Showing posts with label Jogjakarta. Show all posts
Showing posts with label Jogjakarta. Show all posts

Candi Prambanan - Jogjakarta

CANDI PRAMBANAN
JOGJAKARTA

Menelisik lebih jauh tentang peradaban masa lalu Jogjakarta seakan tidak ada habis-habisnya. Para leluhur begitu banyak meninggalkan karya-karya emas sebagai bukti kebesaran masa lalu. Peradaban zaman kerajaan telah mewariskan karya seni yang memiliki nilai sejarah yang tidak ternilai harganya.
Jogjakarta masa lalu tidak terlepas dari jejak sejarah yang memiliki nilai historis dan kejayaan peradaban. Tidak bisa dipungkiri, leluhur kita adalah orang-orang yang punya kualitas seni. Karya-karya mereka adalah saksi sepanjang masa yang membuktikan betapa luar biasanya orang-orang pada kala itu.

 Lokasi Candi Prambanan

Setelah peradaban Budha menyebar di seluruh tanah jawa, sekitar abad 9 M, peradaban Hindu mencapai puncak kejayaannya. Seperti halnya Candi Borobudur dan Candi Mendut ditandai dengan pembangunan situs-situs yang monumental hingga kini.  Salah satu peninggalan yang mempunyai kisah tersenduri dalam proses pembangunannya serta penuh dengan drama keangkaramurkaan adalah Candi Prambanan. Dari ujung timur DIY, pada bentangan tanah datar yang luas, terhampar situs-situs sejarah berupa beberapa bangunan serta ratusan puing-puing yang menyebar disekitarnya. Kompleks ini dinamakan Candi Prambanan. 

TAMAN CANDI PRAMBANAN
Pintu Masuk Candi Prambanan
Candi Prambanan terletak diujung timur Jokjakarta. Perjalanan memakan waktu hampir 1,5 Jam dari Candi Borobudur di Magelang. Tidak lengkap rasanya sudah mengunjungi Candi Borobudur tanpa mengunjungi Candi Prambanan. Candi ini meorehkan banyak kisah sejarah masa lampau yang patut kita ketahui sebagai pedoman sejarah.
Peta Kawasan Candi Prambanan
Kompleks Candi ini berada pada bentangan area seluas hampir 10 Hektar. Terdapat puluhan candi yang berada dalam kompleks ini. Dari peta yang terlihat di pintu masuk, begitu luasnya kompleks Candi Prambanan yang akan kami lalui ini.
Pelataran Pintu Masuk Candi Prambanan
Area kompleks candi tertata dengan cantik dan apik. Sebelum memasuki kawasan utama, pengunjung akan melalu area taman asri dengan beberapa pancuran air dan kolam yang sejuk. Di tempat ini kita seakan berada di pelataran candi dan siap menuju ke bangunan candi utama.
Mengenakan Sarung Sebelum Memasuki Candi
Sebagai bentuk nilai estetika dan penghormatan cagar budaya, setiap pengunjung wajib mengenakan sarung yang sudah disediakan oleh pengelola di pintu masuk kawasan candi utama. Dengan dikenakannya sarung ini, maka semua pengunjung akan terlihat rapi dan seragam. Disisi lain, ini merupakan bentuk penghargaan terhadap simbol sejarah Indonesia.
Candi Prambanan - Warisan Budaya Dunia No. 642
Dunia pun telah mengakui Candi Prambanan sebagai cagar budaya dunia. Kisah dan cerita Candi Prambanan yang begitu melegenda telah mengundang seluruh penjuru dunia untuk mempelajari dan melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk mengetahui lebih jauh seluk beluk tentang candi ini.
Menyusuri Taman Candi Prambanan
Seakan kita sedang berada di tengah rimbun hutan yang sejuk, perjalanan menuju kompleks candi utama dilalui dengan melewati deretan pepohonan rindang. Aneka bunga bunga dan tanaman menghiasi disepanjang jalan.
Taman Candi Prambanan
Dari sini kemegahan kompleks candi semakin terlihat jelas dari kejauhan. Menjulang bak menara dengan ornamen-ornamen yang penuh dengan makna sejarah.
Menyusuri Setapak Menuju Candi Prambanan
Seakan sedang berada ditengah taman untuk menuju ke singgasana. Kita akan disuguhnkan panorama yang asri dengan hijaunya pemandangan sepanjang melewati jalan setapak.
Taman Candi Prambanan
Begitu harmonis dan menyatu dengan suasana sekitar. Pandangan akan dimanjakan dengan hijaunya sekeliling. Udara segar silih berganti melegakan nafas meski terik mentari cukup menyengat ditengah padang hijau yang luas itu.

