Showing posts with label Pulau Tomia. Show all posts
Showing posts with label Pulau Tomia. Show all posts

Kampung Bajo, Desa Wisata Lamanggau, Tomia, Wakatobi

KAMPUNG BAJO
DESA WISATA LAMANGGAU
TOMIA, WAKATOBI

Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Sulawesi Tenggara, Pariwisata Kolaka Utara, Pariwisata Bali, Pariwisata Jogja, Pariwisata Lombok, Pariwisata Wakatobi, Kampung Bajo, Wisata Bahari, Terumbu Karang
Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan wilayah yang memiliki potensi kelautan dan perairan yang menjanjikan. 40 % wilayahnya merupakan gugusan kepulauan yang memiliki garis pantai yang jauh serta wilayah perairan yang menyimpan kekayaan bawah laut. Salah satu wilayah kepulauan di Sulawesi Tenggara yang banyak menyita perhatian khalayak yaitu Kepulauan Wakatobi.

Pantai Hundue, Tomia, Wakatobi

PANTAI HUNDUE
TOMIA, WAKATOBI



Tomia, Wakatobi makin tersohor dengan keindahan pesona alamnya yang eksotis dan memukau mata bagi siapa saja yang melihatnya. pesona bawah laut yang sudah tidak diragukan lagi ditambah pesona pantai dan alam pegunungan dan padang savananya mengundang anda para traveller untuk berkunjung dan menikmati keelokan Pulau Tomia, Wakatobi. Keindahan yang akan memanjakan mata dan perasaan anda.
Pulau Tomia menyimpan banyak potensi laut yang sangat direkomendasikan buat anda para penikmat wisata. Pesona Wakatobi dan Pulau Tomia seakan tidak habis-habisnya memunculkan satu persatu keelokannya. Dari ujung timur Pulau Tomia. Terdapat sebuah lokasi wisata pantai yang pastikan akan membuat anda takjub. Namanya Pantai Huntete.
Pantai Huntete, terletak di timur Pulau Tomia. Tepatnya berada di Desa Kulati, Kec. Tomia Timur, Kab. Wakatobi. Pemandangan pantai ini tidak kalah dengan pantai-pantai indah lainnya di Indonesia. Dengan desain pariwisata modern, kawasan Pantai Huntete telah ditata sedemikian rupa oleh Pemerintah dan Masyarakat untuk menjadi destinasi wisata di Pulau Tomia.

Untuk menuju ke areal pantai, dari Desa Kulati terdapat jalur menurun ke pesisir pantai. Desa Kulati berjarak 12 Km dari Kel. Onemay. dan 3 Km dari Kel. Usuku. Areal Pantai Huntete merupakan lokasi yang sangat besar. Luasnya sekitar 20 Ha. Dari perkampungan akan dilalui dengan jalur menurun yang terjal lalu menyusuri jalan setapak landai sekitar 3 Km. Dipertengahan jalan akan ditemukan beberapa petunjuk jalan yang akan mengarahkan anda ke Pantai Huntete dan beberapa spot lainnya seperti Goa dan Tebing. Perjalanan dari Desa Kulati ke Pantai Huntete, anda akan melewati jalan beton yang cukup panjang dan berliku-liku. Setelah melewati pintu gerbang, jalurnya cukup menurun terjal. Anda harus berhati-hati saat melewatinya. Setelah itu perjalanan akan melintasi kebun-kebun masyarakat. Sekitar 15 menit dari Desa Kulati, sampailah anda di bibir Pantai Huntete.
****** Tebing yang mulai banyak dilirik oleh kalangan petualang yaitu Tebing Kuri-Kuri. Tebing ini terletak di tengah jalur menuju Pantai Huntete. Tebing ini berada di tepi daratan yang berbatasan langsung dengan lautan. Sungguh mempesona tampilannya. Deretan tebing batu ini panjangnya sekitar 150 Meter. Didepannya terpampang birunya lalutan dengan variasi warna-warna yang eksotik. Tebing ini menantang para climber untuk menjajalnya. Suatu pengalaman tersendiri menaiki bebatuan dengan latar lautan.

Sesampainya di Pantai Huntete, pemandangan pasir putih yang luas akan tersaji. Bibir pantainya memanjang seakan tak berhujung. Ratusan pohon kelapa berayun-ayun mengikuti arah angin yang berhembus. Desiran ombak saling memburu dan terhempas pasir pantai. Riuh angin silih berganti bertiup mengibas-ngibaskan apa saja yang dilewatinya. Saat ini (2016) kawasan pantai masih dalam proses pengembangan. Sarana dan Prasarana wisata terus dibangun dan dibenahi untuk memberi kenyamanan bagi seluruh pengunjung yang akan menghabiskan waktunya di Pantai Huntete.

Terletak di ujung timur Pulau Tomia, pemandangan Laut Banda yang luas membiru terpampang di depan mata. Pasir putih dan jernihnya air laut siap menyejukkan tubuh anda. Tampat beberapa sampan nelayan sedang menjala ikan dilepas pantai.

