Showing posts with label Wisata Alam. Show all posts
Showing posts with label Wisata Alam. Show all posts

Napak Tilas "Jejak Pandawa" di Puncak Arjuno

PENDAKIAN GUNUNG ARJUNO
3339 MDPL
KAB. MALANG, KAB. PASURUAN,
JAWA TIMUR


Pasuruan - Jawa Timur, Sudah lama aku menghayalkan, kapan saya bisa menapaki Gunung yang penuh cerita klasik masa lalu yang konon menurut sejarah pernah di sambangi oleh Pangeran Arjuna, seorang pangeran Pandawa di Kerajaan Hastinapura dari kisah Mahabharata. Konon, kala itu, Menurut cerita klasik leluhur tanah jawa, Salah satu tempat pengasingan Pangeran Arjuna saat mencari tempat untuk bersemedi yaitu sebuah puncak gunung di Pulau Jawa yang belakangan diberilah nama Gunung Arjuna. Legenda itulah yang melekat dan menjadi kisah sejarah para leluhur hingga saat ini.
 

 Lokasi Gunung Arjuno
Sebelum mendaki ke Gunung ini, banyak cerita dan kisah yang saya baca diberbagai sumber mengenai Gunung Arjuno dan Gunung Welirang, baik sisi sejarah masa lalu, Jalur-Jalur pendakian, Sisi mistik dan spiritual dan kisah masa jaman Kerajaan Singosari dan Majapahit yang konon berada di kaki Gunung Arjuno. Gunung ini Terletak di Kabupaten Malang dan Pasuruan, Provinsi Jawa Timur dengan ketinggian 3339 MDPL.

Meniti Pasir Kerikil Kawah Welirang

PENDAKIAN GUNUNG WELIRANG
3156 MDPL
KAB. PASURUAN, KAB. MOJOKERTO,
JAWA TIMUR

Mojokerto - Jawa Timur, Pendakian ke Gunung Welirang umumnya merupakan satu paket perjalanan dengan Gunung Arjuno. Pos 3 atau Pos Pondokan merupakan Pos terakhir sebelum summit attack ke Puncak Welirang. Setelah turun dari Puncak Arjuno. Saya kembali ke Pos pondokan. Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 13. 40 WIB siang. Hari masih cukup terang meski sedikit berkabut. Jika dilihat waktu, sesungguhnya masih cukup waktu untuk melanjutkan ke puncak welirang, namun karena fisik saya sudah terkuras habis saat ke Gunung Arjuno, saya pun memutuskan untuk menginap satu malam di Pos Pondokan dan melanjutkan perjalanan esok hari.

100 Langkah Menuju Samudera - Pantai Tamborasi Kolaka

KOLAKA, Sulawesi Tenggara menyimpan begitu banyak potensi sumber daya alam yang bernuansa wisata. baik itu dari wilayah kepulauan sampai ke wilayah daratan. Lautan dan pegunungan seakan masih menjadi misteri untuk terus diketahui segala daya tariknya. Panorama pantai dan lautan selalu mengundang ketetarikan banyak orang.

Peta Pantai Tamborasi

Kab. Kolaka sebagian besar merupakan bentangan pegunungan yang hampir menjangkau seluruh wilayahnya. Sebagian besar potensi alam lebih difokuskan pada sector perkebunan. Padahal wilayah ini memiliki garis pantai sejauh ratusan kilomemeter yang berbatasan langsung dengan teluk bone. Potensi kelautan tentunya akan banyak ditemukan di wilayah ini seiring dengan terbukanya akses beberapa wilayah terpencil dipesisir. Salah satunya adalah Pantai Tamborasi dengan Mata Air dan telaganya.
Muara Sungai Tamborasi
Wisata alam menjadi pilihan yang objektif dengan melihat sumber daya alam wisata yang tersedia. Salah satunya adalah wisata laut yang mudah ditemukan dan ekonomis bagi masyarakat. Kurang lebih 255 km dari kota kendari ke arah utara, terdapat sebuah tempat wisata yang belakangan populuer oleh karena keunikannya.Bentangan tebing-tebing menjulang tinggi bermuara pada sebuah mata air jernih, tak jauh dari lepas pantai.

SEKILAS TENTANG LOKASI
Tamborasi adalah nama sebuah desa di Kec. Wolo, Kab. Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Untuk mencapai lokasinya, dibutuhkan waktu berkendara 2 jam dari Kota Kolaka dengan menyusuri jalan aspal mulus disepanjang jalur pantai barat Kab. Kolaka. Sejak tahun 2010, objek wisata ini mulai menjadi primadona warga di Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Utara.
Tebing dan Telaga Sungai Tamborasi
Dahulunya belum ada akses darat ke tempat ini. Kala itu transportasi masih terputus sebelum lokasi pantai ini, yang disesbabkan oleh tebing-tebing menjulang yang membatasi pesisir. Jalur penghubung masih menggunakan perahu kecil untuk menjangkau wilayah di Kolaka bagian utara yang sekarang sudah menjadi Kab. Kolaka Utara.
Namun kini, akses jalan sudah bukan menjadi masalah lagi. Seiring dengan laju pembanguan. Wilayah pesisir kolaka sampai ke perbatasan sudah terhubung dengan aspal mulus. Tebing-tebing yang tadinya membatasai pesisir, dengan bantuan teknologi, kini sudah tak menghalau lagi bentangan jalan aspal yang meliuk liuk membelah kawasan bukit batu tersebut.

