Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts

Warna Warni di "Kampung Pelangi" - Semarang, Jawa Tengah

KAMPUNG PELANGI
WONOSARI SEMARANG - JAWA TENGAH

Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng
Kampung Pelangi Semarang
  
Semarang - Jawa Tengah, Destinasi wisata selalu indentik dengan tempat yang jauh dari perkotaan. Banyak orang harus menempuh perjalanan jauh untuk mencapai sebuah tempat wisata yang di favoritkannya. Tempat tujuan wisata yang paling umum dibenak orang adalah pantai atau air terjun. Objek wisata tersebut tentunya hanya ada dibeberapa wilayah tertentu dan keberadaannya pun karena faktor alam.
Belakangan banyak pilihan wisata yang unik dan mudah diakses. Dengan inisiatif dan kreatifitas seni, bisa mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Sesuatu yang diluar dugaan dari yang tidak bernilai dapat disulap menjadi daya tarik yang mengagumkan.
Tepatnya di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Atas inisiatif Pemerintah Kota Semarang yang awalnya melakukan penataan kawasan pemukiman kumuh, hingga akhirnya menghasilkan sebuah tempat kunjungan yang menjadi favorit baru warga Kota Semarang.
 
Namanya adalah Kampung Wonosari yang kini lebih dikenal denga nama Kampung Pelangi. Kini namanya mulai mendunia karena keunikannya. Inisiator yang menyulap kampung biasa itu menjadi kampung pelangi yaitu wali kota Semarang, Hendrar Prihadi. Awalnya Pemkot Semarang merenovasi seluruh pasar bunga yang ada di depan kampung wonosasi menjadi rapi dan bisa menjadi rujukan wisata. Akhirnya, ratusan rumah yang berada di daerah perbukitan di belakang Pasar Kembang pun direnovasi dengan mengecatnya dengan cat warna warni
Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng
Kampung Pelangi Semarang

Kini, tampilannya pun sudah berubah yang dulunya sebuah kawasan kumuh sudah berganti dengan tampilan warna warni yang membuat siapapun ingin menyambangi tempat ini. 
Setelah resmi menjadi tempat wisata, Kampung Pelangi ini sempat viral dan menjadi perhatian khalayak. Ratusan pengunjung memadati kompleks pemukiman di perbukitan ini. Perkampungan padat penduduk yang dahulunya hanya warga setempat saja yang lalu lalang, kini dibanjiri orang-orang dari berbagai penjuru untuk melihat langsung polesan warna warni yang menutupi semua sisi bangunan dan jalan.

Warga setempat sudah diberikan pembekalan oleh Pemerintah Kota Semarang agar siap menjadi daerah kunjungan dan terbiasa ramah dengan pengunjung yang akan meramaikan kompleks pemukimannya setiap harinya. Warga Kampung Pelangi yang dahulunya agak minim berinteraksi dengan khalayak, kini harus membiasakan diri untuk menyambut para tamu dari berbagai penjuru sembari memberikan penjelasan tentak seluk beluk wilayah tersebut hingga akhirnya menjadi seperti ini.
Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng
Kampung Pelangi Semarang

Sebagai kawasan kunjungan wisata yang baru hadir di Kota Semarang, Kampung Pelangi ini akan menjadi alternatif wisata keluarga yang representatif. Para pengunjung yang datang bersama rombongan keluarganya akan menikmati wisata dalam kota yang humanis. Berkeliling saat sore hari di Pasar Kembang lalu menyusuri setiap ruas jalan di Kampung Pelangi adalah paket wisata santai yang murah. Keluarga dan anak-anak akan merasa nyaman dan gembira saat dikelilingi aneka warna warni dengan berbagai ornamen dan hiasan yang terpasang dimana-mana. Tidak ada biaya masuk yang dikenakan oleh pengunjung di tempat ini. Pengunjung cukup berbelanja saja di beberapa kios atau jajanan yang disiapkan warga di dalam kompleks ini. Itu sudah cukup berkontribusi bagi pengembangan dan kesejahteraan warga Kampung Pelangi.
Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng
Kampung Pelangi Semarang

Dari arah depan Jalan sudah terlihat wilayah perbukitan yang dipenuhi rumah-rumah warga yang berderet mengikuti alur ketinggian bukit. Aneka warna warni menyebar di seluruh sisi bangunan, ada warna merah, kuning, hijau, biru, ungu dan semua warna menyolok lainya berkumpul meramaikan setiap sudut pandangan.
Di sore yang cukup hangat waktu itu, iring-iringan pengunjung terlihat sudah mulai mengarah ke sebuah jembatan kecil yang menjadi pintu masuk Kampung Pelangi ini.  Warga yang sehabis berbelanja di Pasar Kembang berpikir nanggung kalau tidak sekalian mampir di Kampung Pelangi. Warna warninya sangat menggoda untuk berpose. Berlatarkan puluhan warna menyala tentunya akan menjadi tampilan yang berbeda dan colourful di ponsel anda.

Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng
Kampung Pelangi Semarang

Meihat landscape seperti ini, kita seakan terbayang berada di Rio de Jenerio Brazil yang tersohor dengan kompleks perumahan padat di perbukitan. Tapi itu tempat yang terlalu jauh kita bayangkan. Kita masih berada di Negeri yang kita cintai, Indonesia. Kampung Wonosari atau Kampung Pelangi ini memang sudah sejak dahulunya merupakan pemukiman di perbukitan. Setelah resmi menjadi tujuan wisata, seluruh pemilih rumah di tempat ini langsung diberikan sertifikat kepemilikan tanah yang sah oleh Pemerintah Kota Semarang yang memang sejak dahulunya rumah rumah warga masih belum berstatus sah.
Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng
Kampung Pelangi Semarang

Berkeliling di Kampung warna warni ini akan memberikan banyak nuansa baru tentang pariwisata yang pada kenyataannya tidak perlu mengeluarkan cost yang tinggi. Tata dan penempatan warna begitu seimbang dan representatif sehingga tidak menjemukan pandangan, apalagi dibeberapa sudut pemukiman ditempatkan beberapa gambar gambar yang stylish yang semakin membawa rasa penasaran orang untuk berkeliling lebih jauh. Semoga Tulisan ini Bermanfaat...!!!

Penulis : Muhammad Dagri Nizar

....KeANGKERan....Lawang Sewu || Semarang - Jawa Tengah

....KeANGKERan.... LAWANG SEWU
SEMARANG - JAWA TENGAH

Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng
Semarang - Jawa Tengah, Saat menduduki Indonesia selama beratus tahun, Kolonial Belanda banyak meninggalkan bangunan bersejarah yang hingga kini masih terawat dan menjadi bukti sejarah masa lalu. Selama beberapa generasi, penjajah Belanda menguasai seluruh nusantara. Kekuasaanya tersebar di seluruh negeri yang terpusat di Pulau Jawa.

Setelah pendudukan Belanda berakhir, kemudian berganti dengan masa pendudukan jepang. Meskipun singkat namun keberadaan Jepang saat itu begitu membekas dibenak bangsa Indonesia. Lawang sewu menjadi saksi, bagaimana kekejian tentara jepang yang menjadikan tempat ini sebagai penjara tersadis dikala itu. Di tanah jawa inilah kekuatan colonial belanda terpusat. Hampir setiap daerah tersimpan jejak kekuasaan belanda saat itu. Baik itu bangunan, jalan, jembatan, monumen dan beberapa peninggalan lainnya.

...Tertinggi di Indonesia...Pagoda AVALOKITESVARA || Vihara Buddhagaya Watugong - Semarang, Jawa Tengah

VIHARA BUDDHAGAYA WATUGONG
PAGODA AVALOKITESVARA
Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng, Vihara Buddhagaya Watugong
Semarang - Jawa Tengah, Perjalanan peradaban Indonesia telah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Sejak abad Ke-9, peradaban budaya dan keyakinan kepada sang pencipta sudah dimulai. Ini ditandai saat berdirinya kerajaan Sriwijaya di daratan sumatera yang beraliran Buddha. Masuknya kepercayaan Buddha saat itu telah menjadi perintis perubahan kehidupan manusia di nusantara.
Ajaran Buddha masuk sekitar abad Ke-9, lalu disusul peradaban Hindu pada abad Ke-12 yang ditandai dengan berdirinya Kerajaan Majapahit. Inilah yang menjadi awal dari tumbuhnya kepercayaan dan kegiatan ritual kepada penguasa alam semesta melalui prosesi peribadatan. Ajaran Buddha pun menyebar ke beberapa wilayah nusantara. Ini ditandai dengan beberapa bangunan yang mencirikan adanya penganut ajaran Buddha di wilayah tersebut.
Agama Buddha cukup berkembang pesat di Indonesia khusunya di pulau Jawa. Pada era perintisan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa, dimulai dengan masuknya ajaran Budha lalu disusul ajaran Hindu. Selama ratusan tahun penyebaran ajaran agama Budha menyeluruh sampai ke pelosok Pulau Jawa.  Hingga kini umat Budha sudah mencapai sekitar 2 juta lebih pemeluknya di Indonesia.

Napak Tilas Jejak "Laksamana Cheng Ho" || Klenteng Sam Poo Kong - Semarang, Jawa Tengah

Napak Tilas Jejak "Laksamana Cheng Ho"
KLENTENG  SAM POO KONG
SEMARANG - JAWA TENGAH

Pariwisata Dunia, Pariwisata Indonesia, Pariwisata Jawa Tengah, Kota Semarang, Kampung Pelangi, Simpang Lima, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Dataran Tinggi Dieng, Vihara Buddhagaya Watugong
Semarang - Jawa Tengah, Jauh sebelum kolonialisme belanda menginjakkan kakinya di wilayah nusantara. Ratusan tahun sebelumnya, para pedagang tionghoa telah melabuhkan sauhnya di beberapa wilayah pesisir indonesia. Misi daganglah yang menjadi motif utama untuk menjejakkan kaki di nusantara. Para saudagar dari tiongkok tersebut menempuh ribuan mil gelombang samudera dari negerinya hingga akhirnya berlabuh di gugusan kepulauan Indonesia.

Pulau Jawa merupakan salah satu tempat sandaran bahtera dari negeri tirai bambu tersebut, selain Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Mereka berlayar dengan puluhan armada dengan mengangkut ratusan orang untuk mejalankan misi dagang di tanah Jawa.