Saat ini (2016), belum banyak aktifitas wisatawan yang nampak di tempat ini. Pengunjung pun tidak kurang dari 30 an yang lalu lalang saat itu. Pesona pantai ini masih terus dieksplor dan dipromosikan diseluruh penjuru dunia sebagai salah satu spot wisata di Pulau Tomia. Melihat dari lokasinya, tempat ini memiliki potensi yang menjanjikan. Sudah ada beberapa investor yang siap akan mengembangkan Pantai Huntete. 5-10 tahun kedepan, suasana di tempat ini tidak akan berbeda jauh dengan Pantai Senggigi di Lombok, Pantai Pandawa dan Pantai Sanur di Bali. Geliat Pemerintah dan Masyarakat untuk mempromosikan Pantai Huntete terus dilakukan. Salah satu anugerah alam untuk Pulau Tomia yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kima Purba, Tomia, Wakatobi

KIMA PURBA
TOMIA, WAKATOBI


Kima Purba
Tomia, Wakatobi
 
Kima Purba
Tomia, Wakatobi

Kima Purba
Tomia, Wakatobi
__________________________________________________________________________________
Bagi anda yang berminat untuk berwisata menikmati semua spot wisata di Pulau Tomia,Wakatobi.
LABORE HOMESTAY akan memfasilitasi PENGINAPAN dan TRAVELLING anda.

Tanjung Sangia, Tomia: Menemukan Ujung Negeri yang Mengajarkan Kita Cara Mengagumi Alam

Tanjung Sangia, Tomia: Menemukan Ujung Negeri yang Mengajarkan Kita Cara Mengagumi Alam

#TanjungSangia #Tomia #PulauTomia #Wakatobi #WonderfulWakatobi #ExploreWakatobi #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #ExploreIndonesia #HiddenGemIndonesia #SulawesiTenggara #TravelIndonesia #NatureLovers #OceanLovers #CliffView #LandscapePhotography #CoralTriangle #EcoTravel #AdventureAwaits #VisitWakatobi
Tanjung Sangia, Tomia, Wakatobi

"Tidak semua perjalanan harus berakhir di tempat yang ramai. Ada perjalanan yang justru menemukan maknanya di tempat-tempat sunyi, ketika suara ombak lebih nyaring daripada notifikasi telepon genggam."

Indonesia memang tidak pernah kehabisan kejutan. Ketika banyak orang mengenal Wakatobi sebagai surga bawah laut kelas dunia, ternyata gugusan kepulauan ini masih menyimpan sebuah mahakarya alam yang belum banyak diketahui wisatawan. Namanya Tanjung Sangia, sebuah tanjung megah yang berdiri anggun di Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Jejak Istana Leluhur - Benteng Patua, Tomia, Wakatobi

BENTENG PATUA - TOMIA, WAKATOBI
Benteng Patua merupakan objek wisata sejarah. Tempat ini merupakan situs peninggalan para leluhur saat berjuang melawan perompak yang dahulu berkeliaran di lautan wakatobi. Peninggalan ini berbentuk sebuah kompleks dengan luas sekitar 0,5 Ha. Lokasinya berasa di atas bukit yang berada pada ketinggian 60 Meter dari pemukiman terdekat.
Gerbang Benteng Patua
Menurut keterangan masyarakat yang mengetahui cerita-cerita dibalik pembangunan Benteng Patua, mereka menuturkan bahwa benteng ini adalah sebagai pertahanan terakhir saat menghadapi penjajah dan perompak. Oleh karena itu pola benteng ini didesain untuk mampu menghalau siapapun yang akan masuk menyerang kedalam. Meskipun berada di ketinggian, tetapi untuk memperkokoh pertahanan disekelilingnya diperkuat dengan dinding dari batu karang setinggi 1,5 Meter. Terdapat beberapa meriam pada sisi-sisi yang dianggap rawan diserang musuh.
Benteng Patua, Tomia
Selain sebagai pertahanan terakhir, kompleks benteng ini juga sebagai rumah bagi keluarga para petinggi Benteng Patua. Dari sisa peninggalan yang ada, terlihat dahulunya terdapat juga tempat beristirahat dan juga terdapat sebuah Masjid kecil. Sejak dulu sampai sekarang kompleks benteng ini terus dilestarikan dan dipelihara oleh pemerintah setempat dan masyarakat sekitar.

