Showing posts with label Pariwisata Bali. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata Bali. Show all posts

Pura Ulun Danu Beratan - Bedugul, Bali

PURA ULUN DANU BERATAN
BEDUGUL - BALI

Sebagai pusat destinasi wisata terpopuler di Indonesia, Pulau Bali terkenal dengan keindahan panorama alam yang eksotik. Baik laut, pegunungan dan danau memberikan tampilan yang memanjakan mata dan memberikan kesan mendalam. Sebagai surga pariwisata Indonesia, Pulau Bali begitu tersohor namanya dengan objek-objek kunjungan yang menarik. Baik pantai, pegunungan, cagar alam, danau, air terjun serta rumah ibadah, masing-masing memiliki daya tarik tersendiri untuk membuat siapapun terhipnotis dengan kemegahannya dan keelokannya.
Umat Hindu merupakan mayoritas penduduk Pulau Bali. Budaya masyarakat Pulau Dewata ini sangat kental dengan budaya Hindu. Itu sangat terlihat dari busana dan keseharian mereka yang begitu jelas menunjukkan nilai religious. Diseluruh wilayah Bali, bentuk rumah, bangunan serta sarana-sarana publik didesain dengan arsitektur khas Bali yang menonjolkan kiasan budaya yang begitu dijunjung tinggi.

Terlebih lagi dengan rumah ibadah atau Pura. Umat Hindu Bali sangat mensakralkan dan mengagungkan nilai spiritual. Diseluruh bentangan Pulau Dewata, baik di pantai, di pemukiman padat, perkotaan, pedesaan, tersebarlah rumah ibadah Pura yang menjadi simbol utama Agama Hindu. Selain bentuknya, yang menjadi daya tarik tersendiri dari Pura adalah lokasinya yang berlatar belakang panorama alam. Melihat bentuk bangunan Pura yang bertingkat-tingkat dengan landscape yang indah merupakan nilai gengsi tersendiri.

