Taman Nasional Kayan Mentarang

TAMAN NASIONAL KAYAN MENTARANG

Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 631/Kpts-II/1996
Tanggal 7Oktober 1996

Luas : ± 1.360.500 Ha

Letak :
Provinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Bulungan

Koordinat :
01° 59' - 04° 24' LU dan
114° 49' - 116° 16' BT

Umum
Taman Nasional Kayan Mentarang adalah salah satu kawasan lindung terpenting di Asia Tropis dan merupakan salah satu kunci dari sistem kawasan lindung di Indonesia. Luas kawasan, lokasinya yang terletak di titik penting keanekaragaman hayati, tingginya nilai budaya dan peranannya dalam perlindungan daerah aliran sungai, merupakan faktor utama yang memberikan kawasan ini memiliki nilai yang sangat luar biasa. Kawasan hutan ini merupakan kawasan lindung terbesar di antara kawasan sejenis di Indonesia dan Asia Tenggara.
Lokasi Taman Nasional Kayan Mentarang
Taman Nasional Kayan Mentarang, merupakan satu kesatuan kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua yang kondisinya sebagian besar masih dalam keadaan baik. Kawasan ini merupakan pusat utama keanekaragaman hayati dan jenis endemik tumbuhan terbesar di Borneo. Banyak jenis-jenis baru tumbuhan telah ditemukan, dan diduga masih banyak lagi jenis-jenis yang belum dilaporkan sebelumnya terdapat disini.

Sebagian besar wilayah Kayan Mentarang merupakan hulu-hulu sungai utama wilayah Kalimantan Timur, seperti Sungai Kayan, Sesayap, dan Sembakung. Yang merupakan penyangga kehidupan masyarakat di Kalimantan Timur. Kawasan ini juga terdapat wilayah adat, yang dihuni oleh sekitar 16.000 jiwa yang mendiami 50 desa, yang kehidupannya sebagian masih tergantung kepada kawasan hutan ini.

Taman Nasional Kayan Mentarang terletak di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur dan bersama dengan Taman Nasional Betung Kerihun merupakan taman nasional yang berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia dan taman nasional ini ditetapkan sebagai Transfrontier Park dengan Pulong Tau (Malaysia).

Sejarah
- Tahun 1980, Menteri Pertanian menunjuk Kayan Mentarang sebagai Cagar Alam dengan luas 1.360.500 ha.
- Tahun 1996, Menteri Kehutanan merubah fungsinya menjadi Taman Nasional Kayan Mentarang dengan luas 1.360.500 hektar.
Taman Nasional Kayan Mentarang
Fisik
Geologi dan Tanah
Secara geologi wilayah ini belum sepenuhnya terungkap, namun peristiwa-peristiwa berurutan yang kompleks, mulai dari pembentukan dan perusakan lengkungan pulau dan lembah sungai, benturan antar lempengan tektonik dan banyak patahan, batuan terobosan yang disertai aktivitas vulkanik pada masa tersier. Sejarah geologis tersebut bagian dari sejarah Borneo ketika masih menjadi pinggir Timur Paparan Sunda.

Bagian bawah permukaan geologi Timur Laut Kalimantan, diperkirakan merupakan suatu campuran dari tipe-tipe batuan hasil pergeseran lapisan geologis atas dengan lempengan tektonik, karena adanya dorongan bawah dari lempengan tektonik lain.

Eksplorasi terhadap kawasan taman nasional belum dilakukan secara lengkap dan belum dipetakan secara teliti oleh ahli geologi, tetapi tipe-tipe batuan berikut diketahui berada di dalamnya, yaitu : batu pasir, sedimen klastik metamorfose rendah, notably quatzite,graywacke, dan jenis batu yang berasal gunung api, terutama basalt, tuff, dan dolorite. Jenis batuan yang terpenting adalah batu pasir yang merupakan substrat dasar bagi sekitar 25% areal Taman Nasional Kayan Mentarang.

Sumber air asin yang disebut 'sungan' oleh suku Dayak Kenyah adalah bagian umum dan terpenting dari bentuk wilayah geomorfologi. Di daerah Krayan, terdapat satu jenis sumber air asin yang masih digunakan untuk pembuatan garam, dan merupakan bagian penting dari perdagangan masyarakat adat setempat selama paling tidak 200 tahun.