 Lokasi Benteng Patua

Sejak tahun 2015, kompleks benteng patua sudah berubah 100 % penampilanya. Saat saya berkunjung ditempat ini tahun 2006 silam, akses masuknya harus melewati kebun warga dengan penuh semak-semak, selain itu kami harus melewati jalur miring dengan batu-batu cadas yang tajam sebagai pijakan. Saat berada di dalam kompleksnya serasa sempit karena dipenuhi batuan terhampar dan semak-semak yang tidak beraturan. Saat itu tidak semua kompleks benteng dapat dijangkau karena keterbatasan pergerakan.
Gerbang Benteng Patua
Kondisi saat ini sungguh berubah total. Jika anda pernah berkunjung ke kompleks Candi Mendut di Magelang. Kira-kira hampir seperti itulah kompleks Benteng Patua ini ditata. Saat memasuki kompleks, terdapat sebuah Gate (Pintu Gerbang) besar. Dengan kondisi jalan beraspal mulus, anda akan menanjak memasuki areal parkiran yang cukup luas dan dapat menampung 20 mobil dan puluhan motor. Disekelilingnya terdapat banyak warung dan jajanan khas tomia. Dari areal parkir terdapat sebuah tangga dengan puluhan anak tangga yang akan mengantar anda memasuki pintu gerbang benteng. Meskipun dahulunya bentuk gerbangnya tidak seperti sekarang, namun arsitektur pintu gerbangnya masih mencirikan nilai-nilai budaya buton dan Indonesia yang dipadukan dengan model pintu gerbang pada candi di pulau jawa. Sehingga saat menaikinya seakan kita berada disebuah candi. Bentuk ini dibuat sebagai lambang kemegahan Benteng Patua yang penuh sejarah juga sebagai daya tarik wisatawan saat berada di tempat ini.
Area Parkir Benteng Patua
Setelah melalui beberapa anak tangga, pengunjung akan memasuki area benteng. Terdapat beberapa jalur setapak yang terbuat dari beton. Setapak ini memutari seluruh area benteng dan juga menghubungkan beberapa bangunan sejarah yang masih bisa disaksikan ditempat ini. Saat mulai berkeliling pengunjung akan disuguhkan rimbun dan sejuknya pepohonan. Disisi kanan dan kiri terdapat beberapa makam para leluhur yang dulunya mendiami benteng ini.

Sisa petak-petak tempat istirahat, mosholah dan ruang pertemuan masih bisa kita saksikan disepanjang jalan setapak yang dilewati. Terdapat juga sebuah rumah adat yang sengaja dibuat oleh pengelola yang dijadikan sebagai museum benteng patua. Rumah adat ini melambangkan kebesaran benteng patua dikala itu. Karena sudah tidak ada lagi sisa bangunan yang utuh, rumah adat ini bisa memberikan sedikit gambaran tentang kejadian masa lalu di benteng patua.

Keberadaan benteng patua tentunya bisa memberikan wawasan sejarah tentang masa lalu masyarakat tomia. Perjuangan leluhur orang tomia dan wakatobi dalam mempertahankan tanah kelahirannya dari perompak dan penjajah memberikan banyak motivasi dan inspirasi generasi muda sekarang. Saat belum direnovasi seperti keadaan sekarang, masyarakat desa setempat maupun warga tomia pada umumnya selalu berkunjung ditempat ini guna melihat bukti sejarah perjuangan leluhur dalam mempertahankan Tanah Tomia dari serangan musuh.
Anak Tangga Menuju Benteng Utama
Lokasi benteng patua ini berada di daerah ketinggian sehingga saat berada diatasnya kita dapat melihat lautan lepas dan Pulau Kaledupa yang terlihat dari kejauhan. Desa patua sudah berada pada ketinggian sekitar 100 Meter dpl (diatas permukaan laut), sementara lokasi benteng berada lebih tinggi dari Desa Patua, sehingga ketinggian Benteng Patua sekitar 150 Mdpl. Dari tempat ini pengunjung dapat melihat rumah-rumah penduduk di Desa Patua dari sebelah barat. Ruas-ruas pegunungan Pulau Tomia juga dapat terlihat dari pinggir benteng patua.

Karena letaknya di ketinggian dan karakteristik Pulau Tomia yang didominasi bebatuan karang sehingga hampir disemua ujung benteng berbatasan dengan tebing-tebing batu yang curam. Tingginya rata-rata 40 Meter. Tipe bebatuannya yang keras dan kokoh memungkinkan menopang kompleks benteng patua yang luasnya sekitar 0,6 Ha. Bebatuannya yang tajam dan terjal menjadi penghambat bagi musuh-musuh kala itu yang coba menembus benteng dari arah tebing.

