Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Napak Tilas "Jejak Pandawa" di Puncak Arjuno

PENDAKIAN GUNUNG ARJUNO
3339 MDPL
KAB. MALANG, KAB. PASURUAN,
JAWA TIMUR


Pasuruan - Jawa Timur, Sudah lama aku menghayalkan, kapan saya bisa menapaki Gunung yang penuh cerita klasik masa lalu yang konon menurut sejarah pernah di sambangi oleh Pangeran Arjuna, seorang pangeran Pandawa di Kerajaan Hastinapura dari kisah Mahabharata. Konon, kala itu, Menurut cerita klasik leluhur tanah jawa, Salah satu tempat pengasingan Pangeran Arjuna saat mencari tempat untuk bersemedi yaitu sebuah puncak gunung di Pulau Jawa yang belakangan diberilah nama Gunung Arjuna. Legenda itulah yang melekat dan menjadi kisah sejarah para leluhur hingga saat ini.
 

 Lokasi Gunung Arjuno
Sebelum mendaki ke Gunung ini, banyak cerita dan kisah yang saya baca diberbagai sumber mengenai Gunung Arjuno dan Gunung Welirang, baik sisi sejarah masa lalu, Jalur-Jalur pendakian, Sisi mistik dan spiritual dan kisah masa jaman Kerajaan Singosari dan Majapahit yang konon berada di kaki Gunung Arjuno. Gunung ini Terletak di Kabupaten Malang dan Pasuruan, Provinsi Jawa Timur dengan ketinggian 3339 MDPL.

Meniti Pasir Kerikil Kawah Welirang

PENDAKIAN GUNUNG WELIRANG
3156 MDPL
KAB. PASURUAN, KAB. MOJOKERTO,
JAWA TIMUR

Mojokerto - Jawa Timur, Pendakian ke Gunung Welirang umumnya merupakan satu paket perjalanan dengan Gunung Arjuno. Pos 3 atau Pos Pondokan merupakan Pos terakhir sebelum summit attack ke Puncak Welirang. Setelah turun dari Puncak Arjuno. Saya kembali ke Pos pondokan. Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 13. 40 WIB siang. Hari masih cukup terang meski sedikit berkabut. Jika dilihat waktu, sesungguhnya masih cukup waktu untuk melanjutkan ke puncak welirang, namun karena fisik saya sudah terkuras habis saat ke Gunung Arjuno, saya pun memutuskan untuk menginap satu malam di Pos Pondokan dan melanjutkan perjalanan esok hari.

Rona Langit Senja di Bukit Wantiro Bau Bau

RONA LANGIT SENJA DI
" B U K I T   W A N T I R O "
BAU BAU, SULAWESI TENGGARA
 
BAU BAU, Provinsi Sulawesi tenggara merupakan sebuah daerah tingkat I yang terletak di sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Daerah ini terdiri dari 17 Kabupaten / Kota. Salah satunya yaitu Kota Bau-Bau. Sebuah kota tua yang mempunyai kisah dan perjalanan panjang dari masa penjajahan. Sejarah sudah banyak bercerita tertang rentetan perjuangan masyarakat dalam mempertahankan wilayahnya. Sebagai Kota yang menyandang gelar kota wisata dan sejarah. Banyak spot-spot wisata yang sudah dihadirkan oleh pemerintah Kota Bau-Bau.
Di ujung utara kota Bau-bau, terdapat sebuah spot wisata yang juga termasuk ikon Kota Bau-bau. Berada pada bibir jalan yang terdapat diujung tebing dan dengan tampilan panorama laut menjadi menu utama di tempat ini. Bukit Wantiro namanya. Berjarak sekitar 5 Km dari Pelabuhan Murhum Kota Bau Bau.

Patung Ekor Naga - Palagimata Bau Bau

PATUNG EKOR NAGA
PALAGIMATA, BAU BAU

BAU BAU, Sejak dulu, aktifitas masyarakat Kota Bau Bau hanya berkonsentrasi di seputaran keramaian kota. Dua wilayah yaitu Wolio dan Betoambari menjadi pusat berkumpulnya pemukiman warga. Kondisi demikian menjadikan Kota Bau Bau terkesan padat dengan kegiatan manusia ditambah lagi dengan luas Kota Bau Bau saat itu yang tidak begitu luas. 

 Lokasi Patung Ekor Naga

Karakteristik topografi Kota Bau Bau yang didominasi bebatuan dan bukit bukit yang menjadikan rumitnya penataan kota. Sebagian besar pola jalan di kota ini masih mengikuti alur jalan peninggalan masa lalu sehingga terjadi pemusatan pemukiman yang mengakibatkan kepadatan dan pengaturan lalu lintas yang rumit.
Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Jalan-jalan utama kota terlihat sesak dan tidak teratur oleh membajirnya kendaraan dari segala penjuru yang beraktifitas di pusat kota. Lalu lalang motor, mobil, truk, bentor, gerobak seakan tak pernah berhenti hilir mudik di alur jalan kota yang cukup sempit. Aktifitas masyarakat dan aktifitas perkantoran saling beririsan dan bercampur baur. Dibeberapa titik bahkan penuh kesesakan sekana tak beraturan dengan jalur jalan yang saling berhimpit-himpitan. Petugas jalan raya pun terus kewalahan mengatur pergerakan kendaraan di kota pelabuhan yang sangat sibuk ini. Kondisi demikian pastinya akan berdampak pada kenyamanan warga dalam beraktifitas. Kegiatan pelayanan masyarakat oleh pemerintah dan swasta pun cukup berdampak dengan ketidaknyamanan ini.

Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Oleh karena itu sejak tahun 2008, ekspansi besar-besaran dilakukan oleh Pemerintah Kota Bau Bau. Hampir seluruh aktifitas perkantoran dipindahkan ke lokasi yang terbilang luas. Jaraknya kurang lebih 5 Km dari pusat kota lama. Lokasinya cukup bergengsi karena berada di atas ketinggian. Dahulunya tempat tersebut hanya merupakan hamparan bukit batu yang gersang dengan hawa yang cukup panas.

Pelataran Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Palagimata namanya. Sebuah kawasan ratusan hektar luasnya. Berada di atas ketinggian dengan tampilan lautan, Kota Bau Bau serta Pulau Muna dan Pulau Kabaena yang jauh terlihat. Dengan dibangunnya kompleks perkantoran ini, beangsur angsur aktifitas pemerintahan Kota Bau Bau berpindah yang sebelumnya di Kota Lama ke kawasan Perkantoran Palagimata. Puluhan perkantoran sudah dan sementara dibangun di Kawasan ini.

Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Salah satu bangunan yang akhirnya memiliki daya pikat tersendiri adalah Kantor Walikota Bau Bau. Dengan luas kurang lebih 1000 M2, bangunan ini menjadi salah satu ikon kota Bau Bau yang ramai dikunjungi. Bangunan yang cukup megah dengan desain dan arsitektur yang elegan telah mampu merubah gengsi Pemerintah Kota Bau Bau.

Pelataran Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Pelataran Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata


Selain memang diramaikan oleh para pegawai yang wajib datang berkantor, setiap menjelang sore hari puluhan sampai ratusan orang dipastikan akan berkunjung ke tempat ini. Apa sesungguhnya yang menarik di tempat ini..? Padahal ini hanyalah sebuah Kantor Pemerintah pada umumnya.
Pelataran Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Pelataran Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Selain bangunannya, area Kantor Walikota Bau Bau ini memiliki sebuah pelataran dengan desain dan penataan yang menarik. Saat berkunjung kesini, pengunjung serasa berada disebuah taman yang penuh dengan tanaman dan penuh dengan warna. Saat hari kerja, pelataran ini tentunya digunakan sebagai tempat upacara, apel dan kegiatan pegawai lainnya, namun menjelang sore giliran pengunjunglah yang mengunakan pelataran ini untuk berkeliling-keliling, berfoto-foto, melepas anak-anaknya bermain, atau sekedar duduk bersantai menikmati hembusan angin pegunungan yang beiringan dengan angin laut dari depan.
Pelataran Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Pelataran Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Dari arah depan, tak pelak lagi, pandangan akan terhenyak melihat tampilan alam yang memanjakan mata. Sepertinya, sudah inilah yang memancing orang-orang untuk datang kemari. Merasakan angin sepoi-sepoi, melihat lautan lepas, pulau-pulau, kapal-kapal yang terlihat dari kejauhan adalah sesuatu yang mengundang orang untuk menghabiskan waktu sorenya di Bukit Palagimata ini.

Pelataran Kantor Walikota Bau Bau, Palagimata
Semakin sore, semakin ramai saja tempat ini. Dari segala penjuru satu persatu kendaraan bermunculan dari kedua arah ujung jalan. Melewati tanjakan aspal yang berliku-liku bukan menjadi masalah bagi pengunjung, yang terpenting rasa penatnya dapat terobati ketika melihat sang surya yang perlahan akan tenggelam.

Patung Ekor Naga, Palagimata
Tidak jauh dari pelataran Kantor Walikota Bau-Bau, tepatnya berada di ujung sebelah kanan disebrang jalan. Berdiri tegak sebuah patung yang memiliki cerita unik atas pendiriannya. Patung setinggi 5 Meter ini adalah kembaran dari Patung yang berada di Pantai Kamali.

Patung Ekor Naga, Palagimata
Menurut penuturan beberapa penunjung yang saya temui. Mereka mengatakan bahwa patung tersebut ceritanya merupakan sambungan Patung Kepala Naga yang berada di Pantai Kamali. Patung ini bentuknya memunculkan bagian ujung dari seekor naga. Sehingga patung ini disebut “Patung Ekor Naga”.
Patung Ekor Naga, Palagimata
Sungguh merupakan sebuah ide yang brilian dimana logika orang akan berkata bahwa “Sungguh panjang Naga tersebut meskipun yang dapat dilihat hanya bagian kepala dan ekornya saja. Bisa dibayangkan secara imajinasi bahwa ukuran Naga tersebut yang panjangnya melebihi 5 Km dimana kepala naga berada di ujung pantai dan ekor naga berada di atas bukit.

Patung Ekor Naga, Palagimata
Meskipun itu hanya hayalan belaka, namun inilah imaginasi yang sering digambarkan warga Kota Bau Bau dengan tujuan hanya untuk memberikan rasa penasaran bagi siapapun yang belum berkunjung ke Patung Kepala dan Ekor Naga ini.
Patung Ekor Naga, Palagimata
Ditempatkan pada sebuah bangunan kecil yang terbuka dengan pelataran yang tidak begitu luas, Patung Ekor Naga ini mampu memancing pengunjung untuk berfoto berlatar dirinya. Jika anda pernah ke Bukit Kintamani di Pulau Bali, mungkin seperti itu suasana dan pemandangan yang anda akan rasakan. Melihat dari kejauhan Kota Bau Bau yang perlahan mulai diterangi cahaya ribuan lampu sambil memandang mentari yang sudah lenyap ditelan bumi.

Patung Ekor Naga, Palagimata
Sepertinya sudah cukup perjalanan kami di Kawasan Palagimata ini, banyak pengalaman yang akan kami ceritakan pada teman, keluarga yang belum berkunjung ke tempat ini. Semoga tempat ini tetap terjaga dan tetap memberikan daya pikat bagi siapapun yang menapakkan kaki disini. Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai referensi anda untuk melakukan perjalanan ke Kota Bau Bau. Ayoo.. Tunggu Apa Lagi…!!! Ayo ke Patung Ekor Naga Palagimata..!!!

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :

Pantai Nirwana Pantai Kamali Bukit Wantiro
Benteng Keraton Bukit Waru Tomia Ekor Naga Palagimata
Benteng Patua Pantai HuntetePantai Lakota
Goa Tee Wali Pulau Tomia Pantai Hundue

Ziarah Jejak Sejarah Benteng Keraton Buton

WISATA SEJARAH
BENTENG KERATON BUTON

BAU BAU, Sejarah pernah mencatat perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan dan mengusir penjajah. Sekitar 3 abad lamanya penjajah mengusik ketentraman nusantara. Bangsa Indonesia yang saat itu masih terbagi dalam wilayah wilayah kerajaan berjuang demi mempertahankan daerahnya dari ekspansi penjajah. Sejarah pun bercerita dengan peninggalan peninggalan yang bisa kita saksikan diberbagai wilayah nusantara. 

