Showing posts with label Taman Nasional di Maluku & Papua. Show all posts
Showing posts with label Taman Nasional di Maluku & Papua. Show all posts

Taman Nasional Wasur

Taman Nasional Wasur

Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor :  282 / Kpts-II/1997
Tanggal 23 Mei 1997

Luas  : ±  413.810 Ha   

Letak :
Propinsi Papua Kabupaten  Merauke dan Kecamatan  Merauke.

Koordinat :
140° 29' - 141° 00' BT dan   
08° 04' - 09° 07' LS.


Umum

Taman Nasional Wasur berada  di bagian tenggara Pulau Papua. Wasur sebenarnya nama salah satu desa yang berada di dalam taman nasional, yang berasal dari kata Waisol, yang dalam bahasa Marori berarti kebun. Kawasan taman nasional Wasur sebagian besar tergenang air selama 4 - 6 bulan dalam setahun, dan merupakan perwakilan lahan basah yang paling luas di Papua.

Lahan basah di kawasan ini memegang peranan yang sangat penting, terutama sebagai habitat burung migran. Siklus airnya merupakan pemelihara keseimbangan dan integritas habitat. Pada musim kering, airnya surut membentuk rawa-rawa permanen yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh parit-parit yang mengalirkan airnya ke laut. Rawa-rawa disini merupakan pendukung kehidupan makhluk hidup yang hidup di kawasan ini.

Sejarah Kawasan
1. Tahun 1978, Suaka Margasatwa Wasur ditunjuk dengan luas 206.000 ha dan
    Cagar Alam Rawa Biru dengan luas 4.000 ha.
2. Tahun 1990 Menteri Kehutanan menyatakan Suaka Margasatwa Wasur seluas
    409.810 ha. dan Cagar Alam Rawa Biru seluas 4.000 ha. sebagai taman
    nasional.
3. Penunjukan Taman Nasional Wasur sendiri baru dilakukan Menteri Kehutanan
    pada tahun 1997 dengan luas 413.810 ha., melalui perubahan fungsi Suaka
    Margasatwa Wasur seluas 409.810 ha dan Cagar Alam Rawa Biru seluas
    4.000 ha.

Fisik

Geologi  dan Tanah   
Kawasan Taman Nasional Wasur berada pada dataran yang datar sampai bergelombang yang berasal dari dataran aluvial pleistosen tua (plato oriomo). Kawasan ini memiliki sedimen berlapis dengan batuan dasar kristalin. Sedimen aluvial ini diperoleh dari erosi daerah dataran tinggi pada periode kuarter.   
Secara umum jenis tanah di kawasan Taman Nasional Wasur adalah aluvial dan jenis lain yang merupakan hasil proses hidromorfik. Jenis tanah ini bertekstur halus, berlempung kuat dan lebih sering berada dibawah air pada musim hujan.  

Di daerah dekat pasang surut pantai dan sungai, tanah menjadi lebih alkalin, namun semakin ke arah darat cenderung memiliki peningkatan kadar asam.  Tanah di Desa Wasur dan Rawa Biru secara umum adalah gleisol yang dibentuk oleh tanah yang sangat muda dan berada diatas deposit aluvium yang masih baru.

Jenis tanah kambisol dan podsolik tersebar luas didaerah savana Nauclea-Baringtonia-Livistonia yang dicirikan oleh keberadaan sejumlah besar sarang-sarang rayap. Honison argilik yang berasosiasi terhadap impermeabilitasnya, meningkat pada saat banjir dimusim hujan, sedangkan pada musim kemarau akan semakin menurun dengan naiknya tanah pada lapisan kapiler sehingga mengakibatkan peningkatan kekeringan lapisan tanah bagian atas.   

Topografi  
Secara umum Kawasan Taman Nasional Wasur dibagi menjadi dua daerah geografis yaitu dataran pantai dan daerah berbukit yang bergelombang (plato) yang terbentang mulai dari pantai laut Arafura ke daerah Utara melalui dataran pantai yang rata dan agak bergelombang (kemiringan lereng kurang lebih 12°), serta dataran yang rata yang terpotong-potong oleh plato yang bergelombang dibagian Utara kawasan. Titik tertinggi terdapat didaerah Waam dengan tinggi hanya 90 meter dpl.    

Iklim  
Secara umum kawasan Taman Nasional Wasur memiliki iklim musiman (monsoon). Iklim tersebut dicirikan oleh dua musim utama, yaitu musim kering yang terjadi pada bulan Juni sampai November/Desember dan musim basah yang terjadi pada bulan Desember sampai Mei.    

Temperatur  bulan kering di kota Merauke dan Sekitarnya berkisar antara   29°C sampai 33°C yang terjadi pada bulan Juni sampai Desember. Sedangkan temperatur bulan basah berkisar antara 22°C sampai 24°C yang terjadi pada bulan Januari sampai Mei.    

Hari hujan rata-rata antara 3,5 hari pada bulan Oktober hingga 17,6 hari pada bulan Januari, hujan maksimum sekitar 6,5 mm pada bulan Agustus hingga 67,7 mm pada bulan Januari. Kelembaban rata-rata antara 76,8 mm pada bulan November hingga 84,2 mm pada bulan Maret.  Curah hujan bervariasi antara 17,1 mm pada bulan Agustus hingga 275,7 mm pada bulan Januari. Kondisi iklim ini dapat memberikan gambaran bagaimana variasi yang cukup besar antara musim kemarau dan musim hujan.

Biotik

Tipe ekosistem yang terdapat di kawasan Taman Nasional wasur adalah sebagai berikut :
1. Ekosistem Rawa berair payau musiman, terdapat di daerah Rawa Taram,     
    Rawa Kitar-Kitar sampai daerah Waam dan Samleber.
2. Ekosistem rawa berair tawar permanen, terdapat di Rawa Biru, Ukra, Maar  dan
    Kankania.
3. Ekosistem pesisir berair tawar, terdapat didaerah Mbo, Okilum, Rawa Pilmul dan
    Rawa Badek.
4. Ekosistem daratan berair tawar, terdapat disepanjang jalan Trans Irian
5. Ekosistem pesisir berair payau, terdapat di Desa Wasur, Rawa Ndalir dan     
    Desa Sota.

Flora
Sekitar 70 persen dari luas kawasan taman nasional berupa vegetasi savana, sedang sisanya berupa vegetasi hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan rawa sagu yang cukup luas. Jenis tumbuhan yang mendominasi hutan di kawasan taman nasional ini antara lain api-api (Avicennia sp.), tancang (Bruguiera sp.), ketapang (Terminalia sp.), dan kayu putih (Melaleuca sp.).  

Di kawasan ini juga dapat dijumpai flora eksotik, seperti:
1. Eceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan pengganggu     
    ekosistem perairan;
2. Kelampis air/putri malu raksasa (Mimossa pigra) merupakan tumbuhan     
    pengganggu ekosistem tepi sungai karena pertumbuhannya telah menutupi
    sebagian besar tepian sungai Maro
3. Krinyuh (Cromolaena odorata) perkembangannya telah menganggu     
    ekosistem terbuka terutama areal bekas peladangan,
4. Semak ekor tikus/jarong (Stachyiarpheta urticaefolia) penyebaranya telah     
    mengokupasi habitat padang rumput didaerah Ukra dan Kankania ;

Tumbuhan lain yang berpotensi mengancam kelestarian flora fauna endemik  antara lain tebu rawa (Hanguana sp), selada air (Pitsia sp), salvima (Salvinia sp), sidagori (Sida acuta) dan tahi ayam (Lantana camara), serta  acasia berduri (Acaccia nilotica).