Suasana di kompleks Benteng Patua sangat teduh dan rimbun. Ratusan pepohonan tumbuh rindang di seluruh area kompleks benteng ini. Hampir seluruhnya telah berada sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi saksi perjuangan leluhur orang tomia dalam mempertahankan tanah airnya. Saat ini, dengan melihat situs sejarah di benteng patua, kita mungkin seakan kembali ke masa ratusan tahun yang lalu saat para leluhur mendiami tempat ini. Mereka membentuk sebuah kerajaan kecil dengan seorang pemimpin dan beberapa prajurit. Selain sebagai benteng, didalam kompleks ini juga dulunya terdapat pondok-pondok para pembantu raja. Mereka juga tinggal bersama keluarga dan saudaranya.
Rumah Adat di Dalam Benteng Patua
Konon, ratusan tahun yang lalu, saat penjajah dan perompak masih mengembara di laut wakatobi, posisi tempat ini tidak begitu jauh dari bibir pantai. Para perompak dengan mudah mendekati benteng ini dan tidak terlalu jauh menjangkaunya. Konon, saat itu, permukaan air laut sangat tinggi, sehingga daerah-daerah yang sekarang berada didekat pantai dulunya merupakan lautan. Namun saat ini, permukaan air laut telah turun sehingga membentuk dataran-daratan baru yang dulunya adalah lautan. Kondisi ini bisa dilihat dari adanya fosil-fosil kerang yang menempel di bebatuan dibawah tebing benteng patua yang menandakan dulunya tempat ini adalah tepi laut.

Sebagai situs peninggalan sejarah yang banyak menyimpan cerita-cerita perjuangan leluhur dalam mempertahankan Pulau Tomia, keberadaan Benteng Patua tentu menjadi warisan sejarah yang wajib dijaga dan dipelihara sebagai kekayaan Pulau Tomia untuk setiap generasi. Peninggalan-peninggalan yang masih tersisa terus dilestarikan dan diperjelas maknanya untuk dapat memberikan fakta tentang kejadian masa lalu agar generasi muda Tomia hari ini dan semua orang yang telah berkunjung di benteng ini mengetahui sejarah perjuangan leluhur orang Tomia.

Sebagai situs peninggalan sejarah yang memiliki nilai warisan yang tidak ternilai, pemerintah dan masyarakat telah membenahi seluruh kawasan tempat ini menjadi lokasi peninggalan sejarah yang telah memenuhi standar untuk layak dikunjungi. Berbagai fasilitas telah disediakan oleh pengelola yang akan memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Pemerintah dan masyarakat terus mempromosikan keberadaan Benteng Patua ke seluruh penjuru nusantara dan dunia. Salah satunya melalui ajang Festival Pulau Tomia yang merupakan acara tahunan yang sudah di mulai sejak tahun 2016. Festival Pulau Tomia salah satunya bertujuan untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata di Pulau Tomia yang salah satunya adalah Benteng Patua.

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :

Pantai Nirwana Pantai Kamali Bukit Wantiro
Benteng Keraton Bukit Waru Tomia Ekor Naga Palagimata
Benteng Patua Pantai HuntetePantai Lakota
Goa Tee Wali Pulau Tomia Pantai Hundue

Permandian Alam " Tee Wali " Tomia, Wakatobi

PERMANDIAN ALAM " GOA TEE WALI"
TOMIA, WAKATOBI

Karakteristik Pulau Tomia didominasi oleh bebatuan dan karang. Struktur tanahnya yang berbatu, sebagian besar dari bibir pantai sampai ke puncak bukit. Diperkirakan 80 % struktur Pulau Tomia terbentuk dari Batu dan karang. Bahkan beberapa desa yang terletak dipesisir merupakan pantai karang yang terjal sehingga kompleks pemukiman agak menjauh dari pesisir. Hanya ada beberapa desa saja yang berada tepat dipesisir karena berada diatas pasir pantai yang luas.