Lokasi Pura Ulun Danu Beratan

Di wilayah timur Kabupaten Tabanan, terdapat sebuah pura yang berlokasi di bibir sebuah danau dan berada di daerah pegunungan. Publik sudah tidak asing melihat tampilan pura ini meskipun belum pernah berkunjung langsung. Pada pecahan uang Rp. 50 ribu terdapat sebuah gambar Pura yang apik dan elok berdiri di tepi sebuah danau. Pura inilah yang bernama Pura Ulun Danu Beratan yang berdiri di tepi Danau Beratan Bedugul.
Memasuki Kawasan Danau Beratan
Perjalanan ke Pura Ulu Danu Beratan Bedugul akan memakan waktu sekitar 2 Jam dari Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai menuju kearah timur Kabupaten Tabanan dengan jarak tempuh sekitar 61 Km. Perjalanan akan cukup memakan waktu lama karena sepanjang jalan akan dilalui dengan jalur padat dan jalan yang tidak begitu luas serta didominasi oleh jalur tanjakan. Jalur pegunungan yang berliku-liku akan terus dilewati sampai memasuki kawasan yang berhawa sejuk yaitu sebuah pemukiman padat penduduk di wilayah Bedugul.
Sebagai sebuah kawasan kunjungan favorit di Pulau Dewata, ditempat ini segala fasilitas telah disedikan oleh pengelola baik oleh Pemerintah maupun sektor swasta. Puluhan Hotel, Villa, Penginapan, Cottage, Restoran, Bar dan tempat hiburan lainnya sudah lengkap tersedia disini. Aneka souvenir dan jajalan serta oleh-oleh khas Bali, akan mudah ditemukan, bahkan saat anda baru turun dari kendaraan. Puluhan pedagang akan menawarkan segala macam jajanan dan cendramata. Aneka buah-buahan yang didominasi anggur, dijajakan diseluruh sisi jalan sebelum pintu masuk kawasan Danau Beratan.
Stupa Budha di Kompleks Danau Beratan
Kompleks Pura Ulun Danu Beratan terbilang sangat luas. Pengunjung mesti melewati jalan setapak yang cukup jauh dari pintu masuk. Meskipun demikian, suasana rimbun pepohonan yang berada di area taman memberikan keteduhan saat menyusuri setapak untuk sampai di bibir danau. Lalu lalang wisatawan mancanegara dan domestik memenuhi setiap ruas jalan taman yang penuh dengan bunga, yang tertata apik dan indah. Lingkungan yang masih alami, suasana asri dan udara yang bersih serta aroma pesisir danau sangat terasa disepanjang menyusuri jalan setapak ini.
Stupa Budha di Kompleks Danau Beratan
Sebelum memasuki kawasan bibir danau, terdapat sebuah bagunan suci yaitu Stupa Budha. Dari nama dan bentuknya, bangunan ini merupakan sebuah kuil Budha. Terdapat dua buah patung Budha yang terdapat didalam Stupa ini. Pada moment tertentu, bangunan ini dikunjungi oleh para peziarah untuk bersemedi. Stupa Budha disini menandakan adanya makna keselarasan dan harmoni beragama. Stupa ini terletak di luar area utama kompleks Pura Ulun Danu Beratan.
Dermaga Danau Beratan
Sampailah kita di bibir Danau Ulu Beratan. Sebuah danau yang diapit oleh jejeran pegunungan. Suasana kabut mendominasi permukaan danau. Begitu tenang dengan riak-riak tipis yang silih berganti ke tepian. Sebuah dermaga kecil dibibir danau akan menghantarkan anda melihat tampilan teduh dari Danau Beratan Bedugul ini.
Banyak juga wisatawan yang menyewa perahu speed boat untuk mengelilingi danau Beratan, agar dapat menikmati pemandangan danau dari jarak dekat. Disekitar area dermaga, banyak disediakan berbagai jenis angkutan danau yang disediakan khusus untuk para pengunjung yang hendak mengelilingi sisi permukaan danau.
Danau Beratan ini, memiliki permukaan yang begitu luas dengan kedalaman air hingga 23 meter. Faktor keselamatan pengunjung sangat diutamakan pada saat beraktiftas di atas perahu boat. Saat beraktiftas di atas boat, diharapkan pengunjung lebih memperhatikan kondisi cuaca yang cepat berubah yang bisa membuat panik saat berada diatas permukaan danau. Beberapa petugas selalu standby mengamati aktiftas pengunjung yang sedang berkeliling dengan boat diatas danau. Mereka juga sesekali berpatroli di beberapa sisi danau untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Bibir Danau Beratan berlatar Pura Ulun Danu
Berdasarkan sejarah, Pura Ulun Danu Beratan dibangun pada tahun saka 1556 atau 1634 oleh I Gusti Agung Putu (Raja Kerajaan Mengwi). yang ditujukan untuk pemujaan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai perwujudan Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa). Untuk memohon kesuburan lahan pertanian, kemakmuran masyarakat, kesejahteraan manusia dan kelestarian alam agar terhindar dari bencana. Setiap bangunan Pura di Bali memiliki latar belakang sejarah panjang dalam proses pembentukannya. Banyak cerita historik dan religious yang menjadikannya saat ini begitu diagungkan dan disakralkan sehingga mengundang rasa penasaran orang-orang untuk berkunjung dan melihat wujud aslinya.
Pura Ulun Danu Beratan - Pura Diatas Air
Pura Ulun Danu Beratan terdiri atas 5 (Lima) kompleks Pura dan 1 buah Stupa. Diantaranya : 1. Pura Penataran Agung, 2. Pura Dalem Purwa, 3. Pura Taman Beiji, 4. Pura Lingga Petak dan 5. Pura Prajapati. Bangunan pura tersebut terletak terpisah satu sama lain yang masih berada dalam kompleks Danau Beratan. Setiap Pura memiliki simbol dan makna tersendiri sebagai tempat pemujaan bagi para Dewa. Ada makna-makna yang tergambar dari setiap sisi bangunan suci ini yang hanya bisa ditafsirkan oleh para sesepuh dan pemuka Agama Hindu.
Pura Ulun Danu Beratan
Inilah tampilan Pura Ulun Danu Beratan dari dekat. Sebuah rumah Ibadah yang menjadi ikon pariwisata di Pulau Dewata. Tampilan pura ini sangat tidak asing di berbagai media yang menampilkan tayangan pariwisata. Pastinya kita sering melihat visual dari Pura ini yang berlatar keelokan Danau Beratan. Saat kabut turun menyelimuti pandangan merupakan moment yang paling indah terlihat. Disaat tersebutlah, latar pandangan Pura akan memutih laksana berada di lingkaran awan.
Pura Ulun Danu Beratan
Tempat ini sangat popular disebut dengan nama Danau Bedugul ketimbang Danau Beratan. Publik lebih familiar dengan sebutan Bedugul karena kawasan ini berada di objek wisata Bedugul. Pura Ulun Danau Beratan merupakan bangunan pura yang memiliki atap bertingkat, menara dengan atap 11 tingkat, 7 tingkat, dan 3 tingkat. Menara tersebut menyimbolkan kepercayaan umat Hindu di Bali, terhadap tiga dewa, yakni Dewa Wisnu (11 tingkat), Dewa Brahma (7 tingkat), Dewa Siwa (3 tingkat).
Pura Ulun Danu Beratan
Karena berada didalam wilayah dataran tinggi, membuat udara disekitar area Pura sangat sejuk. Bahkan saat masih dalam perjalanan saja, udara sejuk sudah mendominasi sekitar. Berada di area danau, kondisi dingin dan berkabut akan terus terasa, bahkan saat di siang hari. Sesekali akan turun titik embun dan gerimis tipis. Kondisi demikian yang membuat kawasan ini selalu lembab dan basah.
Dari kejauhan terlihat bangunan Pura seakan terapung dan berada sendirian di tengah danau, namun sebenarnya Pura tersebut berada di atas daratan yang menjorok ke tengah danau. Pada saat air pemukaan danau naik, Pura ini akan terlihat terapung seperti berada diatas air.
Ditepi Danau Beratan
Pada moment tertentu seperti pada hari besar keagamaan Hindu, kawasan pelataran Pura ini akan dipenuhi ratusan Umat Hindu untuk melakukan ritual peribadatan. Saat tersebut itulah, kawasan ini biasanya akan ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik, terlebih lagi dari mancanegara untuk melihat lebih dekat prosesi ritual keagamaan tersebut.
Seperti halnya saat upacara besar keagamaan Hindu yang menjadi moment istimewa dan tentunya akan menarik animo pengunjung, pihak pengelola akan membuat pengaturan sedemikian rupa sehingga antara kegiatan kunjungan wisata dan upacara keagamaan dapat tetap berjalan. Panitia acara atau Pecalang akan mengatur pergerakan para wisatawan yang hendak melihat prosesi ritual keagamaan sehingga kegiatan persembahyangan dapat berjalan dengan khusyu dan sakral.
Pura Ulun Danu Beratan
Luasnya area danau, tidak cukup waktu untuk mengitari semua spot spot wisata yang ada di tempat ini. Selain mengarungi keteteduhan danau dengan perahu boat, para pengunjung cukup berada di sekitar Pura area ini saja untuk dapat melihat seluruh permukaan danau beratan. Melihat Pura ini secara langsung sudah cukup mewakili kunjungan wisata anda di Danau Beratan
Pura Ulun Danu Beratan, berlatar kabut
Sebuah tampilan yang menyejukkan pandangan, tatkala melihat sebuah bangunan suci yang sangat diagungkan berdiri tegak diatas permukaan air yang tenang. Begitu elok dan cantik, sangat selaras dengan latar kabut tipis yang mengitari seluruh sisi danau. Ia laksana sebuah istana yang tersembunyi jauh di tengah samudera dan menjadi persinggahan para bidadari yang akan mandi di telaga. Berada disini, kita akan terhenyak dalam hayalan seperti halnya berada disebuah pantai yang jauh pandangan terlepas. Melihat begitu indahnya ciptaan Nya, menyaksikan kebesaran Nya lebih dekat dan nyata. Semoga Tulisan ini memberikan wawasan tentang pariwisata Indonesia, khusunya Pulau Dewata. The Simphony Of Bali…..!!! The Ulun Beratan Temple !!!