Fauna
Taman Nasional Wasur memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah. Diperkirakan terdapat sekitar 80 jenis mamalia dan 399 jenis burung, sehingga merupakan wilayah yang paling kaya akan jenis burung di Irian Jaya.

Mamalia; Berdasarkan survey pendahuluan telah teridentifikasi 34 spesies dari 80 species yang diperkirakan ada dan 32 spesies diantaranya adalah satwa endemik Irian Jaya. Mamalia besar asli yang terdapat di kawasan Taman Nasional Wasur adalah tiga marsupial yaitu kanguru lapang (Macropus agilis), kanguru hutan/biasa (Darcopsis veterurn) dan kanguru bus (Thylogale brunii). Marsupial karnivora di dalam kawasan ini adalah musang hutan (Dasyurus spartocus) yang merupakan satwa endemik untuk kawasan Trans-fly. Mamalia lainnya antara lain kuskus berbintik (Spilocuscus maculatus), Petaurus breviceps (diketahui oleh masyarakat setempat sebagai tupai),  Dactylopsa trivirgata semuanya terdapat di sekitar hutan pantai, landak irian bermoncong pendek, tikus berkantung, kucing berkantung, kalong, dan kelelawar

Burung; Taman Nasional Wasur memiliki keanekaragaman burung yang tinggi. Tercatat 403 species dan 74 species diantaranya endemik Irian Jaya dan diperkiraan terdapat 114 species yang dilindungi. Jenis-jenis burung tersebut antara lain burung garuda irian (Aquita gunisyei), cenderawasih (Paradisea apoda novaguineae), kakatua (Cacatua sp), mambruk (Crown pigeons), kasuari (Cassowary), elang (Circus sp), alap-alap (Accipiter sp), Namdur (Ailuroedus sp), tetengket  (Alcedo sp), belibis (Anas sp), dan cangak (Ardea sp).

Taman Nasional Wasur merupakan daerah lahan basah dan merupakan tempat yang sangat penting untuk burung burung air di Indonesia, khususnya burung migran dari Australia dan New Zealand. Oleh karena itu, kawasan itu memiliki arti penting bagi kepentingan internasional sebagai tempat persinggahan ribuan burung migran asal Australia dan Asia. Daerah-daerah yang sering menjadi habitat burung migran adalah padang rumput, savana, danau Rawa Biru dan pantai Ndalir.

Pantai Ndalir sering dihadiri sekelompok burung pantai migran setiap tahunnya selama bulan Agustus sampai September seperti misalnya, burung red-necked stint, terek, great knot and greater serta lesser sandplover.

Koloni ibis, egreta dan tiga koloni besar dari burung kapal selam (cormorant) sering menempati padang rumput rawa dekat Ukra, Rawa Biru, Mblatar dan Upaimbar. Sejumlah burung air seperti bangau abu-abu/Ndarau (Cranes Trans-Fly), pelikan, ibis (straw-necked, Glossy dan White), Boha (Magpie Geese) melakukan perkawinan di kawasan Taman Nasional Wasur. Burung pantai (Plovers, Australian Pratincole), gajahan keciI/little curlew (Numenius rninutus) dan paruh sendok (Royal Spoonhills) semuanya merupakan burung migran yang mempunyai peranan penting dalam ekologo kawasan ini.

Pada daerah sungai Fly di bagian Utara kawasan, sering dijumpai sejumlah burung-burung Australia seperti elang (Wedge-tailed Eagle). kasuari lapang (Australian Bustard), bangau abu-abu/Ndarau (BroIga), Grey crowned Babbler dan Blue-winged Kookaburra.

Pada kawasan ini juga terdapat 5 (lima) species burung endemik di kawasan Trans-Fly yaitu Megalurus albolimbatus (Fly-River Warbler), Lonchura (emprit) 2 species, Alcedo pusilla pusilla (Little Paradise Kingfisher) dan Dacelo tyro archboldi (Spangled Kookaburra). Burung-burung tersebut biasanya muncul di kawasan padang rumput di sekitar Rawa Biru.

Reptil; Berdasarkan survey pendahuluan telah tercatat 21 jenis reptil, yaitu 2 jenis buaya (Crocodylus prosus dan Crocodylus novaguineae), 3 jenis biawak (Varanus sp), 4 jenis kura-kura, 5 jenis kadal (Mabouya sp), 8 jenis ular (Candoidae, Liasis, Phyton) dan 1 jenis bunglon (Calotus jutatas). Sedangkan jenis katak yang tercatat hanya 3 jenis yaitu katak pohon (Hylla crureelea), katak pohon irian (Litoria infrafrenata) dan katak hijau (Rana macrodon).

Sangat sedikit informasi yang diketahui dari jenis reptil termasuk buaya, ular, biawak dan kura-kura. Secara umum buaya muara Crocodylus porosus dan buaya air tawar Crocodylus novaguineae dapat ditemukan di sungai dan laguna dalam kawasan. Buaya muara telah jarang dijumpai, kecuali di muara sungai torasi. Hasil survey tahun 1997 di Danau Rawa Biru dan Rawa Ukra, Rawa Pemul, dan sungai Maro, jumlah individu yang  tercatat berturut-turut  32, 10 dan kurang dari 10 ekor.

Kura-kura leher panjang Irian (Chelodina novaeguineae) dan kura-kura dada merah (Emydura subglobosa) hidup di daerah rawa dan danau dan biawak besar (Varanus sp) ditemukan di kawasan Trans-Fly.

Ikan; Kawasan Taman Nasional Wasur merupakan lahan basah yang luas, dimana banyak kehidupan aquatik yang menjadi komponen penting bagi keanekaragaman hayati dalam kawasan. Pada kawasan ini terdapat 39 jenis ikan dari 72 jenis yang diperkirakan ada, dan 32 jenis diantaranya terdapat di danau Rawa Biru dan 7 jenis terdapat di sungai Maro.

Banyak spesies ikan yang unik di kawasan ini seperti misalnya Scleropages jardinii, Cochlefelis, Doiichthys, Nedystoma, Tetranesodon, Iriatherina dan Kiunga. Selain itu juga terdapat jenis-jenis ikan lain seperti Oxyeleotris firnbriata, Glassornia aprian, Ambassis, dan Arius, serta ikan kakap (Lates calcarifer) yang memiliki arti penting bagi perekonomian penduduk sekitar kawasan.

Serangga; Informasi jenis-jenis serangga dalam kawasan Taman Nasional Wasur masih belum banyak diperoleh, namun telah tercatat sebanyak 48 jenis, diantaranya rayap (Tumulitermis. sp dan Protocapritermis sp), kupu-kupu (Ornithopera priamus), dan semut (Fomicidae, Nyptalidae. Pieridae).

Selain jenis-jenis fauna asli sepenti tersebut di atas, di dalam kawasan Taman Nasional Wasur juga terdapat jenis-jenis eksotik, sepeti sapi (Bos sp), babi (Sus scrofa), rusa (Cervus timorensis). kuda, anjing, kucing, bekicot (Achatina fulica,), keong dan bermacam-macam species ikan seperti betik (Anabas testudineus), gabus (Crassius auratus). mujair (Oreochromis rnossambica), dan tawes (Cyprinus carpio).