Berdasarkan tipe batuannya, jenis tanah di daerah dataran berbukit non aluvial dan pegunungan di bawah ketinggian 1000-1500 meter dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Batuan endapan merupakan bahan induk yang paling umum, dimana jenis tanah semacam ini mencakup sekitar 75% dari seluruh kawasan taman nasional dan bersifat miskin hara. Di bawah kondisi temperatur tinggi dan curah hujannya, jenis tanah yang paling umum adalah utisol, yaitu tanah-tanah yang tidak subur di atas batu sedimen dan metamorfis. Dataran tinggi Krayan mengandung tanah alluvial yang relatif subur yang merupakan sisa dari danau prasejarah yang telah mengering.

Topografi
Taman nasional ini terletak di punggung pegunungan yang membentang dari Timur Laut ke Barat Laut sepanjang perbatasan Malaysia/Indonesia hingga wilayah Kalimantan Tengah. Bagian rangkaian pegunungan tempat taman nasional berada biasanya disebut sebagai pegunungan Belayan-Kaba. Elevasi daerah-daerah di wilayah ini bervariasi, akan tetapi secara pasti informasi topografi kawasan ini belum ada.

Ketinggian
300-2000 meter di atas permukaan laut.

Iklim
Berdasarkan sistem Koppen, iklim di bagian kawasan taman nasional yang memiliki elevasi lebih rendah diklasifikasikan sebagai tipe A atau iklim tropis hujan tanpa musim kemarau serta suhu tinggi sepanjang tahun. Walaupu tidak terdapat stasiun hujan meteorologi pada daerah yang memiliki elevasi tinggi, tetapi diyakini bahwa daerah tersebut memiliki iklim C atau iklim temperatur hangat dengan hujan tanpa musim kemarau. Wilayah taman nasional secara keseluruhan termasuk tipe A atau agroklimatik paling basah di Indonesia (Oldeman et al., 1980), sehingga kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman pertanian.

Pola curah hujan ditentukan oleh angin musim kering yang datang dari arah Tenggara (bulan Mei-Oktober) dan angin musim hujan dari arah Barat Laut (bulan November-April). Periode paling basah terjadi pada bulan November sampai bulan Februari dan musim paling kering kering terjadi pada bulan Juli- Oktober. Penyebaran curah hujan di taman nasional sangat kompleks. Daerah paling kering terdapat di daerah pedalaman dan lembah-lembah di sepanjang hulu sungai Kayan, dengan jumlah curah hujan kurang dari 2.500 mm per tahun, sedangkan daerah lainnya, curah hujan rata-rata berkisar antara 3.000-4.000 mm per tahun.

Curah hujan pada bulan terkering rata-rata antara 100-300 mm/tahun. Rata-rata penurunan temperatur dari setiap kenaikan ketinggian 1.000 m, adalah sebesar 5°C, setara dengan 10°C dari garis khatulistiwa pada ketinggian air laut.

Hidrologi
Taman nasional ini merupakan daerah tangkapan air bagi tiga sungai besar di Kalimantan Timur, yaitu Sungai Kayan, Sungai Sesayap dan Sungai Sembakung. Sumber air untuk Sungai Kayan terletak berdekatan dengan batas taman nasional bagian Selatan, dan salah satu anak sungainya yaitu Sungai Bahau yang mengalir melalui taman nasional. Pegunungan yang berada di bagian Tengah dan Utara kawasan merupakan sumber air untuk sungai Mentarang dan Sungai Tubu, di mana keduanya merupakan anak sungai dari Sungai Sesayap. Anak sungai dari Sungai Sembakung mengalir dari bagian utara kawasan taman nasional.

Banjir bandang di sungai-sungai sangat umum terjadi. Potensi air tanah di dalam kawasan ini hampir tidak ada sehingga semua keperluan air untuk penduduk diambil dari sungai.
 
Biotik
Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa bernilai tinggi, termasuk jenis-jenis langka dan yang dilindungi. Tipe ekosistemnya dimulai dari hutan hujan dataran rendah sampai hutan berlumut di pegunungannya. Tercatat kurang lebih terdapat 29 jenis tumbuhan dilindungi dan dianggap terancam punah oleh CITES dan IUCN.