Pemerintah Daerah Kab. Kolaka semakin mempercantik kawasan wisata ini. beberapa fasilitas sudah disiapkan pengelola seperti tempat parkir, jalan setapak, kasebo, sarana MCK, dll. Kepadatan pengunjung akan terlihat saat akhir pekan. ratusan orang akan memadati seluruh area pantai. lokasi parkiran pun sesak oleh kendaraan pengunjung yang terparkir.

Sebagai daeerah yang berhadapan dengan laut lepas tentunya potensi wisata bahari akan sangat mudah ditemukan. bentangan pantai yang memanajang menjadikan Kab. Kolaka sebagai wilayah yang memiliiki potensi kelautan dan pariwisata.

PANORAMA ALAM
Mata Air Sungai Tamborasi
Tebing menjulang yang beralaskan kejernihan air menjadi tampilan utama tempat ini. dari bawah kaki tebing, keluarlah gelembung air yang kemudian membentuk sebuah aliran air. Bagai sebuah danau air tawar, disinilah air dari bawah tebing itu tertampung sebelum mengalir ke sungai.
Telaga Sungai Tamborasi
Murni dan Jernih…..itulah yang dapat dirasakan saat menyentuh permukaan airnya. Dingin dan sejuk ditambah lagi dengan hembusan angin laut menambah suasana kedamaian bagi siapa saja yang berada disini.
Kejernihan Mata Air Sungai Tamborasi
Gelembung arus dari celah kaki tebing tidak henti-hentinya mengeluarkan ratusan kubik air setiap harinya. Entah darimana air ini berasal, padahal wilayah ini didominasi oleh batu dan jauh dari sungai. Melihat dari bentuknya, besar kemungkinan ada aliran sungai di bawah bentangan tebing-tebing yang secara alamiah terbentuk celah yang berada di pantai. Celah inilah yang menyemburkan air layaknya sebuah mata air dari dalam tanah. 
KEUNIKAN
Mata Air di Bawah Tebing Tamborasi
Lokasinya berada di bawah tebing yang berhadapan dengan air laut. spot utamanya yaitu sebuah mata air yang muncul dari bawah tebing lalu membentuk sungai. panjang sungainya hanya sekitar 20 Meter dengan Lebar 15 Meter, lalu berhadapan dengan lautan lepas. Keunikan objek wisata ini dijuluki Sungai Terpendek di Dunia dengan nama Sungai Tamborasi.
Merasakan Kejernian Air Sungai Tamborasi
Sungai Tamborasi memiliki keunikan yang jarang dijumpai di tempat lain. Titik mata airnya hanya berjarak dekat dari muara sungai. Rasa air sungainya pun tetap tawar meskipun berhadapan dengan samudera yang luas. Hamparan pasir putih membatasi di kedua sisi aliran sungai dari mata air. Selain sebagai pembatas sungai, pasir ini juga membatasi daratan dan lautan sehingga disebutlah pantai.
Jernih dan Murni...Air Sungai Tamborasi
Seakan seperti mukjizat yang diberikan sang pencipta dapat menemukan mata air di antara himpitan-himpitan tebing. Airnya terus memancar tak mengenal waktu. Berjuta-juta kubik telah dihasilkan oleh celah kaki tebing ini. Begitu bening dan jernih sehingga dasar telaga dapat terlihat oleh kasak mata. Raga ini pun tak sabar ingin menyembur kedalamnya dan merasakan kesejukan dan kemurnian airnya.
Sungai Tamborasi yang Berhadapan dengan Laut Lepas
Hal tersebutlah yang menarik minat pengunjung untuk terus bertandang kesini. jika hanya ingin melihat atau berenang di pantai, pasti banyak tempat untuk menemukannya Tapi, karakteristik pantai seperti ini, tentulah orang pasti akan penasaran untuk melihat langsung bentuknya.