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :


Kerajinan Perak Celuk The Monkey Forest Nusa Dua
Pura Puseh Batuan Arjuna Krishna Tanah Lot
Garuda Wisnu Kencana Pura Luhur Uluwatu Monumen Bom Bali
Bedugul Legian Pantai Pandawa
Istana Tampak Siring Tirta Empul Pantai Sanur
Kintamani Resort Pantai Kuta Gunung Agung

Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park - Bali

GARUDA WISNU KENCANA (GWK) - BALI

Pulau Dewata merupakan destinasi wisata terbaik di Indonesia. keindahan alam, peninggalan sejarah, kekayaan budaya serta spot-spot wisata unggulan, semuanya lengkap ada di Pulau Bali. daya tarik dan pesona bali sudah mampu menghipnotis para pecandu wisata untuk menjajaki setiap ruas tanah bali untuk menuntaskan rasa penasaran mereka akan negeri beribu pura ini. Bali, dengan kultur dan spiritualnya telah memberikan efek yang menyeluruh terhadap apapun yang berada diatas tanah bali. Mendengar sebutan Pulau Bali, sontak akan memunculkan nilai gengsi tersendiri.
Pariwisata merupakan sebuah aktifitas hiburan yang dilakukan di tempat-tempat yang indah dan menarik. Umumnya tempat wisata adalah suatu kawasan yang secara alamiah sudah terbentuk sejak awalnya, seperti Pantai, Danau atau Goa maupun Pegunungan. Tempat-tempat tersebut sudah daya tarik yang original meski belum mendapat sentuhan atau pengelolaan.