Di Taman Nasional Kayan Mentarang sedikitnya terdapat 18 tipe vegetasi. Tipe-tipe vegetasi tersebut terbentuk berdasarkan substrat dan variasi kondisi topografi, sehingga membentuk mosaik-mosaik vegetasi yang khas.

Tipe-tipe vegetasi vegetasi tersebut antara lain :
1. Hutan Dipterocarpaceae dataran rendah dan bukit ; tipe hutan ini mencakup 50% dari luas taman nasional, sehingga merupakan tipe vegetasi utama Taman Nasional Kayan Mentarang.
2. Hutan Pegunungan Rendah dan Pegunungan (1.200-1.600 m dpl); tipe hutan ini mencakup 40% dari luas taman nasional dan dicirikan oleh adanya jenis-jenis pohon yang didominasi famili Burseraceae, Fagaceae, Myriaceae, Polygalaceae, dan Sapotaceae. Tipe hutan pada puncak-puncak
pegunungannya dicirikan oleh adanya jenis-jenis pohon yang cenderung kecil, bengkok, tajuk rendah, tumbuh tidak rapat, dan kadang-kadang terdapat vegetasi mirip vegetasi alpen yang dipenuhi oleh lumut.
3. Hutan Kerangas ; vegetasi ini khas, karena tumbuh di tanah dengan substrat hara yang rendah (tidak subur, asam, kasar, dan mudah kehilangan air). Pohon-pohonnya memiliki kemampuan hidup beradaptasi untuk mendapatkan mineral dan beberapa diantaranya mampu menyerap nitrogen bebas.
4. Hutan Batu Kapur ; dicirikan oleh adanya jenis-jenis pohon
5. Padang Rumput ; vegetasi ini diduga terbentuk akibat adanya perladangan berpindah yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya atau akibat adanya pembakaran pada persiapan tanam yang dilakukan terus menerus, sehingga menghambat regenerasi pohon-pohon hutan atau sengaja dibuat padang rumput oleh masyarakat untuk tujuan perburuan satwa.
6. Hutan di Pinggir Sungai ; kondisi yang lebih lembab, banyak menerima cahaya matahari dan lapisan humus yang tebal sehingga tumbuh melimpah jenis-jenis herba.
7. Hutan Sekender ; tipe vegetasi ini terbentuk di daerah-daerah yang pernah digunakan sebagai tempat perladangan gilir-balik oleh masyarakat setempat. Hutan sekunder umumnya terdapat di dataran rendah yang landai, pada lereng di kaki bukit dan tempat-tempat yang relatif datar lainnya.

Flora
Hutan kayan Mentarang memiliki sejumlah tumbuhan khas termasuk berbagai varietas anggrek efifit dan berbagai jenis rotan. Di hutan pegunungannya ditemukan Rhododendron, sebuah famili tumbuhan berbunga yang biasanya ditemukan di bagian Utara daratan Asia.
Bunga Anggrek
Beberapa tumbuhan yang ada antara lain jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), agathis (Agathis borneensis), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), rengas (Gluta renghas), gaharu (Aquilaria malacensis), pulai (Alstonia scholaris), aren (Arenga pinnata), kantong semar (Nepentes sp), berbagai jenis anggrek, dan palem. Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan yang belum semuanya dapat diidentifikasi karena merupakan jenis tumbuhan baru di Indonesia.

Fauna
Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan salah satu kawasan yang memiliki keragaman fauna yang cukup besar. Beberapa jenis satwanya merupakan satwa endemik dan dalam katagori terancam punah. Sebaran satwa yang luas dengan beragamnya habitat, diperkirakan dapat ditemukan satwa-satwa jenis baru.

Terdapat sekitar 100 jenis mamalia (15 jenis diantaranya endemik), 8 jenis primata, lebih dari 310 jenis burung dengan 28 jenis diantaranya endemik Kalimantan, dan telah didaftarkan oleh ICBP (International Committee for Bird Protection) sebagai jenis terancam punah. 
Macan Dahan (Neofelis Nebulosa)
Mamalia ; jenis mamalia di Taman Nasional Kayan Mentarang tidak terlepas dari jenis-jenis yang berasal dari wilayah Asia atau adanya keterkaitan yang kuat dengan mamalia yang ada di Paparan Sunda mengingat sejarah geologis terbentuknya pulau Kalimantan. Kurang lebih terdapat 150 jenis mamalia diantaranya 44 jenis merupakan mamalia endemik dari 228 jenis mamalia endemik yang ada di Kalimantan. Jenis mamalia tersebut diantaranya macan dahan (Neofelis nebulosa), kucing dampak (Prionailurus planiceps), luwak (Felis marmorata), kucing merah (Felis badia),beruang madu (Helarctos malayanus), banteng (Bos javanicus), rusa (Muntiacus spp),babi hutan (Sus barbatus), dan bajing jenthink (Sundaicurus jentiki subsignanus).