Lokasi Goa Tee Wali

Karakteristik bebatuan tersusun dari dasar pulau sampai ke permukaan daratan. Karena bertipe batu cadas memungkinkan terbentuknya rongga-rongga disela-sela bebatuan. Dengan proses selama beratus tahun bahkan beribu tahun lamanya akhirnya terbentuklah ruang-ruang dalam tanah yang sebagian besar dialiri air. Aliran tersebut berasal dari sungai-sungai dalam tanah yang mengalir diseluruh celah-celah dan rongga-rongga di dalam tanah. Rongga tersebut disebut dengan goa. Sebagian Goa tersebut tersembunyi jauh dikedalaman. Dan ada beberapa yang tampak di permukaan bumi.
Goa Tee Wali - Tomia
Salah satunya terdapat di sebelah timur laut pulau tomia. Terdapat sebuah goa dengan permukaan yang sangat besar dan berada di punggungan bukit. Goa ini berbentuk semi vertical dengan kedalaman dari permukaan 20 Meter. Pada dasar goa terdapat air tawar yang jernih. Air ini menutupi dasar goa dengan kedalaman 4 Meter. Ketinggian air dipengaruhi oeh kondisi pasang surut air laut. Kondisi ini dapat diasumsikan bahwa terdapat sebuah saluran alami di bawah goa yang terhubung dengan air laut.
Meskipun terpengaruh oleh keadaan pasang surut air laut namun rasa air ini tidak asin atau tawar. Rasanya seperti halnya air pegunungan ditempat lain sehingga dapat langsung di konsumsi. Keberadaan air di goa ini tidak terpengaruh oleh kondisi musim, Jumlahnya tetap melimpah ruah. Seperti sebuah keajaiban dapat menemukan ribuan liter air tawar yang jernih di kawasan bebatuan yang panas terik menyengat di Pulau Tomia.
Goa Tee Wali - Tomia
Oleh masyarakat sekitar tempat ini dinamakan Tee Wali. Tee berarti Air, Wali merupakan nama Desa tempat Goa ini berada. Dari Ibukota Kecamatan Tomia, Onemay, anda cukup berkendara 20 Menit kearah timur Tomia. Jalur jalannya sedikit berbeda dengan tempat tujuan wisata lainnya. Jalan sebagian besar jalur beton yang sedikit rusak ringan. Setelah berjalan 10 menit anda akan sampai di Desa Wali dan terus mengikuti jalan setapak yang kecil sampai menemukan Goa Tee Wali.
Goa Tee Wali terdapat tepat dipinggir jalan. Jalanannya tidak begitu besar, hanya dapat dilewati motor, namun aktiftas lalu lalang kendaraan tidak pernah berhenti karena jalan ini menghubungkan dua desa yakni Desa Wali dan Desa Kahianga. Saat kami berkunjung di tempat ini (Tahun 2016), proses pembukaan jalan sementara dirintis oleh Pemerintah Kab. Wakatobi sehingga dalam waktu 2-3 tahun kedepan Insya Allah akses kendaraan roda empat sudah dapat terlayani.
Kondisi disekitar goa sangatlah rimbun dan sejuk. Maklumlah keberadaan air di dalam goa sangat menpengaruhi ekosistem sekitar. Sangat berbeda dengan kondisi saat kami berkendara sebelumnya yang disuguhi hawa panasss. Meskipun demikian, bagi anda penggila wisata alam, hawa panas sudah menjadi tantangan tersendiri untuk kesempurnaan cerita petualangan.
Goa Tee Wali - Tomia
Semenjak dahulu, masyarakat Tomia khususnya anak-anak yang berada disekitar tempat ini memanfaatkan air dalam goa ini untuk berenang. Saat belum ada akses jalan setapak, tempat ini seakan berada di tengah hutan belantara yang dianggap jauh sehingga anak-anak tidak akan berlama-lama ditempat ini, ditambah lagi dengan cerita mistik yang terbawa turun termurun tentang “penghuni” tempat ini. Jaman sudah berubah tetapi nilai-nilai budaya dan adat tetap harus dipegang teguh oleh masyarakat lokal dan dihormati oleh masyarakat pendatang. Cerita mitos hanya cukup menjadi dongeng saja.