 Lokasi Garuda Wisnu Kencana

Ada beberapa kawasan wisata di Pulau Bali yang pada awalnya bukan merupakan tempat kunjungan atau hanya tempat-tempat biasa pada umumnya. Namun karena, berada di Pulau Bali, yang membuat tempat tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan. Sehingga dengan sentuhan seni dan teknologi yang membuat kawasan tersebut disulap menjadi pusat kunjungan khalayak ramai. Salah satunya adalah GWK atau Garuda Wisnu Kencana.
Dahulunya GWK adalah hamparan bukit batu kapur yang panas dan gersang. Melihat posisi strategisnya yang menjadikan ketertarikan investor untuk mengubah tatanan dan bentuk menjadi petak-petak lorong yang diapit oleh tebing-tebing batu raksasa serta menempatkan patung raksasa yang pada akirnya menjadi simbol tempat ini. Tidak mudah untuk melakukan pengerjaannya. Hamparan yang awalnya bukit batu kemudian dibelah-belah oleh bantuan peralatan dan mesin sehingga berbentuk kotak persegi yang sama persis.
Gerbang  Garuda Wisnu Kencana
Simbol utama dari kawasan ini adalah patung raksasa yang berbentuk Batara Wisnu yang sedang menunggangi Garuda yang menjadi simbol Amerta atau kebajikan yang abadi. Sebelum berbentuk utuh seperti sekarang, terdapat tiga bagian besar patung yang berdiri di tiga area yang terpisah. Bagian pertama adalah Patung Dewa Wisnu setinggi 23 meter yang saat ini ditempatkan di puncak tertinggi di kawasan Perbukitan Ungasan. Patung kedua adalah Patung Garuda. Patung ini diletakkan di tengah area yang dinamakan Kolam Teratai (The Lotus Pond), yaitu area bertangga menurun dengan kotak-kotak batuan kapur raksasa di sisi kanan dan kirinya. Bagian ketiga adalah Tangan dari Wisnu. Patung ini untuk sementara waktu ditempatkan di lokasi bernama Tirta Agung.
Garuda Wisnu Kencana (GWK) merupakan maha karya salah satu pematung kenamaan asal Bali, Nyoman Nuarta. Garuda Wisnu Kencana memiliki arti "Burung Garuda Kendaraan Dewa Wisnu".
Gerbang  Garuda Wisnu Kencana
GWK terletak di bagian selatan pulau Bali tepatnya di Kabupaten Badung. Kawasan ini berada di daerah ketinggian sehingga memberikan akses pandangan yang luas. Pantai kuta dan Bandar Udara Ngurah Rai terlihat jelas dari beberapa sudut GWK ini. Untuk menjangkau tempat ini, akan ditempuh 15 Km dari Bandara Ngurah Rai dan 25 Km dari Kota Denpasar.
GWK merupakan salah satu kawasan wisata terluas setelah Nusa Dua. Luas areanya mencakup 240 hektar dengan beberapa pembagian zona. Sebelum memasuki gerbang pertama, pengunjung akan melewati jalur yang dipenuhi pepohonan rimbun disisi-sisinya. Beberapa patung hewan yang dilindungi terpajang di beberapa sisi sepanjang jalan menuju gerbang pertama.
Patung Tangan Dewa Wisnu
Setelah kendaraan memasuki gerbang pertama, akan dijumpai salah satu bagian dari patung GWK yaitu Patung tangan dari Dewa Wisnu. Nantinya tangan ini akan disatukan dengan beberapa bagian lainnya sehingga akan membentuk patung GWK yang sebenarnya. Bagian dari Tangan Dewa Wisnu untuk sementara waktu ditempatkan di lokasi bernama Tirta Agung.
Patung Tangan Dewa Wisnu
Patung tangan wisnu ini berada pada sebuah pelataran kecil yang berbatasan dengan tebing bagian luar kompleks pelataran utaman GWK. Kawasan ini sangat cocok untuk tujuan rekreasi dan arena bersantai keluarga. Kawasan ini adalah perpaduan antara wisata budaya dan wisata hutan lindung karena dikelilingi oleh pepohonan rindang yang menyejukkan suasana.
Patung Tokoh-Tokoh Kisah Ramayana
Jejeran patung tokoh-tokoh Kisah Ramayana berderet berhadapan sebelum memasuki pintu pembayaran tiket. Terdapat 6 patung yang menjadi tokoh utama dari kisah yang sangat melegenda tersebut antara lain Sri Rama, Sinta, Laksamana, Wibisana, Rahwana, Kumbakarna.
Melintasi jejeran patung ini, kita akan kembali mengingat Kisah Ramayana yang begitu melegenda baik di tanah asalnya di India terlebih lagi di Indonesia. Baik kisah Ramayana maupun Mahabharata sangat melekat dengan cerita para leluhur utamanya zaman kerajaan silam. Kedua kisah tersebutlah yang banyak mempengaruhi budaya dan filisofi masyarakat Jawa dan Bali hingga kini. Banyak hikmah dan pelajaran dari kedua kisah tersebut yang merefleksikan nilai-nilai kehidupan yang masih dipegang tegung hingga turun temurun. Kedua kisah tersebut banyak menjadi simbol cerminan kehidupan yang memiliki makna yang hakiki dan meluas dari banyak aspek kehidupan masyakarat Jawa dan Bali hingga ke nusantara.
Patung Dewi Shinta
Kisah sejarah dalam balutan seni terpajang sebelum memasuki arena utama GWK. Keberadaan patung-patung ini semakin memberikan makna historis religious sebagai pelengkap kesan kolosal yang akan pengunjung saksikan di dalam arena Garuda Wisnu Kencana
Patung Miniatur Garuda Wisnu Kencana
Inilah miniature dari Garuda Wisnu Kencana yang saat ini (2019) sudah berbentuk patung raksasa. Sebelum berbentuk seperti sekarang, pengunjung dapat melihat bentuk utuh dari patung GWK di beranda depan. Saat ini, Patung GWK sudah sempurna terbentuk. Patung ini berdiri setinggi 150 Meter dengan bentangan sayap 64 Meter. Patung GWK menjadi patung terbesar di dunia dan tertinggi kedua di dunia setelah Patung “The Spring Temple Buddha” di Cina.
Menyusuri Jalur Berpetak-Petak
Mulailah kita akan memasuki kawasan GWK yang sebenarnya. Petak- petak jalan yang membelah tebing-tebing tinggi akan mulai dilalui untuk menuju ke pelataran utama. Alur jalannya brbentuk persegi yang sama sehingga disetiap sudut kita akan merasa tidak berpindah tempat karena bentuknya yang persis. Tidak perlu khawatir untuk tersesat atau kebingungan karena setiap ruas jalan saling behubungan satu sama lain.
Sebagian besar pengunjung memilih untuk berkeliling dan menjajaki setiap sudut jalan ini sebelum menuju ke patung garuda. Jalan ini sangat luas sehingga orang akan leluasa melaluinya meski saat ramai orang berkunjung.