...Malam Panjang... di Simpang Lima - Semarang, Jawa Tengah

...Malam Panjang... di "SIMPANG LIMA"
SEMARANG - JAWA TENGAH

Semarang - Jawa Tengah, Tempat-tempat wisata di Indonesia menyuguhkan aneka hiburan dan kegembiraan untuk dikunjungi. Beberapa tempat kunjungan wisata dan pusat hiburan masyarakat, dimiliki oleh semua daerah di negeri ini. Masing-masing memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri. Aktifitas kesibukan masyarakat tentunya membutuhkan sarana untuk refreshing dan melepas penat, terlebih lagi yang lokasinya tidak begitu jauh dari pusat keramaian.
 
Jawa Tengah merupakan salah satu daerah dengan populasi penduduk terbanyak di Indonesia. Banyak tempat-tempat menarik yang bernuansa wisata dan sejarah di Provinsi ini, salah satunya di Ibu Kotanya yaitu Kota Semarang. Kota ini terletak dibagian utara Jawa Tengah yang berhadapan dengan laut jawa. Kota yang berpenduduk sekitar 1,5 Juta jiwa ini, kian hari semakin melesat dengan pembangunannya. Sebagai Kota industri, Semarang menjadi tujuan akhir dari lalu lintas manusia dari berbagai penjuru Jawa Tengah.

...Peninggalan Raja Indra Di Wangsa...Candi Mendut - Jawa Tengah

...Peninggalan Raja Indra Di Wangsa...
CANDI MENDUT
MAGELANG - JAWA TENGAH

Magelang - Jawa Tengah, Sebagai kawasan yang dipunuhi oleh situs-situs sejarah. Wilayah jawa Tengah, Khususya Magelang banyak menyimpan peninggalan masa lalu yang menunjukkan betapa hebatnya peradaban nenek moyang dalam menghasilkan karya yang bernilai arsitektur. Candi Mendut didirikan oleh “Raja Indra Di Wanga” pada masa Dinasti Syalendra pada tahun 824 M. Candi ini memiliki ketinggian 25,4 M dan 48 Stupa.

...Kebesaran Wangsa Syailendra...Candi Borobudur - Jawa Tengah

...Kebesaran Wangsa Syailendra...
CANDI BOROBUDUR

MAGELANG - JAWA TENGAH

Magelang - Jawa Tengah, Konon menurut cerita, jauh sebelum kolonialisame mengekang ibu pertiwi. Sekitar abad 9, nusantara kita dibentuk oleh kekuatan para kesatria dalam naungan kerajaan yang membumi. Mereka menguasai daratan dan lautan yang sangat luas. Mereka tersebar di sebagian besar nusantara dan memperkuat tahta dan dominasinya untuk mempersatukan rakyat kala itu.


Saat itu kehidupan masih dilandasi oleh kebiasaan dan kepercayaan para leluhur mereka. Corak dan tradisi hidup saat itu terbawa oleh ajaran penghambaan kepada yang diyakini sebagai tuhan. Menurut catatan sejarah, keyakinan dan kepercayaan yang pertama kali bersentuhan dan berkesesuaian dengan jiwa masyarakat saat itu adalah ajaran Budha. Pulau Sumatera dan Pulau Jawa merupakan pusat persebaran Budha pertama kalinya di nusantara.
Candi Borobudur - Magelang

Salah satu peninggalan yang paling prestisius dan monumental adalah Candi Borobudur. Menurut legenda, Candi Borobudur didirikan oleh Raja Samaratungga, dari Wangsa Syailendra. Borobudur telah menjadi bangunan termegah kala itu hingga kini dan menjadi kebanggan Indonesia. Dunia pun mengakuinya sebagai warisan budaya.

Letaknya berada di Kab. Magelang, Prov. Jawa Tengah. Kurang lebih 50 Km dari pusat kota Jogjakarta. Candi Borobudur berada di kawasan dataran yang luas dan disekelilingnya merupakan hamparan hutan tropis yang masih menghijau. Dari sebelah timur berdiri menjulang Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang saling berhadapan.
Ulasan tentang Candi Borobudur pastinya sudah ribuan orang menceritakannya. Berbagai tulisan tentang candi ini sudah banyak kita temukan dibebagai media baik local maupun internasional. Buku-buku sejarah, hasil penelitian dan Panduan pariwisata sudah sering membahas tentang situs sejarah yang satu ini. Namun tidak ada salahnya saya menceritakan juga pengalaman saat berkunjung pertama kalinya di salah satu warisan budaya dunia yang pernah menyandang sebagai 7 keajaiban dunia ini. Inilah Candi Borobudur. One Of Great Temple in The Planet.

Setelah mengunjungi Kampus UGM, kami pun bergerak dari kota jogja kearah barat laut menuju perbatasan Prov. Jawa Tengah. Sekitar 40 menit dibutuhkan waktu untuk sampai di candi ini. perjalanan melalui kepadatan lalu lintas Jogjakarta yang tidak henti hentinya lalu lalang kendaraan memenuhi seluruh ruas jalan. Antara Jogjakarta dan Magelang sepetinya tak terputus kepadatan pemukiman dan jalan utama. Keduanya seperti terhubung oleh rutinitas kegiatan manusia. Perbatasan Provinsi sepertinya tidak nampak meskipun kami sudah melewatinya. Semuanya tertutup oleh hingar bingar keramaian mencari kehidupan di Provinsi dengan penduduk terbanyak ke tiga di Indonesia.