Saat ini kondisi Goa Tee Wali sudah berubah. Lokasinya sudah tidak terasa jauh dari perkampungan. Hanya berjarak 500 Meter dari Desa Wali. Masyarakat setempat hanya cukup berjalan kaki 5 menit untuk sampai di tempat ini. Dengan adanya sumber air tawar di dalam gua, menjadikan masyarakat memanfaatkan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, namun belakangan sudah ada larangan keras bagi masyarakat yang melakukan aktiftas mandi dan mencuci di permukaan air goa. Hal tersebut dapat membuat kemurnian air akan tercemar dan juga akan merusak ornamen dalam goa
Pemerintah Kab. Wakatobi dan masyarakat sudah menata lokasi kawasan goa tee wali. Di depan goa telah di buat sebuah pelataran yang dibeton. Pelataran ini bisa digunakan pengunjung untuk menggelar tikar dan perlengkapan rekreasinya. Di pelataran ini juga cukup untuk menampung puluhan kendaraan roda dua para pengunjung. Untuk menuju ke dalam goa yang memang agak menurun, pengelola telah membuat puluhan anak tangga dan pegangan yang akan memudahkan pengunjung untuk menuju ke dasar goa atau permukaan air.
Goa Tee Wali - Tomia
Saat menuruni anak tangga, perlahan demi perlahan anda akan mulai merasakan suasana dalam goa yang hening, teduh sejuk dan lembab. Udara bersih dan segar akan anda hirup selama anda berada di dasar goa. Dari ujung tangga sampai permukaan air kedalamannya sekitar 15 Meter. Dasar Goa tee wali terdapat air tawar. Luasnya permukaan air ini sekitar 24 M2, dengan kedalaman rata-rata 3 Meter. Aroma dan rasa air ini benar-benar murni air dari dalam tanah yang tidak terkontaminasi oleh air laut, meskipun goa ini terhubung dengan goa laut di bibir pantai.
Sebagai sumber air tawar murni, keberadaan air dalam goa tee wali telah memberikan manfaat bagi masyarakat. Air goa tersebut menjadi bahan konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk memasak, mandi dll. Namun mereka tidak melakukan aktifitas tersebut di dalam atau diseputaran goa. Atas kerjasama seluruh masyarakat, pemerintah dan beberapa lembaga swadaya masyarakat beberapa tahun lalu telah menempatkan sebuah mesin pompa air yang ditempatkan di dekat permukaan air. Mesin tersebut menyalurkan air melalui selang ke beberapa tower air di dusun-dusun sekitar di wilayah Desa Wali dan Desa Kahianga. Namun sebagai bentuk pemanfaatan yang bijaksana, penggunaan air dalam goa tersebut tetap terkontrol dan sesuai kebutuhan. Penggunaan air tidak dieksplorasi secara besar-besaran, mengingat volume air dalam goa harus tetap dalam batas ambang agar keseimbangan dalam goa tetap terjaga.
Goa Tee Wali - Tomia
Bentuk mulut goa sangat luas dengan diameter sekitar 6 Meter dengan bentuk semi vertical. Dinding goa sepenunya basah dan lembab. Terdapat ornament-ornamen yang mengiasi seluruh permukaan dinding goa. Warna kecoklatan mendominasi permukaannya. Banyak tetesan air yang muncul dari langit-langit goa dan membasahi seluruh anak tangga dan lantai. Ini menandakan siklus ekosistem goa tee wali masih sempurna. Tetesan air tersebut berasal dari akar-akar pehononan yang tumbuh diatas kawasan goa. Pepohonan tersebut juga dapat tumbuh karena suplai air yang masih stabil karena hutan disekitar masih terjaga dan terpelihara dengan baik. Kondisi tersebut harus senantiasa diperhatikan oleh masyarakat sekitar agar tidak melakukan aktifitas eksploitasi hutan dalam radius tertentu di sekitar kawasan goa tee wali. Jika ekosistem tidak seimbang, maka akan dapat melumpuhkan siklus air sehingga akhirnya akan berdampak pada mengeringnya air di dasar goa dan menipisnya resapan air pada dinding goa. Kondisi terburuknya yaitu goa tee wali hanya akan menjadi bongkahan batu karang yang kering.
Tee Wali, Tomia
Beberapa tahun belakangan sejak dipolesnya kawasan ini, pengunjung mulai perlahan menyambangi tempat ini. Setiap minggunya sekitar puluhan orang datang berekreasi pada akhir pekan. Mereka biasanya rombongan siswa sekolah yang sedang mengisi liburan. Terkadang diantara pengunjung ada juga yang hanya mengambil gambar atau sampel air. Biasanya mereka adalah peneliti speleologi atau ilmu tentang goa. Wisatawan asing juga kadang tampak di tempat ini. Mereka juga penasaran ingin melihat langsung tampilan goa tee wali yang banyak direkomendasikan di media online untuk dikunjungi.
Goa Tee Wali ini menjadi sebuah asset yang tak ternilai bagi masyarakat Tomia untuk dijaga dan dilestarikan. Kekayaan alam seperti goa tee wali merupakan anugerah Allah untuk Pulau Tomia. Keunikan serta keindahannya menjadi daya tarik dan pesona tersendiri bagi siapa saja yang sudah berkunjung dan menikmati kemurnian airnya. Goa tee wali masih menyimpan banyak rahasia dunia speleologi yang ingin diungkap oleh banyak peneliti. Mereka ingin mengungkap misteri ruang bawah tanah yang menghubungkan goa tee wali dengan laut yang pastinya akan terungkap juga lokasi-lokasi goa bawah tanah lainnya yang masih tersebunyi di Pulau Tomia.

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :

Pantai Nirwana Pantai Kamali Bukit Wantiro
Benteng Keraton Bukit Waru Tomia Ekor Naga Palagimata
Benteng Patua Pantai HuntetePantai Lakota
Goa Tee Wali Pulau Tomia Pantai Hundue

Nyanyian Nyiur di Beranda Tomia - Pantai Lakota, Wakatobi

PANTAI LAKOTA
TOMIA, WAKATOBI
Perjalanan mengelilingi tomia berakhir pada sebuah wilayah bernama Onemay. Kawasan padat penduduk ini terletak di pinggir pantai berpasir yang sangat luas. Onemay merupakan pemukiman yang telah lama didiami oleh masyarakat pesisir maupun yang berasal dari kawasan perbukitan. Berada di Onemay serasa berada di kompleks perumahan yang dipenuhi ratusan rumah. Jalanannya tertata rapi dengan petak-petak simpangan empat yang mengatur deretan rumah-rumah penduduk. Dari bibir pantai sampai ujung kampung rumah-rumah berbanjar rapi mengikuti alur jalan dari timur ke barat. 