Bisa dibayangkan proses pengerjaan kompleks ini. Sangat tidak mudah untuk membentuk jalan dengan membelah-belah gunung kapur yang keras ini. Menurut informasi, ratusan alat berat diterjunkan untuk mengikis celah-celah batu menjadi bentuk yang artistic seperti saat ini.
Pelataran Utama GWK
Pelataran utama terletak diantara dua sisi jalan yang berpetak-petak. Pelataran ini sangat luas dan bisa menampung ribuan orang. Pagelaran seni dan budaya sering diadakan dipelataran ini. Pengunjung akan menyaksikan kemegahan monumental serta kekhusyukan dan syahdunya rangkaian kegiatan spiritual yang mana kesemuanya disempurnakan, dipadu dalam sentuhan seni dengan tatanan kolosal yang modern. Pagelaran seni yang sering dipertunjukkan di GWK ini seperti Tari Kecak, Tari Cilinaya, Tari Topeng Tua, Tari Cenderawasih, Tari Legong Keraton, Tari Baris, dan Tari Barong Rangda. Setiap perhelatan seni yang diadakan pastinya akan menarik perhatian ratusan pengunjung baik local maupun mancanegara.
Pelataran Utama GWK
Dari arah timur akan terlihat Patung Kepala Garuda yang menjadi salah satu ikon tempat ini. Puluhan anak tangga harus dilewati sebelum sampai di pelataran patung kepala garuda. Patung ini menjadi salah satu simbol dari GWK dan merupakan salah satu dan tiga bagian patung Bhatara Wisnu.
Patung Garuda
Patung kepala garuda menjadi lambang dari GWK sebelum menjadi utuh seperti saat ini. Konon, Garuda merupakan kendaraan yang ditunggangi oleh Dewa Wisnu untuk mengelilingi alam semesta. Tinggi bangunan ini sekitar 7-8 meter. Patung Garuda ini diletakkan di tengah area yang dinamakan Kolam Teratai (The Lotus Pond), yaitu area bertangga menurun dengan kotak-kotak batuan kapur raksasa di sisi kanan dan kirinya.
Patung Garuda
Garuda Wisnu Kencana dibangun pada tahun 1997 dan baru dirampungkan seluruh bagian patungnya pada tahun 2019. Patung Kepala Garuda ini memeprlihatkan kualitas seni yang mumpuni. Permukaan patung dipenuhi oleh hasil pahatan seniman bali yang menunjukkan teknik dan kualitas yang sempurna.
Patung Garuda
GWK dirancang menjadi wahana utama dari pertunjukan artistik, pameran, dan perhelatan akbar lainnya selain sebagai tujuan rekreasi dan arena bersantai keluarga. Setiap hari pengunjung memadati tempat ini. Keberadaan Tiga patung utama, yaitu Patung Garuda, Patung Dewa Wisnu dan Patung Tangan Dewa Wisnu, tentunya menjadi daya tarik tersendiri yang membuat rasa penasaran banyak orang. Hanya beberapa tempat saja di negeri ini yang menyajikan karya yang megah seperti ini, salah satunya adalah di GWK Bali.
Patung Dewa Wisnu
Bagian ketiga dari patung GWK adalah patung Dewa Wisnu. Pada bentuk sempurna dari patung GWK, Dewa Wisnu sedang menunggangi Garuda. Patung ini terbuat dari tembaga dan kuningan yang membutuhkan ratusan ton untuk menyelesaikannya. Motif dan corak permukaannya menunjukkan kreatifitas dan kualitas seni terbaik. Pekerjaan yang tidak mudah dilakukan di media yang besar seperti Patung Dewa Wisnu dan Patung Garuda. Garuda Wisnu Kencana nantinya diharapkan menjadi simbol untuk kebudayaan berbasis keseimbangan alam, menjaga keselarasan hubungan antara lingkungan dan Sang Pencipta. Dalam konsep Tri Murthi di mana Dewa Wisnu, bertugas untuk memelihara alam semesta. Garuda sebagai kendaraan Dewa Wisnu merupakan simbol dari pengabdian yang tanpa pamrih.
Patung Dewa Wisnu
Konon Menurut sejarah, dalam pencarian Air Suci (Amerta), sebagai syarat untuk membebaskan Ibunya sebagai budak Sang Kadru, Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Wisnu untuk mendapatkan Amerta tersebut. Sejak saat itulah dalam mengembara di alam semesta, Garuda menjadi tunggangan Dewa Wisnu. Kisah tersebut sangat melegenda dan sangat melekat dalam cerita masyarakat hindu Bali. Burung Garuda yang begitu disakralkan yang konon menjadi abdi bagi Dewa Wisnu. Banyak filosofi dan pelajaran dari kisah pengabdian Garuda. Hal tersebutlah yang mendasari para pendiri Bangsa Indonesia untuk menjadikan Burung Garuda sebagai Lambang Negara Republik Indonesia.
Pelataran Patung Dewa Wisnu
Tinggi patung ini sekitar 23 Meter yang dibawahnya terdapat air pancuran dan kolam kecil. Disekitar patung terdapat pelataran yang cukup luas. Pengunjung sangat leluasa berkeliling dan mengambil sudut berpose berlatarkan Patung Dewa Wisnu ini. 
Mengunjungi GWK, merupakan salah satu agenda wajib pagi para pelancong di Tanah Bali. GWK merupakan tempat wisata yang bernuansa sejarah dan budaya. Tempat yang didaulat menjadi Landmark pariwisata ini, tentunya mengundang animo dari wisatawan. Terlebih lagi, GWK merupakan pusat perhelatan dan pagelaran kesenian dan kebudayaan Bali.
Kolam Teratai di GWK
Pada beberapa sudut GWK ini, terdapat beberapa rest area yang memungkinkan pengunjung untuk beristirahat dan bersantai. Tempat ini didesain dengan konsep taman yang asri dan sejuk. Sebuah kolam dengan dengan beberapa pancuran kecil menambah suasana teduh di tempat ini. Kolam ini dibentuk sedemikian rupa sehingga kita seakan berada di permandian para pembesar di jaman kerajaan. Tatanan ornament dan perpaduan pepohonan sangat memberikan makna kolosal dan artistic.
Kolam Teratai di GWK
Garuda Wisnu Kencana merupakan Landmark pariwisata bali yang menjadi destinasi pariwisata utama di Pulau Dewata ini. Simbol Patung Dewa Wisnu dan Garuda menunjukkan betapa besarnya nilai dan makna penguasa alam semesta dalam ajaran hindu di Bali. Mengunjungi GWK tidak hanya menuntaskan rasa penasaran akan tempat-temat wisata di Bali tetapi lebih mengambil kesan mendalam terhadap simbol-simbol spiritual yang begitu diagungkan.
Semoga Tulisan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang pariwisata Indonesia, khususnya di Pulau Bali. Amazing Of Bali...!!! Garuda Wisnu Kencana..!!! 
Garuda Wisnu Kencana Cultural Park