Satwa tersebut merupakan hama sebab mereka merusak Iahan, memangsa jenis-jenis asli (seperti memangsa kura-kura air tawar) dan membantu penyebaran serta perkecambahan biji gulma (misaInya biji Starchytarpeta sp)

Fauna eksotik antara lain :
1. Sapi (Bos indicus); keberadaannya di dalam Taman Nasional Wasur terutama di
    sekitar Desa Tomerau. Sistem pengembalaan dengan cara melepas di luar zona
    pemukiman telah memberikan dampak negatif terhadap perlindungan,
    pengawetan dan pelestarian flora fauna endemik, terutama tingkat persaingan
    konsumsi pakan dan air serta  mempercepat penyebaran biji-biji tumbuhan
    eksotik yang mengancam ekosistem taman nasional.
2. Rusa timor (Cervus timorensis); keberadaan dan daerah jelajahnya yang luas
    merupakan pesaing bagi satwa endemik terutama jenis mamalia berkantung
    kangguru/wallaabi, serta kesukaannya terhadap jenis rumput buluh/kasim
    (Phragmites karka) disepanjang sungai dan badan air mengakibatkan ekosistem
    sungai menjadi dangkal sehingga mengurangi debit air.
3. Anjing (Canis fainittaris); hidupnya semi liar dan menjadi hewan carnifora
    pemakan satwa-satwa endemik. Keberadaannya didalam kawasan berasal dari
    para pemburu masyarakat tradisional yang menggunakan anjing sebagai sarana
    bantu berburu. Awalnya anjing-anjing tersebut terpisah dari  kawanannya dan
    akhirnya menjadi hewan yang liar dan buas.

Wisata

Wisata alamnya belum banyak dikembangkan, namun demikian potensi wisata alamnya sangat luar biasa. Bagi para petualang yang menyukai atraksi hidupan liar, inilah surga yang jarang dicari tandingannya.  

Bulan September merupakan peralihan musim basah dan kering dimana pada pagi dan malam hari udaranya sangat dingin. Pada saat itu burung-burung air mulai berdatangan untuk mencari makan dan bermain, dan pohon bangsia di sekitar Yanggadur dan rawa Biru mulai mengeluarkan bunga uniknya yang berwarna kuning.

Pada bulan Oktober dan November yang merupakan puncak musim panas, dimana banyak rawa-rawa menjadi lebih kering, tanah mulai pecah-pecah, dan kebakaran semakin sering, mamalia seperti kangguru, rusa, babi hutan, dan burung bersama-sama mengunjungi rawa-rawa dan sungai-sungai yang masih berair untuk mencari minum dan berkubang. Perilaku satwa-satwa tersebut pada saat minum dan berkubang juga merupakan atraksi yang sangat luar biasa, dan pada saat musim-musim seperti inilah pengunjung akan lebih mudah menemukan satwa-satwa khususnya mamalia besar.

Atraksi burung migran, sarang rayap, berkano, berkuda dan menyaksikan kehidupan masayarakat asli dengan kehidupan tradisionalnya adalah daya tarik lain yang tidak akan habis-habisnya untuk dijelajahi. Salah satu nilai tradisional yang masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat adalah "sasi", yaitu  salah satu kearifan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam, bukan saja dapat  dijadikan bahan kajian dan pembelajaran, tetapi juga sangat potensial untuk dikemas sebagai atraksi yang menarik bagi para wisatawan.

Suku Marin yang merupakan suku asli yang terbesar di lrian Jaya, memiliki budaya dan mitologi adat yang berakar di daerah sekitar desa Kondo. Tempat sakral orang Kanum terdapat di Sota yang merupakan dusun tua masyarakat Kanum. Kegiatan adat masyarakat suku Kanum dipusatkan di daerah dalam kawasan Taman Nasional Wasur, meskipun mereka memiliki tanah tradisional di negara tetangga Papua Nugini. Marori-Men Gey adalah suku yang unik dalam bahasa dan mempunyai tanah adat di sekitar desa Wasur.

Pengetahuan metafisik masyarakat tradisional umumnya merupakan pengetahuan-pengetahuan tradisional yang mendasarkan pada indikator alam. Pengetahuan tersebut dipergunakan untuk menentukan atau memulai suatu kegiatan, seperti berburu dan bercocok tanam.

Cara mencapai lokasi
- Jayapura ke Merauke menggunakan pesawat terbang  dengan waktu perjalanan
   sekitar 1,5 jam, dan
- Merauke ke lokasi sekitar 9 s/d 85 km menggunakan kendaraan roda empat
   dengan waktu tempuh 1 s/d 2 jam.
- Taman Nasional Wasur dibelah jalan Trans Irian yang menghubungkan Jayapura
   dan Merauke.

Pengelolaan

Taman Nasional Wasur dikelola oleh Balai Taman Nasional Wasur, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.   

Alamat  Pengelola  Kantor
Balai Taman Nasional Wasur
Jl. Raya Mandala SPADEM No. 2 Kotak Pos 109, Merauke - Papua,
Telp. 0971 - 322495, Fax.  0971 - 325407
Email  :  tn_wasur@jayapurawasantara.net

Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz

Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor :  154/Kpts-II/1997  
Tanggal 19 Maret 1997

Luas  : ±  2.450.605 Ha  

Letak :
Meliputi 5 Kabupaten, yaitu :
1. Sebelah Timur berbatasan dengan  Kabupaten Asmat, Yahukimo.
2. Barat berbatasan dengan Kabupaten Mimika
3. Utara berbatasan dengan Kabupaten Jayawijaya dan Puncak Jaya.

Koordinat :
136º56' - 139º09' BT dan  
03º41' - 05º30' LS

Umum

Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis.  

Letaknya membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.  

Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat juga beberapa kekhasan dan keunikan, seperti gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang sampai beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.

Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN

Sejarah Kawasan :
1. Tahun 1916, ditetapkan sebagai Monumen Alam Lorentz pada masa
    pemerintahan Belanda.
2. Tahun 1978, oleh Pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai Cagar Alam dengan
    luas 2.150.000 Ha.
3. Tahun 1997, ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai Taman Nasional Lorentz
    dengan luas 2.450.000 hektar.


Fisik

Geologi dan tanah
Bagian Selatan Taman Nasional Lorentz merupakan dataran alluvial pantai yang sangat luas dan bagian tengah pegunungan yang tidak datar merupakan ciri kawasan lorentz. Kawasan ini mempunyai struktur geologi yang kompleks akibat interaksi lempeng Australia dan lempeng Pasifik.

Puncak tertinggi dari jajaran pegunungan dan lereng bagian Selatan terbentuk oleh lempeng campuran yang terdiri atas kerak benua Australia dan bagian bawah Palcozoic dari zaman Tasman Orogen. Keduanya berubah dan tertimbun sedimen pada zaman Holosen. Bagian selatan yang terendam terbentuk oleh batuan alluvium pada zaman Neogen dan Kuarter, sedangkan lereng bagian selatan dan kaki bukitnya dicirikan oleh lapisan tebal dari batuan Silurian atau Devonian hingga Permain, semuanya sedikit banyak mengalami perubahan bentuk. Batu lempung, shale, batu pasir, konglomerat dan batuan vulkanik membentuk endapan ini. Bagian tertinggi dari kawasan pegunungan merupakan lapisan batuan endapan setebal 2.000 meter, yang terdiri dari campuran batu gamping, marl dan batu pasir. Semua endapan ini berada pada daerah pasang surut atau pada lingkungan perairan laut.

Iklim
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson kawasan masuk kedalam tipe iklim A, dengan curah hujan  3.700 - 10.000 mm  pertahun  dan  suhu  berkisar antara 19º-32º C.


Biotik

Flora
Jenis-jenis flora di zona pegunungan, sub-alpin dan alpin telah diteliti dengan sangat rinci di gunung Trikora dan sebagian di gunung Jaya Wijaya menunjukkan endemisme yang tinggi. IUCN (1990) mengkatagorikan Taman Nasional Lorentz sebagai salah satu pusat keanekaragaman flora di Indonesia.

