Home » , » Malioboro - The Heart Of Jogja

Malioboro - The Heart Of Jogja

JALAN "MALIOBORO" - JOGJAKARTA

Pulang Ke Kotamu…
Ada Setangkup Haru dalam Rindu...
Masih Seperti Dulu...
Tiap Sudut menyapaku bersahabat...
Penuh Selaksa Makna...
 

Terhanyut aku akan nostalgia...
Saat kita sering luangkan waktu...
Nikmati bersama...
Suasana Jogja...

Sepenggal bait, dari Lagu bertitel Jogjakarta diatas, yang dipopulerkan oleh Kla Project, mungkin sudah dapat menggambarkan rupa dan suasana Jogjakarta. Sebuah tempat yang penuh dengan makna dan nostalgia. Banyak kesan dan kenangan yang tersimpan di memori tentang suasana Jogja.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Namanya begitu kental dengan sebutan The Heart Of Jogja Jantungnya Jogja. Mendengar kata Jogja, sontak terbesit nama sebuah jalan yang penuh dengan kesan dan makna. Ia bukan sebuah bangunan besar yang megah atau monumen yang menjulang tinggi, Ia hanya nama sebuah jalan di sebelah utara Keraton Jogja. Tapi bukan sekedar jalan pada umumnya. Rentetan cerita yang tertuang dalam catatan sejarah pernah terjadi disini. Tempat inilah yang bernama Jalan Malioboro.

Berada di Jogja, serasa tidak sempurna tanpa ke Jalan Malioboro. Suatu tempat yang berada di tengah pusat Kota Jogjakarta. Hanya berjarak 1 Km ke arah utara Keraton Jogja dan 1 Jam perjalanan dari Bandar Udara Adi Sucipto, pengunjung sudah dapat menemukan suasana dan nuansa Jogja yang sebenarnya.
Keramaian di Jalan Malioboro
Banyak alternatif transportasi untuk menuju kesini. Baik Busway, Ojek, Andong dan Becak semuanya bisa mengarah ke sini. Saat mulai pagi hingga larut malam, sepanjang jalan akan dipenuhi oleh ratusan manusia. Baik masyarakat umum, remaja dan mahasiswa menjadikan kawasan Malioboro sebagai tempat nongkrong dann menghabiskan harinya di dua lajur jalan yang sangat populer ini.
Jalan Malioboro sesungguhnya merupakan salah satu ruas jalan dari Tugu Jogyakarta, dimana Jalan Malioboro diapit oleh Jalan Margo Utomo, dan Jalan Margo Mulyo. Penamaan Malioboro berasal dari nama seorang colonial Inggris yang bernama Marlborough. Ia pernah menduduki Jogjakarta pada Tahun 1811 sampai 1816 M. Nama tersebutah yang hingga kini digunakan dan sangat familiar oleh warga Jogjakarta.


 Lokasi Jalan Malioboro

Sebagai maksud untuk menandingi kebesaran dan kekuasanaan Keraton atas kemegahan yang sangat dominan di wilayah jogja saat itu, Abad ke-19, Kolonial Belanda membangun Malioboro di pusat kota pada sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian. Saat Kolonial Belanda membangun Pusat Malioboro, beberapa bangunan penunjang lain juga didirikan dalam rangka menunjang aktivitas perekonomiaan. Saat itu Malioboro dikuasai oleh Kolonial belanda.
Kendaraan Tradisional Andong di Jalan Malioboro
Suasana pagi cukup hangat kami rasa saat itu. Terik mentari menyinari keramaian orang yang memenuhi sisi jalan. Lalu lalang kendaraan silih berganti bergerak lambat menyusuri aspal yang ramai orang melintas. Seorang kusir dengan seragam rapi dengan blankon sedang duduk dikereta sembari menunggu jikalau ada pejalan kaki yang membutuhkan jasanya. Terlihat pula, Si Kuda begitu tenang dan sabar berdiri menanti arahan tuannya walau terik mentari terus menyinari seluruh ruas jalan ini