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :


Kerajinan Perak Celuk The Monkey Forest Nusa Dua
Pura Puseh Batuan Arjuna Krishna Tanah Lot
Garuda Wisnu Kencana Pura Luhur Uluwatu Monumen Bom Bali
Bedugul Legian Pantai Pandawa
Istana Tampak Siring Tirta Empul Pantai Sanur
Kintamani Resort Pura Pasar Agung Gunung Agung

The Sukarno Center - Tampak Siring Bali

MUSEUM "THE SUKARNO CENTER"
TAMPAK SIRING - BALI
 
Berbagai sajian pariwisata, tersuguhkan di atas tanah Pulau Dewata. Panorama alam indah yang elok nan permai serta sarana spiritual yang begitu religious membawa catatan yang berkesan bagi setiap orang. Banyak nilai-nilai budaya yang bisa dipetik dari perjalanan di Negeri Beribu Pura ini. Kebudayaan merupakan suatu tradisi yang terbawa oleh perjalanan sejarah. 
 
Sejarah panjang Bangsa Indonesia, banyak ditorehkan di Pulau Dewata ini. Pulau Bali, merupakan tanah leluhur dari salah satu pendiri Bangsa Indonesia, Bung Karno. Peninggalan sejarah perjalanan Bung Karno tersimpan rapi di salah satu bangunan yang kini dijadikan Museum yang menyimpan koleksi pribadi sang Proklamator. Museum inilah yang bernama “The Sukarno Center”.
<<< Baca Juga : Garuda Wisnu Kencana >>>
Museum " The Sukarno Center "
The Sukarno Center merupakan sebuah Museum sejarah yang di dedikasian untuk The Founding Father, Tokoh Pendiri Bangsa, Ir. H. Sukarno. Beliau merupakan Sang Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Banyak torehan sejarah yang telah dilakoni beliau dalam menggiring bangsa ini ke puncak kemerdekaannya pada Tanggal 17 Agustus 1945. Museum ini akan menceritakan perjalanan Bung Karno dalam merintis pengakuan dunia internasional untuk kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
Bung Karno merupakan tokoh bangsa kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901. Sosok beliau sangat dekat dengan tanah kelahirannya tersebut. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo (1873 – 1945) yang merupakan seorang Guru di Surabaya. Sedangkan Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai ( 1881 – 1958 ). 
<<< Baca Juga :  Nusa Dua >>>

 Lokasi Museum "The Sukarno Center"