Dalam kawasan Taman Nasional Lorentz sedikitnya terdapat lima zona vegetasi menurut ketinggiannya, yaitu zona dataran rendah, zona pegunungan, zona sub-alpin dan zona nival.

Beberapa zona kemudian dibagi lagi dalam sub zona berdasarkan fisiografis, perubahan fisionomi dan floristik sebagaimana digambarkan sebagai berikut  :

Zona Dataran Rendah
    Sub zona pantai                             0 - 4
    Sub zona rawa pasang surut           0 - 1
    Sub zona jalur meander                  0 - 25
    Sub zona rawa gambut                   3 - 50
    Sub zona lahan aluvial                    50 - 150
    Sub zona lembah aluvial                 25 - 100
    Sub zona teras terpotong                100 - 650

Zona Pegunungan
    Sub zona pegunungan bawah           650 - 1.500
    Sub zona pegunungan tengah          1.500 - 2.800
    Sub zona pegunungan atas              2.800 - 3.200

Zona Sub Alpin
    Sub zona sub alpin bawah                3.200 - 3.650
    Sub zona sub alpin atas                   3.650 - 4.170

Zona Alpin                                         4.170 - 4.585

Zona Nival                                                  >4.585

Zona Dataran Rendah :
Sub-zona pantai (Sistem lahan Putting, 0-4 m) : Vegetasinya berkisar dari tanaman apung dan tanaman bawah air, hingga rumput rawa, alang-alang, sagu, palem, pandan dan hutan rawa serta hutan bakau.
Sub-zona rawa pasang surut (0-1 m) : Rawa hutan bakau dan nipah yang dipengaruhi pasang surut, Komunitas bakau juga ditemukan di pedalaman sepanjang sungai, jenis Nypa fluticans tumbuh hingga ke pedalaman.
Sub-zona daerah meander (0-25 m): Hutan klimaks campuran.
Sub-zona rara gambut (3-50 m) :Pandan, Carallia, Syzygium dan Campnosperma, Terminalia, Alstonia, Barningtonia, Metroxylon sagu, Diospyros, Pandanis dan Myristica di daerah rawa-rawa.
Sub-zona kipas aluvial (50-150 m) : Annonaceae, yaitu Apocynaceae. Burceraceae, Dipterocarpaceae, Ebenaceae, Vagaceae, Liguminceae, Meliaceae, Moraceae, Myrtaceae dan Sterculiaceae. Species pohon yang khas di tingkat atas adalah Pometia, Alstonia, Ficus dan Terminalia, sedangkan pohon tingkat bawah adalah Garcinia, Diospiros, Myristica, Maniltoa dan Microcos.
Sub-zona lembah aluvial (25-100 m) : Vegetasi ini meliputi jenis vegetasi yang berada sejajar dengan sungai sepanjang garis gradien dari keadaan basah hingga ke keadaan kering.
Sub-zona ketinggian teras terpotong (100-650 m):Tumbuhan sarang semut Myrmecodia dan Lecanopteris myrabilis (satu jenis pakis), tumbuhan kantung karnivora Nephantes spp., Casuarina, Dacrydium, Podocarpus, Tristania, Eugenia, Syzygium. Dacrydium, Podocarpus, Tristania, Eugenia dan Syzygium Pandan pohon dan Freycinetia spp.

Zona Pegunungan (600-2300 m) :
Sub-zona pegunungan bawah (699-1500 m) : Pakis pohon lebih banyak ditemukan di semak dan lapisan pohon bawah, serta perdu seperti Elastosterma, Bogonia dan sejenis Impatiens berbunga jingga merah jambu yang menyolok di lapisan bawah. Hutan ini juga kaya akan spesies dan pohon-pohon Castanopsis dan Lithocarpus dan Sloanea, serta Cryptocarya.
Sub-zona pegunungan tengah : Hutan pegunungan tengah campuran, hutan Captanopsis, hutan Notofagus, hutan Caniferous, hutan rawa pegunungan tengah, rawa rumput sedge, rawa rumput Phragmites pegunungan tengah, padang rumput Miscanthus pegunungan tengah dan rangkaian vegetasi bekas ladang.

Pohon-pohon tudung yang banyak tumbuh berasal dari keluarga Fagaceae, Lauraceae, Cunioneaceae, Elaeocarpaceae, dan Myrtaceae. Tumbuhan bawah pohon meliputi Garcinia, Astronia, Polyosomo, Symlocos, Sericolea, Drymis, Prunus, Pittospermum dan Araliaceae.

Hutan Coniferous terdapat pada ketinggian diatas 2400 m. Konifer genus Podocarpus, Darycarpus, Papuacerdus, Phyllocladus dan Arocaria.

Zona sub-alpin
Zona sub-alpin ditandai dengan adanya hutan-hutan sub-alpin, yang bercampur dengan vegetasi jenis lainnya. Hutan sub-alpin-bawah miskin akan flora. Hutan di zona ini memiliki tudung yang tertutup, dengan ketinggian mencapai 10 hingga 15 m. Beberapa jenis yang dominan antara lain Rapanea sp., Dacrycarpus compactus dan Papuacedrus papuas.

Zona alpin
Zona alpin berada pada ketinggian antara 4.170 dan 458.5 m dpl. Vegetasi alpin meliputi semua komunitas yang tumbuh di atas batas semak tinggi. Vegetasi ini berbentuk padang rumput, kerangas dan tundra.

Padang rumput pendek (Grassberg 4200 m) : Rumput-rumputan yang dominan adalah Agrostis reinwardtii, Deyeeuxia brassi, Anthoxantium angustum, Monostachya oreoboloides, dan Poa callosa. Lantainya diliputi oleh briofita dan licea terutama Rhacomitrium crispulum, Frullania reimersii, Cetraria spp. dan Thamnolia vermicularis. Semak yang paling banyak ditemukan adalah Stphelia suaveolens, Tetraolopium ericoides, dan Rhododendron correoides.

Padang rumput tussock alpin : Deschamsia klosii membentuk padang rumput tussock yang padat di tanah yang terdainase dengan baik dari ketinggian 4000 hingga 4500 m di gunung Jaya. Semak seperti Styphelia suaveolens berada di dalam tussock, bersama dengan berbagai jenis perdu, terutama Papuzilla laeteviridis dan the minute fern Cystopteris sp. Padang rumput tussock alpin yang padat dapat juga merupakan komunitas klimaks kawasan alpin.

Tetramolopium klossi-Kerangas Rhacomitrium :Tetramolopium klossi tumbuh sebagai semak rendah yang menyebar hingga 30 cm, berakar hampir di hamparan lumut Rhacomitrium crispulum, dan Distichum capillaceum, Styphelia siaveolens dan Vaccinium cf. coelorum dengan frekuensi yang naik di daerah morena tua.

Semak kerangas kerdil : Komunitas ini menempati puncak punggung gunung dan lereng di ketinggian lebih dari 4200 m serta di luar kawasan yang dipengaruhi pergerakan es neoglasial. Komunitas ini terdiri dari hamparan semak hingga setebal 20 cm, yang umumnya terdiri dari Stypelia suaveolens, serta Tetramolopium klosii, Tertramopolium pilosovillosum, dan kadang kala Coprosma brassii, serta semak Senecio sp. Deschamsia klossii dan Monostachya oreobolides menempati celah-celah pada kerangas beserta hamparan Geranium, Epilobium detznerianum dan Parahebe wanderwateri yang tersebar dimana-mana.

Tundra alpin kering : Morena yang termuda pada ketinggian 4230 hingga 4600 m telah tersingkap oleh adanya lelehan es yang terus-menerus selama 30 tahun dan ditumbuhi lumut serta beberapa spesies herba yang mampu tumbuh di tanah mineral alkalin.