POTENSI WISATA  
Sungai Tamborasi
Sebagai spot wisata alam yang sudah terkelola, Pantai Tamborasi sudah didaulat menjadi salah satu ikon pariwisata di kolaka. Letaknya yang sangat strategis sehingga pembangunan kawasan pantai tamborasi terus digiatkan oleh pemerintah daerah setempat. Ratusan oran dipastikan akan berkunjung di tempat ini setiap minggunya. pada musim liburan jumlah pengunjung bahkan bisa mencapai ribuan orang.
Sungai dan Tebing Tamborasi
Kondisi demikianlah yang dapat juga menggerakka roda perekonomian masyarakat setempat. puluhan kios mulai ramai didirikan disekitar kawasan. Beberapa penginapan juga mudah ditemukan ditempat ini. karena berada di jalur utama Trans Provinsi, maka tidak heran puluhan kendaraan baik yang sedang maupun kendaraa besar sering terlihat mangkal di sisi jalan dekat dengan kawasan pantai. para sopir dan penumpang selalu menjadikan kawasan ini sebagai rest area. Puluhan warung makan tak henti-hentinya sibuk melayani para penumpang kendaraan luar kota yang singgah beristirahat. aneka menu sea food dapat dipesan diwarung-warung tersebut.
Menikmati Kesejukan Sungai Tamborasi
Melihat kondisi diatas, sudah mencerminkan keberadaan kawasan wisata yang bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pengelolaan Pantai Tamborasi mesti dikerjakan secara profesional dengan mengedepankan kenyamanan pengunjung. Animo masyarakat akan terus bertambah jika mendapatkan kesan yang baik saat berkunjung di tempat ini. nilai natural dan keunikan yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh semua pihak....
Ayooo...Tunggu Apa Lagi....!!! 
Nikmatilah Panorama dan Keunikan Sungai Terpendek di Dunia...!!!

Penulis : Muhammad Dagri Nizar

Dalam Pusaran Angin Debu Gunung Sumbing

PENDAKIAN GUNUNG SUMBING 
3371 MDPL
Kab. Wonosobo, Prov. Jawa Tengah


Gunung Sumbing terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung ini terletak berhadapan dengan Gunung Sindoro. Adapun jalur yang paling sering menjadi pilihan pendaki yaitu melalui Dusun Garung, Desa Butuh, Kec. Kalikajar, Kab. Wonosobo. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3371 MDPL dan merupakan gunung tertinggi kedua di Provinsi Jawa Tengah.
Setelah melakukan pendakian di Gunung Sindoro, Kab. Temanggung. Saya kemudian melanjutkan pendakian ke Gunung Sumbing, Kab. Wonosobo.
Setelah berpamitan dengan teman-teman di KPA – GRASINDO, saya melanjutkan perjalanan ke Pos Pendakian Gunung Sumbing. Dengan menumpang ojek, saya diantar ke titik star pendakian Gunung Sumbing. Jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 500 Meter dengan kembali melewati jalur jalan utama Trans Wonosobo lalu berbelok kiri dengan melihat petunjuk yang terdapat di pinggir jalan. Berbeda dengan Pos pendakian Gunung Sindoro, Pos pendakian Gunung Sumbing berada sekitar 150 Meter dari pinggir jalan utama. 
Pos Pendaftaran Gunung Sumbing
Dusun Garung, Wonosobo

Saat saya tiba, tampak kesibukan pengelola Pos dalam melayani pendaki yang akan registrasi. Beberapa pendaki yang akan naik juga tampak sedang sibuk berkemas. Sedikit berbeda dengan kondisi di Pos Pendaftaran Gunung Sindoro, disini tampak tidak begitu ramai, tidak kurang 25 orang pendaki saja yang akan melakukan pendakian hari itu. Beberapa dari mereka ada yang dari Jakarta, Kuningan, Bandung, Tegal dll.

Seperti halnya di Pos Gunung Sindoro, ditempat ini juga disediakan sebuah basecamp untuk tempat istirahat pendaki dan fasilitasi lain seperti tempat parkir, kamar mandi dan toilet. Meskipun tidak sebesar di Pos Gunung Sindoro, tapi fasilitas yang ada tersebut cukup memberi kenyamanan pendaki sebelum melakukan perjalanan. Seluruh pengelolan Gunung Sumbing ditangani oleh KPA-STIK PALA


Aktifitas pendakian ke Gunung Sumbing cukup memberikan nilai manfaat kepada masyarakat dan warga Desa Garung. Dari hasil yang diperoleh dari biaya pendaftaran pendaki, ada kontribusi kepada pembangunan desa dan fasilitas umum juga perawatan Pos pendaftaran. Manfaat yang juga didapatkan oleh masyarakat yaitu jasa ojek yang ditawarkan kepada pendaki untuk diantarkan sampai Pos I. Untuk tarifnya yaitu sebesar Rp. 25 ribu/orang. Aktifitas pendaki ini cukup memberikan nilai tambah bagi tukang ojek yang sebenarnya hanya profesi sampingan sambil menunggu musim panen tembakau tiba.


Karena hanya sendirian, saya pun segera mencari teman untuk pendakian ini. Setelah berkenalan dengan beberapa pendaki, akhirnya saya mendapatkan partner yang cocok yaitu 2 orang pendaki dari Mapala Green Universitas Kuningan. Mereka adalah Kang Iqbal dan Neng Imamah.
 