Ibunda dari Bung Karno merupakan Putri asli Tanah Bali, Sehingga Bung Karno memiliki ikatan kekeluargaan dan kekerabatan dengan masyarakat Bali, dimana merupakan tanah kelahiran dari  para leluhurnya. Di wilayah Tampak Siring inilah sangat identik dengan nama Bung Karno, sehingga biografi Sang Proklamator itu banyak tersimpan disini.
Beranda "The Sukarno Center" Museum
The Sukarno Center beralamat di Jalan Pejeng Kaja, Tampak Siring Nomor 751, Kec. Tampak Siring, Kabupaten Gianyar. Provinsi Bali. Lokasinya dapat ditempuh 1 Jam perjalanan dan Bandar Udara I Gusti Ngurai Rai. Umumnya jalur wisata yang ditawarkan oleh travel pasti menyambangi tempat ini dan sekaligus juga mengunjungi objek objek wisata lain yang searah dan berdekatan dengan Museum The Sukarno Center seperti Istana Tampak Siring, Pura Tirta Empul, Kintamani dan Danau Ulu Beratan Bedugul
Pengunjung Dewasa hanya cukup membayar harga tiket Rp. 20 ribu dan Rp. 10 ribu untuk anak anak. Pihak pengelola akan menyambut dengan ramah kedatangan anda dan akan memberikan kenang-kenangan berupa poster saat anda akan meninggalkan tempat ini.<<< Baca Juga :  Tanah Lot >>>
Kereta Kencana di "The Sukarno Center" Museum
Pengunjung diwajibkan untuk membuka alas kaki saat mulai memasuki beranda Museum ini. Sebagai tempat yang menyimpan benda sejarah, para pengunjung wajib mematuhi beberapa aturan seperti menjaga kebersihan, tidak menyetuh benda-benda koleksi dan tidak area terlarang dan cukup melihatnya saja.
Diberanda depan terpajang beberapa koleksi sejarah, salah satunya adalah kereta kencana yang konon pernah dikendarai oleh leluhur Bung Karno. Corak dan motif sentuhan budaya Bali mulai terlihat saat berada diberanda ini. Seluruh lapisan bangunan dibaluti oleh desain gaya Bali dengan sentuhan artisitik yang menunjukkan nilai seni yang mumpuni.
<<< Baca Juga : Pura Luhur Uluwatu >>>
Lambang Garuda di "The Sukarno Center" Museum
Setelah melewati pintu masuk, Sebuah lambang Burung Garuda berdiri tegak seakan penanda selamat datang bagi para pengunjung. Bermula dari sinilah deretan benda benda bersejarah akan kami sambangi di setiap sisi ruang bangunan ini.
Dengan konsep wisata sejarah perjuangan bangsa, tempat ini bisa menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Dalam beberapa kesempatan, kunjungan tour wisata sekolah selalu menyambangi tempat ini. Generasi kini, harus dipernalkan tentang sejarah dan rintisan oleh para pendahulu utamanya Bung Karno sebagai salah satu motor kemerdekaan Indonesia.
Interior "The Sukarno Center" Museum
Melangkah masuk kedalam, kita akan terhenyak dengan tampilan klasik dengan bias-bias keemasan yang mendominasi isi ruangan. Ini adalah ruang tengah lantai pertama setelah melewati beranda depan. Berbagai macam pernak pernik, perabot, hiasan, foto memenuhi setiap sisi ruangan. koleksi yang berkaitan erat dengan Soekarno, terpampang di ruangan ini. Beragam koleksi ditempatkan dengan penataan interior rumah ala bangsawan. Beberapa koleksi yang akan dijumpai seperti kenang-kenangan yang didapatkan Soekarno dari negara tetangga, lukisan para penggemar Soekarno, atapun kutipan pidato yang menggugah hati dari Soekarno.
<<< Baca Juga : Bedugul >>>
Meja Pertemuan Presiden RI di "The Sukarno Center" Museum
Terus berkeliling disetiap bagian ruangan, terdapat sebuah meja jamuan. Dahulu meja ini menjadi tempat para tamu kenegaraan bersantai dengan Sang Presiden. Tatanan ruang seakan menggambarkan kejadian saat itu, dimana Bung Karno sedang menjamu para tamu dari berbagai Negara.
Adalah Sukmawati Sukarno Putri yang merupakan putri dari Bung Karno yang menggagas pembangunan Museum Sukarno ini. Bersama dengan Dr. Shri I Gusti Ngrh. Arya Wedakarna MWS III yang merupakan rektor di universitas Mahendradata, mereka merencanakan dan membangun Museum ini, hingga diresmikan bertepatan dengan hari kelahiran Bung Karno pada tanggal 6 Juni 2009 dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 10 November 2011
Ruang Pertemuan di "The Sukarno Center" Museum
The Soekarno Center dibangun berlantai dua, di atas lahan seluas 1000 meter persegi, tempat ini begitu terawat dan sangat bersih,. Koleksi benda antik sangat elegan tertata diseluruh sisi ruangan. Ratusan foto kenangan Bung Karno yang berjumlah 150 buah memenuhi hampir semua sisi dinding. 
Ruangan ini menggambarkan tempat Bung Karno menerima rombongan tamu. Balutan seni jawa dan bali sangat kental terasa di dalam bangunan ini. Setiap sudut ruangan memberikan makna historis dan culturis. Terlebih lagi alunan musik gamelan lawas, perpaduan budaya Jawa dan Bali yang syahdu mengirini rasa penasaran para pengunjung saat menyusuri setiap ruangan di museum ini.
<<< Baca Juga : Pantai Pandawa >>>
Interior "The Sukarno Center" Museum
Sebagai bangunan yang menyimpan koleksi antik Presiden Pertama Indonesia, bangunan ini dikelola oleh pemerintah dengan standar protokol pengamanan. Disetiap sudut ruangan terdapat CCTV yang memantau seluruh aktivitas pengunjung saat berada di dalam museum. Beberapa orang petugas yang diantaranya adalah Paspampres juga tetap siaga di pos penjagaan untuk memastikan keamanan benda benda bersejarah tersebut.
Lukisan "Nyi Roro Kidul" di "The Sukarno Center" Museum
Di salah satu ujung ruang yang tidak begitu luas, terpampanglah lukisan yang konon merupakan Sang Penguasa Laut Selatan Jawa, Nyi Roro Kidul. Ada suasana berbeda saat berada di ruang ini, semerbak wangi dupa dan lampu yang temaram, terkesan suasana yang membuat merinding terebih lagi alunan gendang gending menambah suasana sedikit “mistik”.