MEMASUKI BANGUNAN CANDI PRAMBANAN
Memasuki Bangunan Candi Prambanan
Perlengkapan keamanan pengunjung  diberikan ketika mulai masuk kedalam candi. Sebuah helm wajib dikenakan sebagai bentuk antisipasi beraktifitas di bangunan yang terbuat dari bebatuan itu. Bangunan yang berumur ribuan tahun ini, tentunya sangat rentan bebatuannya sehingga perlengkapan keamanan wajib dipakai selama beraktifitas didalam dan disekitar candi
Pelataran Candi Prambanan
Ribuan orang mengunjungi tempat ini setiap harinya. Sebagai objek wisata sejarah dan budaya terkenal di Indonesia, Candi Prambanan tidak pernah sepi pengunjung bahkan saat bukan hari libur. Hanya pada saat kegiatan upacara keagamaan umat Hindu saja Candi ini ditutup untuk umum. Biasanya, pada perayaan hari-hari raya umat Hindu, ribuan orang akan memadati area pelataran untuk melakukan ritual peribadatan.
Patung Nyi Roro Jongrang
Candi Prambanan merupakan Candi yang beraliran Hindu terbesar di Indonesia dan merupakan satu dari candi yang terindah dan terbesar di Asia Tenggara. Candi Prambanan didirikan pada masa pemerintahan Rakai Pikatan yang memerintah pada pertengahan abad ke 9 dari Kerajaan Mataram Kuno. Hal tersebut sesuai dengan yang tertulis pada Prasasti Siwagrha.
Salah satunya adalah candi utama yang dikenal nama Candi Siwa. Candi Siwa memiliki ketinggian 47 Meter dan merupakan Candi tertinggi diantara puluhan candi lainnya dalam kompleks ini. Di dalam Candi Siwa terdapat sebuah ruangan dimana Arca Durga atau Roro Jongrang berada.
Kompleks Candi Prambanan
Legenda yang penuh konflik gengsi, percintaan dan keangkaramurkaan mewarnai proses pembentukan candi ini. Konon menurut legenda, kemarahan terhadap Nyi Roro Jongrang lah yang membuat Pangeran Bandung Bondowoso murka dan mengutuknya menjadi batu dan terkurung bersama ribuan batu dan membentuk sebuah candi seperti yang kita saksikan saat ini.
Kompleks Candi Prambanan
Kisah Ramayana dan Krishnayana banyak mewarnai relief disepanang dinding Candi Prambanan.  Ada 42 adegan kisah pada Candi Siwa dan 30 adegan kisah pada Candi Brahma. Kisah tersebut dapat disaksikan dengan mengitari relief searah jarum jam. Disekitar candi utama, kita dapat menyaksikan beberapa candi yang sepertinya belum selesai didirikan. Disekitarnya pula banyak bebatuan yang berserakan. Konon menurut legenda, bangunan-bangunan tersebutlah yang terlambat diselesaikan oleh Pangeran Bandung Bondowoso yang hendak memenuhi permintaan Roro Jongrang untuk menyelesaikan 1000 Candi dalam satu malam.
Lapangan Hijau di Kompleks Candi Prambanan
Kompleks Candi ini berada pada bentangan luas yang rimbun. Beberapa hektar lapangan terlihat menghijau di tengah terik mentari dengan tiupan angin yang cukup sejuk terasa. Jalan setapak dengan pepohonan rindang menghubungkan setiap candi candi yang berada di kompleks ini. 
Pemandangan Kompleks Candi Prambanan
Begitu luasnya sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjangkau setiap candi di kompleks ini. Sesungguhnya pihak pengelola menyediakan kendaraan khusus untuk berkeliling kompleks dengan tariff Rp. 100 rb per orangnya. Namun bagi yang nyaman berjalan kaki, lebih memilih menapaki setiap ruas jalan setapak yang rindang di kompleks ini.