Dusun Garung dengan Latar Gunung Sumbing

Saat itu hari jumad tanggal 14 Juli 2017, waktu masih menunjukkan pukul 08.15 Pagi. Setelah registrasi dan membayar biaya administasi sebesar Rp. 20.000, saya sarapan terlebih dahulu di sebuah warung nasi goreng yang terdapat dalam posko pendakian. Beberapa pendaki sepertinya sudah akan memulai pendakian. Beberapa dari mereka terlihat sudah mulai bergerak meninggalkan pos pendaftaran.

Sekitar pukul 9.20, kami pun mulai bergerak. Perjalanan diawali dengan menyusuri jalan aspal Dusun Garung dengan tanjakan landai. Tampak perkampungan Desa Butuh mulai nampak aktifitasnya. Satu persatu warga mulai meninggalkan rumahnya menuju kebun. Tampak bocah-bocah berpakaian muslim berjalan beriringan menuju sekolah mereka.


Terlihat dari depan menjulang tinggi Gunung Sumbing yang siap saya daki. Kami sempat tercengang melihat besarnya gunung yang akan kami daki dan sempat membayangkan bagaimana nanti diatas sana, maklum kami bertiga baru pertama akan berkunjung ke Gunung Sumbing.
Pemandangan Gunung Sindoro dari Dusun Garung

Saat menoleh kebelakang, tampak Gunung Sindoro yang sudah saya daki beberapa hari yang lalu. Masih terngiang memori pendakian saat aku menapaki jalur bebatuan yang sangat panjang. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing adalah dua tempat yang memiliki daya tarik bagi para petualang di Indonesia.
Perkampungan Desa Butuh, Wonosobo
Jalur Pendakian ke Gunung Sumbing
Perjalanan masih berada di jalan aspal dan masih menyusuri perkampungan Desa. Rumah-rumah warga tersusun rapi berbanjar mengikuti alur pegunungan yang semakin menanjak. Tampak beberapa warga berjalan kaki dan ada yang menaiki motor untuk menuju ke ladang tembakau miliknya.

Perkampungan di Dusun Garung ini cukup tertata rapi, meskipun kontur tanahnya miring. Sebagian besar warganya merupakan petani ladang tembakau. Mereka bercocok tanam di seluruh ruas lereng Gunung Sumbing sehingga sepanjang mata memandang hanya ada tanaman tembakau yang tampak.

Setelah melalui perjalanan aspal sekitar 40 Menit, selanjutnya jalur memasuki jalan paving blok. Di jalur ini, kami sudah mulai menjauhi perkampungan dan mulai memasuki hamparan ladang tembakau yang tidak terhitung luasnya. Di lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro memang lumbung utama dari komoditas tembakau. Tanaman ini tumbuh subur dan cocok dengan hawa kedua gunung ini. Hasil dari perkebunan tembakau ini telah menjadi sumber kekuatan ekonomi utama bagi masyarakat di Lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.
Berpapasan dengan warga yang sedang beraktifitas di ladang

Sesekali kami berpapasan dengan warga yang melintas di jalur pendakian. Mereka mencari pakan buat hewan ternak. Di jalur pendakian sangat banyak warga yang melintas, khususnya antara desa dan Pos I. Di Jalur tersebut memang merupakan wilayah yang diperkenankan untuk bercocok tanam, sementara setelah Pos I sudah tidak ada lagi aktifitas masyarakat disana.
Jalur ke Pos I
Melewati Perkebunan Tembakau

Melalui jalan setapak yang semakin menanjak, kami disuguhkan pemandangan lereng gunung yang semuanya tampak hijau oleh pucuk-pucuk daun tembakau. Komoditas unggulan yang merupakan sumber utama sektor pertanian masyarakat di lereng Gunung Sumbing.
Bisa dibayangkan kalau seluruh tembakau yang dijemur di dua gunung ini tiba-tiba Terbakar. Asapnya berhamburan kemana-mana….
Jangankan manusia…. alam pun pasti Merokok….hehehehe (Bercandaaaa..Guys...)
Pemandangan Perkebunan Tembakau di Kaki Gunung Sumbing

*Kembali Ke Cerita*
Dari kejauhan tampak perkampungan penduduk dan kawasan hutan pinus yang masih terjaga. Semakin kami melangkah, perkampungan terlihat semakin menjauh. Sayup-sayup suara masjid mulai terdengar saat waktu menunjukkan pukul 11.30. Tidak lama lagi akan masuk waktu Shalat jumad. Kami terus melangkah ke Pos I meskipun tampak suasana mulai tidak bersahabat.
Kabut Pegunungan Menuju Pos I

Sesekali kabut turun menutupi kawasan lereng gunung dan jalur pendakian. Ditambah dengan tiupan angin yang cukup menggetarkan langkah. Jarak pandang beberapa saat berkurang. Meskipun sedikit drop tapi kami tetap menguatkan mental untuk terus melangkah maju membelah kabut yang terasa dingin menusuk. Padahal posisi kami masih di bawah Pos 1, kondisi kabutnya sudah sedemikian pekatnya. Bagaimana jika sudah berada diatas nanti ??
Susana Pos I, Jalur Pendakian Gunung Sumbing

Akhirnya sekitar pukul 12.10 kami tiba juga di Pos I. Kondisi sontak berubah, yang tadinya tertutup kabut berganti dengan pancaran sinar mentari yang menembus seluruh sisi pegunungan, meskipun hawa dingin tetap mendominasi. Pos I berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Pos pendaftaran. Tempatnya sangat luas dan terdapat sekitar 4 shelter dan sebuah musholah kecil. Terdapat aliran air yang mengalir melalui pipa. Sumber air ini menjadi titik air terakhir pada pendakian Gunung Sumbing.