Banyak mitos dan legenda tentang sosok penguasa laut selatan jawa ini. Lukisannya terpajang dengan ukuran yang cukup besar diantara pajangan lainnya. Konon, ada kekuatan supranatural yang mengaitkan antara Nyi Roro Kidul dan Bung Karno. Mitos itu yang hingga kini masih dipercaya oleh petuah dan para sesepuh.
Sesekali, pengunjung akan diperdengarkan pidato Sang Proklamator yang saat itu mengobarkan semangat satria pembela bangsa. Bung Karno dikenal sebagai seorang orator yang mampu menggetarkan jiwa dan membakar nyali dengan sajak sajak pidatonya yang berapi api. Kekuatan itulah yang menjadikan Bung Karno begitu disegani dan ditakuti oleh Dunia Internasional.
<<< Baca Juga : Pura Tirta Empul >>>
Koleksi Foto Bung Karno di "The Sukarno Center" Museum
Dibeberapa sisi dinding, terpajanglah koleksi foto perjalanan Bung Karno saat memimpin negeri ini. Gambar gambar tersebut seakan bercerita tentang perjalanan panjang Bung Karno dimasa-masa perjuangan, disaat kondisi bangsa yang sedang tertekan oleh sisa kolonialisme Belanda dan masa pendudukan tentara Jepang. 
Melihat lebih detail adegan adegan yang terjadi saat itu seakan membawa kita ke masa lalu saat Bung Karno dan para pelopor pendiri bangsa melakukan negosiasi dan berbagai perundingan kepada banyak pihak untuk masa depan Bangsa Indonesia.
Koleksi Foto Bung Karno di "The Sukarno Center" Museum
Beberapa koleksi foto juga menampilkan kehidupan keluarga Bung Karno. Sosok Bung Karno yang sangat dekat dengan kelurganya ditampilkan pada beberapa adegan dalam gambar. Meski sebagai seorang Kepala Negara, beliau juga merupakan seorang kepala keluarga, yang menjadi pemimpin bagi Istri dan anak-anaknya.
<<< Baca Juga : Pantai Kuta >>>
Koleksi Foto Bung Karno di "The Sukarno Center" Museum
Keseharian beliau yang sibuk dengan urusan pemerintahan, tetap memberikan waktu dalah hal kasih sayang terhadap istri dan anak-anaknya. Kesemuanya tergambar dari koleksi foto kemesraan beliau dengan keluarga. Berdasarkan keterangan yang tertuang dalam dokumen di Museum The Sukarno Center ini, Semasa hidupnya, Bung Karno telah menikahi 9 wanita untuk menjadi pendamping hidupnya. Mereka Adalah 1. Oetari Tjokroaminoto (1921  -1923), 2. Inggit Ganarsih (1923-1943), 3. Fatmawati (1943 - 1970), 4. Hartini (1953 - 1970), 5. Kartini Manoppo (1959 - 1968), 6. Haryati (1963 - 1966), 7. Ratna Sari Dewi (1962 - 1970), 8. Yurike Sanger (1964 - 1968) dan 9. Heldy Djafar (1966 - 1969).
<<< Baca Juga : Legian Street >>>
Foto Bung Karno bersama "Che Guevara"
Bung Karno tidak hanya disegani, karena kepemimpinannya di dalam negeri. Di Dunia Internasional, Sang Proklamator ini begitu diteladani dan diagungkan oleh beberapa pemimpin dunia. Beberapa koleksi foto menggambarkan kedekatan Presiden Pertama RI ini dengan beberapa tokoh berpengaruh di Dunia seperti, Nikita Khrushchev (Pemimpin Uni Soviet), Fidel Castro (Presiden Cuba), Muammar Khadafi (Presiden Libia), Kim Il Sung (Pemimpin Korea Utara), Mahatma Gandhi (Pemimpin India) dan Tokoh paling berpengaruh di Amerika Latin saat itu, Ernesto Che Guevara
Sosok dan Gaya kepemimpinan Sukarno dalam menahkodai Indonesia di tengah tekanan Negara barat yang menjadi keseganan para tokoh dunia tersebut terhadap Presiden Pertama RI ini.
<<< Baca Juga : Monumen Bom Bali >>>
Ruang Kerja Bung Karno di "The Sukarno Center" Museum
Penataan ruang kerja Presiden RI yang pertama ini menggambarkan situasi kejadian saat itu. Interior dan Tata letak perabot masih terawat dan terjaga. Meja kerja dan kursi, dahulu digunakan oleh Presiden Sukarno saat melakukan kunjungan kerja di Pulau Bali.  
Saat masa pemerintahan Presiden Sukarno, beberapa Istana Kepresidenan dibangun dibeberapa tempat yaitu, Istana Bogor, Istana Malioboro (Gedung Agung), Istana Cipanas dan Istana Tampak Siring. Beberapa koleksi pribadi Bung Karno yang berada di Museum ini, sebelumnya berada di Istana Tampak Siring. Barulah setelah Museum ini didirikan sebagian besar koleksi dipindahkan ke tempat ini.
<<< Baca Juga : Pura Puseh Batuan >>>
Suasana Interior "The Sukarno Center" Museum
Museum The Sukarno Center adalah bangunan yang didedikasikan untuk koleksi pribadi Bung Karno. Sebagai besar koleksi dan perabot yang berada di dalam museum ini pernah digunakan oleh Bung Karno semasa pemerintahannya dulu, terutama saat berada di Pulau Bali baik dalam rangka kunjungan kerja atau kegiatan keluarga. Sejak berdirinya Museum ini, masyarakat lebih mengenal dekat tentang sosok Sang Proklamator RI yang pernah menorekan tinta emas perjuangan bangsa. Para pengunjung akan banyak mendapatkan edukasi tentang sejarah perjalanan Bung Karno saat merintis kemerdekaan. Banyak wawasan tentang Indonesia secara menyeluruh yang bisa kita temukan saat mengelilingi dan mengamati setiap benda, perabot dan foto di dalam Museum ini. Semoga Museum The Sukarno Center, tetap terjaga dan terawat sebagai bukti perjalanan perjuangan Bangsa Indonesia di Pulau Dewata...The Secret Of Indonesia...!!!...The Sukarno Center Museum..!!!

Penulis : Muhammad Dagri Nizar
Baca Juga :


Kerajinan Perak Celuk The Monkey Forest Nusa Dua
Pura Puseh Batuan Arjuna Krishna Tanah Lot
Garuda Wisnu Kencana Pura Luhur Uluwatu Monumen Bom Bali
Bedugul Legian Pantai Pandawa
Istana Tampak Siring Tirta Empul Pantai Sanur
Kintamani Resort Pantai Kuta Gunung Agung