 Lokasi Benteng Keraton Buton

Salah satu bukti perjuangan leluhur dalam mempertahankan bumi pertiwinya adalah Kerajaan Buton. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Benteng Keraton Buton dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596).
Gerbang Kraton Buton
Benteng tersebut pada awalnya hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu yang bertujuan untuk mengelilingi kompleks istana dengan maksud untuk mambuat pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat sekaligus sebagai benteng pertahanan. Pada masa pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, benteng berupa tumpukan batu tersebut dijadikan bangunan permanen.
Salah Satu Sudut Benteng Kraton Buton

Benteng Kraton Buton
Benteng tersebut pada awalnya hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu yang bertujuan untuk mengelilingi kompleks istana dengan maksud untuk mambuat pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat sekaligus sebagai benteng pertahanan. Pada masa pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, benteng berupa tumpukan batu tersebut dijadikan bangunan permanen.
Benteng Keraton Buton
Benteng Kraton Buton merupakan saksi sejarah yang menggambarkan kebesaran Kesultanan Buton pada masa itu. Area kerajaan yang dikelilingi benteng yang terbuat dari batu karang dengan sedikit ramuan para leleuhur yang membuatnya kokoh sampai hari. sudah sekitar 370 tahun lamanya benteng ini berdiri dan tetap tegar walau puluhan generasi telah dilewatinya. 
Pintu Gerbang Kraton Buton
Pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadan Benteng Keraton Buton memberi pengaruh besar terhadap eksistensi Kerajaan. Dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh. Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh anda dapat menikmati pemandangan Kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di selat Buton dengan jelas dari ketinggian.
Pelataran Benteng Keraton Buton
Letaknya berada di sebelah timur Kota Bau Bau dan berada pada ketinggian 150 Meter dari permukaan laut. Konon menurut lembaran sejarah, posisi benteng ini berada sangat dekat dengan laut, karena proses penurunan air laut yang membuat tepi laut sudah berada sekitar 20 Mil dari ujung benteng ini. Area benteng ini dapat terlihat, jika anda berada di tepi pantai yang berpemandangan terbuka. Karena letaknya yang cukup tinggi menjadikan benteng ini dapat terlihat dari kejauhan, bahkan di lautan depan Kota Bau Bau.
Benteng Kraton Buton
Pemandangan seluruh Kota Bau Bau dipastikan akan terlihat jelas dari berbagai sudut benteng ini. karena letaknya yang tinggi. Daratan, lautan serta pulau-pulau dapat terjangkau dengan pandangan mata dari tempat ini.Ssejarah pernah bercerita bahwa saat itu pasukan kerajaan buton berpusat didalam benteng ini. Hilir mudik kapal-kapal bala tentara dan kapal dagang kala itu sibuk melintas di depan tembok Benteng Kraton Buton ini.
Benteng Keraton Buton
Jarak tempuh ke Pintu gerbang utama Benteng Kraton Buton dari Pelabuhan Murhum yaitu sekitar 8 Km. Jaraknya cukup dekat dan pengunjung bisa menempuhnya dari berbagai macam arah, baik dari jalur barat, jalur utara maupun jalur selatan. Maklum saja, Kota Bau Bau ini memiliki ruas jalan yang sangat banyak dan bisa menjangkau seluruh bagian kota, sehingga untuk menuju ke suatu tempat akan ada banyak alternative jalur yang tersedia.
Mesjid Benteng Keraton Buton

Gerbang Benteng Kraton Buton
Saat mulai mendekati kawasan Benteng, jalan mulai akan menanjak terjal melewati aspal yang tidak begitu luas untuk menuju gerbang utama. Kawasan benteng ini memiliki luas 10 Ha yang keseluruhan kawasannya dibatasi oleh tembok batu yang sudah berusia ratusan tahun lamanya. Konon, tembok batu ini hanya berbahan batuan karang saja kemudian dibentuk menjadi sebuah pagar pertahanan dengan racikan bahan perekat. Menurut berbagai sumber, perekat tersebut diracik oleh orang-orang tua yang memiliki “kelebihan” kemampuan sehingga mampu menghasilkan tembok pertahanan yang masih bertahan hingga sekarang meski umurnya sudah sekitar 370 Tahun.
Mesjid Benteng Keraton Buton
Saking luasnya, butuh kendaraan untuk berkeliling dan menyambangi setiap tempat yang punya nilai sejarah. Mengitari kawasan benteng ini, pengunjung seakan terbawa dengan suasana masa lalu ketika sultan masih bertahta dan berkuasa. Istana Sultan yang disebut dengan Malige masih bisa kita saksikan saat ini. Beberapa pendopo dan ruang pertemuan masih terawat rapi. Saat ini sudah ratusan KK yang tinggal di dalam kawasan benteng kraton Buton ini. Kabarnya, mereka masih merupakan keturunan dari para pembesar Kesultanan Buton saat itu.
Mesjid Kraton Buton
Wilayah Kraton buton ini termasuk dalam wilayah Kelurahan Murhum, Kota Bau Bau. Beberapa ketentuan diterapkan bagi yang tinggal di wilayah kompleks Kraton Buton, salah satunya adalah model rumah harus menerapkan sedikit atau seluruhnya gaya rumah adat buton yaitu Malige. Maka tidak heran diseluruh area kraton, baik rumah, kantor, toko maupun sekolah terdapat sebuah cirri khas rumah adat buton yang disisipkan atau ditampilkan pada bagian bangunannya. Ketentuan tersebut sudah lama diterapkan dan masih terus berlaku sampai sekarang. Ini sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan bagi kawasan Kraton Buton yang mempunyai nilai warisan budaya dan kearifan local yang terus terpelihara dan dijaga.
Mesjid Benteng Keraton Buton
Mesjid Kraton Buton inilah yang menjadi lambang kebesaran Kesultanan Buton dulu hingga hari ini. Menjadi salah satu tempat sejarah di Buton menjadikan Masjid Kraton ini tidak henti-hentinya disambangi oleh pengunjung dari berbagai daerah. Banyak orang dari berbagai penjuru telah mengobati rasa penasarannya akan legenda yang sangat bersejarah dan menjadi tonggak budaya masyarakat Buton pada umumnya.
Mesjid Kraton Buton
Sebagai saksi sejarah kesultanan Buton, Mesjid ini senantiasa dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah. Selain ingin melihat bukti nyata peningalan Buton masa lalu, para peziarah juga melakukan aktifitas ibadah para umumnya di dalam Masjid Kraton Buton ini. Mesjid ini merupakan yang tertua di Sulawesi Tenggara dan menjadi warisan budaya dan religius. Banyak nilai-nilai budaya dan keagamaan yang dapat dipelajari saat berkonsultasi dengan para pemangku adat yang memang masih tetap menanamkan ciri khas budaya Buton.
Mesjid Kraton Buton
Mesjid Kraton Buton
Mungkin ada yang berbeda suasana dalam Mesjid ini dari mesjid pada umumnya. Selain bentuk dan tata letaknya masih mencirikan suasana pada masa kesultanan, didalam mesjid ini jamaah akan bersama-sama para sesepuh adat, imam besar masjid dan petugas masjid yang semuanya berseragam jubah dengan cirri khas adat Buton. Semua itu sudah berlangsung sejak lama sampai hari ini sebagai bentuk tradisi dan mempertahankan nilai-nilai religious cultural yang merupakan warisan leluhur Kesultanan Buton.
Mesjid Kraton Buton
Meski sudah berusia lebih dari 3 abad lamanya, Ia masih berdiri tegak diatas pilar-pilar batu yang menopanggnya. Meskipun pernah melalui sedikit renovasi, namun tidak mengubah bentuk dan model aslinya. Berada di Mesjid ini serasa kita dibawa pada keadaan saat itu dimana para petinggi kerajaan sedang berkumpul untuk beribadah dan membahas segala sesuatu tentang masa depan kerajaan dan strategi pertahanan untuk menghalau datangnya musuh.
Mesjid Kraton Buton
Tepat didepannya, sebuah tiang masih tegak menjulang. Seakan tak lekang oleh waktu, ia tetap tegak laksana perisai mesjid kraton buton. Ribuan generasi sudah dilewati. Tiang ini tetap kokoh berdiri seakan melambangkan kekuatan masa lalu Kesultanan Buton yang Berjaya pada masanya. Banyak cerita dibalik pembangunan Mesjid Kraton dan Tiang ini.
Benteng Keraton Buton
Salah satu bukti sejarah yang terdapat di dalam kawasan Benteng Kraton Buton adalah terdapatnya sebuah jangkar kapal yang berada de depan halaman Masjid Kraton. Konon, menurut kisah dahulu ditempat ini merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal prajurit Kerajaan. Jangkar ini sudah berusia lebih dari 3 abad dan masih tetap terawat dan kokoh. Oleh karenanya, penempatan jangkar ini, dibuatlah sebuah prasasti dengan beberapa petunjuk yang dipasang sebagai infromasi kepada pengunjung tentang jangkar ini.
Benteng Keraton Buton
Berarti bisa dibayangkan, pada masa itu, tembok kraton buton ini sangat dekat dengan lautan sehingga kapal-kapal dapat menjangkaunya. Jangkar ini seakan menceritakan kesibukan armada kapal perang saat itu yang hilir mudik melintas dengan membawa prajurit yang tengah berjuang mempertahankan tanah Buton dari serangan penjajah.

