Home » » Expedisi 4 Puncak "Gunung Semeru"

Expedisi 4 Puncak "Gunung Semeru"

Expedisi 4 Puncak 
"NTB, Bali, Jawa Timur"
Gunung Semeru 3676 MDPL
12 s/d 16 Juli 2010,
Lumajang, Jawa Timur

Setelah menyelesaikan pendakian di Gunung Agung, beberapa hari kemudian secara kebetulan teman-teman saya di Denpasar berencana untuk mendaki ke Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur sehingga saya pun melakukan persiapan untuk mengikuti pendakian tersebut. Perjalanan dimulai dari Terminal Ubung, Kota Denpasar ke Kota Gilimanuk tepatnya di Pelabuhan Ferry. Jam 11 malam bis yang kami tumpangi dari Kota Denpasar melaju kencang ke Kota Gilimanuk, perjalanan melewati beberapa kabupaten di Prov. Bali dimana tampak keramaian dan kesibukan yang tidak pernah surut walau sudah menjelang pagi. Jam 4 dini hari Bis pun tiba di Pelabuhan Ferry Gilimanuk dan kami pun langsung membeli tiket ferry untuk menyebrang ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Ongkos untuk menyebrang sangatlah murah, hanya Rp. 1500/orang karena jarak tempuh yang sangat dekat.
Di atas ferry penyebrangan dari Gilimanuk ke Banyuwangi
Pelabuahan Gilimanuk dan Pelabuhan Banyuwangi terletak saling berhadapan meskipun berbeda pulau, kedua pelabuhan ini memiliki peran yang besar dan merupakan urat nadi sarana transportasi yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali, maka tidak heran aktifitas di kedua pelabuhan ini tidak pernah berhenti melayani hilir mudik kendaraan pengangkut barang, penumpang dan kendaraan pribadi apalagi saat musim liburan sekolah dan lebaran. Sesampainya di Pelabuhan Ketapang, kami menuju stasiun kereta api untuk menuju ke Kota Malang. Perjalanan ini menempuh waktu 8 jam dengan melewati 5 kabupaten.


Sekretariat Mapala Kepak Elang STIKI Malang
Sesampainya di Kota Malang, kami langsung menuju ke Sekretariat Mapala Kepak Elang STIKI dengan ditemani 2 orang yang telah menunggu kedatangan kami di Stasiun Kota Malang. Selang beberapa hari, persiapan untuk melakukan pendakian pun dilakukan baik itu mempersiapkan logistik, peralatan dan perlengkapan juga yang terpenting adalah persyaratan administrasi. Salah satu prasyarat untuk mendaki di Gunung Semeru, para pendaki wajib membawa foto kopi Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Pemeriksaan Kesehatan di Puskesmas Tumpang
Selain Foto Copy KTP, persyaratan lain yang dibutuhkan adalah Surat Keterangan Berbadan Sehat dari Dokter. Pemeriksaan kesehatan pun kami lakukan di sebuah Puskesmas di daerah Tumpang. Puskesmas ini sudah direkomendasikan oleh pihak pengelola kawasan sebagai tempat untuk menjalani cek kesehatan. Cek kesehatan dimaksudkan agar memastikan para pendaki dalam kondisi fit atau sehat sebelum memulai pendakian sehingga jika terdapat pendaki yang kondisinya kurang baik maka pihak Puskesmas tidak akan mengeluarkan Surat Berbadan Sehat. Biaya pemeriksaan ini Rp. 5000 / orang

Sebelum berangkat ke Ranu Pani_di Kota Tumpang

Setelah memastikan seluruh perlengkapan sudah terpenuhi termasuk persyaratan administrasi, dari Kota Tumpang kami memulai perjalanan ke Ranu Pani dengan menyewa sebuah kendaraan hartop dengan biaya Rp. 350 ribu. Hartop ini sudah menunggu kami sejak kami star dari Kota Malang menuju Kota Tumpang. Untuk menuju ke Ranupani para pendaki harus menyewa atau mencarter mobil seperti hartop atau truck, ini disebabkan transportasi reguler ke Ranupani belum tersedia atau masih jarang. Kota Tumpang inilah terdapat banyak kendaraan yang siap di sewa menuju Ranupani. Perjalanan ke Ranupani memerlukan waktu 2 Jam dengan melalui jalur tanjakan panjang dan melalui beberapa jalan sempit yang agak rusa dan terkadang berlubang. Setibanya di Ranupani kami langsung menuju ke Basecamp pendaki untuk menginap.

Kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Pagi Harinya, kami mulai mempersiapkan perndakian, sebelumnya kami mendaftar dan mengisi formulir pengunjung serta menyerahkan syarat administrasi berupa fotokopi KTP dan Surat Keterangan Berbadan Sehat dari Dokter yang telah kami lengkapi sebelumnya. Kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan pengelola kawasan ini dimana terdapat beberapa pegawai yang bertugas melayani registrasi para pendaki juga sesekali mereka memberikan arahan kepada para pendaki agar mematuhi segala peraturan yang berlaku selama melakukan pendakian ke Gunung Semeru.

Bersama Pendaki Perancis di Pos Ranu Pani
Pagi itu tampak kesibukan terasa di pos pendaftaran Ranu Pani, selain kami banyak juga para pendaki lain yang juga akan memulai perjalanan hari ini, mereka datang dari berbaagai daerah di Pulau Jawa. Selain itu tampak juga beberapa pendaki dari mancanegara seperti dua orang  wanita dari Perancis yang aku temui di Pos Pendaftaran. Mereka berdua akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru bersama beberapa pendamping untuk melakukan studi. Karena keelokan pemandangannya menjadikan Gunung Semeru menjadi tujuan bagi banyak pendaki lokal dan mancanegara. Ini dibuktikan dengan frekuensi pendakian yang terus menerus dan hampir tak pernah tidak ada pendaki yang silih berganti naik turun ke gunung ini.

Bersiap melakukan pendakian dari Pos Ranu Pani
Di Pos Ranu Pani terdapat beberapa fasilitas yang disediakan pihak pengelola dan masyarakat. Salah satu fasilitas tersebut adalah penginapan sederhana yang gratis namum untuk para pendaki dari mancanegara dikenakan biaya yang tidak terlalu mahal. Kami menginap di salah satu basecamp pendaki yang tidak jauh dari Pos Pendaftaran. Setelah seluruh persiapan telah rampung, kami pun memulai perjalanan.

Menyusuri perkampungan menuju Pos I
Jalur pertama yaitu menyusuri perkampungan masyarakat, di jalur ini diawali dengan jalan aspal beberapa ratus meter lalu mulai memasuki jalan setapak. Di jalur star awal ini banyak dijumpai perkebunan sayur-sayuran dan beberapa petak ladang tradisional. Di kawasan ini memang sangat memungkinkan untuk bercocok tanam karena selain tanahnya subur juga suhu dan iklim sangat mendukung karena kawasan ini berada di kaki gunung. Target pertama adalah Pos 1. Jalur ke Pos 1 cukup landai dan terbuka juga sepanjang jalan setapak yang kami lewati tertutup dengan paving block sehingga memudahkan langkah kami. Sekitar setengah jam kemudian sampailah kami di Pos 1.

Pos 1 dan Pos 2 Jalur Pendakian Gunung Semeru
Pos 1 merupakan sebuah tempat yang cuup sejuk karena berada dibawah kerindangan pohon cemara yang rimbun. Di Pos 1 juga terdapat sebuah shelter semi permanen yang cukup besar dan mampu menampung banyak pendaki yang hendak beristirahat. Dari Pos 1 kami menuju Pos 2, jalur ke Pos 2 biasa disebut Lendengan Dowo, jalurnya sangat landai sehingga pergerakan dapat lebih cepat juga di jalur ini masih dilapisi paving block. Sekitar 20 Menit sampailah kita di Pos 2 yang hampir sama dengan Pos 1 yaitu terdapat sebuah shelter semi permanen. Dari Pos 3, kita sudah dapat melihat dari kejauhan Pos 3 yang letaknya berada lebih tinggi dari Pos 2.