Tundra alpin basah : Lembah kuning memiliki lantai yang sangat datar dilewati oleh banyak morena rendah. Di belakang morena-morena ini dan di beberapa cukungan cadas, hamparan lumut yang membentang mendukung beberapa spesies herba untuk membentuk suatu komunitas, yang menyerupai tundra lapin basah Gunung Wilhem yang di deskripsikan oleh Wade dan Mac Vean (1969). Lumut utama, Breutelia aristivolia, tumbuh pada danau kapur yang tergenang secara periodik dari morena dasar sekitar. Hamparan kecil Gnaphalium breviscapum, Geranium potentiloides var. alpestre dan Renunculus spp. tumbuh di sana. Rumput Sedges berkisar dari jarang hingga banyak dengan tuft-tuft terbalut Deschampsia klossii yang ada di sana-sini. Komunitas ini muncul pada ketinggian yang relatif rendah, 4500 m, dan dikelilingi oleh kerangas Tertramolopium.

Fauna

Mamalia; Taman Nasional Lorents telah dinilai oleh para ahli mamalogi terkemuka sebagai daerah yang paling penting bagi varietas mamalia di Melanesia. Dari 42 jenis (spesies) yang tercatat selama survei, 10 atau hampir 25 persen, merupakan catatan baru untuk Irian Jaya, sedangkan 2 jenis merupakan spesies baru.
Jenis satwa baru dan langka, yaitu kangguru pohon (Dendrolagus mbaiso), Dendrolagus dorianus, jenis tikus (genus Stenomys), dua spesies tikus raksasa : Mallomys aroaensis dan M. Istapantap. Jenis kelelawar (Syconycteris hobbit), kelelawar jenis (Paranyctimene raptor), Pipistrellus collinus, dan Tadarida kuboriensis. Spesies lainnya, yaitu landak Irian (Zaglossus brujini), tikus (Coccymys rummleri), tikus air (Hydromys habbema), posum kerdil (Cercatus caudatus), tikus (Mellomys mollis), walabi coklat (Docropsis muelleri), kuskus abu (Phalanger gymnotis), kuskus totol (Spilocuscus maculatus) dan posum bergaris (Dactylopsila trivergata).Sejumlah 64 spesies malalia sejauh ini telah diidentifikasikan dan diiperkirakan ada sebanyak 90 hingga 100 spesies mamalia yang mungkin hidup di Taman Nasional Lorents.

Burung; Taman Nasional Lorents meliputi dua Daerah Burung Endemik (DBE) dengan total 45 burung sebaran terbatas dan 9 spesies burung endemik yang dibatasi dibarisan Pegunungan Sudirman dan DBE dataran rendah Irian bagian selatan. Archboldia papuensis, cendrawasih elok (Macgregoria pulchra), ifrita topi-biru (Ifrita kowaldi), pipit ekor-api (Oreostruthus fuliginosus), sesap madu (Eurostopodus archboldi), walet sapi maupun walet gunung (Collocalia esculenta dan C. hirundinacea), mambruk selatan (Goura scheepmakeri), nuri kabare (Pittrichas fulgidus), itik noso (Anas waigiuensis),  dan robin salju (Petroica archboldi).

Amphibi dan Reptil; Jenis-jenis yang dapat dijumpai di kawasan ini Lobula sp., ular sanca boelan (Morelia boelini), kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta), dan buaya (Crocodylus porosus dan C. novaeguineae)

Ikan; Diperkirakan lebih dari 1.000 spesies ikan terdapat di Taman nasional Lorentz, diantaranya yaitu Ikan kaloso atau lebih populer dengan sebutan arwana (Scleropages jardini).

Wisata

Kawasan hutan Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan. Namun demikian, puncak salju abadi merupakan salah satu potensi bagai wisata minat khusus. Puncak ini setiap tahun selalu menjadi ajang uji nyali dan ketanggunan bagi para pendaki gunung.

Disamping keanekaragaman hayati yang tinggi, taman nasional ini didukung oleh keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan di kawasan ini telah berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.

Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.

Perpaduan ketiga hal tersebut di atas, yaitu kekayaan keanekaragaman hayati, gejala alam dan panorama alam, serta budaya masyarakat tradisionalnya yang demikian tinggi merupakan potensi pariwisata yang luar biasa. Beberapa kegiatan wisata yang dapat dikembangkan di kawasan ini, diantaranya pertunjukan khidupan liar, pendakian puncak jaya, dan atraksi budaya.

Cara pencapaian lokasi
Secara umum Taman Nasional Lorentz dapat dicapai melalui beberapa kota, antara lain : Timika (Kab. Mimika), Nabire (Kab. Nabire), Enarotali (Kab. Paniae), Wamena (Kab. Jayawijaya), Meroke (Kab. Meroke), Mulia (Kab. Puncak Jaya). Semua kota-kota tersebur dapat dijangkau dengan transportasi udara dari Biak dan Jayapura dengan waktu tempuh antara 1 - 2 jam.

Pengelolaan

Sampai saat ini belum dibentuk Unit Pelaksana Teknis yang bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan Taman Nasional Lorentz, dan pengelolaannya masih diselenggarakan oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua I, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Alamat Pengelola
Kantor Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua I
Jl. Raya Abepura Kotaraja PO Box 1217 Jayapura 99351, Papua Barat
Telp. (0967) 581596; Fax (0967) 585529

Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
No.472/Kpts-II/1993 Tanggal 2 September 1993
Dasar Penetapan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 8009/Kpts-II/2002
Tanggal 29 Agustus 2002

Luas  : ± 1.453.500 Ha   

Letak :
Provinsi Papua, Kabupaten  Manokwari dan Kabupaten  Paniai/Nabire.

Koordinat :   
01° 43' - 03° 22' LS dan
134° 06' - 135° 10' BT.

Umum

Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan laut (89,8%).   

Potensi karang Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih tercatat 150 jenis dari 15 famili, dan tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil. Persentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30-40% sampai dengan 65,64%.

Selain keanekaragaman hayatinya, kawasan nasional ini juga memiliki potensi budaya masyarakatnya yang masih terjaga dengan baik dan peninggalan sejarah yang sangat luar biasa.


Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1. Melindungi jenis-jenis hewan laut dan darat yang hampir punah atau yang      
    terancam.
2. Memelihara habitat-habitat perairan, pantai dan pulau dalam kawasan ini.
3. Melindungi kawasan-kawasan perairan laut yang memiliki nilai biologis yang
    tinggi atau keindahan yang menonjol.
4. Menjaga pemanfaatan sumberdaya perairan laut dan pantai secara rasional erta
    berkelanjutan untuk kepentingan sekarang dan akan datang.
5. Sebagai suatu obyek penelitian, pendidikan dan rekreasi.
6. Melindungi fungsi daerah aliran sungai di daerah pantai daratan pulau se-     
    hingga dapat mencegah erosi tanah yang dapat menimbulkan kerusakan
    lingkungan hidup di laut, terutama terumbu karang.

Sejarah
1. Tahun 1990, gugus pulau di dalam Teluk Cendrawasih seluas 1.453.500 ha,
    ditunjuk sebagai Cagar Alam Laut Teluk Cendrawasih
2. Tahun 1993, Cagar Alam Laut Cendrawasih  dan daerah sekitarnya dirubah
    fungsi menjadi Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih dengan luas
    1.453.500 ha

Fisik

Jenis tanah
Jenis tanah yang terdapat di kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih selain jenis aluvial, juga jenis tanah kompleks yang mendominasi kawasan dan menyebar di bagian Barat dan Selatan atau daerah-daerah di sepanjang pantai.