Primata ; antara lain lutung dahi putih (Presbytis frontata), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruk (Macaca nemestrina), bekantan/kahau (Nasalis lavartus), klampiau (Hylobates muelleri), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), dan tarsius (Tarsius bancanus).
Burung Kuau Kerdil (Polyplectron Schleirmacheri)
Burung ; jenis-jenis burung juga merupakan kekayaan Taman Nasional Kayan Mentarang. WWF Kayan Mentarang dalam beberapa kali surveinya, telah mengindentifikasi 337 jenis burung dan diperkirakan masih ada beberapa jenis yang belum teridentifikasi. Beberapa diantara jenis-jenis burung Taman Nasional Kayan Mentarang telah didaftarkan oleh ICBP (International Committee for Bird Protection) sebagai jenis terancam punah. Jenis burung-burung tersebut diantaranya kuau kerdil (Polyplectron schleirmacheri), julang jambul hitam (Aceros corrugatus), enggang jambul hitam (Anthrococeros malayanus), enggang gading (Buceros vigil), dan cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus).

Reptil dan Amfibi; Kawasan ini sangat kaya akan amfibi dan reptil, namun belum diteliti secara seksama, namun sedikitnya tercatat 30 jenis amfibi hidup di kawasan ini.
 
Wisata
Pengembangan wisata di Kayan Mentarang ditargetkan untuk dua tipe pengunjung, yaitu mereka yang mencari petualangan melalui kegiatan eksplorasi daerah terpencil dan mereka yang ingin memiliki pengalaman dan pengetahuan melalui penelitian dari aspek ekologi dan kebudayaan serta cara hidup masyarakat suku Dayak.
Taman Nasional Kayan Mentarang
Sungai Bahau, Kayan dan Sungai Mentarang merupakan sarana transportasi menuju kawasan taman nasional. Jalur sungai tersebut kanan kirinya mempunyai panorama dan keunikan yang khas. Di sepanjang perjalanan dengan longboat yang menerjang arus sungai deras, sesekali kendaraan lokal tersebut harus melewati jeram-jeram yang mendebarkan serta pengunjung dapat melihat panorama alam tepian sungai sambil mengamati satwa bila menjumpainya.

Melihat dan mengamati keberadaan sekitar 20.000-25.000 orang dari berbagai kelompok etnis Dayak yang bermukim di sekitar kawasan taman nasional, dengan kearifan budaya konservasinya yang khas, merupakan salah satu keunikan yang dapat mendukung pengembangan wisata alam di Kayan Mentarang.

Banyak peninggalan-peninggalan arkeologi berupa makam dan alat-alat dari batu yang terdapat di dalam taman nasional. Berdasarkan peninggalan-peninggalan tersebut diduga dalam kawasan taman nasional telah dihuni kurang lebih sejak 350 tahun yang lalu, dan Kayan Mentarang merupakan situs arkeologi yang sangat penting di Kalimantan.

Potensi wisata yang bersifat pendidikan sangat beragam, karena beragamnya flora, fauna, dan adanya penduduk penghuni kawasan taman nasional. Program-program pariwisata yang bersifat pendidikan memang sangat mahal, tetapi Stasiun Penelitian Hutan Lalut Birai menyediakan sebuah basecamp bagi mereka yang membutuhkan.

Musim kunjungan terbaik: bulan September sampai Desember.

Pengelolaan
Belum dibentuk Unit Pelaksana Tehnis yang bertanggung jawab dalam pengelolaan kawasan ini, dan pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang saat ini masih dibawah Balai Konservasi Sumberdaya Alam Kalimantan Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Alamat Pengelola
Kantor Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Jl. MT Haryono, Samarinda - Kalimantan Timur
Telp/Fax: (0541) 743556
E-mail: bksdakaltim@yahoo.com

No comments:

Post a Comment

Flag Counter