Saat sudah mendekati area Candi Borobudur, perjalanan akan memasuki jalur menurun landai memasuki wilayah terbuka. Kawasan pemukiman masyarakat dengan tampilan khas budaya jawa tengah mulai satu persatu terlihat. Simbol-simbol jawa sangat kental terasa disepanjang jalan ini. Kami terkagum kagum meski hanya melihatnya dari balik kaca bis ini.

Seperti rombongan pejabat atau artis kami ini, saat puluhan orang menyambut kami didepan pintu bus. Oh ternyata mereka adalah pedagang yang sedang menjajakan aneka pernak pernik khas Borobudur. Dengan harga bervariasai mereka tetap berusaha dan sedikit memaksa kami untuk bertransaksi. Setelah berlalu dari rombongan pedagang tersebut, pintu gerbang utama sudah menunggu kedatangan kami. Harga tiket masuk saat itu Rp. 55.000/orng dewasa. dan Rp. 15.000 untuk anak-anak. Cukup ramai orang yang mengantri di loket tiket saat itu. Meskipun hari ini bukan hari libur, namun animo pengunjung tetap antusisas mendatangi Candi terbesar di Indonesia ini.

Dan akhirnya masuklah kami di Kompleks candi terbesar di dunia. Betapa takjub dan terheran-herannya kami saat melihat dari kejauhan candi Borobudur yang sepertinya masih membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai disana. Memasuki area Candi, kita akan melalui sebuah taman yang sangat luas. Taman yang tertata apik dan asri. Ratusan pohon rindang, sangat meneduhkan perjalanan kami ke pelataran utama candi. Meski cukup jauh, namun warna warni bunga memenuhi sisi taman. Terdengar juga sayup sayup lantutan gamelan jawa yang seakan akan sedang membawa kita ke dalam suasana kraton jawa.

Sebelum memasuki pintu terakhir, para pengunjung diwajibkan untuk mengenakan selendang. Baik laki-laki maupun perempuan wajib menggunakannya dan merupakan ketentuan yang sudah diterapkan untuk semua pengunjung. Penggunaan selendang dimaksudkan sebagai penghormatan kepada situs sejarah Candi Borobudur yang juga merupakan sarana peribadatan umat Budha. Selain itu selendang digunakan untuk menjaga nilai estetika pengunjung ditempat agar memiliki corak keseragaman sehingga mencerminkan sebuah seni menjaga budaya.

Candi Borobudur memiliki tingkatan-tingkatan yang dalam penjelasan beberapa literature memiliki traf atau tingkatan yang diberi nama kamandatu, arupadatu. Penamaan tersebut memiliki makna tersendiri yang hanya bisa dijelaskan oleh para sejarawan dan arkeolog yang sudah memahami seluk beluk Candi Borobudur ini.

Matahari yang cukup menyengat di siang itu tidak menyurutkan langkah kami, berpijak tiap anak anak tangga yang semakin menanjak. Ratusan orang juga sedang berada di seputaran candi ini. terlihat beberapa pelancong mancanegara sedang menyimak penjelasan para pemandunya tentang candi ini. Candi Borobudur memang memancing minat dan penasaran siapapun untuk datang melihat langsung kemegahannya.

Pengunjung sangat disarankan untuk mempersiapkan fisiknya sebelum siap mengarungi seluruh sisi-sisi Candi ini. bagaimana tidak selain harus melalui area taman dan pelataran yang hampir 1,5 Km jaraknya, para pengunjung harus menaiki anak-anak tangga yang hampir ratusan jumlahnya ditambah lagi dengan teriknya mentari yang menembus di seluruh permukaan candi yang berdasar batu ini. untuk mengelilingi setiap tingkatan pun membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Pengunjung dipastikan akan menyempatkan diri mengabadikan gambar ketika berada disetiap sudut candi yang memang berlatar sangat memukau.
Disetiap sudut candi terpampang deretan relief dan ukiran ukiran gambar. Sepertinya banyak cerita masa lalu yang ingin disampaikan melalui ukiran tersebut, namun bagi kami orang awam sangat sulit untuk memaknai maksud dari gambar-gambar tersebut. Konon menurut lembaran sejarah, banyak kisah dan cerita yang terpampang disetiap dinding di tempat ini. Sejarah kerajaan sriwijaya, majapahit, singosari banyak diceritakan melalui ukiran di candi ini. bahkan menurut seorang peneliti, salah satu kisah Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan Ratu Bilkis juga terukir disini. Sekali lagi kami katakan bahwa hanya para ahlilah yang bisa menterjemahkan makna dari ukiran tersebut.

Ratusan kubah batu yang disebut dengan Stupa berderet mengelilingi stupa utama yang berada di titik tertinggi candi Borobudur ini. pikiran awam kami bertanya tanya, entah arsitek dari mana pada ratusan tahun yang lalu yang bisa merancang bangunan yang megah dengan penempatan stupa yang terukur dan penuh makna ini. padahal pada masa abad ke 11, saat candi ini dibuat, pastilah belum ada teknologi atau alat ukur yang canggih, namun inilah sejarah yang telah berkata. Ternyata para leluhur kita merupakan orang-orang yang sangat cerdas dan mumpuni.