Topografi
Bagian darat pada umumnya terdiri dari bukit-bukit dan gunung-gunung dengan ketinggian mencapai 915 m dpl.

Iklim
Curah hujan rata-rata  : 1.295 mm - 3.708 mm
Temperatur Udara       : 21° - 33° C
Kelembaban                : 82 - 83 %
Kecepatan angin          : 3,5 -9,0 knot, (kecepatan angin dapat mencapai                                        
                                    hingga  22 -23 knots)

Musim Angin Barat : September - Maret dengan angin yang kuat dari arah Barat atau Barat Laut disertai hujan lebat, bercuaca buruk, keadaan ombak besar/gelombang tinggi.
Musim Angin Timur : April - Juli dengan angin yang tidak begitu kuat dari arah Timur atau Tenggara, lautan seringkali tenang.
Musim Peralihan : Agustus (Selama bulan ini cuaca sangat tidak menentu).


Biotik

Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua/Irian Jaya. Beberapa pulau dalam kawasan ini  masih memiliki vegetasi yang utuh, sedangkan spesies yang paling dominan adalah jenis Casuarina yang tersebar hampir di setiap pulau. Hutan mangrove tumbuh di sebagian besar garis pantai daratan beberapa pulau besar lainnya; dijumpai 7 jenis pohon mangrove di daerah ini.

Pulau-pulau dalam kawasan ini merupakan habitat yang penting bagi jenis-jenis burung terutama untuk tempat bersarang dan mencari makan. Telah tercatat 37 jenis burung dari 19 famili, ini merupakan sebagian kecil dari jumlah jenis seluruhnya yang ada di dalam kawasan ini.

Potensi karang Teluk Cendrawasih tercatat 150 jenis dari 15 famili, dan tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil. Persentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30-40% sampai dengan 65%. Umumnya, ekosistem terumbu karang terbagi menjadi dua zona yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope). Jenis-jenis karang yang dapat dilihat antara lain koloni karang biru (Heliopora coerulea), karang hitam (Antiphates sp.), famili Faviidae dan Pectiniidae, serta berbagai jenis karang lunak.

Fauna

Mamalia; Mamalia terdapat 7 jenis, diantaranya duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), lumba-lumba, dan hiu sering terlihat di perairan taman nasional ini.

Reptil; Reptil tercatat 6 jenis, dan empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

Ikan; Teluk Cendrawasih terkenal kaya akan jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish.

Moluska dan Krustase; Jenis moluska terdapat 207 jenis dari 60 famili, antara lain keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), kima raksasa (Tridacna gigas), dan ketam kelapa (Birgus latro).

Wisata

Lokasi-lokasi yang dapat dikunjungi, seperti :
1. Pulau Rumberpon (4 jam dari Manokwari);  Pengamatan satwa (burung),
    penangkaran rusa, wisata bahari, menyelam dan snorkeling, kerangka pesawat
    tempur Jepang yang jatuh di laut.
2. Pulau Nusrowi (4 jam dari Manokwari); Menyelam dan snorkeling, wisata
    bahari, pengamatan satwa.
3. Pulau Mioswaar (6 jam dari Manokwari); Sumber air panas, air terjun,
    menyelam dan snorkeling, pengamatan satwa dan wisata budaya.
4. Pulau Yoop dan perairan Windesi (6 jam dari manokwari);  Pengamatan
    ikan paus dan ikan lumba-lumba.
5. Pulau Roon (6 jam dari Manokwari); Pengamatan satwa burung, menyelam
    dan snorkeling, air terjun, goa-goa berisi tengkorak, adat budaya masyarakat
    kampung Yende, Syabes gereja tua yang dibangun jaman zending.
6. Pulau Anggromeos (4 jam dari Nabire); Wisata pantai, flora fauna hutan
    daratan pulau, snorkeling, diving, bird watching, dan fishing.
7. Pulau Nutabari, Kumbur, dan Nuburi (1.5 jam dari Nabire); Wisata pantai,
    snorkeling, diving, bird watching, dan air tawar di laut.
8. Tanjung Manguar (3 jam dari Nabire);Snorkeling, diving, bird watching,
    dan fishing.
9. Pulau Pepaya (2 jam dari Nabire);Snorkeling, diving, bird watching, dan
    fishing.

Di Kawasan ini terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, dan goa dalam air dengan kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.   

Musim kunjungan terbaik : pada bulan Mei sampai  Oktober

Cara mencapai lokasi
Aksesibilitas ke Taman Nasional Teluk  secara umum lancar. Untuk mencapai suatu lokasi umumnya dilakukan melalui transportasi laut dan udara. Sedangkan hubungan antar pulau dapat dilakukan dengan perahu bermotor tempel (jukung) Di Pulau Rumberpon dan Pulau Roon telah dibangun pondok wisata yang dapat digunakan untuk beristirahat atau bermalam.
1. Dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Ujung Pandang, Jayapura, Honolulu dan
    Darwin dapat menggunakan pesawat terbang langsung ke Biak, selanjutnya dari
    Biak menggunakan pesawat terbang  ke Manokwari atau Nabire.
2. Dari Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang dan Jayapura dapat menggunakan kapal
    laut langsung ke Manokwari atau Nabire.
3. Dengan kapal PELNI tujuan Manokwari dan Nabire dengan KM Labobar, KM
    Dorolonda, KM Sinabung, dan KM Nggapulu.
4. Dari Manokwari ke lokasi taman nasional yaitu
    Manokwari - Distrik Ransiki (angkutan umum ± 3 jam) - Pulau Rumberpon
    (longboat ± 2 jam).
    Manokwari - Rumberpon (longboat ± 2 jam)
5. Dari Nabire ke lokasi taman nasional
    Nabire - Distrik Kwatsisore (longboat ± 2.5 jam)
    Nabire - Pulau Pepaya (speedboat ± 2 jam)
    Nabire - Pulau Angromeos (Speedboat ± 3.5 jam)

Pengelolaan

Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih dikelola oleb Balai Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.   

Alamat  Pengelola
Kantor Balai Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih
Jl. Trikora Wosi Kotak Pos 229, Manokwari 98312
Telp. (0986) 212212 Fax No. 214719
E-mail : btntc@manokwari.wasantara.net.id

Taman Nasional Manusela

Taman Nasional Manusela

Dasar Penunjukan :  Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 281/Kpts-VI/1997
Tanggal 14 Oktober 1982

Luas  : ±  189.000 Ha   

Letak :
Provinsi Maluku, Kabupaten  Maluku Tengah,  

Koordinat :
129° 06' - 129° 46' BT dan   
02° 48' - 03° 18' LS.
Umum

Taman Nasional Manusela merupakan perwakilan tipe ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan di Maluku. Tipe vegetasi yang terdapat di taman nasional ini yaitu mangrove, pantai, hutan rawa, tebing sungai, hutan hujan tropika pamah, hutan pegunungan, dan hutan sub-alpin.

Dari segi pelestarian sumber daya alam, kawasan hutan di taman nasional ini mempunyai peranan yang sangat penting, terutama sebagai tempat perlindungan sumber keanekaragaman plasma nutfah di Pulau Seram.   

Sejarah Kawasan
Taman Nasional Manusela dengan luas 189.000 ha merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1997, yang merupakan gabungan Cagar Alam Wai Nua dan Cagar Alam Wai Mual serta tambahan perluasan wilayah perairan.

Fisik

Geologi dan Tanah
Kawasan yang mencakup luas 19% dari areal Pulau Seram ini, terbentuk dari batuan kapur pada jaman Paleozoic dan Mesozoic awal. Pada bagian Utara kawasan merupakan perbukitan landai dan terdapat alluvial yang halus, batuan kapur, dan batuan berpasir.   

