiat. Butuh 6,5 Jam waktu tempuh dari Pos 6 hingga tiba di titik ini. Tidak terbayangkan betapa jauhnya kami berjalan menembus jalur hutan lumut dengan medan naik turun yang tak terhitung jumlahnya.

Resky dan Nurtina tidak mampu membendung air mata saat menyentuh titik triangulasi untuk pertama kalinya. Sungguh sebuah perjuangan yang mengerahkan seluruh jiwa raga untuk berada di tempat luar biasa ini. Kekompakan dan kebersamaan selalu kami jaga sepanjang pendakian sehingga perjalanan ini meskipun berat namun sangat menyenangkan.
Puncak Mosero Sero, Gunung Mekongga, Sabtu 24 Januari 2026

Rasa Syukur kepada Ilahi Rabbi, akhirnya kami diizinkan kembali untuk menapakkan kami di salah satu Gunung Tersulit di Sulawesi dan Indonesia. Perjalanan selama beberapa hari yang sangat menguji stamina, mental, fisik dan persaudaraan terbayar lunas saat kami berhasil menapaki Puncak Mekongga.

Mungkin terkesan simpel jika hanya melihat foto-foto tanpa merasakan bagaimana perjuangan untuk sampai disini.Sebuah titik tertinggi yang menjadi impian banyak pendaki gunung. Banyak orang bercita-cita kesini tapi sampai sekarang tidak kesampaian, karena hanya banyak berencana tapi tak selalu berwujud 
Puncak Mosero Sero, Gunung Mekongga, Sabtu 24 Januari 2026

Kita pun berteriak sekuat-kuatnya, bukan untuk merasa sombong atau angkuh tapi mengerahkan seluruh rasa syukur kepada sang pencipta karena sudah membawa kami jauh sampai kesini. Pecinta Alam bukan hanya sebagai simbol tapi memperlihatkan identitas dan eksistensi adalah yang utama.

Alam telah banyak memberikan pelajaran berharga untuk bisa kita terapkan dalam kehidupan. Pendakian ini memberikan banyak pelajaran dan ilmu baru bagi kami. Gunung Mekongga merupakan ikon dan kebanggaan Sulawesi Tenggara yang terus kita jaga dan pelihara untuk generasi selanjutnya.

Telah banyak pendaki yang merasakan sensasi berpetualang di Gunung Mekongga. Salah satu gunung yang memiliki tantangan komplet yang akan menguji jati diri anda sebagai petualang sejati. Gunung Mekongga menyajikan nuansa berpetualangan yang mungkin tidak ditemukan di Gunung-gunung lain di Indonesia.
Puncak Mosero Sero, Gunung Mekongga, Sabtu 24 Januari 2026

Pegunungan Mekongga berada di Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Utara, puncaknya sendiri berada di Kab. Kolaka Utara. Pegunungan Mekongga merupakan tipe pegunungan karst dimana 70 % dari kawasannya merupakan hamparan batuan kapur, gamping dan kalsit, maka tidak heran pegunungan ini terdapat banyak goa dan tebing sehingga ekositem serta flora dan faunanya memeliki keanekaragaman yang khas dan telah diakui oleh banyak kalangan dari dalam dan luar negeri.

Bagi saya pribadi, Pendakian ini merupakan yang Ke-17 kalinya saya berada di Puncak Gunung Mekongga. Rasa Syukur tak terhingga kepada Allah SWT yang masih mengizinkan saya untuk kembali ke tempat ini. Insya Allah di lain waktu saya akan berkunjung kembali ke tempat yang mengagumkan ini.

Diperjalanan kali ini, kami mencatatkan sebuah rekor baru, dimana dua Pendaki Wanita pertama atas nama Nur Resky Aprianti Pagala dan Nurtina Saputri yang berhasil membuat catatan perjalanan dari Pos 6 - Puncak - Pos 6 dalam waktu 12 Jam. Catatan itu bukan untuk mencari pembanding, tapi hanya sekedar sugesti bahwa semua bisa terjadi jika Allah menghendaki. Amin Ya Rabbal Alamin.

Itulah sedikit cerita dari pendakian kami di Gunung Mekongga, 21 s.d 26 Januari 2026, Pencinta Alam Konawe, Kolaka da Kendari. Semoga ini bisa menjadi informasi dan petunjuk bagi kita semua. Salam Lestari..!!!

Penulis : Muhammad Dagri Nizar

No comments:

Post a Comment

Flag Counter