Sebagai salah satu tujuan wisata sejarah yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Bau Bau, saat ini kawasan Benteng Kraton Buton sudah berpoles diri meskipun tidak meninggalkan ciri khas aslinya. Jika anda pernah berkeliling di kawasan Kraton di daerah jawa, mungkin seperti itu suasana yang anda dapat rasakan disini.

Benteng Keraton Buton
Penataaan jalan kendaraan dan jalan setapak sudah diatur sedemikian rupa sehingga memberikan keleluasaan akses bagi pengunjung. Beberapa peninggalan seperti Istana, Pendopo, Makam, dan tembok yang sudah termakan usia, kini sudah dipugar meski tidak merubah bentuk aslinya.

Mesjid Kraton Buton
Beberapa petunjuk jalan, nama tempat berserta istilah daerahnya sudah dipampang diseluruh kawasan Benteng. Semuanya untuk memberikan pentunjuk serta pemahaman para pengunjung tentang situs-situs sejarah yang tersebar diseluruh kawasan benteng ini. Saat sore hari disetiap harinya merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung di tempat ini. Puluhan orang sudah mulai berdatangan untuk melihat kemegahan Benteng Kraton Buton ini. dari tempat ini Sunset dapat terlat jelas. Saat mentari mulai tengeelam, saat perlahan cahaya mentari Kota Bau Bau terlihat meredup.
Rasanya tidak cukup waktu sehari untuk melihat semua situs situs bersejarah di Benteng Kraton Buton ini, namun apa yang kami saksikan saat berada disini sudah cukup mewakili dan menggambarkan kejadian masa lalu yang penuh dengan nilai sejarah perjuangan yang menjadi momok untuk generasi muda sekarang. Semoga Tulisan ini dapat bermanfaat bagi para Peziarah dan Traveler yang penasaran akan spot wisata sejarah di Pulau Buton.
Ayoo... Tunggu Apa Lagi...!!! Ayo Ke Benteng Kraton Buton !!!

Baca Juga :


Pantai Nirwana Pantai Kamali Bukit Wantiro
Benteng Keraton Bukit Waru Tomia Ekor Naga Palagimata
Benteng Patua Pantai HuntetePantai Lakota
Goa Tee Wali Pulau Tomia Pantai Hundue
Written by : Muh. Dagri Nizar
Posted by   : Yusniatin Saputri Rahim
Photo by    : Ery Wahyuni, Alvin Gustaman, Sholeh Ardjanggi

Film Travelling

VIDEO TRAVELLING :
Candi Borobudur
Candi Prambanan
Candi Mendut
Candi Ratu Boko
Kaliurang Merapi
Monumen Jogja Kembali
Gembira Loka Zoo
Kota Gede
Pantai Parang Teritis
Tugu Mangkubumi Jogja
Jalan Malioboro

Dalam Pusaran Angin Debu Gunung Sumbing

PENDAKIAN GUNUNG SUMBING 
3371 MDPL
Kab. Wonosobo, Prov. Jawa Tengah


Gunung Sumbing terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung ini terletak berhadapan dengan Gunung Sindoro. Adapun jalur yang paling sering menjadi pilihan pendaki yaitu melalui Dusun Garung, Desa Butuh, Kec. Kalikajar, Kab. Wonosobo. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3371 MDPL dan merupakan gunung tertinggi kedua di Provinsi Jawa Tengah.
Setelah melakukan pendakian di Gunung Sindoro, Kab. Temanggung. Saya kemudian melanjutkan pendakian ke Gunung Sumbing, Kab. Wonosobo.
Setelah berpamitan dengan teman-teman di KPA – GRASINDO, saya melanjutkan perjalanan ke Pos Pendakian Gunung Sumbing. Dengan menumpang ojek, saya diantar ke titik star pendakian Gunung Sumbing. Jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 500 Meter dengan kembali melewati jalur jalan utama Trans Wonosobo lalu berbelok kiri dengan melihat petunjuk yang terdapat di pinggir jalan. Berbeda dengan Pos pendakian Gunung Sindoro, Pos pendakian Gunung Sumbing berada sekitar 150 Meter dari pinggir jalan utama. 
Pos Pendaftaran Gunung Sumbing
Dusun Garung, Wonosobo

Saat saya tiba, tampak kesibukan pengelola Pos dalam melayani pendaki yang akan registrasi. Beberapa pendaki yang akan naik juga tampak sedang sibuk berkemas. Sedikit berbeda dengan kondisi di Pos Pendaftaran Gunung Sindoro, disini tampak tidak begitu ramai, tidak kurang 25 orang pendaki saja yang akan melakukan pendakian hari itu. Beberapa dari mereka ada yang dari Jakarta, Kuningan, Bandung, Tegal dll.