Pos 3 dan Pos 4 Jalur Pendakian Gunung Semeru
Dari Pos 2 perjalanan diteruskan menuju Pos 3 dengan jalur yang sedikit menajak. Dijalur ini pendaki dapat melihat sebuah tebing besar yang biasa disebut Watu Rejeng. Perjalanan ka Pos 3, jalan setapaknya sudah tidak terdapat paving block sehingga terdapat beberapa longsoran kecil yang harus diwaspadai oleh setiap pendaki apalagi saat menyipir disekitar Watu Rejeng yang terkadang batuan kecil sering terlepas dan melintas di jalur pendakian ditambah lagi terdapat sebuah jurang yang berada di jalur ini. Untuk itu para pendaki harus lebih waspada dan berhati-hati saat melintas jalur Watu Rejeng. Sekitar 40 menit sampailah kami di Pos 3 yang juga terdapar sebuah shelter. Dari Pos 3 perjalanan diteruskan ke Pos 4 dengan jalur awal yang cukup berat karena melewati sebuah tanjakan panjang lalu seterusnya tanjakan landai dimana sudah masuk kejalur terbuka. Dipertengahan jalan ke Pos 4, kita sudah dapat melihat Ranu Kombolo yang begitu mempesona. Pos 4 sendiri berada di salah satu sisi Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo, Semeru
Dari Pos 4, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Pos Ranu Kumbolo yang membutuhkan waktu sangat singkat karena letaknya yang sangat berdekatan. Setibanya di Ranu Kumbolo, kami berjumpa dengan puluhan pendaki yang menginap di tempat ini semalam. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa dan luar jawa. Sebagian dari mereka sudah ada yang telah kembali dari Puncak Gunung dan melanjutkan ke Pos Ranu Pani.

Pemandangan Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau kecil yang terletak di tengah jalur pendakian ke Puncak Mahameru dimana seluruh pendaki selalu menyempatkan diri untuk menginap di tempat ini. Kawasan Ranu Kumbolo memiliki areal yang sangat luas untuk mendirikan tenda dan mampu menampung hingga ratusan pendaki. Di tempat ini juga terdapat dua buah shelter permanen yang dibuat oleh pihak pengelola, di shelter tersebut dapat juga dijadikan tempat menginap jika cuaca sangat dingin.


Ranu Kumbolo, Semeru

Di Pos Ranu Kumbolo para pendaki tidak sulit untuk menemukan sumber air, sebab air dari danau ini merupakan sumber air yang aman, tidak seperti di Danau Segara Anakan Rinjani yang airnya tidak dapat dikonsumsi karena mengandung zat belerang.  Ranu Kumbolo merupakan salah satu Icon dari pendakian ke Gunung Semeru, tempat ini menyajikan pemandangan alam serta keelokan panorama yang selalu menjadi daya tarik yang sulit untuk dilupakan.
Tim Pendaki di Pos Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo terletak di atas ketinggian 2000 MDPL dan berada di sisi pegunungan terbuka sehingga kawasan ini sangat terkenal dengan dinginnya bahkan dibeberapa waktu saat suhu dingin mencapai puncaknya, terdapat lapisan es tipis di atas Danau Ranu Kumbolo. Di tempat ini juga kabut tebal silih berganti datang juga tiupan angin yang sering kali berhembus yang terkadang membuat mental para pendaki menjadi drop.

Melewati Tanjakan Cinta


Jalur selanjutnya yaitu melewati sebuah tanjakan terbuka yang sering di sebut Tanjakan Cinta. Makna dari istilah tempat mempunyai filosofi yaitu jika seseorang melewati tanjakan tanpa berhenti sampai di ujung tanjakan maka kisah cinta atau asmaranya akan berjalan mulus, sebaliknya jika melewati tanjakan ini sering berhenti di tengah jalan maka kisah cinta dan asmaranya akan sering mendapat masalah namun filosofi Itu hanya sesuatu yang tidak perlu dimaknai lebih karena hanya sebatas anggapan beberapa orang.