Tidak jauh kompleks candi prambanan, terdapat juga beberapa candi-candi lainnya. Salah satunya yaitu Candi Sewu yang letaknya sekitar 300 meter dari Candi Prambanan. Area yang luar ini memang dahulu kala merupakan kompleks candi-candi. Bahkan didalah tanah sesungguhnya masih banyak peninggalan-peninggalan yang terkubur seiring perjalanan masa.

Lukisan Basuki Abdullah dan Afandi di Museum Candi Prambanan
Sekitar 300 meter dari Kompleks Candi Prambanan, terdapat sebuah bangunan yang bernama Museum Prambanan. Ditempat ini ditempatkanlah ratusan peninggalan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah Candi Prambanan. Banyak arterak kuno yang masih bisa disaksikan ditempat ini.
Artefak dan Arca Peninggalan Candi Prambanan


Beberapa prasasti kuno ditempatkan disebuah halaman di depan Museum. Prasasti ini bertuliskan lisan kuno yang mengandung makna tentang sejarah masa lampau Candi Prambanan. Disekitarnya pula terdapat arca-arca yang sudah tidak utuh bentuknya. Benda benda ini sudah mencapai ribuan tahun usianya dan hingga kini masih dapat kita lihat bentuknya.
Banyak makna yang terkandung dalam setiap peninggalan masa lampau. Sejarah ribuan tahun lalu masih kita dapat saksikan kebesaran dan keagungannya hingga kini. Begitu banyak lembaran sejarah yang perlahan terungkap tentang kehebatan para leluhur bangsa ini. Sebuah peninggalan ribuan tahun lalu yang akan tetap menjulang ribuan tahun mendatang.
Amazing Of Jogjakarta...!!! Prambanan Temple..!!!

Candi Prambanan - Jogjakarta

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :


Candi Borobudur Candi Prambanan Candi Mendut
Candi Ratu BokoKaliurang Mojali
Gembira Loka ZooKota Gede Parang Teritis
Tugu JogjaMalioboro Benteng Vredeburg
Taman Ayun Kraton Jogja Explore Jogjakarta
Explore Jawa Tengah Explore Bali Explore Sultra

Malioboro - The Heart Of Jogja

JALAN "MALIOBORO" - JOGJAKARTA

Pulang Ke Kotamu…
Ada Setangkup Haru dalam Rindu...
Masih Seperti Dulu...
Tiap Sudut menyapaku bersahabat...
Penuh Selaksa Makna...
 

Terhanyut aku akan nostalgia...
Saat kita sering luangkan waktu...
Nikmati bersama...
Suasana Jogja...

Sepenggal bait, dari Lagu bertitel Jogjakarta diatas, yang dipopulerkan oleh Kla Project, mungkin sudah dapat menggambarkan rupa dan suasana Jogjakarta. Sebuah tempat yang penuh dengan makna dan nostalgia. Banyak kesan dan kenangan yang tersimpan di memori tentang suasana Jogja.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Namanya begitu kental dengan sebutan The Heart Of Jogja Jantungnya Jogja. Mendengar kata Jogja, sontak terbesit nama sebuah jalan yang penuh dengan kesan dan makna. Ia bukan sebuah bangunan besar yang megah atau monumen yang menjulang tinggi, Ia hanya nama sebuah jalan di sebelah utara Keraton Jogja. Tapi bukan sekedar jalan pada umumnya. Rentetan cerita yang tertuang dalam catatan sejarah pernah terjadi disini. Tempat inilah yang bernama Jalan Malioboro.