Seperti halnya di Pos Gunung Sindoro, ditempat ini juga disediakan sebuah basecamp untuk tempat istirahat pendaki dan fasilitasi lain seperti tempat parkir, kamar mandi dan toilet. Meskipun tidak sebesar di Pos Gunung Sindoro, tapi fasilitas yang ada tersebut cukup memberi kenyamanan pendaki sebelum melakukan perjalanan. Seluruh pengelolan Gunung Sumbing ditangani oleh KPA-STIK PALA


Aktifitas pendakian ke Gunung Sumbing cukup memberikan nilai manfaat kepada masyarakat dan warga Desa Garung. Dari hasil yang diperoleh dari biaya pendaftaran pendaki, ada kontribusi kepada pembangunan desa dan fasilitas umum juga perawatan Pos pendaftaran. Manfaat yang juga didapatkan oleh masyarakat yaitu jasa ojek yang ditawarkan kepada pendaki untuk diantarkan sampai Pos I. Untuk tarifnya yaitu sebesar Rp. 25 ribu/orang. Aktifitas pendaki ini cukup memberikan nilai tambah bagi tukang ojek yang sebenarnya hanya profesi sampingan sambil menunggu musim panen tembakau tiba.


Karena hanya sendirian, saya pun segera mencari teman untuk pendakian ini. Setelah berkenalan dengan beberapa pendaki, akhirnya saya mendapatkan partner yang cocok yaitu 2 orang pendaki dari Mapala Green Universitas Kuningan. Mereka adalah Kang Iqbal dan Neng Imamah.
 
Dusun Garung dengan Latar Gunung Sumbing

Saat itu hari jumad tanggal 14 Juli 2017, waktu masih menunjukkan pukul 08.15 Pagi. Setelah registrasi dan membayar biaya administasi sebesar Rp. 20.000, saya sarapan terlebih dahulu di sebuah warung nasi goreng yang terdapat dalam posko pendakian. Beberapa pendaki sepertinya sudah akan memulai pendakian. Beberapa dari mereka terlihat sudah mulai bergerak meninggalkan pos pendaftaran.

Sekitar pukul 9.20, kami pun mulai bergerak. Perjalanan diawali dengan menyusuri jalan aspal Dusun Garung dengan tanjakan landai. Tampak perkampungan Desa Butuh mulai nampak aktifitasnya. Satu persatu warga mulai meninggalkan rumahnya menuju kebun. Tampak bocah-bocah berpakaian muslim berjalan beriringan menuju sekolah mereka.


Terlihat dari depan menjulang tinggi Gunung Sumbing yang siap saya daki. Kami sempat tercengang melihat besarnya gunung yang akan kami daki dan sempat membayangkan bagaimana nanti diatas sana, maklum kami bertiga baru pertama akan berkunjung ke Gunung Sumbing.
Pemandangan Gunung Sindoro dari Dusun Garung

Saat menoleh kebelakang, tampak Gunung Sindoro yang sudah saya daki beberapa hari yang lalu. Masih terngiang memori pendakian saat aku menapaki jalur bebatuan yang sangat panjang. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing adalah dua tempat yang memiliki daya tarik bagi para petualang di Indonesia.
Perkampungan Desa Butuh, Wonosobo
Jalur Pendakian ke Gunung Sumbing
Perjalanan masih berada di jalan aspal dan masih menyusuri perkampungan Desa. Rumah-rumah warga tersusun rapi berbanjar mengikuti alur pegunungan yang semakin menanjak. Tampak beberapa warga berjalan kaki dan ada yang menaiki motor untuk menuju ke ladang tembakau miliknya.

Perkampungan di Dusun Garung ini cukup tertata rapi, meskipun kontur tanahnya miring. Sebagian besar warganya merupakan petani ladang tembakau. Mereka bercocok tanam di seluruh ruas lereng Gunung Sumbing sehingga sepanjang mata memandang hanya ada tanaman tembakau yang tampak.

Setelah melalui perjalanan aspal sekitar 40 Menit, selanjutnya jalur memasuki jalan paving blok. Di jalur ini, kami sudah mulai menjauhi perkampungan dan mulai memasuki hamparan ladang tembakau yang tidak terhitung luasnya. Di lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro memang lumbung utama dari komoditas tembakau. Tanaman ini tumbuh subur dan cocok dengan hawa kedua gunung ini. Hasil dari perkebunan tembakau ini telah menjadi sumber kekuatan ekonomi utama bagi masyarakat di Lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.
Berpapasan dengan warga yang sedang beraktifitas di ladang

Sesekali kami berpapasan dengan warga yang melintas di jalur pendakian. Mereka mencari pakan buat hewan ternak. Di jalur pendakian sangat banyak warga yang melintas, khususnya antara desa dan Pos I. Di Jalur tersebut memang merupakan wilayah yang diperkenankan untuk bercocok tanam, sementara setelah Pos I sudah tidak ada lagi aktifitas masyarakat disana.
Jalur ke Pos I
Melewati Perkebunan Tembakau

Melalui jalan setapak yang semakin menanjak, kami disuguhkan pemandangan lereng gunung yang semuanya tampak hijau oleh pucuk-pucuk daun tembakau. Komoditas unggulan yang merupakan sumber utama sektor pertanian masyarakat di lereng Gunung Sumbing.
Bisa dibayangkan kalau seluruh tembakau yang dijemur di dua gunung ini tiba-tiba Terbakar. Asapnya berhamburan kemana-mana….
Jangankan manusia…. alam pun pasti Merokok….hehehehe (Bercandaaaa..Guys...)
Pemandangan Perkebunan Tembakau di Kaki Gunung Sumbing

*Kembali Ke Cerita*
Dari kejauhan tampak perkampungan penduduk dan kawasan hutan pinus yang masih terjaga. Semakin kami melangkah, perkampungan terlihat semakin menjauh. Sayup-sayup suara masjid mulai terdengar saat waktu menunjukkan pukul 11.30. Tidak lama lagi akan masuk waktu Shalat jumad. Kami terus melangkah ke Pos I meskipun tampak suasana mulai tidak bersahabat.
Kabut Pegunungan Menuju Pos I

Sesekali kabut turun menutupi kawasan lereng gunung dan jalur pendakian. Ditambah dengan tiupan angin yang cukup menggetarkan langkah. Jarak pandang beberapa saat berkurang. Meskipun sedikit drop tapi kami tetap menguatkan mental untuk terus melangkah maju membelah kabut yang terasa dingin menusuk. Padahal posisi kami masih di bawah Pos 1, kondisi kabutnya sudah sedemikian pekatnya. Bagaimana jika sudah berada diatas nanti ??
Susana Pos I, Jalur Pendakian Gunung Sumbing

Akhirnya sekitar pukul 12.10 kami tiba juga di Pos I. Kondisi sontak berubah, yang tadinya tertutup kabut berganti dengan pancaran sinar mentari yang menembus seluruh sisi pegunungan, meskipun hawa dingin tetap mendominasi. Pos I berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Pos pendaftaran. Tempatnya sangat luas dan terdapat sekitar 4 shelter dan sebuah musholah kecil. Terdapat aliran air yang mengalir melalui pipa. Sumber air ini menjadi titik air terakhir pada pendakian Gunung Sumbing.