Topografi
Kawasan taman nasional berada pada ketinggian 0-3.027 meter di atas permukaan laut. Sebagian wilayahnya bergelombang, berbukit, dan bergunung dengan puncak tertinggi adalah Gunung Binaya (3.027 m dpl).  

Iklim
Iklim di kawasan ini termasuk iklim tropis lembab dan selalu basah.  Temperatur udara 25°-35° C Curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun. Pada bagian Utara (Wahai) musim hujan terjadi pada bulan November sampai Oktober, sedangkan bagian Selatan (Tehoru) terjadi antara bulan Mei sampai Oktober. Hal ini disebabkan karena pengaruh gunung-gunung yang berada di kawasan ini.
 
Biotik

Ekositem
Taman Nasional Manusela merupakan perwakilan tipe ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan di Maluku. Tipe vegetasi yang terdapat di taman nasional ini yaitu mangrove, pantai, hutan rawa, tebing sungai, hutan hujan tropika pamah, hutan pegunungan, dan hutan sub-alpin.
  
Flora

Beberapa jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain tancang (Bruguiera sexangula), bakau (Rhizophora acuminata), api-api (Avicennia sp.), kapur (Dryobalanops sp.), pulai (Alstonia scholaris), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus sp.), meranti (Shorea selanica), benuang (Octomeles sumatrana), matoa/kasai (Pometia pinnata), kayu putih (Melaleuca leucadendron), berbagai jenis anggrek, dan pakis endemik (Chintea binaya).  

Fauna

Mamalia ; Antara lain rusa (Cervus timorensis moluccensis), kuskus (Phalanger orientalis orientalis), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), babi hutan (Sus celebensis), luwak (Pardofelis marmorata), dan duyung (Dugong dugon).

Burung ; Sekitar 117 jenis burung terdapat di Taman Nasional Manusela, dimana 14 jenis diantaranya endemik seperti kesturi ternate (Lorius garrulus), nuri tengkuk ungu/nuri kepala hitam (L. domicella), kakatua Seram (Cacatua moluccensis), raja udang (Halcyon lazuli dan H. sancta), burung madu Seram besar (Philemon subcorniculatus), dan nuri raja/nuri ambon (Alisterus amboinensis).

Burung Kakatua seram merupakan salah satu satwa endemik Pulau Maluku, keberadaannya terancam punah di alam akibat perburuan liar, perusakan dan penyusutan habitatnya.

Reptil ; Kadal panama (Tiliqua gigas), dan penyu hijau (Chelonia mydas),

Berbagai jenis kupu-kupu juga mudah ditemui di kawasan ini.

Wisata

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi :
- Tepi Merkele, Tepi Kabipoto, Wae Kawa; Menjelajahi hutan, panjat tebing,
   pengamatan satwa/tumbuhan.
- Pasahari;  Pengamatan satwa rusa dan burung.
- Wai Isal;  Berkemah, menjelajahi hutan, pengamatan satwa/tumbuhan.
- Pilana; Pengamatan kupu-kupu dan menjelajahi hutan.
- Gunung Binaya;  Pendakian, menjelajahi hutan dan air terjun.


Fasilitas yang tersedia antara lain: Kantor, peralatan menyelam, pondok jaga, pondok kerja, snorkle dan pelampung.

Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Masohi pada bulan November, perlombaan Kora-kora pada bulan April dan Darwin-Ambon International Yacht pada bulan Juli di Ambon.

Desa Manusela, Ilena Maraina, Selumena, dan Kanike, merupakan desa-desa enclave di dalam kawasan Taman Nasional Manusela. Masyarakat desa tersebut telah lama berada di enclave tersebut, dan percaya bahwa gunung-gunung yang berada di taman nasional dapat memberikan semangat dan perlindungan dalam kehidupan mereka. Kepercayaan mereka secara tidak langsung akan membantu menjaga dan melestarikan taman nasional.   

Musim kunjungan terbaik : bulan Mei sampai  Oktober.

Cara pencapaian lokasi :
Untuk mencapai lokasi Taman Nasional ini dapat ditempuh melalui 2 rute perjalanan yaitu :
1. Melalui pantai Utara (Sawai dan Wahai) atau melalui pantai Selatan (Tehoru dan
    Moso). Route dari Moso sangat cocok bagi yang menyukai pendakian,  karena
    kelerengannya sekitar 30%. Dari Ambon ke Masohi dapat menggunakan kapal
    ferry  yang beroperasi setiap hari dengan lama perjalanan sekitar delapan jam.
    Selanjutnya dari Masohi ke  Saka menggunakan  mobil selama sekitar dua jam,
    kemudian ke Wahai menggunakan speed boat selama  dua jam. Atau,
2. Dari Ambon ke Wahai menggunakan kapal laut dengan lama perjalanan     
    sekitar 24 jam (3 x seminggu). Dari Masohi ke Tehoru menggunakan kapal
    motor sekitar sembilan jam, dilanjutkan ke Moso dan Desa Saunulu.

Pengelolaan

Taman Nasional Manusela dikelola oleh Balai Taman Nasional Manusela, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.    

Alamat Pengelola   
Kantor Balai Taman Nasional Manusela
Jln. Imam Bonjol No. 27 A, Kotak Pos 09, Masohi 97511, Maluku Tengah
Telp./Fax : +62-914-22164/22165

Taman Nasional Aketajawe Lalobata

Taman Nasional Aketajawe Lalobata

Dasar Penunjukan :   Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 397/Menhut-II/2004
tanggal 18 Oktober 2004  

Luas  : ± 167.300 Ha        

Letak :
Provinsi Maluku Utara,  Kabupaten Halmahera Tengah,  Kota Tidore Kepulauan dan  Halmahera Timur

Koordinat :
128°12'37" - 129°40'49" BT  
01°27'34" - 00°58'47" LS

Umum

Taman Nasional Aketajawe-Lolobata  merupakan kawasan lindung yang mengkombinasikan  dua kawasan inti yang terpisah (Kelompok Hutan Lindung Aketajawe dan Kelompok Hutan Lolobata ) yang memiliki berbagai rangkaian habitat dan spesies dari unit biogeografi kelompok Halmahera dalam satu unit pengelolaan.

Perlindungan yang diharapkan dari kombinasi dua kawasan ini, yaitu:
- Perlindungan terhadap perwakilan keanekaragaman ekosistem dan rangkaian
  habitat yang lengkap dari dataran rendah sampai pegunungan, yang mencakup
  perwakilan asli dari seluruh jenis habitat darat yang penting  di Pulau
  Halmahera.
- Perlindungan daerah resapan air yang penting bagi kawasan sekitarnya atau
  dibawahnya untuk kebutuhan air masyarakat, pertanian, industri dan lainnya,
  dan
- kawasan ini merupakan pilihan bagi masyarakat hutan Tugutil untuk dapat terus
  menjalankan cara hidup tradisionalnya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
Sejarah Kawasan :
- Tahun 1981, Rencana Konservasi Nasional Indonesia mengusulkan penetapan
  empat kawasan lindung di Halmahera, yaitu Aketajawe, Lolobata, Saketa dan
  Gunung Gamkonora.
- Tahun 1993, Rencana Tindak Keanekaragaman Hayati Indonesia
  merekomendasikan penetapan suatu sistem kawasan lindung terpadu yang
  mencakup seluruh habitat darat Salah satu kawasan yang ditekankan adalah
  Lolobata yang luas seluruhnya mencapai  89.000 ha.
- Tahun 1995, kawasan Aketajawe dan Lolobata serta hampir seluruh hutan-hutan
  yang ada di dalamnya diusulkan menjadi taman nasional.
- Tahun 1999  areal hutan di Provinsi Maluku seluas ± 7.264.707 hektar  ditunjuk
  sebagai kawasan hutan, diantaranya kawasan hutan lindung, hutan  produksi
  terbatas dan hutan produksi tetap  di Kelompok Hutan Aketajawe dan Lolobata,
  Kabupaten Halmahera Tengah, Kota Tidore Kepulauan dan Halmahera Timur.
- Tahun 2004, sebagian kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas dan
  hutan produksi tetap  pada Kelompok Hutan Lindung Aketajawe, seluas ± 77.100
  hektar di Kabupaten Halmahera Tengah dan Kota Tidore Kepulauan dan
  Kelompok Hutan Lolobata seluas ± 90.200 hektar terdiri dari hutan lindung
  seluas ± 76.475 hektar, hutan produksi terbatas seluas ± 7.650 hektar dan
  hutan produksi tetap seluas ± 6.075 hektar di Halmahera Timur, Provinsi Maluku
  Utara (total luas 167.300 ha) dirubah fungsinya menjadi Taman Nasional
  Aketajawe-Lolobata.