Berada di Jogja, serasa tidak sempurna tanpa ke Jalan Malioboro. Suatu tempat yang berada di tengah pusat Kota Jogjakarta. Hanya berjarak 1 Km ke arah utara Keraton Jogja dan 1 Jam perjalanan dari Bandar Udara Adi Sucipto, pengunjung sudah dapat menemukan suasana dan nuansa Jogja yang sebenarnya.
Keramaian di Jalan Malioboro
Banyak alternatif transportasi untuk menuju kesini. Baik Busway, Ojek, Andong dan Becak semuanya bisa mengarah ke sini. Saat mulai pagi hingga larut malam, sepanjang jalan akan dipenuhi oleh ratusan manusia. Baik masyarakat umum, remaja dan mahasiswa menjadikan kawasan Malioboro sebagai tempat nongkrong dann menghabiskan harinya di dua lajur jalan yang sangat populer ini.
Jalan Malioboro sesungguhnya merupakan salah satu ruas jalan dari Tugu Jogyakarta, dimana Jalan Malioboro diapit oleh Jalan Margo Utomo, dan Jalan Margo Mulyo. Penamaan Malioboro berasal dari nama seorang colonial Inggris yang bernama Marlborough. Ia pernah menduduki Jogjakarta pada Tahun 1811 sampai 1816 M. Nama tersebutah yang hingga kini digunakan dan sangat familiar oleh warga Jogjakarta.


 Lokasi Jalan Malioboro

Sebagai maksud untuk menandingi kebesaran dan kekuasanaan Keraton atas kemegahan yang sangat dominan di wilayah jogja saat itu, Abad ke-19, Kolonial Belanda membangun Malioboro di pusat kota pada sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian. Saat Kolonial Belanda membangun Pusat Malioboro, beberapa bangunan penunjang lain juga didirikan dalam rangka menunjang aktivitas perekonomiaan. Saat itu Malioboro dikuasai oleh Kolonial belanda.
Kendaraan Tradisional Andong di Jalan Malioboro
Suasana pagi cukup hangat kami rasa saat itu. Terik mentari menyinari keramaian orang yang memenuhi sisi jalan. Lalu lalang kendaraan silih berganti bergerak lambat menyusuri aspal yang ramai orang melintas. Seorang kusir dengan seragam rapi dengan blankon sedang duduk dikereta sembari menunggu jikalau ada pejalan kaki yang membutuhkan jasanya. Terlihat pula, Si Kuda begitu tenang dan sabar berdiri menanti arahan tuannya walau terik mentari terus menyinari seluruh ruas jalan ini

Dari kejauhan nampak beberapa orang sedang bergatian berfoto di depan sebuah papan nama Jalan. Nama jalan itu tertulis “Jl. Malioboro”. Kami pun dengan segera mempercepat langkah.. Ingin segera cepat sampai disana....
Jalan Malioboro Jogjakarta
Inilah ikon dari Jalan Malioboro, Sebuah Papan Nama Jalan. Bentuknya sih sama dengan papan nama jalan lainnya. Tapi tulisannya itu lho..!! yang jadi pembeda, yang punya nilai gengsi sebagai ikon Jogjakarta. Tidak Sah...!!! jika tidak berpose berlatar jalan ini. Ini sebagai penanda "Selamat Datang di Jogjakarta". Keadaan disini tidak jauh beda dengan kawasan pertokoan di tempat asal kami. Lalu larang kendaraan, banyak pejalan kaki, becak, pedagang kaki lima. Semuanya hampir sama. Tapi karena daya tarik Nama Jalan lah yang membuat semuanya berbeda.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Berbicara tentang sejarah..!!! Sudah disilah tempatnya, Kawasan Jalan Malioboro dekat dengan obyek wisata sejarah yang dapat dikunjungi semuanya, dalam satu hari perjalanan. Obyek wisata sejarah yang berdekatan dengan Malioboro seperti : Keraton Yogyakarta, Alun-alun Utara, Masjid Agung, Benteng Vredeburg, Museum Sonobudoyo dan Kampung Kauman, Istana Keresidenan Kolonial, Pasar Beringharjo, Hotel Garuda dan Kawasan Pertokoan Malioboro. Semuanya masih kokoh berdiri dan menjadi pusat kunjungan yang tidak pernah sepi. Bangunan tersebut seakan menjadi saksi sejarah masa lalu yang bisa menggambarkan seluk beluk perjalanan Malioboro.