Dibeberapa sudut candi, akan dijumpai banyak patung budha dengan berbagai macam ukuran. Ada yang terletak di sudut pelataran ada juga yang berada di dalam stupa, Ada yang utuh dan ada pula yang tak berkepala. Kami tidak bisa menjelaskannya disini, mungkin hanya para ahli yang bisa menuturkannya.
Sebagai bangunan yang disakralkan oleh umat Budha, setiap tahunnya selalu diadakan upacara keagamaan yang dihadiri oleh ribuan umat Budha dari berbagai penjuru tanah air, bahkan dari mancanegara seperti China, Thailand, Kamboja dll yang memang memiliki umat Budha yang cukup dominan.

Bisa dibayangkan betapa rumitnya arsitektur Candi Borobudur ini ditambah lagi dengan ukiran-ukiran pada batu cadas yang sepertinya mustahil dikerjakan oleh manusia jaman sekarang. Sekali lagi, itulah sejarah yang tidak bisa diabaikan. Dengan peralatan seadanya mereka sudah mampu menghasilkan karya abadi sepanjang masa.
Entah dari mana asal ratusan kubik batu-batu ini. padahal di kawasan wilayah Candi Borobudur tidak terdapat gunung batu. Sangat mengherankan, dari mana asal bebatuan ini dan bagaiman bisa dibawa ketempat ini. sontak pikiran kami menerka-nerka, apakah ada hal-hal diluar kemampuan manusia biasa yang membantu proses pendirian candi ini. Atau apakah ada kekuatan supranatural yang ada dibalik semuanya ini..Wallahualam….

Meskipun pernah mengalami beberapa kali mengalami pemugaran, baik pada masa pemerintahan belanda hingga saat pemerintahan Sukarno dan Suharto, keaslian candi ini tetap terjaga. Tidak ada bagian yang ditambah maupun dikurangi. Bangunan yang ada saat ini merepresentasikan bentuk aslinya seperti keadaan di Abad ke 11 silam.
Meskipun lelah berkeliling, tapi rasa puas ada dibenak kami yang telah menuntaskan rasa penasaran tentang Candi Borobudur ini. selama ini kami hanya mendengar cerita atau melihat gambar-gambarnya. Hari ini, jejak kaki kami sudah berpijak disana. Salah satu bangunan bersejarah Indonesia sudah kami sambangi. Rasa keingintahuan kami pun sudah terbayar lunas. Masih banyak lagi situs sejarah yang setelah ini kami akan kunjungi. Semoga tulisan ini bermanfaat dan memberikan wawasan baru tentang Situs sejarah Indonesia khususnya candi Borobudur.

Gempuran Asap Belerang di Puncak Slamet

PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
3428 MDPL
23 s/d 24 Mei 2012
 

Tegal, Banyumas, Jawa Tengah
Gunung Slamet Merupakan Gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan Ketinggian 3428 MDPL, Gunung ini terletak di Kab. Tegal dan Kab. Banyumas. Ada beberapa akses masuk untuk mencapai puncaknya yaitu, melalui Jalur Blambangan, Jalur Batu Raden dan Jalur Gucci. Puncak Slamet memiliki kawah yang termasuk salah satu kawah terluas di Indonesia.
Setelah menyelesaikan pendakian di Gunung Ciremai, saya kembali berangan-angan, “Apakah dalam sisa waktu 1 minggu di Jakarta dalam kondisi yang masih lelah setelah pendakian di Gunung Ciremai, saya bisa mendaki lagi ke Gunung Slamet ?” pertanyaan ini sangat membebani pikiran saya, di sisi lain berkata saya ingin istirahat, disisi lain berkata mumpung saya di Jakarta, kenapa tidak saya sekalian ke Gunung Slamet.
Pertanyaan ini terjawab setelah saya mengontak teman saya sewaktu ke Ciremai untuk menemani saya kembali mendaki ke Gunung Slamet. Teman saya itu pun menyanggupi meskipun sedikit ada pemaksaan dari saya.....hehehe.
Packing sebelum menuju ke Kota Tegal
Senin, 23 Mei 2011, kami mulai mempersiapkan perlengkapan dan logistik di rumah kontrakan teman saya bernama Ali Hasan di daerah Cibubur, Jakarta Timur. Meskipun persiapannya mendadak, kami mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dipacking ke dalam carrier dan daypack yang kami bawa. Pukul. 20.00, dengan menumpangi taksi, kami menuju ke Terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur. Sesampainya di Terminal, beberapa calo tiket langsung menyambangi kami dengan tawaran yang bervariasi. Kami segera mencari Bus jurusan Kota Tegal, setelah menyepakati harga dengan tawaran fasilitas yang menjanjikan kami pun membayar Rp.125 ribu/orang.

Satu jam kemudain, bis pun bergerak menuju rute yang di tuju. Dalam bis ini fasilitasnya sesuai harganya, kursi yang nyaman dan ruangan ber-AC, penumpang pun terlihat menikmati perjalanan ini. Saya dan Bang Ali juga terlihat nyaman sambil menikmati film action yang diputar di Bis ini.

Namun, semua kenyamanan itu berubah total, setelah bis yang kami tumpangi ini berhenti di Terminal Cikampek yang berada di pinggir Jakarta Timur. Ternyata Bus ber-AC dengan harga mahal yang kami tumpangi ini hanya sebagai umpan. Kami dipindahkan di Bis lain yang terlihat kumuh dan sudah tua serta sudah sesak dengan penumpang. Tidak ada kata lain selain, penyesalan dan menghujat pemilik bis pertama yang sudah meluncur meninggalkan kami di Bis yang sudah usang ini.