Lokasi Pantai Lakota

Sejak dulu Onemay dikenal sebagai kampung teduh. Kearifan lokal yang sudah membudaya turun termurun memberi kesan bagi siapa saja yang pernah menghabiskan hari-harinya disini. Posisinya yang berada di pinggir laut menjadikan angin sepoi-sepoi senantiasa berhembus mengibas-ngibaskan dahan nyiur yang berbaris disepanjang bibir pantai. Hempasan ombak saling memburu dan memburu lalu pecah saat menghantam kokohnya beton dermaga.
Onemay, Tomia Wakatobi
Saat mulai sore, muda-mudi, anak-anak bahkan orang tua sudah mulai berkumpul dipelataran bibir pantai di ujung paling barat onemay. Pantai Lakota namanya. Terletak tepat di ujung pesisir barat Onemay, tempat ini disulap menjadi arena berkumpul masyarakat tomia. Dahulu tempat ini hanya pantai biasa dengan hamparan pasir putih dan desiran ombak. Namun sekarang semuanya berubah berkat pembangunan wakatobi sebagai daerah tujuan wisata. Saat ini, telah dibangun sebuah pelataran dengan desain dan konstruksi masa kini. Dengan berlatar lautan dan suasana pesisir, Pantai Lakota telah menjadi spot wisata primadona. Tempat ini hampir tidak pernah sepi pengunjung. Karena letaknya dekat dengan pemukiman sehingga memungkinkan untuk diakses kapan saja bagi pengunjung. Saat menjelang sore puluhan warung makan, gorengan dan jajanan mulai beraktiftas. Mereka berbaris teratur di pinggir jalan yang tepat berhadapan dengan pelataran Pantai Lakota.
Pantai Lakota, Tomia
Spot utama untuk berpose di tempat ini yaitu dengan latar pilar-pilar yang membentuk tulisan “PANTAI LAKOTA”. Seperti halnya di Bukit Warru yang terdapan tulisan “TOMIA”, tulisan ini menjadi lambang dan spot utama saat berpose. Suasana sore menjelang malam merupakan saat yang paling romantic. Saat lampu-lampu jalan mulai satu per satu berpijar. Saat warung-warung tenda menghidupkan penerangannya. Disaat bersamaan pula saat senja telah tiba. Saat itulah puluhan sampai ratusan orang berkumpul menghabiskan waktu bersama kekasih, teman, keluarga, dll.
Pantai Lakota, Tomia
Selain kompleks Pantai Lakota, perubahan lain yang terlihat adalah pembangunan infrastruktur jalan di sekitar Pantai Lakota. Untuk memudahkan akses kendaraan dari wilayah barat ke wilayah Onemay maka di bangunlah jalan baru yang memotong tebing. Jalan baru tersebut dimaksudkan untuk mengatur arah lalu lintas kendaraan dari arah barat yang merupakan tanjakan agar tidak bersinggungan dengan kendaraan yang akan menanjak ke atas dari wilayah Onemay ke arah barat pulau tomia. Penataan jalur lalu lintas tersebut sudah menjadikan kawasan Pantai Lakota semakin tertata rapi layaknya penataan kawasan pantai di kota-kota besar.
Simpang Lima, Tomia, Wakatobi

Di ujung tanjakan sebelah barat terdapat titik pertemuan dari lima jalur jalan yang ditandai dengan sebuah tugu kecil. Simpangan ini dinamakan “Simpang Lima Tomia”. Secara kebetulan memang ada lima jalur jalan yang bertemu di titik ini sehingga diberi nama tersebut. Tapi jika ada yang menghubung-hubungkan penamaan tersebut dengan nama “Simpang Lima” yang berada di Kota Semarang Jawa Tengah, boleh-boleh saja..!!. Lima jalur yang bertemu di Simpang Lima Tomia berasal dari beberapa arah antara lain, Tomia Timur, Onemay, Dermaga batu dan tangga timur Onemay. Keberadaan Simpang Lima tomia seakan menjadi simbol selamat datang kepada siapapun yang akan memasuki wilayah Onemay. Saat berada di Tugu Simpang Lima Tomia, terlihat jelas Pantai Lakota, Kawasan pesisir pantai Onemay serta birunya lautan yang dihiasi beberapa perahu nelayan.
Pelataran Pantai Lakota, Tomia, Wakatobi
Pantai Lakota menjadi kebanggaan sendiri bagi Masyarakat Tomia. Tempat ini seakan menjadi ikon yang menjadi alun-alun masyarakat Tomia untuk berkumpul dan menghabiskan waktu sore sampai senja bahkan sampai malam hari. Pantai Lakota telah memberikan gairah dan kebanggaan masyarakat Tomia baik yang berada disana maupun yang diperantauan. Masyarakat telah berkomitmen untuk menjaga kawasan Pantai Lakota untuk tetap bersih, asri, rapi dan nyaman.

Penulis : Muhammad Dagri Nizar

Tirai Kapas Tersapu Gulungan Ombak - Pantai Huntete, Tomia Wakatobi

PANTAI HUNTETE - TOMIA, WAKATOBI

Tomia, Wakatobi makin tersohor dengan keindahan pesona alamnya yang eksotis dan memukau mata bagi siapa saja yang melihatnya. pesona bawah laut yang sudah tidak diragukan lagi ditambah pesona pantai dan alam pegunungan dan padang savananya mengundang anda para traveller untuk berkunjung dan menikmati keelokan Pulau Tomia, Wakatobi. Keindahan yang akan memanjakan mata dan perasaan anda.