Istana Kepresidenan Kolonial atau lebih dikenal dengan nama Gedung Agung merupakan salah saksi sejarah ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Jogjakarta. Saat itu Presiden Sukarno mengatur pemerintahan Indonesia dari dalam Istana ini. Salah satu peristiwa penting yang pernah tejadi di Gedung Agung ini yaitu pelantikan Panglima Tentara Jenderal Sudirman yang dilakukan ditempat ini.
Berbelanja di Jalan Malioboro Jogjakarta
Malioboro adalah sebuah jalan dengan cerita masa lalu yang legendaris. Perjalanan waktu yang telah mendaulat Malioboro sebagai salah satu pusat kunjungan di Jogjakarta. Suasana disini, Sepertinya tidak ada yang berbeda dengan ditempat lain. Deretan toko disisi jalan, lalu lalang kendaraan, kesibukan manusia. Ada suasana dan nuansa berbeda yang hanya akan ditemukan disini.

Sambil menyusuri Jalan Malioboro, pilihan berbelanja akan tersedia di sepanjang jalan. Di kedua ruas jalan merupakan toko dan pedagang kaki lima yang menjajakan aneka barang. Siapapun juga akan sulit terhindar dari tawaran harga yang menggiurkan dari pedagannya yang silih berganti bersahutan memanggil pembeli.

Pengunjung yang siap dengan koceknya akan beradu tawar menawar dengan si pedagang. Sepertinya sudah menjadi seni bertransaksi disini, dimana kemampuan menawar baranglah yang berbicara. Jika anda mahir, harganya bisa turun drastis tatkala pedagang sudah menyerah dengan kelihaian anda dalam menawar.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Perpaduan aktivitas ekonomi dan rupa simbol budaya mewarnai setiap sudut Malioboro. Disegala sisi, kita akan disiguhkan nuansa kedaerahan yang tertata apik di sepanjang ruas jalan. Kegiatan ekonomi sangat terasa di tempat ini. Setiap gerak manusia menunjukkan geliat mencari kehidupan. Baik sektor perdagangan dan jasa, masing-masing mengambil peran dalam setiap gerak waktu di jalur imaginer pusat Jogja ini. Segala jenis pakaian, souvenir, penganan khas jogja, oleh-oleh, lengkap tersedia di Jalan Malioboro. Berbagai jenis cederamata dan kerajinan dapat pengunjung temukan, seperti kerajinan perak, kulit, kayu, kain batik, gerabah dan masih banyak lagi kreatifitas lainnya. Tersedia juga kios yang menyediakan oleh-oleh makanan khas Jogjakarta. seperti yangko, geplak, bakpia dan  berbagai jenis keripik.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Saat malam hari, Pedangan kaki lima dan warung lesehan hampir memnuhi seluruh ruas kawasan Jalan Malioboro ini. Nasi Gudeg, Nasi Goreng, Nasi Kucing, Sambel Lalapan serta makanan khas jogja lainnya dijajakan diwarung-warung yang menutupi semua area trorotoar. Sesekali, para musisi jalanan akan menyambangi anda. Irama gitar dan senandung liriknya semakin menghanyutkan suasana malam itu. Pilihan lagu yang dibawakan sangat menyatu dengan nuansa sekitar yang kami rasakan saat itu.