Suasana Pos I sangat memberikan keteduhan bagi siapa saja yang singgah di tempat. Kesejukan angin pegunungan bergantian berhembus di tempat ini. Meskipun matahari bersinar terang, namun seperti tidak berasa panas saat kami berjemur. Beberapa Mas Ojek sedang berkumpul untuk menunggu giliran mengantarkan pendaki yang akan turun ke Desa. Terdapat juga warung kecil milik seorang warga yang menyediakan Air Panas, tahu goreng dan Mie Rebus.


Sebuah Musholah beukuran 3 x 3 meter disediakan oleh pengelola. Riak air mancur kecil tak berhenti meluncur dari sebuah pipa yang berada tepat disebelah Musholah. Sepanjang pendakian gunung yang sudah saya daki, inilah Pos pendakian di tengah perjalanan yang paling istimewa. Hampir semuanya ada. Terlebih lagi Pos I ini berada di tengah kawasan hutan cemara yang rimbun. Sungguh suatu tempat yang sangat istimewa. Bahkan, signal telepon dan data masih dapat dijangkau disini.

Meskipun tempatnya sangat luas, tapi tidak ada pendaki yang menginap disini. Pos I hanya menjadi persinggahan sementara baik saat naik maupun saat turun gunung. Beberapa pendaki yang singgah di tempat ini hanya beristirahat sejenak sambil menikmati minuman hangat di warung yang tersedia, juga ada yang bersih-bersih sebelum turun ke desa.
Tim Pendaki
Muh. Dagri Nizar, Muh. Iqbal dan Nur Imamah

Setelah waktu sholat jumad sudah berakhir, kami segera beranjak dari Pos I menuju Pos II. Jalur yang dilewati sudah memasuki jalur pendakian yang sebenarnya. Sudah tidak ada aktiftas masyarakat dan perkebunan yang kami temui disepanjang jalan. Jalurnya cukup menanjak dan terkadang landai. Kami sangat leluasa melangkah karena kondisi jalannya yang nyaman untuk berpijak.
Jalur Menuju Pos II

Perjalanan ke Pos II, kami melewati hutan yang cukup rimbun. Sepanjang jalan banyak ditumbuhi cemara gunung sehingga menambah kesejukan bagi siapa saja yang melewatinya. Sekitar 40 Menit sampailah kami di Pos II. Ditempat ini cukup datar dan cukup luas. Disini tidak terdapat shelter, hanya terdapat tempat duduk yang terbuat dari pohon tumbang. Kami hanya beristirahat sejenak sekitar 5 menit dan bersiap untuk melalui jalur ke Pos III.

Jalur ke Pos III dan seterusnya merupakan perjalanan dengan medan yang sangat menantang. Kondisi jalurnya menjadi ciri khas dari perjalanan ke Puncak Gunung Sumbing dan telah menjadi memori yang tidak akan terlupakan bagi seluruh pendaki yang telah melaluinya. Jika di Gunung Sindoro sepanjang jalan dari Pos III ke puncak, pendaki akan melalui hamparan bebatuan. Tapi di Gunung Sumbing dari Pos II sampai ke Puncak pendaki akan melalui medan yang sangat membosankan dan membuat sesak. Apalagi kalau bukan JALUR BERDEBU.
Jalur Berdebu menuju Pos III
Setelah lepas dari Pos II, sekitar 10 menit pendaki akan disuguhkan jalur berdebu yang sangaaaaaatt panjang. Jalurnya tetap saja menanjak, tapi pendaki harus siap-siap menutupi wajah dan hidung dengan masker. Jangan lupa membasainya terlebih dahulu agar mengurangi kadar debu yang akan dihirup. Selangkah demi langkah kami lewati satu persatu sambil mengatur napas dan pandangan. Jalurnya terkadang terdapat pegangan tapi lebih banyak hanya mengandalkan pijakan. Sesekali kami harus berpegang pada rumput mati yang tumbuh di jalur.
Jalur Tanjakan Berdebu menuju Pos III

Entah kenapa jalur ini kering dan berdebu, padahal di sekeliling banyak tumbuh pepohonan yang rindang. Selain harus memperhatikan pijakan dan pegangan, kami juga harus menjaga pandangan mata, jangan sampai terkena debu yang bisa membuat penglihatan perih. Sesekali angin bertiup di jalur, saat itu pula debu beterbangan yang membuat pakaian dan ransel kami berubah menjadi kecoklatan.
Tanjakan Berdebu

Jalur ini cukup panjang dan membosankan. Meskipun capek, tapi tidak ada yang berniat untuk istirahat sejenak di model jalur seperti ini. Sama sekali tidak ada udara segar disepanjang jalan yang kami lewati ini. yang kami pikirkan hanya, sampai berapa lama lagi model jalan seperti ini.
Pos III, Jalur Pendakian Gunung Sumbing
Bahkan, sampai kami tiba di Pos III pun kondisi tanahnya masih seperti ini. saat itu waktu menunjukkan pukul 15.20. Sesungguhnya para pendaki direkomendasikan untuk bisa nginap saja di tempat ini sebelum ke Puncak esok hari, namun karena melihat kondisi tanahnya seperti ini, kami memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan.
Jalur Menuju Pos Pestan

Karena hari masih terang, kami bergegas melangkah menuju tempat yang layak mendirikan tenda. Jalurnya masih sedikit berdebu dengan kondisi tanah kering. Tingkat kerapatan pohon juga semakin berkurang. Sudah terlihat di depan sana banyak tempat-tempat yang terbuka.
Pemandangan Gunung Sindoro dari Gunung Sumbing

Sesekali kami menoleh ke belakang, tampak Gunung Sindoro yang menjulang tinggi. Pemandangan yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. Sungguh sebuah lukisan karya alam yang tak ternilai harganya.
Jalur Berdebu Menuju Pos Pestan

Perjalanan ini cukup melelahkan, terlebih bagi saya yang baru dua hari yang lalu mendaki di Gunung Sindoro. Tentunya fisik masih belum pulih, akan tetapi saya tetap semangat terlebih lagi melihat kedua rekan yang menemani saya yang tetap kuat melangkah dengan beban carrier yang cukup berat.