Suasana Pos I sangat memberikan keteduhan bagi siapa saja yang singgah di tempat. Kesejukan angin pegunungan bergantian berhembus di tempat ini. Meskipun matahari bersinar terang, namun seperti tidak berasa panas saat kami berjemur. Beberapa Mas Ojek sedang berkumpul untuk menunggu giliran mengantarkan pendaki yang akan turun ke Desa. Terdapat juga warung kecil milik seorang warga yang menyediakan Air Panas, tahu goreng dan Mie Rebus.


Sebuah Musholah beukuran 3 x 3 meter disediakan oleh pengelola. Riak air mancur kecil tak berhenti meluncur dari sebuah pipa yang berada tepat disebelah Musholah. Sepanjang pendakian gunung yang sudah saya daki, inilah Pos pendakian di tengah perjalanan yang paling istimewa. Hampir semuanya ada. Terlebih lagi Pos I ini berada di tengah kawasan hutan cemara yang rimbun. Sungguh suatu tempat yang sangat istimewa. Bahkan, signal telepon dan data masih dapat dijangkau disini.

Meskipun tempatnya sangat luas, tapi tidak ada pendaki yang menginap disini. Pos I hanya menjadi persinggahan sementara baik saat naik maupun saat turun gunung. Beberapa pendaki yang singgah di tempat ini hanya beristirahat sejenak sambil menikmati minuman hangat di warung yang tersedia, juga ada yang bersih-bersih sebelum turun ke desa.
Tim Pendaki
Muh. Dagri Nizar, Muh. Iqbal dan Nur Imamah

Setelah waktu sholat jumad sudah berakhir, kami segera beranjak dari Pos I menuju Pos II. Jalur yang dilewati sudah memasuki jalur pendakian yang sebenarnya. Sudah tidak ada aktiftas masyarakat dan perkebunan yang kami temui disepanjang jalan. Jalurnya cukup menanjak dan terkadang landai. Kami sangat leluasa melangkah karena kondisi jalannya yang nyaman untuk berpijak.
Jalur Menuju Pos II

Perjalanan ke Pos II, kami melewati hutan yang cukup rimbun. Sepanjang jalan banyak ditumbuhi cemara gunung sehingga menambah kesejukan bagi siapa saja yang melewatinya. Sekitar 40 Menit sampailah kami di Pos II. Ditempat ini cukup datar dan cukup luas. Disini tidak terdapat shelter, hanya terdapat tempat duduk yang terbuat dari pohon tumbang. Kami hanya beristirahat sejenak sekitar 5 menit dan bersiap untuk melalui jalur ke Pos III.

Jalur ke Pos III dan seterusnya merupakan perjalanan dengan medan yang sangat menantang. Kondisi jalurnya menjadi ciri khas dari perjalanan ke Puncak Gunung Sumbing dan telah menjadi memori yang tidak akan terlupakan bagi seluruh pendaki yang telah melaluinya. Jika di Gunung Sindoro sepanjang jalan dari Pos III ke puncak, pendaki akan melalui hamparan bebatuan. Tapi di Gunung Sumbing dari Pos II sampai ke Puncak pendaki akan melalui medan yang sangat membosankan dan membuat sesak. Apalagi kalau bukan JALUR BERDEBU.
Jalur Berdebu menuju Pos III
Setelah lepas dari Pos II, sekitar 10 menit pendaki akan disuguhkan jalur berdebu yang sangaaaaaatt panjang. Jalurnya tetap saja menanjak, tapi pendaki harus siap-siap menutupi wajah dan hidung dengan masker. Jangan lupa membasainya terlebih dahulu agar mengurangi kadar debu yang akan dihirup. Selangkah demi langkah kami lewati satu persatu sambil mengatur napas dan pandangan. Jalurnya terkadang terdapat pegangan tapi lebih banyak hanya mengandalkan pijakan. Sesekali kami harus berpegang pada rumput mati yang tumbuh di jalur.
Jalur Tanjakan Berdebu menuju Pos III

Entah kenapa jalur ini kering dan berdebu, padahal di sekeliling banyak tumbuh pepohonan yang rindang. Selain harus memperhatikan pijakan dan pegangan, kami juga harus menjaga pandangan mata, jangan sampai terkena debu yang bisa membuat penglihatan perih. Sesekali angin bertiup di jalur, saat itu pula debu beterbangan yang membuat pakaian dan ransel kami berubah menjadi kecoklatan.
Tanjakan Berdebu