Kemeriahan suasana akan makin terlihat saat malam tiba. Beberapa pertunjukan musik dan pegelaran seni dipertontonkan oleh para pegiat seni. Di salah satu sudut Malioboro sekelompok anak muda sedang memainkan alat music, di sisi yang lain para pelaku seni sedang mempertunjukkan tarian kuda lumping. Di tengah keramaian ada juga yang mengisi hiburan malam dengan seni pantomin. Beberapa pelukis remaja sedang memamerkan tarikan kuas di sebuah kanvas. Disepanjang trotoar terlihat muda-mudi dan mahasiswa yang duduk berkumpul, bersenda gurau di tengah warna-warni cahaya malam jogja yang kian terasa memeriahkan suasana. Sungguh merupakan sajian malam yang penuh dengan kreatifitas orang-orang Jogja.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Menyambangi setiap sudut jalan Malioboro tentu tidak ada habis-habisnya. Semakin lama rasa penasaran tidak akan terpuaskan. Waktu sehari penuh, mungkin terasa kurang mengingat jejeran toko yang belum semua disinggahi. Cukup jauh juga rute yang kami tempuh dengan berjalan kaki. Namun rasa lelah tidak tampak, sirna oleh suasana keramaian Malioboro.

Lebih tepatnya saya menyebut Wisata Jalan-Jalan. Disini kami hanya berjalan-jalan selayaknya berjalan kaki menyusuri trotorar di depan jejeran toko. Tapi Ingat..!! ini adalah Jogjakarta lho, negeri yang penuh dengan legenda dan sejarah panjang. Jejak-jejak perjuangan bangsa banyak ditorehkan di negeri ini. Bisa dikatakan setiap yang berada di jogja mengandung makna sejarah.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Jaman modern tidak serta merta merubah tatanan sosial budaya masyarakat Jogja. Kultur jogja masih terlihat dalam segala aktivitas. Seiring perkembangan jaman, karakteristik jogja masih terus tercermin disemua penjuru Jogjakarta. Suasana jogja silam, masih terlihat hingga kini. Kearifan lokal masyarakat jogja telah memberikan kesan mendalam bagi siapapun yang telah menapakkan kaki di tanah kesultanan ini
Semoga tulisan ini memberikan wawasan kita tentang keragaman pariwisata Jogjakarta dan Indonesia. Terima Kasih Jojga…!!! Malioboro yang akan selalu dirindukan…!!! 
Jalan Malioboro Jogjakarta

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :


Candi Borobudur Candi Prambanan Candi Mendut
Candi Ratu BokoKaliurang Mojali
Gembira Loka ZooKota Gede Parang Teritis
Tugu JogjaMalioboro Benteng Vredeburg
Taman Ayun Kraton Jogja Explore Jogjakarta
Explore Jawa Tengah Explore Bali Explore Sultra

Candi Ratu Boko - Jogjakarta

CANDI RATU BOKO
JOGJAKARTA


Negeri beribu candi itulah sebutan untuk Jogjakarta. Jejak-jejak sejarah masa lalu begitu banyak diceritakan dari tanah kesultanan ini. Peradaban kala itu telah memberikan gambaran kebesaran masa lalu yang begitu agung. Dari peninggalannya, sudah terlihat rangkaian sejarah yang sudah ditorehkan para leluruh sebagai tonggak awal peradaban umat manusia kala itu hingga terbentuklah bangsa Indonesia. 

Dari arah selatan candi prambanan. Jauh di ujung bukit hamparan berbatu, berdiri tegaklah peninggalan yang memiliki ikatan legenda dengan kisah Candi Prambanan. Sebuah candi yang tidak bisa lepas dari rangkaian kejadian ribuan tahun lalu tentang wangsa yang berkuasa saat itu. Inilah Candi Ratu Boko, Jogjakarta.