Fisik

Geologi dan Tanah
Pulau Halmahera yang merupakan pulau terbesar di Maluku Utara dan kemungkinan yang terbesar di Propinsi Maluku. Pulau ini dibentuk oleh dua pulau yang bertabarakan sekitar satu atau dua juta tahun lalu.

Tipe tanah utama di Lolobata adalah tropopepts dan rendolls. Tipe Tropopepts merupakan tanah yang bermasalah (berhubungan dengan pertanian) di batuan ultrabasa. Sedangkan di Aketajawe tipe tanahnya didominasi oleh halplothox dan tropopept.  Bahan induk penyusunnya berupa aluvium atau hasil endapan, batuan gamping, serta formasi batuan ultrabasa. Secara geologi tanah di Lolobata adalah yang paling beragam.    

Topografi
Sebagaimana Pulau Halmahera, Kawasan taman nasional Aketajawe dan Lolobata memiliki topografi datar, bergelombang, hingga bergunung, tetapi tidak ada satupun gunung yang besar.
        
Iklim
Wilayah Maluku Utara dipengaruhi oleh iklim laut tropis dan iklim musim, oleh karena itu iklimnya sangat dipengaruhi lautan dan bervariasi antara tiap bagian wilayah, yaitu daerah iklim Halmahera Utara, daerah iklim Halmahera Tengah/Barat, daerah iklim Bacan, dan  daerah iklim Kepulauan Sula.

Kawasan Aketajawe dan Lolobata berada pada wilayah iklim Halmahera Tengah/Barat dengan musim hujan pada bulan Oktober-Maret dengan musim pancaroba pada bulan April, dan musim kemarau pada bulan April-September yang diselingi angin Timur dan Pancaroba pada bulan September. Curah hujannya antara 2000-2500 mm per tahun.

Biotik

Tipe vegetasi yang mendominasi Pulau Halmahera adalah hutan hujan, tetapi di semenanjung Selatan lebih banyak terdapat hutan musim (hutan semi selalu hijau). Walaupun keanekaragaman hayati di daerah ini belum banyak diketahui, tetapi diketahui Maluku Bagian Utara ini memiliki 2 (dua) marga tumbuhan berbunga endemik.

Flora

Taman Nasional Aketajawe-Lolobata memiliki tipe hutan hujan dataran re                                                                                                                                             dah dan hutan hujan pegunungan. Kawasan hutan tersebut memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi antara lain berbagai jenis flora seperti damar (Agathis sp.), bintangur (Calophyllum inophyllum), benuang (Octomeles sumatrana), kayu bugis (Koordersiodendron pinnatum), matoa (Pometia pinnata), merbau (Intsia bijuga), kenari (Canarium mehenbethene gaerta) dan nyatoh (Palaquium obtusifolium).

Fauna

Potensi fauna, meliputi :
Mamalia; dari  51 jenis mamalia di Maluku Utara (11 jenis endemik), 28 jenis terdapat di Halmahera (7 jenis endemik) dan 1 jenis adalah endemik Halmahera, yaitu Kuskus (Phalanger sp). Jenis lainnya antara lain babi hutan (Sus scrofa), dan rusa (Cervus timorensis).

Burung; dari 243 jenis burung di Maluku utara (26 jenis endemik), 211 terdapat di Halmahera (24 jenis endemik) dan 4 jenis adalah jenis endemik Halmahera.
Keempat jenis endemik tersebut di atas adalah mandar gendang (Habroptila walacii), cekakak murung (Todiramphus diops), kepudang sungu Halmahera (Coracina parvula), kepudang Halmahera (Oriolus phaeochromus),

Reptil; dari 42 jenis reptil di Maluku utara (7 jenis endemik), 38 terdapat di Halmahera (7 jenis endemik), antara lain katak mulut sempit (Callulops dubia, Caphixalus montanus), biawak air (Hydrosaurus warneri), dan biawak darat (Varanus sp.),

Amfibi; dari 6 jenis di Maluku utara (2 jenis endemik), 6 terdapat di Halmahera (2 jenis endemik) dan 2 jenis adalah jenis endemik Halmahera.

Jenis endemik halmahera, lainnya meliputi belalang (2 jenis), capung (3 jenis), kupu-kupu raja (1 jenis), dan moluska darat (20 jenis. Jenis-jenis tersebut, diantaranya belalang (Cranaekukenthali spp), kupu-kupu raja (Papilio heringi), capung (Selysioneura thalia, Synthemis spp) dan keong darat (Palaeohelicina zoae).

Wisata

Kawasan konservasi ini memiliki lansekap yang luar biasa potensinya untuk menarik wisatawan, seperti panorama alam, air terjun, atraksi kehidupan berbagai burung di habitat aslinya, lokasi  penelitian serta terdapat budaya tradisional masyarakat Tugutil.

Budaya masyarakat Tugutil merupakan daya tarik wisata yang potensial, disamping pengetahuannya dalam pemanfaatan kekayaan tanaman obat.

Bagi para petualang yang cinta keindahan alam, khususnya pecinta burung ini adalah merupakan surga burung yang tidak ada bandinganya dimanapun. Ini adalah tempat empat dari lima spesies burung endemik yang secara global hampir punah, serta tempat jenis burung bernilai ekonomi cukup tinggi, yaitu bidadari Halmahera (Semioptera wallacei) dan kakatua putih (Cacatua alba).

Cara mencapai lokasi:

1. Lokasi Lolobata
    Dari Ternate  menuju Sidangoli menggunakan speed boat (±¾ jam), kemudian
    dilanjutkan dengan kendaraan roda empat (darat) menuju Daru (± 2 jam). Dari
    Daru dilanjutkan dengan kapal laut menuju Poli/Subaim (±1.5 jam).
2. Lokasi Aketajawe
    Dari Ternate  menuju Bastiong menggunakan speed boat (±1/2 jam), kemudian
    dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju Gita (±3 jam). Dari Gita
    dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju Sungai Akejira/Hijrah (±3
    jam).

Pengelolaan

Taman Nasional Aketajawe-Lolobata merupakan taman nasional yang baru ditunjuk, dan belum memiliki unit pengelola, oleh karena itu  pengelolaannya sementara diselenggarakan oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam Maluku, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Alamat Pengelola
Kantor Balai Konsrvasi Sumber Daya Alam Maluku
Jl. Pandan Kesturi, Ambon Telp. (0911) 343619