Jalur ini cukup panjang dan membosankan. Meskipun capek, tapi tidak ada yang berniat untuk istirahat sejenak di model jalur seperti ini. Sama sekali tidak ada udara segar disepanjang jalan yang kami lewati ini. yang kami pikirkan hanya, sampai berapa lama lagi model jalan seperti ini.
Pos III, Jalur Pendakian Gunung Sumbing
Bahkan, sampai kami tiba di Pos III pun kondisi tanahnya masih seperti ini. saat itu waktu menunjukkan pukul 15.20. Sesungguhnya para pendaki direkomendasikan untuk bisa nginap saja di tempat ini sebelum ke Puncak esok hari, namun karena melihat kondisi tanahnya seperti ini, kami memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan.
Jalur Menuju Pos Pestan

Karena hari masih terang, kami bergegas melangkah menuju tempat yang layak mendirikan tenda. Jalurnya masih sedikit berdebu dengan kondisi tanah kering. Tingkat kerapatan pohon juga semakin berkurang. Sudah terlihat di depan sana banyak tempat-tempat yang terbuka.
Pemandangan Gunung Sindoro dari Gunung Sumbing

Sesekali kami menoleh ke belakang, tampak Gunung Sindoro yang menjulang tinggi. Pemandangan yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. Sungguh sebuah lukisan karya alam yang tak ternilai harganya.
Jalur Berdebu Menuju Pos Pestan

Perjalanan ini cukup melelahkan, terlebih bagi saya yang baru dua hari yang lalu mendaki di Gunung Sindoro. Tentunya fisik masih belum pulih, akan tetapi saya tetap semangat terlebih lagi melihat kedua rekan yang menemani saya yang tetap kuat melangkah dengan beban carrier yang cukup berat.

Setelah perjalanan 30 menit dari Pos III, terdapat sebuah tempat terbuka yang juga layak untuk mendirikan tenda. Tempat ini dinamakan Pestan. Lokasinya cukup luas dan bertingkat-tingkat. Tempat ini dapat menampung sekitar 10 Tenda.


Saat kami tiba di tempat ini, waktu menunjukkan pukul 16.00. Kami sempat memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat ini, namun karena target puncak masih jauh dan juga untuk memudahkan perjalanan ke puncak esoknya maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Camp terakhir yang bernama Watu Kotak.
Tanjakan berdebu ke Pos Watu Kotak

Jalur berdebu kembali membentang di depan mata. Pemandangan terbuka dengan derasnya arus angin menemani langkah kami yang sudah mulai lambat seiring hari yang semakin senja. Jarak ke Camp Watu Kotak sekitar 2 jam perjalanan. Kami terus memacu langkah meskipun fisik sudah mulai letih. Ketika angin berhembus, maka beterbanganlah debu-debu dijalur pendakian. Sesekali kami harus berhenti saat hempasan angin berputar-putar menggamburkan debu.
Pemandangan Gunung Sindoro
Sesekali kami menoleh ke belakang melihat megahnya Gunung Sindoro. Rasa lelah sedikit terobati tatkala melihat lukisan alam yang tersaji sepanjang langkah ke Puncak Sumbing. Dari kejauhan, saya dapat melihat Gunung Slamet di Tegal dan dari kejauhan lagi, saya melihat Gunung ciremai di Cirebon. Subhanallah..!! Pemandangan seperti ini hanya dapat disaksikan melalui perjuangan menapaki tempat-tempat tertinggi.

Waktu terus berjalan, dan Pos Watu Kotak masih jauh. Sepertinya kami pasti akan kemalaman. Terlihat mentari sudah mulai turun dan langit memerah. Kami pun sempat drop, tapi keputusan sudah diambil. Pos Pestan sudah jauh kami tinggalkan, sedangkan Pos Watu Kotak masih sekitar 1 jam lagi. Langkah terus dipacu dan dipacu. Rasa capek, lapar, lemas dan sedikit khawatir menghantui langkah kami. Sesaat kemudian hari sudah memasuki malam dan jalur sudah gelap. Sinar headlamp cukup untuk menerangi langkah kami yang sudah tak beraturan nafas.

Saat melewati celah dua tebing adalah saat yang paling mengerikan bagi kami. Ternyata disinilah jalur arus angin yang ganas itu. Sudah banyak cerita yang saya dengan tentang keganasan angin di Gunung Sumbing. Langkah semakin goyah tatkala angin deras menghambat perjalanan kami.

Waktu telah menunjukkan pukul 19.10 malam. Dari kejauhan terlihat sebuah batu yang berbentuk kotak. Saya yakin inilah yang dinamakan Watu Kotak. Saya berteriak memanggil kedua teman yang berada cukup jauh dibelakang dengan mengatakan Pos sudah didepan.