Lokasi Candi Ratu Boko

Berdasarkan Prasasti Berangka Tahun 792 M, yang ditemukan di Candi Ratu Boko, menguak cerita bahwa Keraton Ratu Boko dibangun pada Abad ke 8 oleh Rakai Panangkaran dari Wangsa Syailendra. Ratu Boko terletak sekitar 3 km di selatan Candi Prambanan. Kawasan Ratu Boko yang berlokasi di atas sebuah bukit dengan ketinggian ± 195.97 m diatas permukaan laut. Situs Ratu Boko merupakan reruntuhan sebuah kerajaan. Konon, Menurut legenda situs tersebut merupakan istana ayah Roro Jongrang yaitu Ratu Boko. Keraton Ratu Boko yang menempati lahan yang cukup luas tersebut terdiri atas beberapa kelompok bangunan. Sebagian besar di antaranya saat ini hanya berupa reruntuhan.
Menaiki tangga menuju Pelataran Candi
Memasuki kompleks Candi Ratu Boko, perjalanan perlahan menanjak mengikuti jalur anak tangga yang tertata apik dengan beberapa petunjuk di sisinya. Kita seakan sedang menuju ke sebuah istana yang terletak diatas sana. Begitu teduh dengan kibasan pepohonan rimbun disekitar jalan anak tangga ini.
Pelataran Candi Ratu Boko
Hampir seluruh sisi jalan dipenuhi pengunjung yang semakin sore saat itu, semakin ramai saja. Jalan yang ditempuh pun seakan tidak jauh dirasakan, saking ramainya lalu lalang manusia. Sepertinya dari segala penjuru jogja berada disini. Kebanyakan mereka adalah muda-mudi yang ingin menutup harinya di candi diatas bukit ini.