Melewati Jalur "Oro-Oro Ombo"
Sesampainya di ujung tanjakan, jalur selanjutnya adalah melewati hamparan padang rumput yang sangat luas dengan pemandangan yang membuat mata terpukau dan takjub melihat kebesaran ilahi. Para pendaki dimanjakan oleh suasana alam yang membuat perasaan menjadi tenang dan damai. Jalur ini di sebut Oro-Oro Ombo dimana para pendaki harus melewati padang ilalang yang sangat panjang dan juga dikelilingi oleh bukit-bukit ilalang. Sesuatu yang jarang dijumpai di Gunung-gunung lain di Indonesia, Oro-oro ombo melukiskan suatu panorama yang tampat seperti dalam lukisan sehingga pendaki sulit untuk melupakan pengalaman melewati jalur oro-oro ombo.

Pos Cemoro Kandang
Diujung jalur oro-oro ombo terdapat sebuat tempat istirahat yang cukup rindang. Tempat ini merupakan titik batas antara kawasan padang rumput di oro-oro ombo dengan kawasan hutan cemara. Tempat ini merupakan salah satu Pos jalur pendakian Gunung Semeru yang diberi nama Pos Cemoro Kandang.

Pemandangan Jalur "Oro-Oro Ombo" dari Cemoro Kandang
Pos Cemoro Kandang merupakan pintu masuk ke kawasan Hutan Cemara. Dari tempat ini, kami dapat melihat jelas pemandangan padang oro-oro ombo yang sangat memukau, hamparan ilalang yang menyebar luas sampai dibeberapa bukit disekitarnya terkadang juga diselimuti kabut yang menambah indah panorama oro-oro ombo.

Pemandangan "Oro-Oro Ombo"

Kebanyakan pendaki selalu singgah sejenak di Pos ini, baik saat naik atau sudah turun gunung. Di Pos ini tidak terdapat sumber air namun tidak sedikit pendaki yang menghabiskan waktu cukup lama di Pos ini, karena memiliki pemandangan dengan latar yang natural sehingga para penggiat foto banyak menuangkan hoby fotografernya untuk mengambil background di tempat ini.

Melewati Jalur Hutan Cemara
Jalur selanjutnya yaitu melewati tanjakan panjang yang cukup landai dimana hutan cemara menutupi kawasan jalur pendakian ini. Jalurnya cukup terbuka dan hawanya sangat sejuk sehingga kami tidak terlalu kehabisan tenaga meskipun melewati tanjakan yang sangat panjang. Sesekali kami beristirahat dibawah kerindangan pepohonan, menghirup udara pegunungan yang segar dan sejuk sambil menikmati sedikit makanan ringan untuk melepas rasa lapar yang telah dirasakan sejak perjalanan saat melewati oro-oro ombo.

Pemandangan Kubah Mahameru di Pos Jambangan
Sekitar setengah jam kemudian terdapat sebuah Pos yang berada di ujung tanjakan hutan cemara. Tempat ini cukup terbuka dan didominasi oleh tanaman semak dan terdapat beberapa pepohonan. Pos ini dinamakan Pos Jambangan. Pos ini hanya menjadi tempat peristirahatan sementara para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos terakhir.


Pos Jambangan

Dari tempat ini kita sudah dapat melihat kubah Gunung Semeru yang menjulang tinggi dan tandus karena dinominasi oleh hamparan pasir. Jadi sudah bisa kami bayangkan model tanjakan yang akan kami lewati nantinya saat akan menuju Puncak Mahameru.

Pos Kalimati

Perjalanan kemudian agak menurun melewati hutan semak belukar sampai akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang sangat luas menyerupai tanah lapang yang tertutup pasir. Tempat iniliah yang menjadi Pos terakhir pendakian kami. Tempat ini bernama Kalimati, yaitu sebuah hamparan pasir yang datar dan terbuka yang terletak  di kaki kubah Gunung Semeru.

Pos Kalimati

Kalimati menjadi tujuan terakhir bagi kebanyakan para pendaki sebelum menuju Puncak Mahameru. Tempat ini dipilih dikarenakan selain lokasinya yang sangat memungkinkan untuk menampung ratusan pendaki juga tidak jauh dari tempat ini terdapat sumber air yang tidak pernah kering yaitu sebuah air mengalir yang terdapat di sungai yang hampir kering.