Akhirnya sekitar pukul 20.00 sampailah kami di Pos Watu Kotak. Pos ini terletak di pinggir sebuah tebing. Disekitarnya terdapat banyak batu-batu besar. Tempat ini merupakan tempat yang sangat terbuka dan merupakan jalur pergerakan angin. Saat kami tiba, saat itu juga tenda langsung akan didirikan, namun ternyata tidak mudah mendirikan tenda di Pos Watu Kotak. Angin bertiup tidak henti-hentinya. Setiap tenda akan berdiri, angin langsung menghempas.

Sudah hampir 1 jam kami disini, tapi belum berhasil mendirikan tenda. Jika kami paksakan, kemungkinan besar frame tenda akan patah dan tenda akan robek. Saat kami hampir putus asa, saya melihat sebuah celah kecil yang tidak luas. Di tempat itu arus angin tetap ada namun tidak sekuat di tempat sebelumnya. Akhirnya seluruh perlengkapan kami pindahkan segera. Tak berselang lama tenda pun berdiri dalam posisi miring dan sedikit menggantung. Yang penting malam ini kami bisa istirahat.

Tidak ada aktifitas makan malam saat itu, kami hanya menghangatkan badan dengan beberapa gelas kopi susu dan rokok. Kami hanya berdiam dalam tenda sambil berharap-harap angin ganas itu segera pergi. Namun itu tidak terjadi. Sampai kami tidur, angin keras terus bertiup kencang dan mengibas-ngibas bagian-bagian tenda kami. Saya tidak bisa tertidur pulas, karena khawatir dengan posisi miring tenda dan derasnya angin yang sepertinya mulai menggeser-geser posisi tenda kami.

Angin di Gunung Sumbing merupakan tantangan yang sangat dahsyat. Sepanjang pengalaman pendakian saya di gunung-gunung yang lain, baru kali ini saya menyaksikan keganasan angin yang sepertinya tidak lelah berputar-putar di sisi-sisi tebing di kawasan Watu Kotak ini. Kondisi itu terjadi sepanjang malam dan tak pernah berhenti sampai matahari kembali terbit.

Keganasan angin gunung sumbing sudah menjadi momok menakutkan bagi para pendaki. Berbeda dengan karakteristik angin di gunung-gunung yang lain. Menurut saya, angin di gunung sumbing bertiup dengan membawa material-material yang halus dan bercampur dengan kabut yang terasa pedis. Karena menghantam sepanjang pendakian dan mengurung kami sepanjang malam sehingga hasilnya membuat kulit memerah dan mengelupas. Selain itu, bibir saya terbelah tipis dan luka kering. Sungguh ganas dampaknya, namun itulah resiko bermain di alam terbuka. Semuanya harus kita nikmati.
Suasana Pagi di dalam tenda
Pos Watu Kotak

Saat pagi datang, beberapa gelas kopi susu hangat sudah tersaji. Tiupan angin kami rasa sedikit berkurang. Aktifitas pagi pun segera dilakukan. Setelah ngopi, kami mulai mempersiapkan perlengkapan seperlunya untuk ke puncak. Adapun tenda dan perlengkapan lain, kami tinggalkan di tempat ini. tidur semalam sepertinya belum bisa mengembalikan tenaga kami. Kami tidur dalam keadaan was-was dengan posisi tidak nyaman karena banyak gundukan kecil dibawah tenda yang belum sempat dibuka saat mendirikan tenda semalam.
Packing-Packing sebelum ke Puncak Gunung Sumbing

Sekitar pukul 06.30 pagi, persiapan ke puncak sudah rampung, satu-per satu barang yang akan dibawa dimasukkan ke ring back, sementara barang yang masih berhamburan di luar dimasukkan semuanya ke dalam tenda. Pagi ini cukup cerah meskipun angin masih saja lalu lalang di sekitar pos ini.
Jalur rerumputan menuju Puncak Gunung Sumbing

Perjalanan ke puncak pun dimulai. Jalur pertama dilalui dengan menyusuri jalur rerumputan yang masih juga berdebu. Sekitar 15 menit kemudian kami melewati tanjakan bebatuan yang berukuran sedang dan besar. Disepanjang jalan, tumbuhan eidelweis menghiasi pemandangan. Tumbuhan ini mekar di sepanjang jalur dari Watu Kotak ke Puncak.

Saat menoleh keatas, sudah terlihat kawasan yang terbuka. Sudah tidak ada lagi kawasan pepohonan, yang ada hanya tanaman-tanaman kerdil. Ini menandakan bibir kawah sudah dekat. Jalur berdebu tetap kami lewati yang memang sudah menjadi ciri khas Gunung Sumbing.