Kompleks Candi Ratu Boko terlihat mewah dan elit. Penataan kawasan yang artistic dan elegan sehingga kita seperti berada di sebuah tempat wisata yang megah. Bangunan besar dan terkesan mewah sudah terlihat saat kami memasuki pintu masuk pengunjung. Sebuah hotel dan restoran menjadi penanda bahwa Candi Ratu Boko cukup istimewa. Seperti memasuki kawasan resort dimana hampir segala fasilitas penunjang terdapat disini. Taman-taman bunga dan air terjun buatan terdapat disisi jalan saat menaiki anak tangga. Beberapa fasilitas seperti kasebo, kamar mandi, mushola, tempat istirahat disediakan oleh pengelola. Semuanya sungguh memberikan kenyamanan bagi pengunjung Candi ini.
Taman Candi Ratu Boko
Menurut informasi, ditempat ini sering diadakan even-even besar sehingga menjadikan kompleks ini sangat berkembang. Fasilitas pendukung begitu elegan meskipun bangunan candi utama yang tidak begitu besar. Karena letaknyalah yang membuat kompleks ini ditata dengan tujuan komersial. Posisi candi berada diatas bukit yang berpemandangan indah yang dapat menjangkau hampir seluruh wilayah Jogjakarta. Karena itulah, dengan ikon Candi Ratu Boko, pihak pengelola menyulapnya menjadi kawasan wisata.
Pelataran depan Candi Ratu Boko
Semua area di pelataran ini merupakan spot gambar yang menarik dan indah. Perjalanan ke gerbang utama akan sesekali terhenti untuk mengabadikan gambar di beberapa sudut pelataran yang berlatarkan bentangan kompleks candi ratu boko. Terlihat para pengunjung berduyun duyun mendekati dua candi utama yang menyerupai pintu gerbang.
Tangga menuju Gerbang Pertama
Kompleks Candi Ratu Boko terdiri dari dua Gerbang. Kedua gerbang ini terletak di tempat yang cukup tinggi. Pengunjung harus berjalan sekitar 150 Meter dengan jalan menaiki anak tangga untuk sampai di Gerbang Pertama.
Pelataran Gerbang Utama Candi Ratu Boko
Antara gerbang pertama dan kedua diapit oleh sebuah pelataran sepanjang 15 Meter. Tatanan batu gunung sangat rapi tersusun di antara dua gerbang ini. Pelataran ini dibuat dari bebatuan datar yang tersusun rapi. Corak batunya menyatu dengan corak warna candi. Bangunan kuno yang berusia ribuan tahun ini masih terlihat elegan dengan banyak penataan namun tidak menghilangkan nuansa aslinya.
Gerbang Utama Candi Ratu Boko
Hanya Sekitar 15 Meter dari gerbang pertama akan terlihat gerbang dalam atau gerbang utama. Gerbang utama ini bebaris sejajar dengan gerbang luar. Terdapat 5 gapura yang dimana Gapura utama diantarai oleh dua gapura di setiap sisinya.
Candi Ratu Boko
Setelah sampai di tengah gapura utama, Tampaklah kemegahan Bangunan Utama Candi Ratu Boko. Kita seakan sedang berada diatas puncak sebuah bukit dengan pemandangan lepas. Menatap kearah barat, terlihat wilayah Jogjakarta, tampak juga dari ujung barat laut Gunung Merapi. Gerbang ini melambangkan selamat datang kepada para tamu dan pengunjung di Kompleks Ratu Boko, meskipun didepan sana hanya tanah lapang kosong yang tidak terdapat bangunan besar. Konon dahulunya dikompleks ini, terdapat banyak candi-candi, namun ribuan tahun telah berlalu, kini hanya tinggal puing-puing yang tersisa.
Beranda Gerbang Utama
Berada di Gerbang utama, perjalanan masa seakan membawa kita ke ribuan tahun silam, saat tempat ini begitu sibuk dengan aktifitas ritual dan kegiatan spiritual para leluhur. Sisa peninggalan candi seakan menggambarkan kehebatan para pendahulu yang sudah mengukirkan karya yang luar biasa.
Candi Ratu Boko
Begitu artistic dan penuh dengan makna. Dua gerbang ini menjadi lambang utama dari Kompleks candi ratu boko. Letak Gerbang Utama ini begitu megah berdiri tepat didepan tanah lapang yang sangat luas. Kebanyakan orang terlihat duduk bersantai diatas rerumputan halus di tanah lapang ini..
Tanah Lapang di Pelataran Depan Candi Ratu Boko
Kompleks Candi Ratu Boko sebagian besar adalah pelataran dan lapangan. Bangunan candi yang tersisa hanya dua buah gerbang yang juga menjadi ikon tempat ini. Selain itu, hanya akan ditemukan sisa peninggalan candi yang tersebar diseluruh area. Peninggalan tersebut antara lain Paseban (tempat menghadap raja), Pendapa (dinding batu), Keputren (tempat tinggal para putri), Goa (Gua Lanang dan Gua Wadon (gua lelaki dan perempuan). Selain itu masih ada juga beberapa bangunan candi-candi kecil yang digunakan untuk memuja dewa. Letaknya cukup jauh dari gerbang utama sehingga tidak banyak pengunjung yang dapat menjangkau kesana.
Sunset di Candi Ratu Boko
Semakin petang, penunjung semakin ramai berdatangan. Karena letaknya yang berada diatas puncak bukit membuat setiap orang sangat leluasa memandang jauh. Posisi gerbang depan dan gerbang utama yang sejajar membuat pandangan kearah matahari terbenam tepat melalui dua gapura di tiap gerbang. Apakah suatu kebetulan…?? Tapi konon menurut cerita, penentuan titik kedua gerbang ini didasarkan atas posisi lurus pada saat matahari akan terbenam. Konon, saat matahari akan terbenam, para leluruh melalukan ritual pemujaan.
Sunset di Candi Ratu Boko
Hari pun beranjak petang. Mentari senja kian memancarkan pesona cahayanya. Rona lembayung  mewarnai diseluruh ufuk barat. Sinarnya tepat melintas di tengah gapura utama. Terlihat.., gerbang ini seakan bercahaya tepat ditengahnya. Sungguh sebuah perpaduan panorama alam dan kemegahan peninggalan sejarah. Berpadu, membentuk keselarasan yang penuh makna. Wonderful Jogjakarta….Ratu Boko Temple…!!!