Tim Pendaki di Pos Kalimati

Seperti di Pos lainnya, di Pos Kalimati juga terdapat sebuah shelter permanen yang dapat menampung sekitar 3 tenda. Shelter ini biasanya dipergunakan jika kondisi cuaca sangat extreme sehingga para pendaki membutuhkan perlindungan extra selain tenda. Sama seperti para pendaki lain, kami pun segera mendirikan tenda di tempat ini, mempersiapkan logistik untuk makan malam dan tentunya fisik dan mental yang prima karena pada tengah malam nanti, kami akan bergerak menuju Puncak Mahameru (Summit Attack).

Summit Attack menuju Puncak Mahameru
Sekitar pukul 01.00 dini hari, beberapa teman membangunkan yang masih tertidur, kami pun segera bergegas mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke puncak meskipun fisik kami masih terasa lelah dan mengantuk. Satu per satu kelengkapan kami cek seperti headlamp, makanan ringan, air dan yang terpenting adalah kamera. Kami pun mulai menyusuri jalur menuju Puncak Mahameru, jalur pertama di mulai dengan melewati padang rumput berpasir, lalu mulai menanjak memasuki hutan yang sedikit rimbun. Cuaca saat itu sangatlah dingin menusuk meskipun langit tampak cerah. Langkah demi langkah kami tapaki, nafas keletihan terdengar dari masing-masing kami, perlahan tapi pasti kami semakin menambah ketinggian.
Sesekali kami beristirahat, berbaring dan menghangatkan badan dengan sebatang rokok. Perjalanan semakin menanjak dan terlihat hanya beberapa pohon saja yang berada di jalur ini yang menandakan sebentar lagi kami akan memasuki batas vegetasi.

Sunrise di jalur menuju Puncak Mahameru

Dari kejauhan di ufuk timur tampak langit sudah mulai memerah dan semakin menerangi pandangan kami, itu pertanda fajar pagi akan segera menampakkan diri dan semakin lama rasa dingin semakin berkurang sehingga langkah kami dapat semakin dipercepat. Jalur hamparan pasir sudah menanti di depan mata dengan elevasi yang sangat terjal. Perlahan kami menapaki jalur yang cukup menguras kesabaran dan stamina ditambah dengan angin yang langsung bertiup kearah kami tanpa ada lagi pepohonan yang menahan.

Melalui jalur tanjakan pasir

Untuk menuju ke Puncak Mahameru, para pendaki harus melewati jalur berpasir yang sangat panjang dan sangat menanjak ditambah lagi pijakan yang sering membuat langkah semakin lambat. Tantangan terberat mendaki ke Gunung Semeru adalah melewati kubah berpasir yang titik tertingginya adalah Puncak Mahameru. Menurut cerita, dijalur menuju puncak ini sudah banyak memakan korban, baik itu hilang, terperosok, kedinginan yang diantara korbannya ada yang meninggal dunia. Untuk itu sebelum memasuki batas vegetasi para pendaki sebaiknya memperhatikan kembali kondisi fisiknya sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendakian ke Puncak Mahameru.

Melewati tanjakan menuju Puncak Mahameru

Semakin lama sinar mentari pagi semakin menerangi sepanjang mata memandang dan puncak sudah semakin dekat. Langkah pun kami percepat agar dapat tiba di puncak di jam-jam yang aman bagi para pendaki. Kawasan Puncak Mahameru sudah tidak aman apabila para pendaki berada di atasnya di atas jam 9, dikarenakan pada waktu tersebut kawah puncak sudah mengeluarkan gas-gas belerang dan abu-abu vulkanik yang sangat membahayakan bagi para pendaki.

Puncak Mahameru 3676 MDPL

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan 5 Jam dari Pos Kalimati, sampailah kami di Puncak tertinggi Gunung Semeru atau biasa di sebut Mahameru dengan ketinggian 3667 MDPL. Gunung Semeru terletak di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Jalur resmi yang sering digunakan adalah jalur Ranupani yang juga direkomendasikan oleh pihak Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Puncak Mahameru 3676 MDPL

Salah satu daya tarik di Puncak Mahameru adalah melihat langsung letusan kawah yang terjadi setiap 15 menit sekali, karena itu ketika sudah terlihat tanda-tanda akan terjadi letusan, para pendaki pun sudah bersiap didepan kamera untuk mengabadikan momen tersebut. Dahulunya letusan tersebut terjadi setiap 5 menit dengan intensitas material yang padat serta jarak luncuran yang cukup tinggi, namun yang terjadi sekarang intensitas material yang kurang serta jarak luncuran yang sangat dekat.