Akhirnya setelah 1.5 jam berjalan, sampailah kami di bibir kawah Gunung Sumbing. Terlihat di dasar kawah gumpalan asap belerang yang tidak begitu banyak. Untuk menuju ke Puncaknya kami harus berjalan menyusuri bibir kawah sekitar 20 Meter.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Puncak Gunung Sumbing akhirnya tercapai. Memerlukan perjuangan dan kesabaran untuk sampai ke tempat yang memukau dan mempesona ini. Sebuah tempat yang memiliki tampilan pemandangan tersendiri. Dari arah timur Gunung Slamet menampakkan diri. Gunung yang sudah aku daki Tahun 2011 yang lalu.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Dari arah tenggara, Gunung Merbabu, Gunung Merapi dan Gunung Andong berbaris rapi diseimuti awan putih. Saat di puncak Gunung Sumbing, saya memandang jauh sekeliling. Terlihat banyak gunung-gunung yang bertebaran di sepanjang mata. Posisi Gunung Sumbing memang tepat berada di tengah-tengah pulau Jawa. Jadi sepanjang mata terbentang puncak-puncak lain di Pulau Jawa.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Perjalanan ke Puncak Gunung Sumbing menambah lagi catatan perjalanan saya. Suatu tantangan dan cerita terbaru saya dapatkan di Gunung ini. Tantangan dan rintangan sungguh memiliki ciri khas tersendiri yang belum saya temukan di tempat lain di sepanjang perjalanan saya mendaki gunung. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan setelah melewati jalur panjang yang berdebu.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Rasa syukur kepada Allah SWT, yang masih memperkenankan saya untuk kembali ke Puncak-Puncak tertinggi ciptaannya. Puncak yang melukiskan kebesaran sang pencipta. Kemegahan gunung-gunung di jawa terbentang dari sini. Semua tambah indah berdisi diselimuti awan.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Terbesit pertanyaan di benak kami, Mengapa kami naik gunung? pertanyaan itu hanya dapat terjawab saat kita sudah berada di tempat tertinggi dan menyaksikan karya besar sang pencipta. Inilah suatu kebanggan kami para petualangan yang dapat terjawab setelah berada di puncak tertinggi ciptaaan Nya.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Inilah Puncak Gunung Sumbing, dengan segala tampilan dan kebesarannya. Berdiri menjulang tinggi di wilayah dataran tinggi dieng, bersama gunung kembarnya, Gunung Sindoro. Sindoro - Sumbing adalah dua nama tersohor dengan penuh cerita dan legenda masa lalu. Sunggun sebuah kebanggan saya sudah menapaki keduanya.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL
Insya Allah dikesempatan lain, saya akan berkunjung ke puncak-puncak yang lainnya. Yang dimana juga menyimpak keelokan dan misteri dan memberikan sensasi berpetualang bagi siapa saja yang melaluinya. Indonesia adalah anugerah Allah yang harus kita jaga, kita lestarikan dan kita pertahankan. Negeri ini adalah karunia. Setiap sudut negeri ini menampilkan panorama yang memanjakan pandangan.
Salam-Salam buat Semuanya

Salam sayang buat ayah dan ibuku tercinta. Buat Istirku tersayang "Yusniatin Saputri Rahim" dan dua Gadis kecilku tercinta "Alyacisa Arafah Artilanizar" dan "Wanarista Waffiyah Wahdjayusnizar". Buat rekan-rekan seperjuangan di KPA AMCALAS SULTRA dan Buat rekan-rekan kerja di Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tak lupa salam-salam buat orang-orang tercinta di sana. Semoga doa mereka senantiasa mengiring langkahku untuk menapaki lagi banyak tempat-tempat terindah di Indonesia dan di Dunia.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL
Terima kasih untuk pendakian ini. Sebuah perjalanan yang telah mengantarkan aku pada puncak ke-14. Bukan materi yang kami cari di atas sini. Kami datang untuk melihat jelas kebesaran Allah Azza Wajallah dari tempat tertinggi.

Semua bisa dibeli dengan uang, tapi uang tidak bisa membeli semua. Karena tidak semua dapat diukur dengan uang. Disini bagai berada di dimensi kehidupan lain. Kurasakan seperti kembali kemasa lalu. Tanpa kebisingan, tanpa hiruk pikuk ambisi manusia. Semuanya lenyap..hanya riuh teduh dalam harmoni alam. Disini, hanya ada aku dan alam.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL
Alam adalah guru yang sempurna. Alam telah diciptakan untuk mengajarkan manusia tentang kehidupan. Berbekal ilmu darinya, Insya Allah kita akan meniti hidup yang lebih baik. Semoga tapak kakiku akan menuntunku kembali lagi kesini.

Written and Posted by :
Muh. Dagri Nizar

Baca Juga :
Gunung Agung Gunung Balease Gunung Bawakaraeng
Gunung Lompobattang
Gunung Latimojong Gunung Mekongga
Gunung Ciremai Gunung Semeru Gunung Rinjani
Gunung Slamet Gunung Sindoro Gunung Tambora
Gunung Sumbing Gunung Tolangi Gunung Welirang
Gunung ArjunoGunung GedeGunung Pangrango