Sebagai catatan, kejahatan ini sudah sering terjadi di dunia transportasi, khususnya di Jakarta, para calo dan pemilik bis bersekongkol untuk meraup keuntungan dengan mengorbankan penumpang. Dari dialek yang terdengar, para calo, sopir dan pemilik bis tersebut berasal dari wilayah yang sama di Sumatera Utara. Semoga mereka diberikan ganjaran oleh Allah SWT.

Pejalanan bis melaju kencang melewati beberapa kabupaten di Jawa Barat, Karawang, Bekasi, Cirebon, Indramayu, dan melalui jalur pantura yang padat. Di dalam bis yang sesak ini, kami tidak terlalu tersiksa, karena kami menemukan posisi terlentang yang pas untuk tidur, meskipun berada di tumpukan karung dan gardus. Sesekali bis berhenti karena jalur yang sedang macet, saat itulah beberapa pedangang makanan ringan menyambangi bis ini, mereka menawarkan aneka makanan seperti tahu, kacang dan minuman dingin.
Pemandangan Gunung Slamet
Bis kembali melaju kencang memasuki perbatasan Jawa Tengah, memasuki Kab. Pemalang, waktu menunjukkan Pukul 03.00 WIB, sesekali kami tertidur lalu terbangun lagi jika bis berhenti akibat jalanan macet, Sekitar Pukul 04.30 WIB, bis memasuki Kab. Brebes. Suasana di brebes sudah mulai tampak aktifitas masyarakat, apalagi setelah measuki Kota Tegal pada pukul. 06.00 WIB. Bis berhenti di Terminal Kota Tegal, lalu kami berganti bis ke Jurusan Yomani (Salah satu Kecamatan di Kabupaten Tegal) dengan tarif Rp.10.000,/Orang.
Pemandangan Puncak Slamet
Setengah jam kemudian kami sampai di Yomani, lalu kami berganti kendaraan angkot ke arah Guci dengan tarif Rp.5000,/Orang. Sepanjang perjalanan sudah tampak Puncak Gunung Slamet yang menjulang tinggi dan terdapat kepulan asap di atasnya. Setelah sampai di simpangan Guci, kami berganti kendaraan Open Kap kearah Objek Wisata Guci dengan Tarif angkutan + biaya masuk Rp. 10.000,/Orang. Perjalanan semakin menanjak melewati hamparan ladang masyarakat yang sangat subur. Dari sini pemandangan Kubah Gunung Slamet terlihat semakin jelas juga hamparan pegunungan yang mengitarinya.
Objek Wisata Air Panas "Guci"
Setelah 20 Menit perjalanan, sampailah kami di Objek Wisata Guci. Tempat ini merupakan sebuah permandian air panas yang sangat ramai dikunjungi wisatawan domestik sehingga tempat ini juga menyediakan banyak fasilitas seperti penginapan, rumah makan dan toko-toko souvenir khas Objek Wisata Guci.

Di Tempat ini, terdapat sebuah Organisasi Pecinta Alam yang bernama KPA-Slamet yang ditugaskan untuk menjaga areal pendakian ke Gunung Slamet. Kami melakukan pendaftaran dan membayar biaya masuk sebesar Rp. 10.000/orang di sekretariat organisasi ini.

Setelah sarapan disebuah warung nasi, kami segera mempacking barang selanjutnya memulai perjalanan dengan jalur awal menyusuri jalan mayarakat, tidak lupa, sebelumnya saya mengisi penuh dua jergen dengan air, mengingat perjalanan 2 hari kedepan tidak terdapat sumber mata air disepanjang jalan.
Melewati Hutan Cemara
Perjalanan awal, kami menyusuri hutan cemara yang luas dan sangat rimbun serta udara yang sangat sejuk, posisi start pendakian gunung slamet ini sudah berada di atas ketinggian 1700-san MDPL. Jalur yang dilewati merupakan jalur berbatu yang juga sering dilewati oleh kendaraan truk yang akan menuju kesungai untuk mengambil pasir. Jalur star awal ke gunung ciremai cukup landai dan terbuka juga sering dilalui masyarakat yang beraktifitas di dalam hutan seperti mencari kupu-kupu dan jangkrik.

Semakin lama jalur semakin menyempit , Setelah Hutan cemara sudah kami lewati, jalur selanjutnya yaitu melewati alang-alang dengan medan terbuka sehingga rasa panas mulai kami rasakan. Perjalanan dari star awal menuju ke Pos 1 memakan waktu sekitar 2 jam ditambah dengan sesekali kami beristirahat.

Jalur ke Puncak Gunung Slamet sangat berbeda dengan jalur Gunung Ciremai yang sangat terjal dan menanjak. Di Gunung Slamet jalurnya sangat landai dengan jalur tanjakan yang tidak terlalu sulit juga hutannya yang masih terjaga sehingga sepanjang jalan suasana rimbun dan sejuk selalu terasa.
Pos 1, Pendakian Gunung Ciremai Jalur Gucci
Pos 1 merupakan tempat yang cukup terbuka namun tidak terdapat sumber air, di tempat ini hanya merupakan tempat beristirahat sejenak para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Tidak berbeda dengan jalur sebelumnya, jalur ke Pos 2 masih melewati hutan rapat dan rimbun dengan tanjakan yang sedikit lebih sulit dari sebelumnya. Jalur ke Pos 2 ini, kita sudah dapat melihat kawasan puncak Gunung Slamet yang merupakan hamparan pasir dan batu kerikil.
Pos 1, Pendakian Gunung Ciremai Jalur Gucci
Sesekali kami sempat tertidur beberapa saat di bawah pohon yang rindang, kami sangat lelah, mengingat saat perjalanan di bis semalam, kami tidak sempat beristirahat. Waktu pun sudah semakin siang, sudah terasa kabut mulai turun perlahan, kami pun terbangun seketika dan segera bergegas melanjutkan perjalanan ke Pos 2.