Setelah perjalanan 30 menit dari Pos III, terdapat sebuah tempat terbuka yang juga layak untuk mendirikan tenda. Tempat ini dinamakan Pestan. Lokasinya cukup luas dan bertingkat-tingkat. Tempat ini dapat menampung sekitar 10 Tenda.


Saat kami tiba di tempat ini, waktu menunjukkan pukul 16.00. Kami sempat memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat ini, namun karena target puncak masih jauh dan juga untuk memudahkan perjalanan ke puncak esoknya maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Camp terakhir yang bernama Watu Kotak.
Tanjakan berdebu ke Pos Watu Kotak

Jalur berdebu kembali membentang di depan mata. Pemandangan terbuka dengan derasnya arus angin menemani langkah kami yang sudah mulai lambat seiring hari yang semakin senja. Jarak ke Camp Watu Kotak sekitar 2 jam perjalanan. Kami terus memacu langkah meskipun fisik sudah mulai letih. Ketika angin berhembus, maka beterbanganlah debu-debu dijalur pendakian. Sesekali kami harus berhenti saat hempasan angin berputar-putar menggamburkan debu.
Pemandangan Gunung Sindoro
Sesekali kami menoleh ke belakang melihat megahnya Gunung Sindoro. Rasa lelah sedikit terobati tatkala melihat lukisan alam yang tersaji sepanjang langkah ke Puncak Sumbing. Dari kejauhan, saya dapat melihat Gunung Slamet di Tegal dan dari kejauhan lagi, saya melihat Gunung ciremai di Cirebon. Subhanallah..!! Pemandangan seperti ini hanya dapat disaksikan melalui perjuangan menapaki tempat-tempat tertinggi.

Waktu terus berjalan, dan Pos Watu Kotak masih jauh. Sepertinya kami pasti akan kemalaman. Terlihat mentari sudah mulai turun dan langit memerah. Kami pun sempat drop, tapi keputusan sudah diambil. Pos Pestan sudah jauh kami tinggalkan, sedangkan Pos Watu Kotak masih sekitar 1 jam lagi. Langkah terus dipacu dan dipacu. Rasa capek, lapar, lemas dan sedikit khawatir menghantui langkah kami. Sesaat kemudian hari sudah memasuki malam dan jalur sudah gelap. Sinar headlamp cukup untuk menerangi langkah kami yang sudah tak beraturan nafas.

Saat melewati celah dua tebing adalah saat yang paling mengerikan bagi kami. Ternyata disinilah jalur arus angin yang ganas itu. Sudah banyak cerita yang saya dengan tentang keganasan angin di Gunung Sumbing. Langkah semakin goyah tatkala angin deras menghambat perjalanan kami.

Waktu telah menunjukkan pukul 19.10 malam. Dari kejauhan terlihat sebuah batu yang berbentuk kotak. Saya yakin inilah yang dinamakan Watu Kotak. Saya berteriak memanggil kedua teman yang berada cukup jauh dibelakang dengan mengatakan Pos sudah didepan.

Akhirnya sekitar pukul 20.00 sampailah kami di Pos Watu Kotak. Pos ini terletak di pinggir sebuah tebing. Disekitarnya terdapat banyak batu-batu besar. Tempat ini merupakan tempat yang sangat terbuka dan merupakan jalur pergerakan angin. Saat kami tiba, saat itu juga tenda langsung akan didirikan, namun ternyata tidak mudah mendirikan tenda di Pos Watu Kotak. Angin bertiup tidak henti-hentinya. Setiap tenda akan berdiri, angin langsung menghempas.

Sudah hampir 1 jam kami disini, tapi belum berhasil mendirikan tenda. Jika kami paksakan, kemungkinan besar frame tenda akan patah dan tenda akan robek. Saat kami hampir putus asa, saya melihat sebuah celah kecil yang tidak luas. Di tempat itu arus angin tetap ada namun tidak sekuat di tempat sebelumnya. Akhirnya seluruh perlengkapan kami pindahkan segera. Tak berselang lama tenda pun berdiri dalam posisi miring dan sedikit menggantung. Yang penting malam ini kami bisa istirahat.

Tidak ada aktifitas makan malam saat itu, kami hanya menghangatkan badan dengan beberapa gelas kopi susu dan rokok. Kami hanya berdiam dalam tenda sambil berharap-harap angin ganas itu segera pergi. Namun itu tidak terjadi. Sampai kami tidur, angin keras terus bertiup kencang dan mengibas-ngibas bagian-bagian tenda kami. Saya tidak bisa tertidur pulas, karena khawatir dengan posisi miring tenda dan derasnya angin yang sepertinya mulai menggeser-geser posisi tenda kami.

Angin di Gunung Sumbing merupakan tantangan yang sangat dahsyat. Sepanjang pengalaman pendakian saya di gunung-gunung yang lain, baru kali ini saya menyaksikan keganasan angin yang sepertinya tidak lelah berputar-putar di sisi-sisi tebing di kawasan Watu Kotak ini. Kondisi itu terjadi sepanjang malam dan tak pernah berhenti sampai matahari kembali terbit.

Keganasan angin gunung sumbing sudah menjadi momok menakutkan bagi para pendaki. Berbeda dengan karakteristik angin di gunung-gunung yang lain. Menurut saya, angin di gunung sumbing bertiup dengan membawa material-material yang halus dan bercampur dengan kabut yang terasa pedis. Karena menghantam sepanjang pendakian dan mengurung kami sepanjang malam sehingga hasilnya membuat kulit memerah dan mengelupas. Selain itu, bibir saya terbelah tipis dan luka kering. Sungguh ganas dampaknya, namun itulah resiko bermain di alam terbuka. Semuanya harus kita nikmati.
Suasana Pagi di dalam tenda
Pos Watu Kotak

Saat pagi datang, beberapa gelas kopi susu hangat sudah tersaji. Tiupan angin kami rasa sedikit berkurang. Aktifitas pagi pun segera dilakukan. Setelah ngopi, kami mulai mempersiapkan perlengkapan seperlunya untuk ke puncak. Adapun tenda dan perlengkapan lain, kami tinggalkan di tempat ini. tidur semalam sepertinya belum bisa mengembalikan tenaga kami. Kami tidur dalam keadaan was-was dengan posisi tidak nyaman karena banyak gundukan kecil dibawah tenda yang belum sempat dibuka saat mendirikan tenda semalam.
Packing-Packing sebelum ke Puncak Gunung Sumbing