Dari kejauhan nampak beberapa orang sedang bergatian berfoto di depan sebuah papan nama Jalan. Nama jalan itu tertulis “Jl. Malioboro”. Kami pun dengan segera mempercepat langkah.. Ingin segera cepat sampai disana....
Jalan Malioboro Jogjakarta
Inilah ikon dari Jalan Malioboro, Sebuah Papan Nama Jalan. Bentuknya sih sama dengan papan nama jalan lainnya. Tapi tulisannya itu lho..!! yang jadi pembeda, yang punya nilai gengsi sebagai ikon Jogjakarta. Tidak Sah...!!! jika tidak berpose berlatar jalan ini. Ini sebagai penanda "Selamat Datang di Jogjakarta". Keadaan disini tidak jauh beda dengan kawasan pertokoan di tempat asal kami. Lalu larang kendaraan, banyak pejalan kaki, becak, pedagang kaki lima. Semuanya hampir sama. Tapi karena daya tarik Nama Jalan lah yang membuat semuanya berbeda.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Berbicara tentang sejarah..!!! Sudah disilah tempatnya, Kawasan Jalan Malioboro dekat dengan obyek wisata sejarah yang dapat dikunjungi semuanya, dalam satu hari perjalanan. Obyek wisata sejarah yang berdekatan dengan Malioboro seperti : Keraton Yogyakarta, Alun-alun Utara, Masjid Agung, Benteng Vredeburg, Museum Sonobudoyo dan Kampung Kauman, Istana Keresidenan Kolonial, Pasar Beringharjo, Hotel Garuda dan Kawasan Pertokoan Malioboro. Semuanya masih kokoh berdiri dan menjadi pusat kunjungan yang tidak pernah sepi. Bangunan tersebut seakan menjadi saksi sejarah masa lalu yang bisa menggambarkan seluk beluk perjalanan Malioboro.

Istana Kepresidenan Kolonial atau lebih dikenal dengan nama Gedung Agung merupakan salah saksi sejarah ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Jogjakarta. Saat itu Presiden Sukarno mengatur pemerintahan Indonesia dari dalam Istana ini. Salah satu peristiwa penting yang pernah tejadi di Gedung Agung ini yaitu pelantikan Panglima Tentara Jenderal Sudirman yang dilakukan ditempat ini.
Berbelanja di Jalan Malioboro Jogjakarta
Malioboro adalah sebuah jalan dengan cerita masa lalu yang legendaris. Perjalanan waktu yang telah mendaulat Malioboro sebagai salah satu pusat kunjungan di Jogjakarta. Suasana disini, Sepertinya tidak ada yang berbeda dengan ditempat lain. Deretan toko disisi jalan, lalu lalang kendaraan, kesibukan manusia. Ada suasana dan nuansa berbeda yang hanya akan ditemukan disini.

Sambil menyusuri Jalan Malioboro, pilihan berbelanja akan tersedia di sepanjang jalan. Di kedua ruas jalan merupakan toko dan pedagang kaki lima yang menjajakan aneka barang. Siapapun juga akan sulit terhindar dari tawaran harga yang menggiurkan dari pedagannya yang silih berganti bersahutan memanggil pembeli.