Dari Pos 2, perjalanan langsung diteruskan ke Pos 3 tanpa beristirahat, suasana yang rimbun dan hari mulai sore membuat jalur pendakian semakin terasa gelap. Tanjakan mulai terasa berat dan sesekali melewati semak-semak yang menutupi jalan. Jalur ke Pos 3 ini cukup melelahkan ditambah rasa lapar yang mulai mengurangi semangat. Sesekali saya menoleh ke belakang melihat pemandangan awan yang mulai menutupi pegunungan. Tampak dari kejauhan puncak Gunung Ciremai yang beberapa hari yang lalu baru saja aku daki.
Gunung Ciremai tampak dari Gunung Slamet
Seiring hari yang mulai sore dan cahaya matahari yang mulai memerah, kami pun akhirnya sampai di Pos 3, yang juga merupakan tujuan kami untuk hari ini dimana di tempat ini kami akan menginap sebelum melanjutkan penjalanan ke puncak Gunung Slamet esok hari. Dalam hitungan menit tenda pun sudah berdiri, perapian juga sudah memberikan kehangatan kepada kami sebelum datangnya malam yang tentu akan sangat dingin.

Sebenarnya, para pendaki umumnya melakukan penjalanan ke puncak diwaktu malam hari menjelang subuh (summit attack) namun karena rasa lelah dan capek,kami mumutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak pada pagi hari. Malam ini pun kami tidur dengan pulas dibawah kesejukan hawa pegunungan yang rindang.
Tanjakan berbatu menuju bibir kawah Puncak Slamet
Pagi harinya, dibawah sinar mentari pagi yang cukup hangat, kami pun segera bergegas mempersiapkan perlengkapan yang akan di bawa ke Puncak, seperti makanan ringan, air mineral dan tentunya Kamera sebagai dokumentasi perjalanan kami.
Dari Pos 3, jalur selanjutnya melalui hutan cemara yang sangat menanjak. Sekitar 30 menit kami sudah melewati batas vegetasi yang artinya sudah tidak ada lagi pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, yang ada hanya hamparan pasir dan bebatuan yang luas menutupi sepanjang jalan kedepan.
Tanjakan berbatu menuju bibir kawah Puncak Slamet
Satu persatu langkah kami lalui, menapaki jalur berpasir yang sepertinya tidak berujung, jika kepala ditengadahkan kedepan, maka yang terlihat hanyalah hamparan pasir hitam yang sepertinya tidak memberi ampun bagi orang yang akan melewatinya, sesekali tiupan angin hampir menggoyahkan semangat kami. Jika kabut melintas, saya sepertinya tak kuasa menahan dingin yang menusuk. Perjalanan ini mengingatkan saya saat pendakian ke Puncak Gunung Rinjani dan Gunung Semeru yang memiliki tipikal jalur ke puncak yang sama.
Jalur pasir kerikil menuju Puncak Slamet
Dari kejauhan tampak gumpalan-gumpalan asap dari beberapa celah bebatuan yang tidak lain adalah gas belerang. Menurut cerita yang sering saya dengar bahwa gas belerang sangat berbahaya apabila dihirup oleh orang yang dalam keadaan jantungnya berdetak cepat, maka itulah yang kami hindari saat melintas diantara bebatuan yang terdapat gas belerang.
Jalur tanjakan berbatu
Langkah demi langkah kami lewati. Di depan sana sudah nampak bibir kawah Gunung Slamet yang merupakan salah satu sudut Puncak namun bukan merupakan puncak. Puncak sebenarnya masih harus melewati bibir kawah sejauh 700 meter
Jalur tanjakan berbatu
Dari bibir kawah ini terlihat dengan jelas hamparan bebatuan yang mengeluarkan gas belerang dalam jumlah yang besar dan sesekali menyemburkan asap dengan suara dentuman yang menggelegar. Pikiran kami gunung ini akan meletus namun itu hanya letusan periodik yang tidak terlalu berbahaya seperti halnya di Gunung Semeru dan Gunung Barujari di Rinjani.
Bibir kawah Puncak Slamet
Berjalan di pinggir kawah cukup berbahaya karena disisi kawah sangat curam dan sangat fatal apabila pendaki tergelincir ke bawah. Untuk menuju ke Puncak Gunung Slamet, kami tidak bisa menghindari gas belerang, karena gas-gas tersebut menyembur sepanjang jalan menuju puncak sehingga saat melewatinya kami harus menutup hidung dan menahan napas.
Asap belerang di bibir kawah
Menurut informasi, gas belerang akan berbahaya apabila terhirup berlebihan terlebih lagi dalam kondisi kelelahan dan jantung berdetak cepat, maka dari itu kami pun menghindari kondisi tersebut.
Asap belerang di bibir kawah
Mustahil untuk terhindar dari aroma gas belerang. Sepanjang jalur bibir kawah Gunung Slamet dipenuhi oleh semburan asap belerang. Kami hanya berhati-hati dalam melangkah dan menghindari aroma belerang tersebut agar tidak terhirup berlebihan.
Asap belerang di bibir kawah
Beberapa saat kemudian sampailah kami di Puncak Gunung Slamet. Ditempat ini merupakan areal yang cukup luas dengan pemandangan yang luar biasa. Dari kejauhan terlihat Gunung Ciremai, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan beberapa Gunung lainnya yang menghiasi pemandangan di atas awan ini.
Kawah Gunung Slamet
Melihat kawah Gunung Slamet, saya membayangkan sebuah meteor yang baru saja menimpa kawah ini. Semburan asapnya berhamburan dimana-mana. Area kawah ini seperti memutih oleh asap belerang yang bertebaran oleh tiupan angin. Sesekali suara dentuman kecil menggema dari dalam kawah. Saat itu pula ketakutan melanda kami berdua, jikalau gunung ini akan meletus. Disepanjang pengalaman pendakian gunung saya, inilah kawah yang paling banyak semburan asap belerangnya.
Kawah Gunung Slamet
Kawah Gunung Slamet merupakan salah satu kawah aktif yang tidak pernah berhenti “memproduksi” Gas belerang. Gumpalan asapnya keluar dari segala penjuru kawah dengan intensitas yang tinggi. Pikiran saya mengatakan sepertinya dibawah kawah ini ada sebuah industri yang menghasilkan asap pabrik yang luar biasa banyaknya.
Puncak Gunung Slamet
Akhirnya, tibalah kami di titik tertinggi Gunung Slamet. Sebuah tempat yang masih berada di bibir kawah. Hamparan pasir kerikil dan bebatuan adalah tampilan utamanya. Sepanjang pandangan hanya terlihat bentangan pasir yang menyerupai gurun.
Kawah Gunung Slamet
Kawah puncak Gunung Slamet merupakan salah satu kawah teraktif di Indonesia. Ini terlihat dari intensitas gas belerang yang tidak henti-hetinya menyembur. Saat status normal saja, keadaannya sudah sedemikian. Bagaimana jiga saaat Status Waspada..?!?! Mungkin semburannya akan lebih brutal dan pastinya jalur pendakian akan ditutup.
Puncak Gunung Slamet
Kawah Puncak Gunung Slamet merupakan salah satu yang terluas di Indonesia. Diameternya mencapai 300 Meter, dengan keliling mencapai 1 Km. Sepintas mungkin pendaki dapat mengelilingi kawah dengan jarak yang sedemikian, namun akan sulit terwujud karena disepanjang jalan terdapat jurang-jurang yang memisahkan bibir kawah.
Puncak Gunung Slamet