Puncak Mahameru 3676 MDPL
Sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru memberikan sebuah kharisma tersendiri bagi orang-orang yang telah menapakkan kakinya di Puncaknya. Selain menjadi atap Pulau Jawa, menurut legenda Gunung Semeru juga dijuluki “Puncak Abadi Para Dewa”. Gunung Semeru merupakan salah satu tujuan pendakian yang menjadi primadona bahkan menjadi mimpi oleh para pendaki baik yang belum atau yang sudah pernah mencapai puncaknya.

Puncak Mahameru 3676 MDPL

Gunung semeru sendiri juga menjadi icon wisata Indonesia seperti Halnya Gunung Rinjani di Pulau Lombok, maka tidak heran banyak berbagi iklan televise sering menampilkan panorama Gunung Semeru. Dari Puncak Mahameru, kami dapat melihat dari kejauhan Gunung Bromo, Gunung Kawi, Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Anjosmoro dan beberapa daerah yang tampak kelihatan jauh dari tempat ini.

Puncak Mahameru 3676 MDPL
Puncak Mahameru yang merupakan hamparan pasir yang luas mampu menampung banyak pendaki hingga ratusan, pada momen hari kemerdekaan, setiap tahunnya ratusan pendaki berkumpul ditempat ini untuk mengikuti Upacara Peringatan HUT RI. Tempat ini dipenuhi oleh para pendaki yang datang dari segala penjuru nusantara, bahkan terkadang ada juga beberapa pendaki dari mancanegara yang turut serta.

Plakat In Memorian "Soe Hok Gie" dan "Idhan Lubis"

Di Puncak Mahameru sebuah plakat In Memorian “Soe Hok Gie” dan “Idhan Lubis” yang meninggal dunia saat melakukan pendakian di Gunung ini akhir 1969 silam. Beliau merupakan pelaku sejarah yang menjadi salah satu pelopor pergerakan mahasiswa para masa transisi kepemimpinan di era pemerintahan Presiden Sukarno. Beliau juga yang mempelopori terbentuknya Organisasi Pencinta Alam pertama di Indonesia sehingga berkembang sampai diseluruh Indonesia yang banyak menanamkan makna idealisme seorang petualang. Soe Hok Gie akan menjadi legenda yang tak akan terlupakan, terlebih lagi bagi para petulang se-Indonesia yang mempunyai jiwa pemberani, pantang menyerah dan memiliki kreatifitas.

Pos Arcopodo, Jalur Pendakian Gunung Semeru

Setelah berada di Puncak untuk waktu yang cukup lama, kami pun segera turun kembali ke Pos Kalimati mengingat aktifitas kawah yang diperkirakan akan meningkat di jam-jam kedepan. Kami pun bergegas turun dengan langkah yang sangat mudah mengikuti alur-alur pasir seperti meluncur di salju memakai papan selancar. Kami melewati jalur yang kami lewati semalam dimana banyak pemandangan yang indah yang belum tampak saat perjalanan semalam. Dari Pos Kalimati ke Puncak Mahameru terdapat dua buah Pos yaitu Pos Cemoro Tunggal yang merupakan batas terakhir vegetasi dan Pos Arcopodo yang merupakan tempat terbuka yang terkadang menjadi Pos transit bagi sebagian pendaki sebelum menuju Puncak Mahameru.
Perjalanan ke Gunung Semeru memberikan saya sebuah pengalaman yang luar biasa, sebuah tempat yang sudah lama aku impikan akhirnya menjadi kenyataan saat aku menginjakkan kaki di Puncaknya. Pendakian ke Gunung Semeru merupakan pendakian di gunung yang ke-4 pada misi perjalanan saya mendaki 4 puncak. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kesempatan untuk dapat kembali lagi ke tempat ini di lain waktu. Salam Lestari !!