Sekitar pukul 06.30 pagi, persiapan ke puncak sudah rampung, satu-per satu barang yang akan dibawa dimasukkan ke ring back, sementara barang yang masih berhamburan di luar dimasukkan semuanya ke dalam tenda. Pagi ini cukup cerah meskipun angin masih saja lalu lalang di sekitar pos ini.
Jalur rerumputan menuju Puncak Gunung Sumbing

Perjalanan ke puncak pun dimulai. Jalur pertama dilalui dengan menyusuri jalur rerumputan yang masih juga berdebu. Sekitar 15 menit kemudian kami melewati tanjakan bebatuan yang berukuran sedang dan besar. Disepanjang jalan, tumbuhan eidelweis menghiasi pemandangan. Tumbuhan ini mekar di sepanjang jalur dari Watu Kotak ke Puncak.

Saat menoleh keatas, sudah terlihat kawasan yang terbuka. Sudah tidak ada lagi kawasan pepohonan, yang ada hanya tanaman-tanaman kerdil. Ini menandakan bibir kawah sudah dekat. Jalur berdebu tetap kami lewati yang memang sudah menjadi ciri khas Gunung Sumbing.

Akhirnya setelah 1.5 jam berjalan, sampailah kami di bibir kawah Gunung Sumbing. Terlihat di dasar kawah gumpalan asap belerang yang tidak begitu banyak. Untuk menuju ke Puncaknya kami harus berjalan menyusuri bibir kawah sekitar 20 Meter.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Puncak Gunung Sumbing akhirnya tercapai. Memerlukan perjuangan dan kesabaran untuk sampai ke tempat yang memukau dan mempesona ini. Sebuah tempat yang memiliki tampilan pemandangan tersendiri. Dari arah timur Gunung Slamet menampakkan diri. Gunung yang sudah aku daki Tahun 2011 yang lalu.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Dari arah tenggara, Gunung Merbabu, Gunung Merapi dan Gunung Andong berbaris rapi diseimuti awan putih. Saat di puncak Gunung Sumbing, saya memandang jauh sekeliling. Terlihat banyak gunung-gunung yang bertebaran di sepanjang mata. Posisi Gunung Sumbing memang tepat berada di tengah-tengah pulau Jawa. Jadi sepanjang mata terbentang puncak-puncak lain di Pulau Jawa.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Perjalanan ke Puncak Gunung Sumbing menambah lagi catatan perjalanan saya. Suatu tantangan dan cerita terbaru saya dapatkan di Gunung ini. Tantangan dan rintangan sungguh memiliki ciri khas tersendiri yang belum saya temukan di tempat lain di sepanjang perjalanan saya mendaki gunung. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan setelah melewati jalur panjang yang berdebu.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Rasa syukur kepada Allah SWT, yang masih memperkenankan saya untuk kembali ke Puncak-Puncak tertinggi ciptaannya. Puncak yang melukiskan kebesaran sang pencipta. Kemegahan gunung-gunung di jawa terbentang dari sini. Semua tambah indah berdisi diselimuti awan.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Terbesit pertanyaan di benak kami, Mengapa kami naik gunung? pertanyaan itu hanya dapat terjawab saat kita sudah berada di tempat tertinggi dan menyaksikan karya besar sang pencipta. Inilah suatu kebanggan kami para petualangan yang dapat terjawab setelah berada di puncak tertinggi ciptaaan Nya.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL

Inilah Puncak Gunung Sumbing, dengan segala tampilan dan kebesarannya. Berdiri menjulang tinggi di wilayah dataran tinggi dieng, bersama gunung kembarnya, Gunung Sindoro. Sindoro - Sumbing adalah dua nama tersohor dengan penuh cerita dan legenda masa lalu. Sunggun sebuah kebanggan saya sudah menapaki keduanya.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL
Insya Allah dikesempatan lain, saya akan berkunjung ke puncak-puncak yang lainnya. Yang dimana juga menyimpak keelokan dan misteri dan memberikan sensasi berpetualang bagi siapa saja yang melaluinya. Indonesia adalah anugerah Allah yang harus kita jaga, kita lestarikan dan kita pertahankan. Negeri ini adalah karunia. Setiap sudut negeri ini menampilkan panorama yang memanjakan pandangan.
Salam-Salam buat Semuanya

Salam sayang buat ayah dan ibuku tercinta. Buat Istirku tersayang "Yusniatin Saputri Rahim" dan dua Gadis kecilku tercinta "Alyacisa Arafah Artilanizar" dan "Wanarista Waffiyah Wahdjayusnizar". Buat rekan-rekan seperjuangan di KPA AMCALAS SULTRA dan Buat rekan-rekan kerja di Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tak lupa salam-salam buat orang-orang tercinta di sana. Semoga doa mereka senantiasa mengiring langkahku untuk menapaki lagi banyak tempat-tempat terindah di Indonesia dan di Dunia.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL
Terima kasih untuk pendakian ini. Sebuah perjalanan yang telah mengantarkan aku pada puncak ke-14. Bukan materi yang kami cari di atas sini. Kami datang untuk melihat jelas kebesaran Allah Azza Wajallah dari tempat tertinggi.

Semua bisa dibeli dengan uang, tapi uang tidak bisa membeli semua. Karena tidak semua dapat diukur dengan uang. Disini bagai berada di dimensi kehidupan lain. Kurasakan seperti kembali kemasa lalu. Tanpa kebisingan, tanpa hiruk pikuk ambisi manusia. Semuanya lenyap..hanya riuh teduh dalam harmoni alam. Disini, hanya ada aku dan alam.
Puncak Gunung Sumbing
3371 MDPL
Alam adalah guru yang sempurna. Alam telah diciptakan untuk mengajarkan manusia tentang kehidupan. Berbekal ilmu darinya, Insya Allah kita akan meniti hidup yang lebih baik. Semoga tapak kakiku akan menuntunku kembali lagi kesini.

Written and Posted by :
Muh. Dagri Nizar

Baca Juga :
Gunung Agung Gunung Balease Gunung Bawakaraeng
Gunung Lompobattang
Gunung Latimojong Gunung Mekongga
Gunung Ciremai Gunung Semeru Gunung Rinjani
Gunung Slamet Gunung Sindoro Gunung Tambora
Gunung Sumbing Gunung Tolangi Gunung Welirang
Gunung ArjunoGunung GedeGunung Pangrango