Pengunjung yang siap dengan koceknya akan beradu tawar menawar dengan si pedagang. Sepertinya sudah menjadi seni bertransaksi disini, dimana kemampuan menawar baranglah yang berbicara. Jika anda mahir, harganya bisa turun drastis tatkala pedagang sudah menyerah dengan kelihaian anda dalam menawar.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Perpaduan aktivitas ekonomi dan rupa simbol budaya mewarnai setiap sudut Malioboro. Disegala sisi, kita akan disiguhkan nuansa kedaerahan yang tertata apik di sepanjang ruas jalan. Kegiatan ekonomi sangat terasa di tempat ini. Setiap gerak manusia menunjukkan geliat mencari kehidupan. Baik sektor perdagangan dan jasa, masing-masing mengambil peran dalam setiap gerak waktu di jalur imaginer pusat Jogja ini. Segala jenis pakaian, souvenir, penganan khas jogja, oleh-oleh, lengkap tersedia di Jalan Malioboro. Berbagai jenis cederamata dan kerajinan dapat pengunjung temukan, seperti kerajinan perak, kulit, kayu, kain batik, gerabah dan masih banyak lagi kreatifitas lainnya. Tersedia juga kios yang menyediakan oleh-oleh makanan khas Jogjakarta. seperti yangko, geplak, bakpia dan  berbagai jenis keripik.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Saat malam hari, Pedangan kaki lima dan warung lesehan hampir memnuhi seluruh ruas kawasan Jalan Malioboro ini. Nasi Gudeg, Nasi Goreng, Nasi Kucing, Sambel Lalapan serta makanan khas jogja lainnya dijajakan diwarung-warung yang menutupi semua area trorotoar. Sesekali, para musisi jalanan akan menyambangi anda. Irama gitar dan senandung liriknya semakin menghanyutkan suasana malam itu. Pilihan lagu yang dibawakan sangat menyatu dengan nuansa sekitar yang kami rasakan saat itu.

Kemeriahan suasana akan makin terlihat saat malam tiba. Beberapa pertunjukan musik dan pegelaran seni dipertontonkan oleh para pegiat seni. Di salah satu sudut Malioboro sekelompok anak muda sedang memainkan alat music, di sisi yang lain para pelaku seni sedang mempertunjukkan tarian kuda lumping. Di tengah keramaian ada juga yang mengisi hiburan malam dengan seni pantomin. Beberapa pelukis remaja sedang memamerkan tarikan kuas di sebuah kanvas. Disepanjang trotoar terlihat muda-mudi dan mahasiswa yang duduk berkumpul, bersenda gurau di tengah warna-warni cahaya malam jogja yang kian terasa memeriahkan suasana. Sungguh merupakan sajian malam yang penuh dengan kreatifitas orang-orang Jogja.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Menyambangi setiap sudut jalan Malioboro tentu tidak ada habis-habisnya. Semakin lama rasa penasaran tidak akan terpuaskan. Waktu sehari penuh, mungkin terasa kurang mengingat jejeran toko yang belum semua disinggahi. Cukup jauh juga rute yang kami tempuh dengan berjalan kaki. Namun rasa lelah tidak tampak, sirna oleh suasana keramaian Malioboro.

Lebih tepatnya saya menyebut Wisata Jalan-Jalan. Disini kami hanya berjalan-jalan selayaknya berjalan kaki menyusuri trotorar di depan jejeran toko. Tapi Ingat..!! ini adalah Jogjakarta lho, negeri yang penuh dengan legenda dan sejarah panjang. Jejak-jejak perjuangan bangsa banyak ditorehkan di negeri ini. Bisa dikatakan setiap yang berada di jogja mengandung makna sejarah.
Jalan Malioboro Jogjakarta
Jaman modern tidak serta merta merubah tatanan sosial budaya masyarakat Jogja. Kultur jogja masih terlihat dalam segala aktivitas. Seiring perkembangan jaman, karakteristik jogja masih terus tercermin disemua penjuru Jogjakarta. Suasana jogja silam, masih terlihat hingga kini. Kearifan lokal masyarakat jogja telah memberikan kesan mendalam bagi siapapun yang telah menapakkan kaki di tanah kesultanan ini
Semoga tulisan ini memberikan wawasan kita tentang keragaman pariwisata Jogjakarta dan Indonesia. Terima Kasih Jojga…!!! Malioboro yang akan selalu dirindukan…!!! 
Jalan Malioboro Jogjakarta

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :


Candi Borobudur Candi Prambanan Candi Mendut
Candi Ratu BokoKaliurang Mojali
Gembira Loka ZooKota Gede Parang Teritis
Tugu JogjaMalioboro Benteng Vredeburg
Taman Ayun Kraton Jogja Explore Jogjakarta
Explore Jawa Tengah Explore Bali Explore Sultra

No comments:

Post a Comment

Flag Counter