 Lokasi Pantai Huntete

Pulau Tomia menyimpan banyak potensi laut yang sangat direkomendasikan buat anda para penikmat wisata. Pesona Wakatobi dan Pulau Tomia seakan tidak habis-habisnya memunculkan satu persatu keelokannya. Dari ujung timur Pulau Tomia. Terdapat sebuah lokasi wisata pantai yang pastikan akan membuat anda takjub. Namanya Pantai Huntete.
Pantai Huntete, Tomia
Pantai Huntete, terletak di timur Pulau Tomia. Tepatnya berada di Desa Kulati, Kec. Tomia Timur, Kab. Wakatobi. Pemandangan pantai ini tidak kalah dengan pantai-pantai indah lainnya di Indonesia. Dengan desain pariwisata modern, kawasan Pantai Huntete telah ditata sedemikian rupa oleh Pemerintah dan Masyarakat untuk menjadi destinasi wisata di Pulau Tomia.
Tomia, Wakatobi
Jalan menuju Pantai Huntete, Tomia
Untuk menuju ke areal pantai, dari Desa Kulati terdapat jalur menurun ke pesisir pantai. Desa Kulati berjarak 12 Km dari Kel. Onemay. dan 3 Km dari Kel. Usuku. Areal Pantai Huntete merupakan lokasi yang sangat besar. Luasnya sekitar 20 Ha. Dari perkampungan akan dilalui dengan jalur menurun yang terjal lalu menyusuri jalan setapak landai sekitar 3 Km. Dipertengahan jalan akan ditemukan beberapa petunjuk jalan yang akan mengarahkan anda ke Pantai Huntete dan beberapa spot lainnya seperti Goa dan Tebing. Perjalanan dari Desa Kulati ke Pantai Huntete, anda akan melewati jalan beton yang cukup panjang dan berliku-liku. Setelah melewati pintu gerbang, jalurnya cukup menurun terjal. Anda harus berhati-hati saat melewatinya. Setelah itu perjalanan akan melintasi kebun-kebun masyarakat. Sekitar 15 menit dari Desa Kulati, sampailah anda di bibir Pantai Huntete.
******
Tebing yang mulai banyak dilirik oleh kalangan petualang yaitu Tebing Kuri-Kuri. Tebing ini terletak di tengah jalur menuju Pantai Huntete. Tebing ini berada di tepi daratan yang berbatasan langsung dengan lautan. Sungguh mempesona tampilannya. Deretan tebing batu ini panjangnya sekitar 150 Meter. Didepannya terpampang birunya lalutan dengan variasi warna-warna yang eksotik. Tebing ini menantang para climber untuk menjajalnya. Suatu pengalaman tersendiri menaiki bebatuan dengan latar lautan.
Pantai Huntete, Tomia
Sesampainya di Pantai Huntete, pemandangan pasir putih yang luas akan tersaji. Bibir pantainya memanjang seakan tak berhujung. Ratusan pohon kelapa berayun-ayun mengikuti arah angin yang berhembus. Desiran ombak saling memburu dan terhempas pasir pantai. Riuh angin silih berganti bertiup mengibas-ngibaskan apa saja yang dilewatinya. Saat ini (2016) kawasan pantai masih dalam proses pengembangan. Sarana dan Prasarana wisata terus dibangun dan dibenahi untuk memberi kenyamanan bagi seluruh pengunjung yang akan menghabiskan waktunya di Pantai Huntete.

Terletak di ujung timur Pulau Tomia, pemandangan Laut Banda yang luas membiru terpampang di depan mata. Pasir putih dan jernihnya air laut siap menyejukkan tubuh anda. Tampat beberapa sampan nelayan sedang menjala ikan dilepas pantai.

Pantai Huntete, Tomia, Wakatobi
Saat ini (2016), belum banyak aktifitas wisatawan yang nampak di tempat ini. Pengunjung pun tidak kurang dari 30 an yang lalu lalang saat itu. Pesona pantai ini masih terus dieksplor dan dipromosikan diseluruh penjuru dunia sebagai salah satu spot wisata di Pulau Tomia. Melihat dari lokasinya, tempat ini memiliki potensi yang menjanjikan. Sudah ada beberapa investor yang siap akan mengembangkan Pantai Huntete. 5-10 tahun kedepan, suasana di tempat ini tidak akan berbeda jauh dengan Pantai Senggigi di Lombok, Pantai Pandawa dan Pantai Sanur di Bali. Geliat Pemerintah dan Masyarakat untuk mempromosikan Pantai Huntete terus dilakukan. Salah satu anugerah alam untuk Pulau Tomia yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :

Pantai Nirwana Pantai Kamali Bukit Wantiro
Benteng Keraton Bukit Waru Tomia Ekor Naga Palagimata
Benteng Patua Pantai HuntetePantai Lakota
Goa Tee Wali Pulau Tomia Pantai Hundue