Area puncak Gunung Slamet menyerupai sebuah kubah yang didominasi oleh kerikil dan bebatuan. Disekitarnya terdapat banyak gundukan dengan jenis material yang sama. Aroma gas belerang masih terus terasa sampai diketinggian ini. Untuk semua jalur pendakian ke Puncak Gunung Slamet hanya membutuhkan waktu 2 hari satu malam. Dari tiga jalur yang ada, semuanya hampir memiliki karakteristik yang sama. Para pendaki tinggal menyesuaikan saja fisik dan kesiapan lainnya.
Bersama bang Ali, di puncak Gunung Slamet
Rasa puas tak terbendung saat berada di titik tertinggi Jawa Tengah. Rasa lelah ini sontak berubah menjadi rasa syukur dan bahagia. Dalam waktu 2 minggu saya dapat menuntaskan dua Pilar tertinggi di tanah Jawa yaitu Puncak Gunung Ciremai dan Puncak Gunung Slamet. Begitu banyak catatan yang akan saya kisahkan ke semua orang saat bertarung menjejali medan kerikil ke Puncak ini.
Puncak Gunung Slamet
Moment ini pun kami segera abadikan dengan puluhan jepretan dari kamera foto dan video yang kami bawa. Saya sangat puas dan bangga akhirnya impian saya terbayar hari ini setelah sudah lama memimpikan untuk menapakkan kaki di puncak Gunung Slamet. Bagi saya pribadi, perjalanan ini merupakan pendakian saya di Gunung Ke-10 dan Insya Allah saya akan melanjutkan cerita pendakian di Gunung-Gunung lainnya di Indonesia.
Puncak Gunung Slamet
Semoga Allah SWT senantisa memberikan saya kekuatan untuk dapat terus exist sebagai seorang Pencinta Alam dalam aktifitas Pendakian Gunung. Terima Kasih untuk saudara Ali Hasan yang telah menemani perjalanan saya ke Gunung Slamet, buat Istri saya tercinta “Yusniatin Saputri Rahim” yang saat pendakian ini sedang mengandung 3 bulan anak kami yang pertama, yang Insya Allah namanya akan saya kutip dari nama Gunung Ini. Salam Lestari..!!!


Penulis : Muhammad Dagri Nizar

Baca Juga :

Gunung Agung Gunung Balease Gunung Bawakaraeng
Gunung Lompobattang
Gunung Latimojong Gunung Mekongga
Gunung Ciremai Gunung Semeru Gunung Rinjani
Gunung Slamet Gunung Sindoro Gunung Tambora
Gunung Sumbing Gunung Tolangi Gunung Welirang
Gunung ArjunoGunung GedeGunung Pangrango